NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:545.1k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sembilan

Bus kampus sore itu berjalan pelan di sepanjang jalan utama, membawa penumpang yang lelah tetapi ingin cepat sampai rumah. Kirana duduk di kursi dekat jendela sambil memeluk map tebalnya. Rambutnya sedikit kusut karena angin koridor kampus, pipinya masih terasa hangat bekas malu-malu karena Samudera yang muncul terlalu sering hari ini.

Ia memejamkan mata sebentar, lalu menghembuskan napas perlahan. "Hari ini terasa aneh. Tapi menyenangkan," gumam Kirana.

Ia membuka mata, menatap pemandangan lewat jendela. Pohon-pohon kampus bergeser cepat, rantingnya menari diterpa angin. Langit mulai berubah warna, jingga lembut bercampur ungu tipis. Sore yang cantik.

Bukan bahagia, bukan benar-benar lega, tapi ada sedikit ruang di dadanya yang terasa lapang. Seperti seseorang membuka jendela yang sebelumnya tertutup rapat.

Semua karena seseorang yang bernama Samudera, si anak aneh yang lari-lari cuma buat ngasih bolu. Kirana terkekeh kecil tanpa sadar.

“Gila. Masih aja keinget,” gumam Kirana pada dirinya sendiri.

Bus terus melaju, menembus jalan kecil di dekat permukiman. Rumah-rumah mulai bermunculan. Lampu-lampu halaman mulai menyala satu per satu. Kirana merapatkan jaketnya. Udara mulai mendingin.

Lima belas menit kemudian, bus berhenti di dekat gang rumahnya. Kirana turun, berjalan pelan melewati paving block yang sedikit licin. Ia merasakan dinginnya udara sore menusuk hidungnya, tapi entah kenapa tidak sesakit biasanya. Langkahnya terasa lebih ringan.

Namun begitu ia mendekati rumahnya, ada sesuatu yang terasa berbeda. Rumah itu sunyi. Bahkan bisa dikatakan terlalu sunyi untuk rumah yang berpenghuni.

Tidak ada suara TV dari ruang keluarga. Tidak ada suara Papa membentak kecil karena berita. Tidak ada suara Mama dan Tissa berceloteh entah tentang skincare, entah tentang gosip tetangga. Kirana mengerutkan dahi.

“Oh, mungkin masih di minimarket,” gumam Kirana. Papa dan Mama memang biasa pulang agak malam kalau sedang cek stok.

Ia membuka pintu pagar. Melangkah ke teras. Jantungnya berdetak tak stabil, hingga ia menyadari satu hal, pintu rumah terbuka sedikit. Keraguan kecil menyelinap.

"Kenapa pintu terbuka? Siapa yang ada di rumah?" tanya Kirana pada dirinya sendiri.

Ia mendorong pintu pelan, masuk ke ruang tamu. Sunyi dan hening yang terasa. Tapi perasaan tidak enak yang ia rasakan.

Ia menutup pintu, melepaskan sepatu, lalu berjalan menuju koridor kamar. Setiap langkah terasa berat. Udara di rumah seakan menahan napas.

Saat ia hanya berjarak tiga langkah dari kamarnya, jantungnya terasa mau copot. Pintu kamarnya terbuka. Lebih lebar dari pintu depan tadi. Lampu kamar menyala. Dan ia merasa itu tidak wajar.

Kirana memperlambat langkahnya. Tangannya mulai berkeringat. Ia meraih kenop pintu dengan hati-hati, lalu mengintip ke dalam.

Hanya butuh satu detik untuk membuat darahnya mendidih. Dia melihat sang adik ada di dalam kamarnya.

Suara Kirana meledak begitu saja. "Sedang apa kau di kamarku!?"

Tissa, adik tirinya, sedang berdiri di depan cermin. Rambut panjangnya digerai dan ia sedang memulas lipstik tipis-tipis. Tapi yang paling membuat Kirana hampir pingsan adalah: Tissa memakai kebaya putih gading milik Kirana.

Kebaya yang seharusnya dipakai di hari ia mengikat janji. Kebaya yang ia beli pakai uangnya sendiri, hasil kerja lembur, hasil menahan keinginan belanja.

Dan kebaya itu sekarang menempel di tubuh orang yang membuat hidupnya hampir runtuh. Tissa terlonjak sedikit mendengar teriakan Kirana, lalu berbalik sambil tersenyum—senyum manja yang membuat darah Kirana naik ke kepala.

“Kak Kirana udah pulang? Pas banget,” katanya sambil memutar tubuh kiri-kanan seperti sedang catwalk. “Cantik kan kebayanya kalo aku yang pakai?”

Kirana melangkah masuk. Napasnya berat. Tangannya gemetar karena marah, tidak hanya pada Tissa, tapi pada seluruh luka yang tertimbun selama ini.

“TISSA. Kenapa kamu masuk kamarku tanpa izin?”

Tissa memutar bola mata. “Ya ampun, kak. Kenapa sih? Aku cuma coba. Lagian ....”

“Dan kenapa kamu pakai kebaya itu?!” tanya Kirana dengan nada sedikit tinggi.

Tissa menatap Kirana melalui pantulan cermin. Matanya menyipit, bibirnya tertarik menyeringai.

“Untuk apa disimpan, Kak?” tanya Tissa, ringan tapi menusuk. “Bang Irfan bakal nikah sama aku, bukan sama kak Kirana.”

Seakan ada sesuatu di dada Kirana yang tercabut paksa. Napasnya tercekat.

Ia merasa seperti dilempar kembali ke hari ketika Irfan memutuskan pertunangan secara sepihak. Hari ketika keluarganya menyalahkannya. Hari ketika Tissa berdiri di balik pintu kamar, memandangnya dengan tatapan menang.

Kirana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Tissa .…” Suara Kirana masih terdengar rendah. “Buka baju kebaya itu!”

Tissa memeluk pinggangnya, sambil memandang Kirana seolah ia yang salah.

“Nggak mau. Aku suka banget kebaya ini. Pas banget sama warna kulit aku. Kak Kirana pelit amat deh. Dari pada disimpen dan dimakan rayap, mending aku pake.”

“Aku lebih rela kebaya itu dimakan rayap daripada dipakai kamu.” Mata Kirana menajam. “Itu baju aku beli pakai uang aku sendiri.”

“Eeeh, kakak pelit!” Tissa jutek. “Yaudah aku bilang Papa sama Mama aja. Biar Papa yang suruh kak Kirana kasih ke aku.”

“Terserah kamu mau ngomong apa.” Kirana melangkah maju. “Tapi sekarang, buka.”

“Enggak.”

“Tissa … buka!”

“Enggak mau!”

“Kamu ....”

“Aku bilang TIDAK!”

Tissa mulai berjalan melewati Kirana. Mencoba kabur sambil membawa kebaya itu seperti trofi kemenangannya.

Dan saat itulah Kirana kehilangan kesabarannya. Ia memegang bagian bawah kebaya itu, menariknya sedikit. Tidak kuat, hanya cukup untuk menghentikan Tissa.

Tapi Tissa malah makin menarik tubuhnya ke depan.

“Kak, LEPASIN!”

“Tissa, buka bajunya. Sekarang juga!”

“TIDAK MAU!”

“TISSA!”

“Aku bilang lepas sekarang juga!"

Saat bertepatan terdengar suara robekan. Suara itu memotong ketegangan di antara keduanya. Merobek udara dan waktu. Merobek hati Kirana. Keduanya terhenti bersamaan.

Tissa perlahan menunduk, melihat bagian belakang kebaya. Sobek. Robekan panjang. Benang-benang bordir terurai. Kainnya koyak tidak karuan.

Kirana menatap kebaya itu. Kebaya yang ia beli dengan kerja keras. Kebaya yang ia simpan sambil menangis tiap malam. Kebaya yang seharusnya menjadi bagian dari hari bahagianya. Kini telah hancur.

Hancur di tangan orang yang membuat hidupnya berantakan. Wajah Kirana memucat. Tidak ada suara keluar dari mulutnya. Hanya tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Sementara Tissa menelan ludah. Wajahnya mulai panik. Namun seperti biasa, ia masih berusaha menyalahkan orang lain.

“Kak … Kak … ini semua gara-gara kakak tarik tadi!”

Kirana mengangkat wajah. Matanya terlihat dingin dan kosong. Rasa ingin mengakhiri hidup seseorang.

1
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
Rahma Inayah
Sam akan JD ayah muda ..20 THN SDH jadi ayah 🤭🤭👍👍
Rahma Inayah
bahagia Krn akan punya cucu sam .semua Krn mu yg buat Kirana sakit
Rahma Inayah
spt keinginan mami mau punya cucu segera terlaksana ya
Rahma Inayah
untung Sam menang ..walau dia hrs terbalik motor Krn kurg fikus
Rahma Inayah
sok sok an Kirana bilg sam pst menang .nyata nya apa dan km JD taruhan
Rahma Inayah
pintar sekali tisa bersandiwara memutar BLK kn fakta km blm tau siapa Kel sam .nnt ada bukti cctv klu ucapan mu TDK sesuai dgn kenyataan bilg aja km iri dgn hidup Kirana
Rahma Inayah
sam pasang badan oui..💪💪👍
Rahma Inayah
mami tau aja klu kirana dan Sam SDH unboxing bntr LG mau kasih cucu buat mami papi
Rahma Inayah
dgn SDH TDR bersama dan berbagi peluh maka akan batal nikah kontrak nya.dan mika GK akan BS mendapatkan Kirana lagi
Rahma Inayah
😆😆👍👍 lnjut mam
aufa afoed
keren loh
Rahma Inayah
km jgn meremehkan brondong nya Kirana ,mika ..walau usia nya di atas km tp sisi lembut dan romantis nya juah kalah dr kmu ..Kirana yga awal nya GK nyaman skrg SDH nyaman dgn sam
Rahma Inayah
raskan km Irfan kena bogem sama mika hrs nya bikin bonyok tu muka Irfan hingga GK berbentuk lg
Rahma Inayah
walau nikah tnp cnt BKN Bearti Km BS nikung loh mika km sendri dl yg mutusi kinaar dgn alasan mau fokus PD study mu dan sekrng km menyesal SDH memutuskan Kirana syg nya terlambat
Rahma Inayah
ternyata dunia in sempurna msh BS jmpa dgn lelaki masa lalu kirana
Rahma Inayah
kira in nm mika cewek tau nya lelaki ..slh mu sendri knp stlh 7 THN br inget skrg mika mau hub Kirana .klu kalian nikah ank kalian mkn SDh masuk sd
Rahma Inayah
ternyata balap liar lgi sam ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!