Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Labirin Batu dan Hati
Fajar di Lapangan Giok Sekte Azure Cloud disambut oleh gemuruh ribuan peserta yang berkumpul. Lapangan itu seluas dua puluh hektar, dilapisi dengan batu giok putih yang memancarkan aura lembut, membantu menenangkan pikiran dan mempertajam konsentrasi. Di sekelilingnya, di tribun tinggi, duduk para elder dan murid inti sekte, mengamati dengan mata tajam.
Tahap pertama: Ujian Bakat Lanjutan. Berbeda dengan Batu Uji sederhana di marga, di sini ada serangkaian sembilan pilar batu giok setinggi tiga meter, tersusun dalam formasi melingkar. Setiap pilar mewakili tingkat kemurnian dan kapasitas Qi yang berbeda. Peserta harus menyalurkan Qi mereka ke pilar pertama; jika menyala, mereka maju ke pilar kedua, dan seterusnya. Menyalakan lima pilar adalah syarat kelulusan minimal. Menyalakan tujuh dianggap berbakat. Menyalakan sembilan adalah jenius langka.
Peserta dipanggil berdasarkan nomor. Kaelen mengamati dengan cermat. Kebanyakan berhenti di pilar keempat atau kelima. Beberapa bintang dari marga besar mencapai ketujuh. Arlan, dengan penuh percaya diri, maju. Dia menyalurkan Qi-nya, dan pilar-pilar menyala satu per satu... pertama, kedua, ketiga... hingga keenam. Pilar ketujuh berkedip-kedip lemah sebelum akhirnya stabil. Dia mencapai tujuh! Sorak-sorai dari kelompok Marga Surya terdengar. Arlan melangkah turun dengan wajah puas, melemparkan pandangan sombong ke arah Kaelen.
Giliran Kaelen tiba. Dia berjalan ke tengah lingkaran, merasakan ribuan pasang mata menatapnya. Dia harus mengontrol dengan tepat. Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk lulus. Dia menempatkan tangannya di pilar pertama, dan dengan sengaja melepaskan aliran Qi yang stabil dan murni dari Laut Pusatnya. Pilar itu menyala dengan cahaya merah muda yang jernih. Kedua, ketiga, keempat... dengan mudah. Yang kelima menyala. Itu sudah cukup untuk lulus. Tapi dia berpikir sejenak. Jika dia berhenti di sini, dia mungkin hanya akan menjadi murid luar yang biasa. Dia butuh akses ke perpustakaan dan sumber daya yang lebih baik, yang membutuhkan performa sedikit di atas rata-rata.
Dia terus mengalirkan Qi. Pilar keenam menyala, cahayanya sedikit lebih terang daripada Arlan. Kerumunan berbisik. Dia berhenti di sana, menarik tangannya. Pilar ketujuh tetap gelap. Dia telah menunjukkan kemurnian Qi yang sangat baik (karena pemurniannya) dan kapasitas yang solid untuk levelnya, tapi tidak jenius. Itu sempurna.
Dari tribun, seorang elder berjanggut putih dengan mata biru yang tajam—Elder Wen, kepala ujian—mengangguk dengan puas. "Nomor 777, Kaelen dari Marga Surya. Lulus, kualifikasi baik. Selanjutnya."
Tahap kedua adalah Ujian Labirin Hati. Ini bukan labirin fisik, tetapi sebuah formasi ilusi raksasa yang dibangun di atas platform batu di ujung lapangan. Peserta akan masuk sendirian dan menghadapi ilusi yang sesuai dengan ketakutan, keinginan, dan keraguan terdalam mereka. Tujuannya adalah menguji keteguhan hati dan kemurnian niat. Kegagalan berarti terjebak dalam ilusi dan didiskualifikasi.
Satu per satu, peserta memasuki formasi. Beberapa keluar dengan cepat, wajah pucat dan berkeringat, gagal. Yang lain butuh waktu lama, keluar dengan tatapan kosong. Arlan masuk dan keluar dalam waktu sepuluh menit, terlihat agak goyah tetapi bangga. "Hanya ilusi lemah," gumannya.
Saat giliran Kaelen, dia menarik napas dalam-dalam. Ilusi yang menargetkan hati... ini bisa berbahaya baginya. Ingatannya yang terkunci, fragmen jiwanya yang terpecah, bisa terbuka. Dia harus menjaga intinya tetap tertutup rapat.
Dia melangkah ke dalam formasi. Dunia di sekelilingnya berubah. Dia berdiri di sebuah ruang kosong tanpa batas, sama seperti dalam mimpinya tentang fragmen. Tapi kali ini, dihadapannya berdiri bukan fragmen, tetapi dirinya sendiri—atau lebih tepatnya, semua dirinya dari kehidupan sebelumnya, berpadu menjadi satu sosok yang berwibawa dan tak terbatas, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Itu adalah Jiwa Primordial yang utuh.
"Mengapa kau melawan?" suara itu bergema, lembut namun tak terbantahkan. "Kembalilah padaku. Bersatu. Hilangkan penderitaan eksistensi yang terpisah ini. Kita bisa menjadi sempurna lagi, menguasai semua realitas."
Godaan itu kuat. Rasanya seperti kembali ke rumah, ke keadaan asal yang damai dan lengkap. Kaelen hampir saja mengulurkan tangannya. Tapi kemudian, sesuatu dalam dirinya memberontak. Dia ingat perjalanannya. Ingat Lio, ingat tekadnya untuk menjadi utuh atas kehendaknya sendiri, bukan karena diserap. Dia ingat keinginannya untuk mengalami, untuk belajar, untuk menjadi.
"Aku adalah Kaelen," katanya, suaranya mantap meski kecil di hadapan keagungan itu. "Dan aku akan menemukan semua bagianku, tapi aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Aku tidak akan menghapus perjalananku."
Sosok cahaya itu tersenyum, lalu memudar. Adegan berubah. Sekarang dia berada di Marga Surya, tetapi semuanya terbakar. Mayat Arlan, Goran, Lio berserakan. Sebuah sosok bayangan dengan mata merah berdiri di tengah-tengah, menginjak-injak Batu Langit yang hancur. "Lihatlah apa yang terjadi karena kelemahanmu," bisik bayangan itu. "Bergabunglah dengan kami, atau semua yang kau pedulikan akan binasa."
Ini adalah ujian ketakutan. Kaelen merasakan kepanikan yang mendalam, tetapi dia memahami sifat ilusi. Dia berkonsentrasi pada Hukum Realitas, pada getaran energi formasi di sekelilingnya. Dia "melihat" melalui ilusi, menemukan benang energi yang menenunnya. Dengan fokus yang tajam, dia mencabut salah satu benang itu.
Dunia yang terbakar pecah seperti kaca. Dia berdiri kembali di platform, di depan pintu keluar. Hanya tiga menit telah berlalu. Elder Wen mengangkat alisnya, terkejut dengan kecepatannya.
"Kaelen, lulus. Hati yang teguh dan persepsi yang tajam."
Tahap ketiga dan terakhir: Pertarungan Eliminasi. Dari ribuan peserta awal, hanya sekitar tiga ratus yang tersisa. Mereka akan diacak untuk bertarung satu lawan satu di sepuluh arena sekaligus. Kalah dua kali berarti gugur. Sistem ini menguji keterampilan bertarung, kemampuan beradaptasi, dan daya tahan.
Pengundian dilakukan. Pertarungan pertama Kaelen adalah melawan seorang gadis dari marga pedagang kaya, menggunakan dua belati dan teknik angin yang cepat. Gadis itu adalah Lapis Ketiga awal, lebih tinggi levelnya. Di mata penonton, ini adalah pertandingan yang tidak seimbang.
Di arena, Kaelen mengamati gerakan lawannya. Dia cepat, tetapi gerakannya dapat diprediksi, mengandalkan kecepatan murni daripada pemahaman. Kaelen menggunakan Langkah Angin Lembut yang dimodifikasi, menghindari setiap serangan dengan efisiensi minimal. Dia tidak menyerang, hanya bertahan. Penonton mulai mencibir, mengira dia pengecut.
Setelah dua menit, gadis itu mulai frustrasi dan mengeluarkan serangan besar: Tornado Pisau Belati. Kaelen melihat celahnya—saat dia berkonsentrasi mengumpulkan angin, pertahanannya melemah. Dengan gerakan cepat, Kaelen menggunakan Tusukan Baja Bergetar, bukan dengan pedang, tetapi dengan jari telunjuknya yang dipenuhi Qi, mengetuk tepat di titik meridian di lengan gadis itu. Getaran frekuensi tinggi mengganggu aliran Qi-nya, menyebabkan tekniknya gagal dan membuat lengan gadis itu mati rasa. Kemudian, dengan tendangan lembut, Kaelen mendorongnya keluar dari arena.
Kemenangan yang cepat dan efisien. Elder di tribun berkomentar: "Pengamatan yang baik, serangan presisi. Mengalahkan lawan yang lebih tinggi level tanpa membuang energi."
Pertarungan kedua lebih sulit. Lawannya adalah seorang lelaki bertubuh besar dari marga pengrajin senjata, Lapis Ketiga tengah, bersenjatakan palu besar. Kekuatannya menghancurkan, dan tekniknya membentuk gelombang kejut yang mengganggu keseimbangan. Kaelen tidak bisa menghindar selamanya. Dia memutuskan untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat. Saat pria itu mengayunkan palunya, Kaelen tidak mundur, melainkan maju, masuk ke dalam jangkauan palu. Dengan Langkah Angin Lembat yang presisi, dia berputar di sisi pria itu, dan menggunakan Tusukan Baja Bergetar yang diperkuat pada titik tekanan di punggung bawah—titik kelemahan berdasarkan struktur tulang dan aliran Qi. Pria itu mengerang, tubuhnya kaku sejenak, dan Kaelen mendorongnya keluar dari arena.
Dua kemenangan. Dia lolos ke babak berikutnya.
Arlan juga memenangkan dua pertarungannya, tapi dengan cara yang lebih brutal dan mencolok, menarik banyak sorakan.
Pada akhir hari, hanya seratus lima puluh peserta yang tersisa. Mereka yang tersisa adalah yang terbaik dari yang terbaik, dan mereka secara resmi diterima sebagai murid luar Sekte Azure Cloud. Namun, peringkat mereka akan menentukan perlakuan dan sumber daya awal mereka.
Upacara penutupan diadakan. Elder Wen mengumumkan sepuluh besar berdasarkan performa keseluruhan. Arlan berada di peringkat kedelapan. Kaelen, dengan performa solid tetapi tidak spektakuler, berada di peringkat empat puluh dua. Itu bagus—cukup tinggi untuk mendapatkan perhatian yang wajar, tetapi tidak cukup untuk menjadi sorotan utama.
Saat nama-nama dipanggil, Kaelen merasakan tatasan dari tribun. Bukan hanya dari elder, tapi dari seorang wanita muda yang duduk di antara murid inti. Dia mengenakan jubah biru langit dengan simbol awan perak, dan matanya—berwarna ungu langka—tertuju padanya dengan intensitas yang mengganggu. Tatapannya bukan seperti orang yang melihat seorang murid baru, tapi seperti seseorang yang mengenali sesuatu yang asing.
Wanita itu menoleh dan membisikkan sesuatu kepada seorang elder di sampingnya, yang kemudian juga melirik Kaelen.
Kaelen menundukkan kepalanya, berusaha tidak mencolok. Siapa wanita itu? Apakah dia terkait dengan Pemburu? Atau sesuatu yang lain?
Setelah upacara, para murid baru dibagi menjadi kelompok dan ditugaskan ke asrama mereka. Kaelen ditempatkan di Asrama Timur, sebuah kompleks besar dengan kamar-kamar sederhana untuk empat orang. Rekan sekamarnya adalah Jek dari Marga Surya (yang juga lulus, peringkat sembilan puluh), dan dua peserta lain dari marga kecil: Fen, seorang pemuda cerdas dengan minat pada formasi, dan Gron, seorang petarung kasar dari suku pengembara.
Malam pertama di sekte, Kaelen duduk di tempat tidurnya, merenungkan hari itu. Dia telah berhasil. Dia sekarang adalah murid luar Sekte Azure Cloud. Dia memiliki akses ke perpustakaan yang lebih besar, ruang pelatihan, dan mungkin petunjuk tentang Portal Celestial. Tapi tantangan juga bertambah: Arlan yang bermusuhan, Pemburu yang masih memburunya, dan sekarang, wanita bermata ungu yang misterius itu.
Dia mengeluarkan Mata Penjaga. Hangat, tetapi tidak panas. Pemburu itu mungkin masih di luar, tapi mungkin tidak bisa masuk ke wilayah sekte. Dia harus memanfaatkan waktu relatif aman ini untuk tumbuh kuat dengan cepat.
Dari jendela, dia bisa melihat menara tinggi di pusat sekte, di mana perpustakaan utama berada. Besok, dia akan pergi ke sana dan mulai mencari petunjuk. Tapi pertama-tama, dia harus mempelajari aturan dan hierarki sekte, dan menemukan cara untuk bergerak tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Dia memejamkan mata, memulai latihan pernapasan halus. Di dalam Laut Pusatnya, kolam energi perak berputar dengan tenang, dan di pusatnya, dia bisa merasakan sedikit kehadiran lain—jejak fragmen dari Batu Langit yang telah menyatu dengannya, memberinya sedikit lebih banyak kejelasan tentang jalan di depan.
Perjalanan panjang telah membawanya ke gerbang dunia yang lebih besar. Labirin hati mungkin telah dia lewati, tetapi labirin politik, persaingan, dan bahaya di Sekte Azure Cloud baru saja dimulai.