Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkap kisah pilu Hana
Jalanan menuju hotel tempat Pak Sutoyo menginap tampak seperti pita hitam yang membelah keheningan malam. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul tiga pagi, waktu di mana dunia seolah menahan napas sebelum fajar menyapa.
Di dalam mobil, hanya terdengar deru mesin yang halus dan napas teratur El-Barack yang kembali terlelap di kursi belakang. Tama mencengkeram kemudi, matanya fokus menatap aspal yang tersorot lampu depan, namun pikirannya tertuju pada wanita di sampingnya.
Hana hanya diam. Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun jemarinya yang saling bertautan erat mengkhianati ketenangan wajahnya. Ada kecemasan yang begitu pekat terpancar dari gerak-geriknya.
"Hana," panggil Tama lirih, memecah kesunyian.
Hana tersentak kecil, seolah baru saja ditarik paksa dari dasar pikirannya. "Ya, Mas?"
"Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Tama sambil sesekali melirik. "Kalau kamu merasa tidak nyaman bertemu Pak Sutoyo sepagi ini, kita bisa berhenti sebentar."
Hana menggeleng cepat, suaranya parau. "Tidak, Mas. Tidak apa-apa. Lebih cepat sampai lebih baik."
Tama menghela napas panjang. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang apa yang sebenarnya mengapa ia lari dan mencari pertolongan? tentang ketakutan yang membuat bahunya bergetar, namun ia tahu ini bukan waktu yang tepat. "Istirahatlah sebentar. Masih ada lima belas menit lagi."
Hana kembali membuang muka ke arah kegelapan malam. Bagaimana bisa aku istirahat, Mas? batinnya menjerit. Setiap detik yang berlalu terasa seperti langkah kaki yang mendekatkannya pada mimpi buruk. Ketakutannya bukan pada Pak Sutoyo, melainkan pada kemungkinan bahwa masa lalu akan merenggut El-Barack darinya.
Mansion Ardiwinata
Sementara itu, di sebuah kamar yang terang benderang, Cakra justru terjaga dalam euforia yang menyesakkan. Ia menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, mengabaikan rasa kantuk yang seharusnya sudah menyerang sejak tadi.
Di layar ponselnya, terpampang foto Hana. Senyum Hana di foto itu terasa seperti ejekan sekaligus penyemangat baginya.
"Banyuwangi..." gumam Cakra dengan suara rendah. "Siapa yang sangka kamu bersembunyi di tanah asal kakek dan nenekku sendiri, Han?"
Cakra terkekeh kecil, sebuah tawa yang penuh dengan rasa percaya diri yang meluap-luap. Ia sudah merencanakan segalanya. Besok pagi, ia akan berangkat. Ia sudah membayangkan ekspresi terkejut Hana, dan bagaimana darah dagingnya akan menatapnya untuk pertama kali.
"Aku akan melakukan apa pun," bisik Cakra pada layar ponselnya. "Minta maaf, berlutut, memberikan seluruh hartaku... asal kamu kembali. Kamu tidak punya pilihan lain selain memaafkan ku, Hana."
Cakra tidak menyadari bahwa bagi Hana, kedatangannya bukanlah sebuah kesempatan untuk perdamaian, melainkan sebuah ancaman besar yang bisa menghancurkan hidup yang telah susah payah Hana bangun kembali. Baginya, Hana adalah milik yang harus kembali, namun bagi Hana, Cakra adalah badai yang harus dihindari demi melindungi buah hatinya.
Mobil yang dikendarai Tama akhirnya berhenti tepat di depan lobi hotel megah di pusat kota Banyuwangi. Lampu-lampu kristal yang memancar dari dalam lobi seolah kontras dengan kekalutan di hati Hana. Ia menoleh ke kursi belakang, melihat El yang mendengkur halus.
Saat Hana hendak menyentuh bahu putranya untuk membangunkan, sebuah tangan kekar namun lembut menahannya.
"Jangan dibangunkan, Han. Kasihan El, dia masih sangat pulas," ucap Tama pelan. "Biar aku yang gendong dan membawanya ke kamar."
Hana terpaku. Ada rasa tidak enak yang mengganjal, namun ia melihat ketulusan di mata pria itu. "Tapi Mas, El sudah semakin berat. Aku tidak ingin merepotkan mu terus."
"Sama sekali tidak merepotkan. Ayo," Tama turun lebih dulu, memutari mobil, dan dengan sangat hati-hati mengangkat El-Barack ke dalam dekapannya.
Melihat pemandangan itu, Hana teringat kata-kata Bude Minah. Tama memang pria yang baik, jauh berbeda dengan dendam yang mungkin sempat ia simpan untuk keluarga ayahnya. Dengan langkah berat, Hana mengikuti Tama menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka di lantai sepuluh, sosok pria paruh baya dengan guratan wibawa namun tampak lelah sudah berdiri menunggu. Itu adalah Pak Sutoyo. Tanpa memberikan kesempatan bagi Hana untuk mengucap salam, Sutoyo langsung merengkuh putrinya ke dalam pelukan hangat.
"Hana... putriku..." suara Sutoyo bergetar menahan tangis.
Hana mematung. Dingin. Namun, perlahan air matanya jatuh juga. Ada rasa asing sekaligus akrab yang menjalar. Ia enggan memaafkan masa lalu, namun pelukan ini terasa seperti pelindung dari ancaman Cakra yang terus menghantuinya.
"Masuklah Hana. Istirahatlah," ujar Sutoyo setelah melepaskan pelukannya, matanya beralih ke El yang ada di gendongan Tama dengan tatapan penuh sayang. "Besok siang, kita akan segera kembali ke rumah. Rumah yang sudah Papah persiapkan khusus untukmu dan cucuku. Kalian tidak akan kekurangan apa pun lagi."
Hana hanya mengangguk samar, sebuah anggukan yang lebih merupakan bentuk kepasrahan pada takdir daripada sebuah persetujuan yang tulus.
Keesokan paginya, suasana hotel terasa lebih hidup. Di sudut restoran pribadi, El tampak tertawa riang. Ia sudah berada di pangkuan Pak Sutoyo, asyik mengulik ponsel canggih pemberian kakeknya.
"Kakek, ini fotonya bisa gerak!" seru El antusias. Sutoyo tertawa lebar, sebuah pemandangan yang jarang terlihat.
Hana duduk di sofa tak jauh dari sana, mengaduk tehnya dengan pandangan kosong. Tama datang menghampiri, duduk di kursi sebelah dengan tatapan penuh selidik namun tenang.
"Han, aku tahu ada yang mengganjal di pikiranmu sejak semalam. Ini bukan cuma soal bertemu Papah, kan?" tanya Tama langsung.
Hana menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menyimpan rahasia ini selamanya dari keluarga barunya. Dengan suara pelan yang sesekali bergetar, Hana menceritakan semuanya tentang pernikahannya yang hancur, fitnah yang kejam, hingga sosok penguasa di balik luka itu, yaitu Cakra Ardiwinata.
Mendengar nama itu, rahang Tama mengeras. Pak Sutoyo yang ternyata ikut mendengarkan dari kejauhan segera mendekat, wajahnya memerah padam.
"Kurang ajar!" Sutoyo mengepalkan tinjunya ke meja. "Kelakuan ibu mertua dan suamimu yang tidak mempercayaimu itu benar-benar membuat Papah murka, Hana! Seandainya Papah menemukanmu lebih cepat, kau tidak akan pernah diperlakukan sehina itu. Tolong maafkan Papah yang terlambat melindungimu!"
Hana menunduk, mengusap sudut matanya. "Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir, Pah. Tidak ada yang perlu disesali lagi."
Sementara itu, Tama hanya terdiam membisu, namun hatinya bergemuruh.
'Seandainya aku menjadi si brengsek Cakra itu, aku akan lebih percaya pada Hana daripada siapa pun. Dia menceraikan wanita sehebat ini tanpa memberinya kesempatan bicara? Bodoh,' rutuk Tama dalam hati.
.
.
Jauh di atas awan, sebuah pesawat jet pribadi membelah langit biru yang cerah. Di dalam kabin yang mewah, Cakra Ardiwinata duduk dengan segelas minuman di tangannya. Matanya menatap hamparan awan dari jendela, namun pikirannya sudah mendarat di Banyuwangi.
Sebuah senyum tipis, hampir terlihat seperti seringai kemenangan, muncul di wajahnya.
'Hana, tunggu aku..." batin Cakra penuh ambisi. "Aku akan segera membawamu kembali ke kehidupanku. Kita bangun rumah tangga yang harmonis bersama anak-anak kita nanti. Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi.'
Cakra merasa di atas angin, tanpa menyadari bahwa di bawah sana, Hana telah menemukan perlindungan yang siap menabuh genderang perang dengannya.
Bersambung...