Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Lima Belas
Keesokan paginya, suasana kantor terasa hambar bagi Felicia. Kursi kebesaran di ruangan kaca itu kosong. Tidak ada suara bariton yang memerintah, tidak ada aroma parfum yang maskulin, dan yang paling aneh, tidak ada sindiran soal lipstik.
Sekitar jam sepuluh, ponsel Felicia bergetar.
Pak Han:
Felicia, ke mess saya sekarang. Ada dokumen kontrak yang harus dikirim salinan-nya sebelum jam 12 siang. Saya tidak kuat menyetir.
Felicia langsung panik. Tanpa pikir panjang, ia menyambar tasnya dan berlari menuju gedung utara tempat mess para Manajer berada. "Duh, si Bapak kenapa lagi? Pasti gara-gara kemarin kehujanan atau kecapekan pas balik dari Semarang," gumamnya cemas.
Sampai di depan pintu mess Pak Han, Felicia mengetuk ragu. "Pak? Ini Felicia."
"Masuk saja... tidak dikunci," suara itu terdengar sangat serak dan lemah.
Begitu pintu terbuka, Felicia disuguhi pemandangan yang langka. Pak Han, sang manajer galak yang selalu rapi dengan jas mahal, kini terbaring meringkuk di bawah selimut tebal. Wajahnya merah padam, napasnya berat, dan rambutnya berantakan.
Felicia mendekat dan memberanikan diri menyentuh dahi bosnya. "Astaga! Pak, ini mah panas banget! Bapak sudah minum obat?"
Pak Han membuka matanya sedikit, menatap Felicia dengan pandangan sayu. "Dokumennya... di atas meja. Tolong kirim dulu... itu paling penting."
"Bapak ini ya, lagi sekarat begini masih mikirin kontrak!" omel Felicia kesal, namun tangannya tetap bergerak cepat mengambil tumpukan kertas di meja. Ia menggunakan aplikasi scanner di ponselnya, mengirimkannya ke email pusat, dan memastikan semuanya terkirim tepat waktu.
"Sudah terkirim, Pak. Beres," ucap Felicia setelah menekan tombol send.
Pak Han mengangguk lemah. "Terima kasih. Kamu boleh... kembali ke kantor."
"Sebentar Pak, ini saya mau pastiin Bapak minum obat dulu baru saya balik ke kantor." Felicia membuka aplikasi ojek online di ponselnya kemudian memesan satu porsi bubur ayam.
"Bapak punya paracetamol nggak?" tanya Felicia.
Pak Han hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Pak, mendingan kita ke klinik kantor aja, ayo saya anter." tawar Felicia yang khawatir melihat kondisi atasannya tersebut.
"Nggak usah Fel, nanti juga sembuh sendiri."
Felicia mendecak, "mau sembuh sendiri gimana sih Pak? Yaudah kalau gamau ke klinik, tunggu sebentar ya Pak."
Saat Felicia hendak beranjak, Pak Han menahan lengan Felicia sehingga membuat gadis itu memutar tubuhnya, "kenapa Pak?"
"Mau kemana?"
"Saya mau ke klinik, ambil obat buat Bapak sekalian ngambil pesenan bubur juga. Sebentar aja kok, nanti saya balik lagi."
Lima belas menit kemudian, Felicia datang dengan kantung berisi bubur ayam dan satu strip obat penurun panas di tangannya.
Dengan cekatan, ia membuka bungkusan itu dan meraih sendok didalamnya.
"Ini Pak, dimakan dulu." Felicia menyodorkan semangkuk bubur pada Pak Han.
Namun nampaknya, tubuh tegap itu kini sedang dikhianati oleh tenaganya sendiri. Pak Han tampak sangat kesulitan hanya untuk sekadar menyandarkan punggung. Melihat bosnya payah begitu, Felicia langsung sigap. Ia meletakkan mangkuk bubur di meja nakas, lalu tanpa pikir panjang, ia merengkuh bahu Pak Han untuk membantunya duduk.
Saat itulah, pertahanan jarak profesional yang selama ini mereka bangun seolah runtuh.
Jarak di antara mereka terkikis hingga hanya menyisakan beberapa senti saja. Felicia bisa merasakan hembusan napas Pak Han yang begitu panas menerpa pipinya—setiap tarikan napas pria itu terasa berat dan memburu.
Mata Pak Han yang biasanya tajam dan menuntut, kini berubah sayu namun tidak bisa berpaling sedikit pun dari wajah Felicia. Tatapannya seolah terkunci; mulai dari saat Felicia menyangga tubuhnya, hingga ketika gadis itu kembali meraih mangkuk bubur dan duduk tepat di sisi tempat tidurnya.
"Sekarang Bapak makan dulu ya, sedikit saja supaya bisa minum obat."
Pak Han tidak menjawab. Ia hanya terus memandangi wajah asistennya itu dengan intensitas yang berbeda, seolah-olah di tengah kabut demamnya, hanya Felicia satu-satunya objek yang nyata dan ingin ia lihat.
"Saya ambil air minum sebentar ya, Pak."
Begitu Felicia kembali dengan segelas air hangat di tangannya, ia mendapati mangkuk bubur itu masih utuh di atas meja, persis di posisi saat ia meninggalkannya tadi. Pak Han hanya bersandar lemas di kepala tempat tidur dengan mata setengah terpejam.
"Lho, Pak? Kok belum dimakan sama sekali? Keburu dingin nanti buburnya," tegur Felicia sambil meletakkan gelas air.
Pak Han membuka matanya sedikit, menatap mangkuk itu dengan tatapan malas. "Tangan saya lemas, Felicia. Pegang sendok aja kaya angkat beban sepuluh kilo."
Felicia menghela napas, setengah gemas setengah kasihan. Dasar, laki-laki kalau lagi demam emang suka drama, batinnya. Tanpa banyak bicara, ia menarik kursi lebih dekat ke ranjang, mengambil mangkuk itu, dan mengaduknya pelan.
"Ya sudah, saya suapi ya." ucap Felicia sambil menyendok sedikit bubur.
Ia meniup-niup sendok itu dengan telaten—huuu... huuu...—memastikan suhunya pas sebelum mengarahkannya ke depan bibir Pak Han. Pak Han hanya diam, mengikuti setiap gerakan Felicia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia membuka mulutnya pelan, menerima suapan itu tanpa bantahan.
"Gimana, Pak? Pas panasnya?" tanya Felicia.
Pak Han menelan buburnya dengan susah payah, tenggorokannya pasti terasa sakit.
"Lumayan. Tapi tiupnya lebih lama lagi, masih agak panas."
Felicia mendongak, mendapati jarak wajah mereka kembali sangat dekat. Ia bisa melihat butiran keringat di dahi Pak Han dan betapa merahnya pipi pria itu karena demam. Bukannya merasa terbebani, Felicia malah merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya saat melihat sisi rapuh pria yang biasanya selalu memerintah ini.
"Iya, Pak Manajer. Siap," sahut Felicia lebih lembut. Kali ini ia meniupnya lebih lama, sangat hati-hati.
Setiap kali sendok itu masuk ke mulut Pak Han, mata mereka tak sengaja bertemu. Keheningan di kamar mess itu mendadak terasa begitu pekat, hanya ada suara denting sendok dan mangkuk yang beradu.
"Kamu... kenapa baik sekali sama saya?" gumam Pak Han tiba-tiba di sela-sela suapan ketiga. "Padahal saya sering nyusahin kamu."
Felicia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Kan sudah dibilang, biar Bapak cepat sembuh. Kalau Bapak sakitnya lama, nanti kerjaan saya makin banyak."
Pak Han tidak membalas tawa itu. Ia justru meraih tangan kiri Felicia yang bebas, menggenggam pergelangan tangannya dengan sisa tenaga yang ia punya. Tangannya terasa sangat panas, namun genggamannya begitu posesif.
"Terimakasih ya Fel. Belum pernah ada yang perhatian kaya gini sebelumnya."
Felicia tersenyum, berusaha menahan debaran aneh di dadanya. "Sudah kewajiban saya, Pak."
"Kalau saya bukan bos kamu, apa kamu masih mau rawat saya kaya gini?" tanya Pak Han tiba-tiba.
Felicia terkekeh, "ya mana berani Pak. Kalo posisi saya saat ini status saya masih asistennya Mbak Maria, saya nggak akan ada disini sekarang."
"Kalo statusnya istri saya?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Pak Han yang pucat, namun dampaknya terasa seperti ledakan di dalam kepala Felicia. Gadis itu terkesiap, tangannya yang memegang sendok seketika membeku di udara.
Ia menatap Pak Han dengan mata membulat sempurna. "Bapak... Bapak ngomong apa tadi?"
Pak Han tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Felicia lebih dalam, matanya yang sayu akibat demam tampak berkaca-kaca, memberikan kesan rapuh yang sangat asing bagi Felicia. Suasana kamar mess yang tadinya hanya diisi suara detik jam, mendadak terasa begitu sesak dan panas.
"Bapak beneran masih demam tinggi ya?" Felicia mencoba tertawa kecil, meski suaranya terdengar bergetar hebat. Ia buru-buru meletakkan mangkuk bubur ke meja nakas sebelum tangannya yang gemetar menjatuhkan segalanya. "Efek panasnya sudah sampai ke saraf halusinasi ya, Pak? Duh, saya ambilkan kompres dulu ya..."
Saat Felicia hendak berdiri, jemari Pak Han yang panas kembali menahan pergelangan tangannya. Kali ini dengan genggaman yang lebih mantap, seolah tidak membiarkan gadis itu lari dari pertanyaannya.
"Saya nggak lagi halusinasi, Felicia," gumam Pak Han, suaranya terdengar serak dan berat di pangkal tenggorokan. "Saya cuma lagi berpikir... kalau alasan kamu ada di sini cuma karena 'tugas asisten', rasanya saya pengen hapus status itu sekarang juga."
Felicia merasa dunianya seolah berhenti berputar. Debaran di dadanya kini sudah tidak bisa diajak kompromi—rasanya seperti ada ribuan kembang api yang meledak sekaligus.
"Tapi Pak... Bapak itu bos saya. Kemarin Bapak bilang sendiri kalau pacaran itu menghambat perkembangan," Felicia mengingatkan dengan nada hampir berbisik, mencoba membawa kembali logika Pak Han yang biasanya sangat rasional.
Pak Han tersenyum pahit, perlahan melepaskan pegangannya dan memejamkan mata dengan napas berat. "Ya, saya memang pernah bilang gitu. Tapi inikan saya lagi bahas Istri, bukan pacar."
Pria itu menarik selimutnya lebih tinggi, memunggungi Felicia seolah malu dengan kejujuran yang baru saja ia tumpahkan. "Kamu kembali ke kantor aja, Felicia. Kamu benar. Saya pasti lagi mengigau. Anggap saja kamu tidak mendengar apa-apa."
Felicia berdiri terpaku di sisi tempat tidur. Ia melihat bahu tegap itu kini tampak naik-turun dengan napas yang tidak teratur. Harusnya ia merasa lega karena Pak Han menarik ucapannya, tapi entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh di hatinya.
Ia memberanikan diri menyentuh bahu Pak Han sekali lagi, sangat pelan. "Saya nggak akan anggap Bapak nggak ngomong apa-apa. Tapi sekarang, Bapak istirahat dulu. Biar cepat sembuh, biar bisa jelasin ke saya pas Bapak sudah nggak ngelindur lagi."
Pak Han tidak menyahut, tapi Felicia bisa melihat jemari pria itu mencengkeram erat pinggiran selimut.