Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUDUT YANG TIDAK LAGI KOSONG
Malam di apartemen Elvario terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, namun kali ini sunyinya tidak lagi mencekam. Cahaya lampu kota menyusup masuk melalui jendela kaca besar, memantul di atas lantai marmer yang dingin dan mengilap. Elvario masih berdiri di tengah ruang tengah, masih mengenakan jaket kulitnya, menatap sebuah sofa panjang berwarna abu-abu yang baru saja tiba sore tadi.
Rizal keluar dari arah dapur sambil menguap lebar, membawa segelas air putih di tangannya. Ia terhenti saat melihat Elvario masih mematung di sana.
"Lo belum tidur juga, El?"
Elvario menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan. "Ini sofa bed-nya?" tanyanya, seolah sedang memastikan sesuatu pada dirinya sendiri.
"Iya. Datang sore tadi pas kita masih di lokasi," jawab Rizal sambil menyesap airnya. "Kenapa? Kurang bagus modelnya?"
Elvario melangkah mendekat. Ia menekan sandaran sofa itu dengan telapak tangannya, menguji keempukannya, lalu membayangkan bagaimana bentuknya saat dibentangkan menjadi tempat tidur. Ia menghela napas kecil, ada kilat pemikiran di matanya.
"Beli penyekat ruangan," ucapnya tiba-tiba. "Cari yang minimalis. Letakkan di sini agar dia bisa tidur dengan tenang kalau sedang istirahat."
Rizal terdiam, gelasnya tertahan di udara. Ia menatap Elvario selama beberapa detik, mencoba mencerna permintaan itu. "Dia?" ulangnya pelan, lalu sebuah senyum kecil yang menggoda muncul di sudut bibirnya. "Maksud lo... Adrina?"
Elvario melirik tajam, memberikan peringatan lewat tatapan matanya. "Jangan mulai mengomel atau mengejek."
"Gue nggak ngomel," Rizal terkekeh pelan. "Cuma... lo biasanya nggak pernah terpikir soal privasi atau kenyamanan asisten sampai sejauh itu. Biasanya lo cuma peduli mereka ada saat lo panggil."
Elvario menjatuhkan dirinya ke sofa baru tersebut, menyandarkan kepalanya dan menatap langit-langit. "Dia beda, Riz."
Rizal duduk di kursi seberangnya, meletakkan gelas di meja. "Beda dari tujuh asisten sebelumnya?"
"Beda dari semua orang yang pernah gue kenal," jawab Elvario tanpa ragu sedikit pun.
Keheningan kembali menggantung di antara mereka. Hanya suara dengung halus dari pendingin ruangan yang mengisi kekosongan.
"Lo sadar nggak, El," kata Rizal dengan nada bicara yang lebih serius, "yang bikin dia bertahan hari ini bukan cuma karena dia profesional. Tapi karena lo akhirnya... mulai terlihat seperti manusia di depannya."
Elvario menutup matanya rapat-rapat. "Gue sudah capek terus-menerus dipaksa jadi mesin, Riz. Mesin pencetak uang, mesin penghibur publik."
Rizal mengangguk paham, ia telah menyaksikan beban itu selama bertahun-tahun. "Besok gue pesankan sekalian tirai pembatas atau penyekat lipat untuk area ini. Yang sederhana saja, supaya dia tidak merasa terganggu saat kita berlalu-lalang."
Elvario membuka mata kembali. "Jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai dia merasa risih."
"Tenang," Rizal tersenyum meyakinkan. "Ini murni buat kenyamanan kerja, bukan drama picisan."
Elvario tersenyum tipis—sangat samar, namun nyata. Pikirannya melayang kembali pada kejadian di depan gang sempit tadi; lampu jalan yang redup, aroma udara malam yang lembap, dan wajah Adrina saat menolaknya dengan jujur tanpa sedikit pun rasa takut atau keinginan untuk merendah.
"Riz," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti gue benar-benar jatuh... lo tahan gue, ya."
Rizal terdiam sejenak, menatap sahabatnya yang tampak sangat rapuh di balik kemewahan apartemen ini. Ia mengangguk mantap. "Pasti. Tapi kali ini, gue rasa gue nggak akan sendirian menahan beban lo."
Elvario tidak menjawab lagi. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memejamkan mata bukan dengan pikiran yang penuh dengan amarah atau dendam—melainkan dengan sebuah rencana kecil yang sederhana: sebuah sofa bed, penyekat tipis, dan kehadiran seseorang yang pelan-pelan mulai membuat apartemen ini terasa tidak lagi kosong.