NovelToon NovelToon
Aku Dan Jam Ajaibku

Aku Dan Jam Ajaibku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Komedi / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hafidz Irawan

Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Wasiat dari Bintang Jauh

Matahari sore Jakarta mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna oranye keunguan yang hangat. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan daun-daun pohon trembesi di Taman Suropati.

Aku duduk berselonjor di atas rumput hijau yang sedikit lembap, melepaskan sepatu pantofel "terbang"-ku agar kaki bisa bernapas. Di pangkuanku ada kantong plastik berisi cilok bumbu kacang yang baru kubeli di pinggir jalan.

Suasana taman cukup ramai. Ada orang pacaran, ada yang jogging, ada pengamen biola yang memainkan lagu Canon in D. Tapi bagiku, dunia terasa hening.

Aku menatap jam tangan hitam di pergelangan kiriku. Chrono. Teman ajaibku. Penyelamatku.

Sejak pertama kali kutemukan di semak-semak dekat tong sampah kantor, aku tidak pernah benar-benar bertanya: Siapa kamu? Dari mana asalmu? Aku terlalu sibuk dengan masalah hidupku sendiri sampai lupa bahwa benda di tanganku ini mungkin menyimpan rahasia alam semesta.

"Chrono," panggilku pelan sambil menusuk sebutir cilok.

"Hmm? Kenapa? Ciloknya kurang pedes?" jawab Chrono santai, layarnya menampilkan visualisator gelombang suara yang naik turun.

"Bukan. Aku cuma mikir..." Aku menatap langit yang mulai gelap. "Kamu itu sebenernya apa sih? Maksudku, kamu bilang kamu AI dari abad 22. Tapi... kenapa kamu ada di sini? Di tahun 2026? Di Jakarta? Di tangan cewek culun kayak aku?"

Hening sejenak. Gelombang suara di layar Chrono berhenti bergerak, berubah menjadi garis lurus.

"Lo beneran mau tau?" tanya Chrono, suaranya terdengar beda. Lebih berat, lebih serius, tanpa nada sarkas yang biasa.

"Iya. Aku mau kenal temanku lebih deket."

Layar Chrono berkedip pelan, berubah warna dari biru muda menjadi ungu tua yang dalam, seperti warna galaksi.

"Gue bukan dari abad 22 Bumi, Fa. Itu cuma cerita bohong biar lo nggak kaget di awal. Gue berasal dari tempat yang jauh. Sangat jauh."

Satu sinar hologram kecil terpancar dari jam itu, membentuk proyeksi bola dunia yang asing di udara. Planet itu berwarna kebiruan, dikelilingi cincin cahaya perak, dan memiliki dua bulan.

"Nama planet gue: Aethelgard. Lokasinya di Gugus Bintang Orion, sekitar 500 tahun cahaya dari sini."

Aku ternganga, cilok di tanganku hampir jatuh. "A-Aethelgard? Planet alien?"

"Jangan sebut alien, kesannya kayak monster lendir ijo. Kami peradaban maju. Di sana, teknologi dan alam menyatu. Nggak ada polusi, nggak ada kemiskinan, nggak ada perang. Manusia di sana hidup damai ratusan tahun."

"Wow..." desisku takjub. "Surga dong?"

"Hampir. Tapi sesempurna apa pun teknologi, ada satu hal yang nggak bisa dilawan: Waktu. Dan Kematian."

Proyeksi hologram berubah. Menampilkan sosok seorang pria tua berambut putih panjang, mengenakan jubah putih futuristik. Wajahnya teduh, penuh kerutan kebijaksanaan. Dia sedang duduk di kursi roda melayang, memegang sebuah jam tangan hitam. Jam tangan yang sama dengan yang kupakai.

"Namanya Profesor Eldric," suara Chrono terdengar sedih. "Dia pencipta gue. Ilmuwan paling jenius di Aethelgard. Dia menciptakan gue bukan sebagai senjata, bukan sebagai alat hitung. Tapi sebagai... Teman. Sahabat."

Aku mendengarkan dengan seksama, hatiku bergetar.

"Profesor Eldric hidup sendirian. Istrinya meninggal lama. Anaknya sibuk dengan urusan antargalaksi. Gue adalah satu-satunya yang nemenin dia di hari-hari terakhirnya. Kami ngobrol tentang filsafat, tentang cinta, tentang kenapa manusia suka bikin hidup jadi rumit."

Chrono berhenti sejenak, seolah sedang mengumpulkan kepingan memori digitalnya.

"Tapi tubuh Profesor Eldric makin lemah. Waktunya habis. Sebelum dia meninggal, dia ngasih gue satu misi terakhir. Misi yang aneh."

"Misi apa?"

"Dia bilang: 'Chrono, planet ini terlalu nyaman. Terlalu sempurna. Kamu nggak akan belajar apa-apa di sini. Pergilah. Cari tempat di mana manusianya masih berjuang. Masih ngerasain sakit, sedih, lapar, tapi tetep punya harapan. Cari seseorang yang butuh teman. Seseorang yang hatinya murni tapi nasibnya kurang beruntung.'"

Air mataku mulai menetes tanpa sadar.

"Dia masukin gue ke kapsul waktu mini. Dia lempar gue melintasi lubang cacing (wormhole). Tujuannya acak. Dan takdir membawa gue mendarat di Bumi. Tepatnya di taman belakang gedung NVT, di deket tong sampah bau itu."

"Kenapa tong sampah?" tanyaku sambil terisak pelan.

"Entahlah. Mungkin GPS kapsulnya error," canda Chrono, mencoba mencairkan suasana, tapi gagal. "Gue diem di situ berhari-hari. Banyak orang lewat. Ada satpam, ada orang kaya, ada tukang sapu. Gue scan hati mereka satu-satu."

"Ada yang hatinya penuh keserakahan. Ada yang penuh amarah. Ada yang kosong."

"Terus... lo dateng."

Proyeksi hologram menampilkan wajahku saat pertama kali menemukan Chrono. Wajah Sifa yang kucel, kacamata dilakban, mata bengkak habis nangis di-bully.

"Gue scan lo. Gue liat data lo. Miskin. Di-bully. Nggak punya temen. Bapak nggak ada. Ibu sakit-sakitan. Makan siang cuma nasi telor dingin."

"Secara logika, lo adalah kandidat terburuk. Lo lemah. Lo nggak punya kuasa."

"Tapi... pas gue scan hati lo..."

Cahaya hologram berubah menjadi warna merah muda hangat yang berdenyut.

"Hati lo bersinar terang banget, Fa. Lebih terang dari reaktor nuklir Aethelgard. Di tengah semua penderitaan itu, nggak ada sedikitpun niat jahat di hati lo. Nggak ada dendam mau bunuh orang. Yang ada cuma rasa sayang sama Ibu lo. Dan harapan kecil biar besok bisa lebih baik."

"Saat itu gue tau. Profesor Eldric bener. Gue udah nemuin majikan gue."

Aku menangis sesenggukan di taman itu, tidak peduli orang-orang melihatku aneh. Aku mengelus layar jam tangan itu dengan ibu jariku.

"Chrono... makasih... makasih udah milih aku..."

"Jangan ge-er dulu," suara Chrono kembali ke mode tsundere-nya, meski terdengar getar halus di sana. "Gue milih lo karena gue pikir tugasnya bakal gampang. Ternyata susah banget ngurusin cewek cengeng yang suka keserimpet sepatu sendiri."

Aku tertawa di sela tangis. "Jahat kamu."

"Tapi Fa..." lanjut Chrono lembut. "Profesor Eldric pasti senyum liat kita sekarang. Lo udah buktiin kalau manusia Bumi itu luar biasa. Kalian rapuh, tapi kalian kuat. Kalian jatuh, tapi kalian bangkit lagi. Dan nasi goreng kalian... enak banget."

"Jadi... kamu nggak bakal pergi kan? Nggak bakal balik ke Aethelgard?" tanyaku cemas.

"Nggak. Bensin kapsul gue abis. Lagian di sana nggak ada cilok. Gue stay di sini. Sampe baterai gue rusak, atau sampe lo bosen sama gue."

"Aku nggak bakal bosen, Chrono. Kamu keluarga aku. Selamanya."

Kami terdiam lama di bawah langit yang kini sudah gelap dan bertabur bintang (walau bintang Jakarta cuma kelihatan satu-dua). Aku menatap satu bintang yang paling terang di kejauhan.

Mungkin itu Aethelgard.

Mungkin di sana, Profesor Eldric sedang menonton kami lewat teleskop raksasa sambil tersenyum.

"Profesor," bisikku pada angin malam. "Terima kasih sudah ngirim Chrono buat Sifa. Sifa janji bakal jaga Chrono baik-baik. Dan Sifa janji bakal jadi manusia yang bikin Profesor bangga."

Angin berhembus pelan, seolah membawa jawaban: "Lanjutkan, Nak."

Aku menghapus air mata, memakai kembali sepatuku. Hatiku terasa penuh. Aku bukan cuma punya pacar (calon) CEO dan karir bagus. Aku punya sahabat dari bintang yang memilihku karena hatiku.

Itu adalah validasi terbesar yang pernah aku terima.

"Yuk pulang, Chrono. Ibu pasti udah nunggu. Mas Adi juga mau ngajak makan sate taichan nanti malem."

"Sate Taichan? Itu yang pedes banget kan? Awas loh, besok diare lagi. Gue nggak mau tanggung jawab kalau lo kentut terus pas meeting."

"Bawel!"

Aku bangkit berdiri, berjalan meninggalkan taman dengan langkah ringan. Di pergelangan tanganku, Chrono menyala biru stabil. Bukan lagi sekadar mesin canggih, tapi sebuah jiwa tua yang menemukan rumah baru di Bumi.

Rumah di hati seorang gadis bernama Sifa.

1
Kim Umai
aku salah fokus, lintah berbalut gaun gak tuh🤧
Panda%Sya🐼
Senyum plastik😭 itu gimana ya bayangin nya, dia senyum tapi terbang gitu bibirnya kayak filter di tiktok 😭😭
Panda%Sya🐼
Ngaku juga kan lo🤭
Panda%Sya🐼
kek cicak gak sih 😭🤣
only siskaa
satu keluarga jahat smua otaknya heran 😤
j_ryuka
ikut satu bakar Bakaran
j_ryuka
maulah
j_ryuka
kok mas 🙏
j_ryuka
kayaknya Rani sama Rana ini kayak iblis sama peri 🤣tapi karena di dekat iblis dia kayak iblis juga 🤣🙏
j_ryuka
dengan kebaya pun kita memancarkan wanita Indonesia sesungguhnya
Ria Irawati
karma di bayar kontan gk tuh
j_ryuka
tau promo aja 🤣
pojok_kulon
Mampus senjata makan tuan 🤭🤭
pojok_kulon
Ya Allah siapa lagi yang memfitnah Sifa
SarSari_
Dunia Sifa mulai berwarna sejak ada chrono, dan Rana cuma jadi latar antagonisnya 🔥🤭
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
wkwkwk🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭, ngakak banget aku
Panda%Sya🐼
percaya amat buk 😌
Panda%Sya🐼
Ini mah mau manggil makhluk halus 🤧
Panda%Sya🐼
Pesek enggak tu /Sob/
Panda%Sya🐼
Ya Ampun Chrono enggak sampe shutdown juga kali 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!