NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Pulang

Selama berada di rumah sakit untuk masa pemulihan, Gerard tak pernah benar-benar diam. Di sela-sela pemeriksaan dan terapi, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca—memanfaatkan kemampuan barunya: Si Jenius.

Awalnya ia hanya penasaran. Tapi ternyata, kemampuan itu benar-benar nyata. Setiap halaman yang ia baca terekam dengan jelas di kepalanya. Pola, detail, bahkan nomor halaman—semua bisa ia akses kapan saja seperti membuka file di komputer. Ditambah lagi, fisiknya terasa pulih lebih cepat dari perkiraan dokter. Dalam hitungan hari, ia sudah bisa meninggalkan kursi roda dan berjalan sendiri di lorong rumah sakit.

Ini gila, pikirnya suatu sore sambil menutup buku tebal yang baru saja ia selesaikan. Aku benar-benar seperti karakter fiksi.

Tapi ia tahu, ini baru permulaan. Kemampuan ini masih bisa berkembang. Masih banyak yang perlu dieksplorasi.

Namun itu urusan nanti.

Hari ini, setelah delapan hari dirawat, dokter akhirnya mengizinkannya pulang. Senyum Gerard mengembang lebar saat mendengar kabar itu. Bukan hanya karena bosan—meskipun iya, sangat bosan—tapi juga karena satu hal lain: misi Test Drive-nya masih menggantung, dan tak kunjung selesai.

Untungnya, Sistem tak pernah memberlakukan penalti waktu. Hanya status Sedang Berlangsung yang setia menemaninya setiap kali panel itu muncul.

Awalnya Gerard tak tahu-menahu tentang Sistem. Tapi setelah beberapa malam begadang mencari referensi di internet, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: ada banyak cerita dengan konsep serupa. Super System, System Integration, System Awakening—semua istilah itu akrab di telinga pembaca novel.

Dan ia? Ia hidup di dalamnya.

Bukan khayalan. Bukan cerita. Ini nyata.

Dan aku dapat ini secara cuma-cuma, pikirnya sambil menatap langit-langit kamar. Bersyukur banget.

Setelah mempersiapkan diri—yang sebenarnya hanya memastikan dompet, ponsel, dan kunci mobil ada di saku—Gerard siap pulang saat itu juga. Tapi ia tidak pergi. Ia menunggu seseorang.

Dan orang itu akhirnya tiba.

Melinda muncul di ambang pintu dengan napas memburu, wajahnya sedikit berkeringat, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin—pemandangan yang sangat asing dari sosoknya yang biasanya selalu anggun dan rapi.

Gerard mengernyit sejenak, lalu tersenyum. Hampir tertawa, tapi ditahannya. "Itu apa? Kok bisa keringetan?" tanyanya, nada bicaranya bercampur heran dan geli.

Melinda tak menjawab. Ia langsung mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya penuh gejolak—cemas, lega, khawatir, semuanya bercampur jadi satu.

"Kamu beneran pulang sekarang?"

Suaranya terburu-buru, seperti takut jika ia terlambat sedetik saja, Gerard akan menghilang.

Pesan singkat dari Gerard tadi datang tiba-tiba. Ia sedang di luar, ada acara, tapi begitu membaca notifikasi itu, tanpa pikir panjang ia memutar balik mobil dan melesat ke rumah sakit. Meninggalkan segalanya.

Gerard tersenyum. Ia tak langsung menjawab. Sebaliknya, dengan gerakan lembut ia menuntun Melinda untuk duduk di kursi samping, lalu mengambil botol mineral dari meja, membukanya, dan menyodorkannya.

"Minum dulu. Tarik napas."

Lembut, tapi tak bisa ditolak.

Melinda menerima botol itu, meneguk air mineralnya sedikit, lalu menatap Gerard dengan mata yang masih penuh tanya—lebih tenang sekarang, tapi tetap menuntut jawaban.

Melihat ekspresi itu, Gerard mengangguk mantap. “Iya, aku mau pulang sekarang.” Suaranya tenang, stabil. “Udah sehat, udah pulih. Nggak ada alasan buat tetap di sini.” Ia duduk di pinggiran ranjang, tangannya menopang tubuh dengan santai.

Melinda menggigit bibir bawahnya, ragu. “Tapi…”

“Kita masih bisa ketemu, kok.” Gerard memotong lembut, memahami kekhawatiran yang tak diucapkan. Bahunya terangkat ringan. “Aku cuma nggak bisa terus-terusan di sini. Ada rumah yang harus diurus, apalagi aku baru pindah. Masih banyak yang perlu diberesin—jauh lebih berguna daripada rebahan terus.”

Melinda menunduk sebentar, jemarinya sedikit meremas ujung rok. Ia tahu Gerard benar. Tapi ada sesuatu yang membuatnya enggan melepas pria itu begitu saja. Delapan hari terbiasa datang, terbiasa menghabiskan waktu, terbiasa melihatnya tersenyum setiap sore—itu menciptakan kebiasaan yang tak mudah direlakan.

"Tapi kamu janji, ya..." suaranya kecil, nyaris seperti bisikan. "Kalau kamu butuh sesuatu, atau... atau sekadar ingin ditemani, kamu kabarin aku. Langsung."

Gerard menatapnya. Sinar matanya lembut, seperti mengerti lebih dari yang Melinda ucapkan. "Iya. Janji."

Dengan begitu, perpisahan singkat menjadi penutup pada siang hari yang pekat. Selain kedatangan Melinda yang terburu-buru, Gerard juga sempat dikejutkan saat mengetahui semua biaya perawatannya telah dilunasi oleh pihak keluarga Anton.

Untuk kesekian kalinya, ia merasa berhutang budi. Meski tak terucap, dalam hatinya ia bertekad akan membalasnya suatu hari—dengan cara apa pun, selama itu mampu ia penuhi.

Namun sekarang, waktunya mengurus urusan pribadi. Dengan lembut dan sopan, ia menolak permintaan Melinda yang ingin menemaninya pulang. Bukan karena tak ingin, tapi ia tak bisa terus merepotkan wanita itu. Mungkin lain kali. Mungkin nanti.

Mobil Camry silver melaju tenang di jalanan sore. Sesekali Gerard melirik spion tengah, mengamati tubuhnya yang sama sekali tak menyisakan bekas luka. Leher yang sempat tersayat karambit kini mulus, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dalam hati ia bersyukur—setidaknya, tak ada yang perlu ia jelaskan pada siapa pun.

Melinda...

Di tengah kemacetan ringan, bayangan Melinda kembali melintas. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyum. Dadanya berdesir, perasaan aneh yang sulit ia pahami.

Wanita yang aneh.

Tapi senyum itu tak pergi. Bahkan sampai lampu merah berikutnya, ia masih tersenyum—tanpa alasan, tanpa sadar.

Mobilnya terus melaju, membawanya pulang ke rumah yang sejak beberapa hari ini hanya ia tinggalkan. Tapi di dalam kepalanya, seseorang masih betah bersemayam.

Itu bertahan sampai akhirnya sesuatu—suara seseorang—mengetuk lamunannya. Gerard menoleh, dan di sana, di ambang pagar rumahnya, berdiri Mawar. Sosoknya tampak ragu, matanya mengikuti mobil asing yang hendak memasuki pekarangan rumah Gerard.

Mawar akhirnya berjalan mendekat, jarinya mengetuk pelan kaca jendela mobil. "Permisi..." suaranya ragu, matanya menyelidik ke dalam. "Anda siapanya Kak Gerard, ya?"

Ada harap dan cemas bercampur di wajahnya. Sudah delapan hari pagar putih itu tak terbuka. Delapan hari tanpa kabar, tanpa suara, tanpa sosok yang sejak pertama kali bertemu selalu hinggap di pikirannya. Dan kini, kehadiran mobil asing ini—mungkin—menjadi pintu yang ia tunggu.

Mawar?

Gerard menghentikan mobil. Perlahan, kaca jendela menurun. Wajahnya muncul, dengan senyum hangat yang sama seperti dulu.

"Hai, Mawar."

Sapaan itu sederhana. Lembut. Seperti baru kemarin mereka bertemu.

Tapi bagi Mawar, dunia sejenak berhenti.

Wajahnya kaku. Matanya membulat. Bibirnya terbuka kecil, tapi suara yang keluar hanya separuh, seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata.

"K-Kakak...?"

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!