NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Suara DiLorong Bawah Tanah

Aroma formalin yang bercampur dengan bau tanah basah menusuk indra penciuman Elara, menciptakan sensasi mual yang sulit ditahan. Ia menarik napas pendek-pendek, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar seiring langkah kakinya membelah genangan air keruh setinggi betis di lorong Basement Level 4.

"Jangan melihat ke bawah, Neng Elara. Fokus saja pada punggung saya," suara Pak Darto terdengar parau, memantul pelan di dinding-dinding beton yang lembap dan berlumut.

Elara mengangguk kaku, meski matanya sempat melirik sekilas pada permukaan air yang hitam pekat di sekelilingnya. Cahaya senter di tangan Pak Darto hanya mampu menembus kegelapan beberapa meter ke depan, menyisakan bayang-bayang panjang yang seolah hidup dan menari-nari di sudut ruangan.

RSU Cakra Buana memang menyimpan sejarah kelam, tetapi Elara tidak pernah menyangka bahwa fondasi bangunan ini berdiri di atas labirin peninggalan kolonial yang begitu mengerikan. Dinding-dinding di lorong ini tidak lagi dilapisi keramik putih khas rumah sakit, melainkan batu bata merah tua yang tampak rapuh dimakan usia.

"Pak, kenapa dr. Arisandi sering ke tempat ini? Tidak ada peralatan medis yang bisa berfungsi di tempat selembap ini," tanya Elara dengan suara bergetar, mencoba memecah keheningan yang mencekam.

Pak Darto menghentikan langkahnya sejenak, membuat riak air di sekitar kakinya perlahan tenang kembali. Ia menoleh sedikit, menyorotkan senternya ke arah sebuah pintu besi berkarat yang setengah terbuka di sisi kanan lorong.

"Dokter itu mencari sesuatu yang tidak bisa disembuhkan dengan obat, Neng. Ada perjanjian lama antara tanah ini dengan mereka yang serakah akan keabadian," jawab Pak Darto datar, seolah ia sedang membicarakan cuaca dan bukan hal klenik.

Tiba-tiba, terdengar suara gemericik air yang tidak wajar dari arah belakang mereka, seolah ada benda berat yang baru saja dijatuhkan ke dalam genangan. Elara refleks memutar tubuhnya, mengarahkan cahaya ponselnya ke kegelapan di belakang mereka, namun tidak ada apa-apa selain lorong kosong yang menganga.

"Abaikan suara itu. Jangan berikan perhatian, atau mereka akan sadar kita ada di sini," desis Pak Darto tajam, kali ini nada suaranya terdengar mendesak.

Mereka mempercepat langkah, namun air yang merendam kaki mereka terasa semakin berat dan dingin, seakan berubah menjadi lumpur hidup yang mencoba menahan pergerakan. Elara merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke tulang belakang, sebuah firasat buruk bahwa mereka tidak lagi sendirian di lorong sempit itu.

Di ujung lorong, sebuah persimpangan muncul dengan tanda penunjuk arah yang sudah pudar, bertuliskan ejaan lama 'Morgue' dan 'Laboratorium'. Pak Darto tanpa ragu mengambil jalur kiri menuju area laboratorium tua, menghindari arah kamar jenazah yang pintunya tertutup rapat dengan rantai besar.

"Kita harus sampai ke ruang arsip medis di balik laboratorium itu sebelum pukul tiga pagi. Di sana energi negatifnya paling lemah," ujar Pak Darto sambil menyeka keringat dingin di dahinya.

Namun, langkah Elara terhenti ketika ia melihat sesuatu mengambang di dekat dinding sebelah kiri. Sebuah jas dokter berwarna putih yang sudah kusam dan bernoda kecokelatan tersangkut pada pipa air yang bocor, bergoyang pelan mengikuti arus udara yang minim.

"Itu... itu jas milik dr. Arisandi, kan? Ada bordir namanya di saku depan," bisik Elara, matanya membelalak ngeri saat menyadari noda di jas itu menyerupai bercak darah kering.

Pak Darto mendekat untuk memeriksa, wajah tuanya yang keriput tampak semakin tegang di bawah sorotan lampu senter. Ia menyentuh kain basah itu dengan ujung tongkat kayu yang selalu ia bawa, sebuah tongkat yang diukir dengan simbol-simbol pelindung kuno.

"Dia ceroboh. Atau mungkin sengaja meninggalkan jejak untuk memancing seseorang," gumam Pak Darto, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.

Seketika itu juga, suhu di lorong tersebut turun drastis, membuat napas Elara mengepul menjadi uap putih di udara. Lampu lorong yang tersisa satu-satunya di kejauhan mulai berkedip-kedip tidak beraturan, menciptakan efek stroboskopik yang membuat bayangan di dinding terlihat melompat-lompat mendekati mereka.

"Mundur, Neng! Cepat masuk ke celah di dinding itu!" teriak Pak Darto sambil mendorong bahu Elara kasar ke arah sebuah rongga bekas ventilasi yang cukup besar.

Elara terhuyung dan masuk ke dalam celah sempit itu, lututnya membentur lantai beton yang keras. Dari tempat persembunyiannya, ia bisa melihat Pak Darto berdiri tegak di tengah lorong, memegang tongkat kayunya seperti seorang prajurit yang siap menghadang musuh.

Dari kegelapan di ujung lorong tempat mereka datang tadi, muncul sosok tinggi besar yang terbentuk dari kabut hitam pekat. Sosok itu tidak memiliki wajah, namun Elara bisa merasakan tatapan tajam yang penuh kebencian tertuju pada Pak Darto.

"Kau tidak punya hak di sini, Penjaga Gerbang! Perjanjian itu sudah dilanggar!" suara berat yang terdengar seperti gesekan batu cadas menggema di seluruh ruangan, bukan berasal dari mulut sosok itu, melainkan langsung terdengar di dalam kepala Elara.

Pak Darto tidak gentar, ia memukulkan tongkatnya ke permukaan air dengan keras, menciptakan cipratan yang anehnya bersinar keperakan. Mulutnya komat-kamit merapalkan mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti Elara, bahasa yang terdengar lebih tua dari kota Arcapura itu sendiri.

"Aku datang bukan untuk menagih janji, tapi untuk mengambil apa yang bukan milik kegelapan. Mundurlah, atau air ini akan menjadi penjara abadimu!" seru Pak Darto lantang.

Sosok kabut itu meraung, suaranya memekakkan telinga hingga Elara harus menutup kedua telinganya rapat-rapat. Angin kencang berhembus di lorong tertutup itu, menerbangkan debu dan bau busuk yang semakin menyengat, sementara air di lantai mulai bergolak seolah mendidih.

Dalam kekacauan itu, Elara melihat sesuatu yang lain di balik punggung sosok kabut tersebut. Sesosok manusia nyata, mengenakan jas hujan kuning, sedang mengamati pertarungan itu dari kejauhan dengan senyum tipis yang mengerikan. Wajah itu, meski samar, sangat dikenali Elara dari foto staf rumah sakit.

"Dr. Arisandi..." desis Elara pelan, rasa takutnya kini bercampur dengan kemarahan yang membara.

Pak Darto menghentakkan tongkatnya sekali lagi, dan cahaya perak itu meledak, memaksa sosok kabut itu mundur dan perlahan memudar kembali ke dalam dinding-dinding basah. Keheningan kembali menyelimuti lorong Basement Level 4, menyisakan suara napas Pak Darto yang tersengal-sengal.

"Keluarlah, Neng. Dia sudah pergi untuk sementara waktu," panggil Pak Darto, suaranya terdengar jauh lebih lemah dari sebelumnya.

Elara merangkak keluar dari persembunyiannya, kakinya gemetar hebat namun ia memaksakan diri untuk berdiri. Ia menghampiri Pak Darto yang kini bersandar pada dinding, wajahnya pucat pasi seolah tenaganya baru saja terkuras habis.

"Bapak tidak apa-apa? Tadi itu... makhluk apa? Dan saya melihat seseorang di sana!" cecar Elara sambil menunjuk ke arah kegelapan yang kini kosong melompong.

Pak Darto menggeleng lemah, memberi isyarat agar Elara tidak banyak bertanya dulu. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kuno yang terbuat dari kuningan, lalu menyerahkannya pada Elara.

"Itu Penunggu Lorong Barat. Dia marah karena 'tuan'-nya sedang mengusik ketenangannya. Orang yang kamu lihat tadi... dia sudah masuk ke Ruang Arsip Terlarang," jelas Pak Darto dengan napas berat.

Elara menggenggam kunci dingin itu erat-erat, merasakan beban tanggung jawab yang tiba-tiba berpindah ke pundaknya. Ia menyadari bahwa malam ini bukan sekadar investigasi jurnalistik biasa, melainkan sebuah perjalanan bertahan hidup melawan kekuatan yang tidak masuk akal.

"Kita harus mengejarnya, Pak. Sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih gila lagi," ucap Elara tegas, keberaniannya mulai tumbuh mengalahkan rasa takutnya.

Pak Darto tersenyum tipis, sorot matanya menyiratkan rasa bangga sekaligus kekhawatiran yang mendalam. Mereka kembali melangkah menyusuri lorong yang semakin menyempit, menuju pintu kayu ek besar di ujung sana yang tampak kering dan bersih secara tidak wajar di tengah kelembapan basement.

Di balik pintu itu, rahasia RSU Cakra Buana dan eksperimen gila dr. Arisandi menanti untuk diungkap. Elara menelan ludah, menyiapkan mentalnya untuk menghadapi kebenaran yang mungkin lebih mengerikan daripada hantu mana pun.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!