NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seranjang

Rea segera menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, mencoba memejamkan mata rapat-rapat. Namun, tidurnya tak kunjung lelap. Suasana kamar yang luas itu mendadak terasa mencekam, seolah-olah ada pasang mata yang mengawasinya dari setiap sudut gelap ruangan.

Kriitt... suara gesekan kayu terdengar pelan, membuat bulu kuduk Rea meremang.

BRUK!

Tiba-tiba, sebuah kotak kayu tua jatuh dari atas lemari besar di pojok kamar. Suaranya menggelegar memecah keheningan malam.

"Waaaaaaaa!" pekik Rea histeris. Ia melompat dari ranjang tanpa sempat memakai alas kaki. Rasa takutnya pada kegelapan dan hal mistis jauh lebih besar daripada rasa malunya pada Galen.

Rea berlari keluar kamar dengan napas terengah-engah. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang berantakan. Tujuannya hanya satu: kamar di sebelah.

BRAK!

Rea mendorong pintu kamar Galen tanpa mengetuk. Ia melihat Galen sedang berdiri di dekat jendela, baru saja hendak membuka kemeja hitamnya.

"Mas Galen! Tolong! Ada... ada sesuatu di kamar Rea!" Rea langsung menghambur dan memeluk pinggang Galen dari belakang, menyembunyikan wajahnya di punggung kokoh pria itu. Tubuh mungilnya gemetar hebat.

Galen tertegun, tangannya yang baru saja melepas kancing kemeja terhenti di udara. Ia bisa merasakan jantung Rea yang berdegup kencang menempel di punggungnya. Perlahan, Galen berbalik dalam pelukan Rea dan memegang bahu istrinya.

"Ada apa, Bunny? Kenapa kau gemetar begitu?" tanya Galen, suaranya terdengar berat namun ada nada khawatir yang terselip di sana.

"Di kamar... ada benda jatuh sendiri, Paman—eh, Mas! Rea takut, ada yang mengawasi Rea di sana," isak Rea sambil mendongak, matanya yang bulat kini sudah berkaca-kaca.

Galen menatap Rea dengan intens. Ia tahu tidak ada hantu di mansion ini; penjagaannya sangat ketat, mungkin itu hanya tikus atau angin. Namun, melihat Rea yang ketakutan dan mencari perlindungan padanya, sisi posesif Galen bangkit.

"Tenanglah, Rea. Tidak ada yang berani mengganggumu selama ada saya," ucap Galen sambil mengusap air mata di pipi Rea dengan jempolnya. "Malam ini, jangan kembali ke kamar itu."

"Tapi Rea tidur di mana, Mas?" tanya Rea polos.

Galen menyunggingkan senyum tipis yang berbahaya. Ia menarik pinggang Rea agar lebih rapat dengannya. "Tidurlah di sini. Di samping saya. Itu satu-satunya tempat paling aman untukmu di dunia ini."

Rea tertegun, wajahnya yang tadi pucat karena takut kini perlahan mulai memerah kembali. Namun, rasa takut pada kamar gelapnya mengalahkan segalanya, membuatnya hanya bisa mengangguk pasrah dalam dekapan sang mafia.

"Masa ada hantu sih di rumah megah begini?" batin Rea dengan bulu kuduk yang masih meremang. Ia bergidik ngeri, membayangkan sosok menyeramkan sedang bersembunyi di balik gorden kamarnya tadi.

Galen yang melihat ekspresi ketakutan itu sebenarnya ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin rumah yang dijaga oleh puluhan penjaga bersenjata lengkap dan sistem keamanan canggih bisa kemasukan hantu? Tingkah Rea yang konyol dan polos ini benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi sang mafia yang biasanya hanya melihat darah dan pengkhianatan.

Namun, Galen menahan tawanya agar wibawanya tetap terjaga. Ia menatap Rea yang masih mencengkeram ujung kemejanya dengan sangat erat.

"Sudah, Bunny. Tidurlah. Tidak akan ada hantu yang berani masuk ke sini kalau tidak mau saya tembak," ucap Galen dengan nada datar namun sedikit menggoda.

"Mas Galen bercanda! Mana ada hantu bisa ditembak!" protes Rea sambil mengerucutkan bibirnya, meski ia tetap tidak mau melepaskan pegangannya.

Galen menarik napas panjang, lalu membimbing Rea menuju ranjang king size-nya yang luas. "Berbaringlah. Saya tidak akan ke mana-mana."

Rea akhirnya menurut. Ia merebahkan tubuh mungilnya di sisi ranjang, menarik selimut tinggi-tinggi hingga hanya menyisakan matanya yang bulat. Galen kemudian menyusul, berbaring di sampingnya namun tetap memberikan jarak yang sopan, meski aura dominannya tetap memenuhi ruangan.

"Mas... jangan matikan lampunya ya," pinta Rea lirih.

"Terserah kau saja, Rea," jawab Galen singkat. Ia memejamkan mata, namun tangannya diam-diam meraih tangan kecil Rea yang gemetar di balik selimut dan menggenggamnya kuat.

Malam itu, di tengah kemewahan mansion yang dingin di tahun ini. Rea tertidur dengan perasaan aman, tanpa tahu bahwa pria yang menggenggam tangannya saat ini adalah sosok yang jauh lebih menakutkan daripada hantu mana pun di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!