Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: FITNAH DIMULAI
#
Pintu kamar dibanting keras dari luar. Suara pelayan berteriak membangunkan Bayu dari tidur yang nggak bisa disebut tidur. Lebih seperti pingsan karena kelelahan.
"Bangun! Tuan besar memanggil!"
Bayu membuka mata. Cahaya pagi menyusup dari celah pintu yang nggak rapat. Tubuhnya sakit semua. Lebih parah dari semalam. Rusuknya berdenyut tiap kali napas.
Dia bangkit pelan. Kepala pusing. Mulut kering. Perut kosong. Sejak kemarin dia belum makan apa-apa.
Pintu terbuka paksa. Pelayan yang sama berdiri di sana, wajahnya datar. "Cepat. Jangan buat Tuan menunggu."
Bayu berjalan keluar dengan langkah goyah. Mengikuti pelayan menyusuri koridor panjang yang terasa lebih dingin di pagi hari. Mereka turun tangga, menuju ruang makan.
Ruang makan keluarga Samudera seperti restoran mewah. Meja panjang dari kayu jati solid, kursi berlapis beludru merah, lampu kristal besar di atas kepala. Di dinding, lukisan pemandangan yang mungkin harganya bisa beli mobil.
Tapi yang bikin Bayu berhenti sebentar bukan itu.
Mereka semua sudah duduk.
Arjuna di ujung meja. Jas rapi meski baru pagi. Wajahnya dingin, tegas, seperti lagi rapat dewan direksi. Di sampingnya, Valerie. Riasan sempurna, gaun pagi yang elegan, senyum tipis yang nggak sampe ke mata. Dan Raka. Duduk santai, senyum meremehkan terpasang di wajah tampannya.
Mereka semua menatap Bayu.
Seperti hakim menatap terdakwa.
"Duduk," perintah Arjuna. Suaranya datar. Nggak ada emosi.
Bayu berjalan pelan, duduk di ujung meja yang lain. Jauh dari mereka. Seperti Kenzo selalu duduk. Terpisah. Sendirian.
Di atas meja, sarapan mewah tersaji. Roti panggang, telur, bacon, jus jeruk segar, buah potong. Tapi di depan Bayu? Kosong. Tidak ada piring. Tidak ada apa-apa.
Raka mengambil roti, mengoleskan mentega sambil tersenyum. "Wah, sarapan pagi yang indah, ya, Bu?"
Valerie mengangguk, menyeruput kopinya pelan. "Sangat indah."
Bayu diam. Tangannya di atas paha, mengepal. Dia menatap meja kosong di depannya. Perut keroncongan. Tapi dia nggak minta. Nggak akan minta.
Arjuna meletakkan cangkir kopinya. Suara cangkir menyentuh piring terdengar keras di ruangan hening.
"Kenzo."
Bayu mengangkat kepala. Menatap ayah yang seharusnya jadi pelindung.
Arjuna membuka tas kulit di sampingnya. Mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Lemparkan ke meja. Dokumen itu meluncur, berhenti tepat di depan Bayu.
"Jelaskan ini."
Bayu menatap dokumen itu. Mengambilnya dengan tangan gemetar. Matanya memindai cepat.
Laporan transfer. Rekening atas nama Kenzo Banyu Samudera. Lima ratus juta rupiah. Ditransfer dari kas perusahaan Samudera Group.
"Apa... ini?"
Suara Bayu keluar pelan. Bingung. Nggak ngerti.
"Kau mencuri," kata Arjuna datar. Seperti menyatakan fakta. Bukan tuduhan. "Lima ratus juta dari kas perusahaan. Uang itu masuk ke rekeningmu tiga hari lalu."
"Aku nggak... aku nggak pernah..."
"Buktinya di tanganmu," potong Valerie cepat. Suaranya lembut tapi tajam. "Transfer dari kas perusahaan langsung ke rekeningmu. Jelas sekali."
Raka tertawa pelan. "Gila juga ya, Kak. Gue nggak nyangka lo bisa se-berani ini. Nyolong uang keluarga sendiri."
Bayu menatap dokumen itu lagi. Otaknya berputar cepat. Ini palsu. Harus palsu. Kenzo nggak pernah punya akses ke kas perusahaan. Bahkan kartu ATM-nya diambil Valerie sejak lama.
Tapi dokumen ini... terlihat resmi. Stempel perusahaan. Tanda tangan. Nomor rekening.
Mereka... merencanakan ini.
"Aku nggak pernah ngambil uang ini," kata Bayu pelan tapi tegas. Matanya menatap Arjuna. "Aku bahkan nggak tau rekening ini masih aktif."
"Oh, jadi kau bilang ini salah?" Arjuna mengangkat alis. Nada suaranya meremehkan. "Bank salah? Sistem salah? Atau kau pikir aku bodoh?"
"Bukan itu maksudku, tapi..."
"DIAM!"
Suara Arjuna meledak. Keras. Menggelegar di ruang makan.
Bayu tersentak. Napasnya tertahan.
Arjuna berdiri. Tinggi. Berwibawa. Tapi matanya... dingin. Seperti es.
"Selama ini aku biarkan kau tinggal di rumah ini karena kau anak kandungku. Darah dagingku." Dia berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi kau? Kau kecewakan aku. Lagi. Dan lagi."
Setiap kata seperti tamparan.
"Kau lemah. Kau tidak berguna. Dan sekarang... kau pencuri."
Arjuna berhenti tepat di samping Bayu. Menatap dari atas. "Aku malu punya anak sepertimu."
Sesuatu di dada Bayu terasa... patah.
Bukan sakit fisik. Tapi sakit yang lain. Sakit yang lebih dalam. Sakit Kenzo yang tersisa di tubuh ini.
Anak kecil yang dulu menangis di kamar. Berharap ayahnya akan datang. Akan bilang dia bangga. Akan bilang dia cinta.
Tapi tidak pernah.
Dan sekarang...
"Aku malu punya anak sepertimu."
Air mata hampir keluar. Tapi Bayu tahan. Gigit bibir dalam-dalam sampai terasa darah.
Nggak boleh nangis. Nggak boleh keliatan lemah.
"Mulai besok, kau keluar dari rumah ini," lanjut Arjuna dingin. "Aku sudah siapkan apartemen kecil di pinggir kota. Kau tinggal di sana. Jauh dari keluarga ini."
"Apartemen?" Valerie pura-pura kaget. "Sayang, kenapa masih kasih dia tempat tinggal? Dia sudah dewasa. Biarkan dia cari sendiri."
Arjuna menatap Valerie sebentar. Lalu mengangguk. "Kau benar."
Dia kembali ke kursinya. Duduk. Mengambil pisau dan garpu. Memotong bacon seperti nggak terjadi apa-apa.
"Kau keluar hari ini. Sebelum matahari terbenam. Aku nggak mau lihat kau lagi."
Hening.
Bayu duduk di sana. Tangan gemetar di atas paha. Kepalanya tertunduk.
Tapi perlahan... bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Senyum yang aneh. Senyum yang dingin.
"Baik."
Suara Bayu keluar pelan. Tenang.
Valerie dan Raka saling pandang. Bingung.
"Aku akan keluar," lanjut Bayu, mengangkat kepalanya. Menatap Arjuna langsung. "Tapi sebelum itu... aku mau bilang satu hal."
Arjuna menghentikan gerakan tangannya. Menatap balik.
"Aku nggak nyolong uang itu," kata Bayu pelan tapi tegas. "Dan... aku akan buktiin siapa pencuri sebenarnya."
Raka tertawa keras. "Buktiin? Lu? Pecundang kayak lu mau buktiin apa?"
Bayu menatapnya. Senyum tipisnya melebar sedikit. "Tunggu aja."
Dia berdiri. Pelan. Tubuhnya goyah tapi tetap tegak.
"Permisi. Aku akan packing."
Bayu berbalik, berjalan keluar ruang makan. Langkahnya pelan tapi pasti.
Di belakangnya, Valerie berbisik ke Raka. "Dia... berubah."
"Cuma bluffing, Bu. Dia nggak bisa apa-apa."
Tapi Valerie tidak yakin. Ada sesuatu di mata Kenzo tadi. Sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang menakutkan.
***
Bayu sampai di kamar kecilnya. Menutup pintu. Napas panjang.
Lalu... suara itu muncul.
**[MISI BARU TERDETEKSI]**
**[UNGKAP KEJAHATAN KELUARGA SAMUDERA]**
**[BATAS WAKTU: 7 HARI]**
**[HADIAH: KEMAMPUAN PERETASAN TINGKAT 2 + 500 POIN]**
**[KEGAGALAN: KEMATIAN PERMANEN]**
Bayu menatap kosong ke depan.
Tujuh hari.
Kalau gagal... mati.
Tapi entah kenapa... dia tersenyum.
"Bagus. Gue suka tantangan."
Dia duduk di kasur tipis. Membuka memori Kenzo yang masih tersisa. Informasi tentang keluarga. Perusahaan. Rekening.
Dan perlahan... puzzle mulai terbentuk.
Mereka nggak cuma fitnah Kenzo soal uang.
Mereka... emang nyolong uang perusahaan. Terus lempar kesalahan ke Kenzo.
Valerie dan Raka.
"Kalian pikir gue bodoh?"
Bayu berbaring. Menatap langit-langit retak.
"Tujuh hari. Cukup buat gue hancurin kalian."
Matanya menutup. Tapi otaknya terus bekerja.
Merencanakan.
Menghitung.
Dan... membalas.