Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
20
Pagi di rumah papan milik Anjeli yang biasanya diawali dengan suara kokok ayam tetangga yang saling bersahutan dan kepulan asap dari dapur-dapur warga yang memasak nasi. Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan warung Mak Odah, mengantarkan tumpukan koran dan beberapa majalah bulanan yang biasanya jarang sekali laku di desa itu.
Anjeli baru saja selesai menyiram tanaman jahe merahnya. Ia menyeka keringat dengan ujung kainnya, lalu berjalan menuju teras depan. Di sana, Ayahnya, Pak Burhan sedang duduk menikmati udara pagi sambil melatih otot jemari tangannya dengan bola karet.
"Ayah, apakah hari ini kaki ayah terasa lebih ringan?" tanya Anjeli sambil duduk di samping kursi kayu Ayahnya.
Pak Burhan tersenyum lebar, wajahnya tampak jauh lebih segar dibandingkan sebulan yang lalu. "Alhamdulillah, Nak. Ayah merasa seperti ada tenaga baru yang merambat dari telapak kaki. Tadi Ayah sudah bisa berdiri sendiri tanpa pegangan kursi selama hampir satu menit. Ini pasti karena sayur buncis dan nasi yang kamu masak semalam."
Anjeli merasa hatinya hangat setiap kali Ayahnya menyebut kemajuan fisiknya. "Itu karena semangat Ayah juga. Ayah harus kuat, karena Aris sebentar lagi mau ujian kenaikan kelas, dia ingin Ayah yang mengambil laporannya nanti."
"Ayah janji, Nak. Ayah akan jalan ke sekolah Aris dengan kaki ini saat mengambil raport adikmu," sahut Pak Burhan mantap.
Tiba-tiba, Aris berlari dari arah jalan desa dengan napas terengah-engah. Di tangannya, ia mendekap sebuah majalah dengan kertas yang mengkilap. Wajah bocah itu merah padam karena gembira.
"Ayah! Kak Anjeli! Lihat ini!" seru Aris sambil melompat ke teras. "Muka Kak Anjeli ada di buku! Tadi Mak Odah kasih tahu Aris di jalan!"
Anjeli tertegun. Ia menerima majalah itu dari tangan Adiknya. Judul besarnya tertulis dengan huruf tebal berwarna hijau “Mawar di Tanah Berbatu: Kisah Petani Remaja yang Menghidupkan Kembali Harapan."
Di sampul depan, terpampang foto Anjeli yang sedang berjongkok di antara tanaman selada yang rimbun, dengan latar belakang pagar mawar yang sedang mekar sempurna. Foto itu diambil oleh Gani dengan sangat artistik, menunjukkan sisi tangguh namun lembut dari seorang gadis desa.
Pak Burhan memakai kacamata tuanya dan mulai membaca baris demi baris artikel tersebut. Matanya berkaca-kaca. "Putriku... lihat ini. Penulisnya bilang kamu adalah permata tersembunyi dari Desa kita. Dia menulis betapa telatennya kamu merawat kebun dan ini dia menulis juga tentang dedikasimu untuk Ayah dan Aris."
Anjeli membaca kutipan di bagian bawah foto “Semua ini saya lakukan demi kebahagiaan Ayah dan Adik saya. Merekalah kekuatan yang membuat setiap benih yang saya tanam menjadi hidup."
"Kakak jadi artis ya sekarang?" tanya Aris dengan polos.
Anjeli tertawa kecil, meski ada rasa haru yang menyesak di dadanya. "Hahaha…Bukan artis, Sayang. Kakakmu ini cuma petani. Tapi sekarang orang-orang tahu kalau kita punya kebun yang bagus."
Berita tentang artikel tersebut menyebar seperti api di atas rumput kering. Warga desa yang biasanya hanya memandang remeh kebun sepetak milik Anjeli, kini mulai berkerumun di warung-warung, membicarakan si anak ajaib itu.
Namun, tidak semua suara bernada pujian. Di sudut sumur desa, Bu Sumi sedang mengumpulkan ibu-ibu lainnya. Wajahnya tampak masam, tangannya memegang majalah yang sama namun dengan tatapan penuh kebencian.
"Lihat ini! Pakai segala masuk majalah. Jangan-jangan dia bayar itu wartawan!" gerutu Bu Sumi. "Coba kalian pikir, tanah kita ini sama. Kenapa punya dia bisa hijau royo-royo sementara buncis saya saja kerdil-kerdil? Ini tidak masuk akal kalau cuma pakai pupuk tahi ayam!"
"Tapi Bu Sumi, di majalah itu dibilang Anjeli rajin membuat fermentasi sendiri," sela salah satu warga, Bu Tejo, yang kemarin kangkung pemberian Anjeli tumbuh bagus di rumahnya. "Mungkin kita memang kurang rajin saja."
"Apa!! Kurang rajin katamu?!" Bu Sumi melotot. "Kita ini sudah puluhan tahun jadi petani! Anak bau kencur itu baru kemarin sore megang cangkul. Ini pasti ada yang tidak beres. Saya dengar semalam ada mobil mewah lagi yang parkir di dekat pohon jati. Jangan-jangan dia ikut sekte tertentu!"
Hasutan Bu Sumi mulai meracuni pikiran beberapa warga yang memang dasarnya memiliki sifat iri. Mereka mulai memandang rumah Anjeli dengan tatapan penuh kecurigaan.
Di sisi lain, Anjeli tidak punya waktu untuk memikirkan omongan tetangga. Ia tahu, setelah majalah ini terbit, pesanan akan semakin banyak. Ia masuk ke Ruang Ajaib malam harinya untuk mengambil persediaan pupuk yang sudah ia siapkan.
"Ayah," panggil Anjeli saat ia keluar dari kamarnya membawa beberapa botol kecil cairan pekat berwarna cokelat gelap. "Ayah, ini adalah racikan pupuk yang mau Anjeli coba pasarkan kalau ada yang bertanya. Ini campurannya sudah Anjeli buat dari sisa hasil hutan dan rendaman akar-akar tertentu."
Sebenarnya, itu adalah pupuk organik biasa yang dicampur dengan satu tetes Air Rohani per botolnya dosis yang cukup untuk menyehatkan tanah orang lain tanpa menunjukkan keajaiban yang mencolok.
"Kamu mau menjual pupuk juga, Nak?" tanya Pak Burhan.
"Iya, Ayah. Kalau Anjeli cuma jual sayur, hasilnya terbatas pada luas lahan kita yang hanya sepetak ini. Tapi kalau Anjeli jual resep pupuknya, kita bisa punya penghasilan tambahan tanpa harus punya lahan luas. Uangnya bisa untuk biaya pengacara kalau pihak Ibu benar-benar membawa masalah hak asuh Aris ke pengadilan," jelas Anjeli panjang lebar.
Pak Burhan mengangguk bangga. Ia melihat putrinya bukan lagi seorang gadis yang hanya tahu menanam, tapi sudah mulai berpikir sebagai seorang pengusaha tani yang cerdas.
"Ayah mendukungmu, Sayang. Tapi ingat, jangan sampai kamu kelelahan. Biar Ayah yang bantu botol-botol ini nanti kalau Ayah sudah bisa berjalan lancar."
Keesokan sorenya, saat Anjeli sedang merapikan tanaman jahe merahnya, ia merasakan kehadiran seseorang di balik pagar mawarnya. Mawar-mawar itu seolah memberikan sinyal melalui getaran halusnya. Anjeli berdiri, memegang cangkulnya dengan erat.
"Siapa di sana?" teriak Anjeli.
Seorang pria dengan jaket kulit hitam dan kacamata hitam muncul dari balik rimbunnya pohon jati. Ia bukan Gani. Pria ini tampak lebih tua dan memiliki ekspresi wajah yang dingin.
"Nama saya Hendra, bukan Pak Hendra pelangganmu, tapi saya dikirim oleh firma hukum dari kota," pria itu berbicara dari balik pagar. "Saya melihat artikel tentang Anda. Cukup mengesankan. Tapi, keberhasilan ekonomi yang Anda tunjukkan di sini justru menjadi bumerang. Klien kami, Ibu Anda merasa Anda terlalu sibuk dengan bisnis ini sehingga mengabaikan kesejahteraan psikologis Aris."
Anjeli berjalan mendekati pagar, matanya menatap tajam pria itu. "Mengabaikan Aris? Aris tidak pernah sebahagia sekarang. Dia punya buku gambar baru, dia punya makan siang yang bergizi, dan dia punya kasih sayang penuh dari Ayahnya dan saya."
"Hakim akan menilai dari bukti tertulis, Dek Anjeli. Pekerjaan sebagai petani dianggap berisiko dan tidak stabil. Dan soal kemajuan kesehatan Ayah Anda, kami punya tim medis yang siap memberikan kesaksian bahwa pemulihan secepat itu mustahil terjadi tanpa obat-obatan ilegal atau prosedur yang mencurigakan," ancam pria itu.
Anjeli merasa dadanya sesak oleh amarah, tapi ia ingat pesan Ayahnya untuk tetap tenang. "Silakan bawa tim medis Anda. Ayah saya sembuh karena keinginan hidupnya besar dan makanan sehat dari tanah kami sendiri. Sekarang, silakan pergi dari sini sebelum saya panggil warga desa untuk melihat orang asing yang mengintimidasi anak yatim piatu yang masih memiliki Ayah."
Pria itu tersenyum miring, lalu masuk kembali ke dalam mobil gelapnya dan pergi.
Malam harinya, Anjeli duduk di meja makan bersama Ayah dan Aris. Mereka makan malam dengan menu sederhana yaitu tumis buncis bawang putih, telur dadar, dan sambal jahe merah hasil panen perdana eksperimen Anjeli.
"Ayah," Anjeli memulai pembicaraan. "Mungkin nanti akan ada orang-orang asing yang datang dan bertanya macam-macam pada ayah. Ayah tidak perlu takut, ya. Jawab saja apa adanya tentang cara hidup kita."
Pak Burhan menggenggam tangan Anjeli. "Ayah sudah tahu, Nak. Ayah tidak akan membiarkan mereka merebut Aris. Tadi Ayah sudah bisa berjalan sepuluh langkah tanpa tongkat. Besok Ayah akan coba lima belas langkah. Ayah akan tunjukkan pada dunia kalau keluarga kita ini kuat."
Aris yang tidak mengerti sepenuhnya tentang pengacara, hanya tersenyum melihat Ayah dan Kakaknya. "Kak Anjeli, tadi Aris gambar jahe merah yang sudah besar. Aris tulis di bagian bawahnya Harta Karun Kak Anjeli. Hehehe….Karena gara-gara jahe ini, Kakak bisa beli telur banyak buat Aris."
Anjeli tersenyum sambil mengacak rambut Aris. "Jahe itu bukan harta karunnya, Dek. Harta karun Kakak itu kamu dan Ayah."
Di luar, angin malam berhembus menggoyang bunga-bunga mawar pelindung. Meskipun masalah hukum mulai tampak di ufuk timur, dan kecemburuan tetangga semakin menjadi di sekitar sumur desa, rumah papan itu kini memiliki cahaya yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
Setiap butir nasi emas, setiap tetes minyak keemasan, dan setiap sen hasil penjualan sayur buncis adalah batu-bata yang disusun Anjeli untuk membangun benteng kebahagiaan bagi kedua lelaki paling berharga dalam hidupnya. Dan ia bersumpah, setapak tanah di belakang rumahnya itu akan menjadi saksi bahwa kasih sayang seorang kakak tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh selembar kertas hukum dari kota.
Anjeli menatap cincin di jarinya sebelum mematikan lampu teplok. "Pelan-pelan, tapi pasti," bisiknya pada kegelapan yang menenangkan.
______________🌹❤️
Terimah kasih sudah mengikuti cerita perjalanan Anjeli🙌🏾
Jangan lupa di like dan komen ya…
Lanjutttt ceritanyaaaa….
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄