Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Menata Hati.
Rania mengerjapkan kedua matanya saat samar-samar mendengar panggilan seseorang, perlahan dia menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat kaku, kepalanya juga terasa berat dan pusing.
"Mama."
Rania tersentak dan spontan mendudukkan tubuhnya saat mendengar suara Dafa, terlihat putranya sedang berjongkok di hadapannya seraya menangis.
"I-iya, Sayang. Kenapa nangis?" tanya Rania dengan panik. Dia langsung memeluk putranya dan berusaha untuk menenangkan.
"Dapa cari Mama, tapi Mama gadak," jawab Dafa dengan sesenggukan. Dia yang baru saja bangun tidur kebingungan mencari keberadaan sang mama, karena itulah dia menangis sampai akhirnya menemukan mamanya tergeletak di samping ranjang.
"Ya ampun, maafkan mama, Sayang," ucap Rania merasa bersalah. Mungkin karena kelelahan menangis, dia sampai tidak sadar jika tidur di atas lantai.
Dafa mengangguk, kemudian mengajak mamanya untuk keluar karena ingin menonton kartun kesukaannya.
"Dafa mandi dulu ya, Sayang. Abis itu baru nonton," ucap Rania.
Dafa kembali mengangguk membuat Rania tersenyum senang. Kemudian dia segera membawa putranya ke kamar untuk dimandikan, setelah selesai, mereka berlalu ke ruang keluarga untuk menonton kartun favorit sang putra.
"Sudah malam rupanya," gumam Rania saat melihat ke arah jendela. Kemudian dia menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah sembari menatap langit-langit ruang keluarga.
Kemudian mata Rania tidak sengaja melihat figura foto yang lumayan besar tergantung di dinding, foto pernikahannya dan Rangga. Dadanya kembali berdenyut sakit saat melihatnya, darahnya seakan mendidih mengingat semua yang terjadi.
Air mata kembali lolos dari sudut mata Rania, tapi dia mengusapnya dengan cepat. Perlahan dia bangkit dan berjalan mendekati figura foto itu, menatapnya dengan tajam dan kelam.
"Bahagia sekali, ya," ucap Rania, setengah berbisik. Dia memperhatikan raut wajah Rangga dan raut wajahnya sendiri, sungguh sangat bahagia dan sempurna sekali.
Rania lalu menarik sebuah kursi dan menaiki kursi tersebut, dia mengambil figura foto itu dan menurunkannya. "Pengkhianat," suaranya bergetar, tangannya mencengkram pinggiran figura dengan erat.
Ingin sekali Rania langsung membanting figura itu saat ini juga, tetapi dia tidak mau membuat Dafa terkejut dan memilih untuk membawanya.
"Sayang, mama mau mandi sebentar, yah, abis itu kita keluar cari makan," ucap Rania.
Dafa menoleh sekilas, lalu kembali melihat televisi. "Dapa mau makan sate, sama mau burger jugak." Matanya tetap fokus lurus ke depan. "Tapi, papa mana?" tanyanya kemudian.
Rania terdiam beberapa detik, sampai akhirnya dia menjawab. "Papa masik kerja, nanti juga pulang." katanya bohong.
Kemudian Rania segera ke kamar setelah mendapat anggukan dari Dafa. Namun, sebelum itu dia pergi ke halaman belakang rumah sebentar untuk melakukan sesuatu.
Prang!
Suara pecahan nyaring terdengar saat Rania membanting figura foto pernikahannya yang sejak tadi dipegang. Figura itu hancur berkeping-keping, sama seperti hati dan jiwanya saat ini.
"Lihat, Mas. Rumah tangga kita kau hancurkan sama seperti foto itu," gumam Rania. Dia terus menatap foto pernikahannya di iringi rasa sakit yang menikam dada.
Kemudian Rania berlari ke kamar untuk mengambil beberapa album foto yang selama ini dia simpan. Album foto kenangan semasa menempuh pendidikan, semasa dia berpacaran dengan Rangga, dan semasa dia berjuang bersama dengan Vita.
Setelah dapat, Rania membawa album-album foto itu kembali ke halaman belakang. Tidak lupa dia mengambil pemantik api juga karena ingin membakar semuanya.
"Kau benar-benar tega, Vit. Kau tega merusak rumah tanggaku," ucapnya sembari menatap satu persatu fotonya bersama dengan Vita, sahabat yang telah lama bersama dengannya, sahabat yang melewati suka dan duka berdua.
Tubuh Rania terhuyung ke belakang, merasa lemas dan tidak bertenaga. "Dari jutaan laki-laki yang ada di dunia ini, kenapa? Kenapa kau harus melakukannya dengan suamiku? Kenapa?" seluruh tubuhnya bergetar hebat, merasakan kepahitan dari pengkhianatan itu.
Dengan cepat Rania merobek foto-foto yang ada di hadapannya, dia melampiaskan semua emosinya sampai foto-foto itu menjadi serpihan sampah. "Aku tidak akan pernah memaafkan kalian, tidak akan pernah!" katanya penuh dendam. "Aku bersumpah, semoga kalian merasakan apa yang aku rasakan sekarang, semoga kalian merasakan yang jauh lebih sakit dari apa yang kalian perbuat terhadapku." Dia terus merobek di sana sini, sampai tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar.
Setelah puas, Rania membakar semua foto-foto itu, tidak ada satu pun yang dia sisakan. Semua telah selesai, begitu juga dengan hubungannya dan mereka.
"Terima kasih karna telah memberi luka ini, aku akan terus mengingatnya, dan aku akan bangkit karenanya juga," ucap Rania. Semilir angin berhembus membelai wajahnya, dingin, tapi seluruh hatinya tetap terasa panas.
Setelah selesai, Rania bergegas mandi, membersihkan seluruh tubuhnya yang tampak sangat kacau balau. Sudah cukup, cukup hari ini saja dia seperti ini. Mulai besok, dia tidak mau lagi menangis, tidak mau lagi meratapi nasibnya yang menyedihkan, tidak mau lagi mengingat kenangan pahit itu.
Rania akan bangkit, dia akan berjuang untuk hidupnya sendiri dan juga Dafa. Dia sudah tidak punya siapapun di dunia ini, dia hanya punya Dafa saja dan akan terus hidup untuk putranya itu.
Tidak berselang lama, Rania sudah siap dengan stelan kaos berwarna putih dan celana panjang putih. Dia mengikat rambutnya dengan asal, tetapi wajahnya malah tampak cantik dan menggemaskan.
"Ayo kita pergi, Sayang!" ajak Rania seraya menuruni tangga.
"Yeay!" seru Dafa kegirangan. Dengan cepat dia mematikan televisi dan berlari menghampiri sang mama yang sudah menunggu di pintu depan. Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi untuk mencari makan malam.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat sedang terjadi ketegangan antara Rangga dan kedua orang tuanya. Dia menceritakan apa yang telah terjadi pada rumah tangganya, dia juga berkata jika Rania ingin bercerai darinya.
"Kau benar-benar sudah gila, Rangga!" bentak Beni—ayah Rangga. Rahangnya mengeras, emosinya meledak saat mendengar jika putranya sendiri telah berselingkuh.
Martha—ibu Rangga juga tampak kesal melihat tingkah putranya. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga bisa melakukan hal seperti itu.
"Aku sudah bilang aku khilaf, Pa. Aku tidak sengaja melakukan itu dengan Vita," ucap Rangga, mencoba untuk membela diri.
"Gak sengaja kepalamu!" bentak Beni kembali sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa kau melakukan itu, Rangga? Dulu kau ngotot ingin menikah dengan Rania, tapi setelah menikah kau malah selingkuh!" cecar Martha. Dulu dia menentang pernikahan putranya karena Rania tidak sederajat dengan mereka, apalagi wanita itu hanya anak yatim piatu yang hidup sebatang kara. jelas saja tidak sekelas dengan keluarga mereka.
Namun, Rangga memaksa dan tetap ingin menikah dengan Rania. Laki-laki itu bahkan mengancam tidak akan menikah seumur hidup jika tidak dengan Rania, itu sebabnya mereka terpaksa menerima semuanya.
Rangga berdecak, merasa kesal mendengar omelan mamanya. Dia berkata jujur pada kedua orangtuanya karena tidak ingin berpisah dengan Rania, bukan ingin mendengar cacian mereka.
"Kalau sampai orang-orang tau kau selingkuh kayak gitu, bisa mampus keluarga kita, Rangga," ucap Beni, tajam dan penuh dengan penekanan. Keluarganya terkenal sangat baik dan bijaksana, mereka juga sering membantu orang-orang yang membutuhkan.
"Papamu benar, Rangga. Apa kata orang kalau tau kau selingkuh?" tambah Martha. Citra keluarga baik dan terpandang akan langsung hilang jika sampai semua itu terjadi.
Rangga mendessah, mengusap wajahnya kasar merasa tidak sabar.
"Intinya aku gak mau pisah sama Rania, mama udahlah."
*
*
*
Bersambung.
Rania Felisya.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda