Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama
Sejak malam itu, segalanya mulai berubah.
Bukan dalam cara mereka tertawa. Bukan dalam cara mereka saling memandang. Tapi dalam cara Alvaro mengambil keputusan.
Ia tidak berbicara banyak.
Ia hanya mulai hadir.
Pada hari pertama setelah Aurellia menceritakan segalanya, Alvaro datang tepat lima belas menit sebelum kafe tutup. Ia duduk di meja kesukaannya, memesan americano seperti biasa, tapi matanya kali ini tidak bergerak-gerak.
Ia hanya menunggu.
Dimas yang kebetulan berada di satu shift malam itu menyadari adanya perubahan.
“Jadi bodyguard sekarang? ” godanya lembut saat berjalan melewati meja Alvaro.
Alvaro hanya memberikan senyuman kecil. “Lebih tepatnya jasa antar gratis. ”
Dimas tertawa kecil, tetapi tidak melanjutkan. Ia paham ini bukan sekadar soal cinta.
Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam saat kafe akhirnya sepi. Aurellia melepas apron dan menggantungnya di belakang. Begitu menoleh, ia langsung berhadapan dengan sepasang mata yang sudah menantinya.
Kali ini, ia tidak menolak.
“Langsung pergi? ” tanya Alvaro dengan lembut.
Aurellia mengangguk.
Perjalanan malam itu terasa berbeda.
Bukan karena jaraknya.
Bukan karena cuacanya.
Tapi karena untuk pertama kalinya sejak insiden itu, Aurellia tidak melirik ke belakang setiap beberapa langkah. Tidak lagi berjalan dengan bahu yang menegang.
Alvaro yang mengendarai motor dengan lambat yang kemudian aurellia memeluknya dengan hangat lantas menambah ketenangan bagi keduanya.
Seperti tembok.
Seperti sesuatu yang akan menjaga agar tidak ada yang mendekat.
“Kamu capek,” ujar Aurellia pelan saat mereka hampir sampai.
Alvaro menoleh. “Kenapa kamu bilang gitu? ”
“Karena kamu baru aja beres juga kerjanya. ”
Ia memang tampak agak letih. Lingkaran di bawah matanya lebih terlihat. Bahunya sedikit merosot. Namun langkahnya tetap mantap.
“Aku baik-baik aja,” jawabnya dengan singkat.
Jawaban yang ringkas. Tapi konsisten.
Hari kedua.
Alvaro datang lagi.
Hari ketiga.
Dia masih muncul.
Hari keempat.
Sama seperti sebelumnya.
Bahkan ketika hujan lebat dan jaketnya basah di bahu, ia tetap berada di depan kafe dengan payung di tangannya.
Aurellia berdiri di ambang pintu, memandangi pria itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan.
“Var, kamu nggak perlu datang tiap hari,” katanya pelan.
Alvaro sedikit mengangkat alis. “Kenapa? Apa kamu ngerasa bosan? ”
Aurellia cepat-cepat menggeleng. “Bukan gitu. Aku cuma… khawatir kamu kecapean. ”
Alvaro mendekatkan payungnya kepadanya. “Kalo aku ngerasa capek, itu urusanku. ”
Nada suaranya lembut, namun tegas.
“Aku lebih capek kalok harus mikirin kamu pulang sendirian. ”
Pernyataan itu membuat hujan di sekitar mereka menjadi lebih tenang.
Aurellia menunduk sedikit, menyembunyikan senyum dan rasa harunya.
Dalam hidupnya, ia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri. Terbiasa menolak bantuan agar tidak menyusahkan orang lain. Terbiasa kuat.
Tapi kini, ada seseorang yang memilih untuk tetap bersamanya.
Bukan karena terpaksa.
Bukan karena diminta.
Tapi karena ingin.
Dan itu terasa… segar.
Seminggu berlalu.
Rutinitas baru itu terbentuk tanpa perlu diumumkan.
Pengunjung setia kafe mulai menyadari pola ini.
“Pacarnya setia banget ya,” bisik salah satu pelanggan kepada temannya suatu malam.
Nindy, yang berdiri tidak jauh dari situ, tersenyum lebar. “Layanan premium itu. ”
Aurellia hanya bisa memutar mata, tapi senyumnya tak pernah benar-benar pudar.
Suatu malam, ketika kafe sangat penuh hingga hampir tengah malam, Alvaro tetap datang.
Padahal siang itu ia sempat mengeluh tentang klien yang menyebalkan. Bahunya tampak lebih berat dari biasanya. Namun ia tetap berdiri di sana.
Menunggu.
Saat Aurellia akhirnya keluar, dia melihat sesuatu yang membuat perasaannya hangat dan sedih sekaligus.
Alvaro tampak sedang menguap pelan, mencoba menahannya.
“Kamu ngantuk,” ujar Aurellia dengan suara lembut.
“Lumayan,” jawabnya.
“Kalo cape, kamu bisa pulang lebih awal. ”
Alvaro menatapnya dengan lama.
“Rel,” katanya pelan, “aku di sini bukan karena aku punya waktu senggang. ”
Keduanya terdiam sejenak.
“Aku di sini karena aku mau. ”
Pernyataan itu menggantung di udara malam yang tenang.
Aurellia merasakan tenggorokannya terasa kaku.
“Kenapa kamu baik banget? ” tanyanya pelan.
Alvaro memberikan senyum kecil. “Aku nggak baik. Aku cuma nggak mau kejadian itu keulang lagi. ”
Kejadian itu.
Meski belum pernah dibahas secara mendalam, ingatannya masih membekas.
Sejak malam saat dia merasakan seperti ada yang mengikutinya, Aurellia tidak lagi melihat sosok mencurigakan. Namun, rasa waspada itu belum benar-benar hilang.
Dan Alvaro menyadari hal itu.
Dia tidak pernah menanyakan lebih jauh.
Tidak pernah memaksa.
Dia hanya ingin memastikan satu hal — Aurellia tidak sendirian lagi.
Malam lain, ketika mereka hampir tiba di depan rumah, Aurellia tiba-tiba menghentikan langkah.
“Var. ”
“Hm? ”
“Makasih banyak ya. ”
Alvaro menoleh kepadanya.
“Buat semuanya,” lanjut Aurellia. “Karena nggak ngerasa terbebani. Karena nggak pernah buat aku ngerasa kayak beban. ”
Alvaro memandangnya dengan ekspresi sulit dijelaskan.
“Kamu nggak pernah jadi beban. ”
Sederhana. Tegas.
“Aku cuma takut buat kamu capek,” kata Aurellia pelan.
Alvaro tersenyum lembut.
“Kecapean itu fisik,” ujarnya. “Yang membuat orang berhenti bukan capek. Tapi nggak peduli. ”
Ia sedikit mengangkat bahu. “Aku peduli. ”
Aurellia tidak bisa mengeluarkan jawaban.
Dia hanya melangkah lebih dekat, merangkul tangan Alvaro dengan lebih erat dari biasanya.
Di dalam hatinya, dia menyadari satu hal.
Dia beruntung.
Bukan hanya karena memiliki seseorang yang selalu ada.
Tetapi karena ada seseorang yang memilih untuk berada di sampingnya — meskipun dalam keadaan lelah, meskipun tanpa diminta.
Setiap malam, suara mesin motor itu berhenti tepat di depan kafe sebelum tutup.
Aurellia tidak perlu lagi berjalan jauh.
Dia duduk di belakang, tangannya memeluk pinggang Alvaro dengan lembut. Awalnya canggung, tetapi kemudian menjadi biasa.
Angin malam menyapu wajah mereka. Lampu-lampu jalan melintas dengan cepat.
Dan untuk pertama kalinya setelah insiden itu, Aurellia merasakan ketenangan sejati.
Namun di balik rasa tenang itu, ada sesuatu yang tidak dia sadari.
Di suatu malam, ketika motor mereka berhenti di lampu merah, Alvaro merasakan ada tatapan dari kejauhan.
Ia menoleh sekilas.
Hanya jalan biasa.
Hanya ada kendaraan lain.
Mungkin hanya pikirannya.
Tetapi perasaan itu tidak sepenuhnya lenyap.
Ia tidak mengatakan apapun kepada Aurellia.
Ia hanya memegang setang lebih erat.
Malam semakin larut.
Hari-hari berlalu.
Dan kebiasaan itu terus berlanjut.
Alvaro tidak pernah mengeluh.
Tidak pernah menghitung berapa kali ia menjemputnya.
Tidak pernah menyebutkan pengorbanan.
Karena baginya, ini bukan tentang pengorbanan.
Ini tentang menjaga.
Bagi Aurellia, kehadiran itu lebih dari sekadar menemani pulang.
Itu adalah bukti.
Bahwa saat dunia terasa sedikit lebih gelap dari biasanya, dia tidak perlu berjalan sendirian.
Bahwa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Bukan untuk menggantikan langkahnya.
Tapi untuk berjalan bersamanya.
Di antara lampu-lampu kota yang redup, suara motor yang selalu ada setiap malam, dan tangan yang siap untuk menggenggam, mereka perlahan menyadari satu hal—
Kekuatan bukan hanya tentang bertahan sendiri.
Terkadang, kekuatan berarti memutuskan untuk saling mendukung.