NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Melukis Kabut Pelarian

Sisa-sisa Desa Liu-Shu tidak dibiarkan membusuk dalam damai. Bau kematian yang belum genap sehari itu telah mengundang jenis burung bangkai yang berbeda, mereka tidak bersayap, melainkan membawa karung dan pisau.

Guiren bersandar pada dinding sumur tua di pinggiran desa yang belum tersentuh api. Napasnya pendek, setiap tarikan udara terasa seperti menelan abu panas. Di pelukannya, Xiaolian mulai merintih. Kelopak mata gadis itu bergetar, namun kesadarannya masih tertinggal di balik kabut trauma.

"Sstt... jangan bersuara," bisik Guiren. Suaranya hampir hilang, kering karena dahaga dan duka.

Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah tertata para pembunuh semalam, melainkan derap langkah berat yang serampangan. Suara tawa kasar membelah udara pagi yang dingin.

"Lihat rumah kepala desa! Masih ada bejana perunggu yang belum leleh," teriak seorang pria. Suaranya parau, penuh ketamakan yang menjijikkan.

"Persetan dengan perunggu," sahut yang lain, langkahnya terdengar lebih dekat ke arah sumur. "Aku mencari simpanan gandum atau apa pun yang masih hidup. Mayat-mayat di sana sudah dingin, tidak asyik lagi."

Guiren membeku. Melalui sisa-sisa Visi Qi yang masih berdenyut di belakang matanya, ia melihat tiga siluet energi yang kotor. Warnanya kuning kecokelatan, melambangkan emosi rendah dan nafsu yang tidak terkendali. Mereka bukan kultivator gelap dari Paviliun Yama, mereka hanya manusia-manusia busuk yang mencium bau kelemahan.

"Hei! Lihat di sana, dekat sumur!"

Jantung Guiren berdetak kencang, menghantam rusuknya yang memar. Ia tidak bisa lari. Tubuhnya terlalu lemah, dan Xiaolian adalah beban yang tidak akan bisa ia bawa menjauh tepat waktu.

"Oh, lihat ini. Seorang anak buta dan... kak, yang ini masih segar!" Pria itu melangkah maju. Bayangan energinya membesar, menjulang di atas Guiren. "Gadis kecil ini... kurasa dia masih bernapas. Sayang kalau dibiarkan mati begitu saja."

Tangan kasar salah satu penjarah meraih bahu Xiaolian. Gadis itu tersentak sadar, matanya terbuka lebar melihat wajah penuh kotoran dan seringai kuning di depannya. Jeritan tertahan keluar dari tenggorokan Xiaolian.

"Jangan sentuh dia!" Guiren mendorong pria itu, namun tenaganya hanya seperti dorongan angin sepoi-sepoi bagi pria dewasa. Sebuah tendangan mendarat di perut Guiren, melemparnya ke tanah yang berbatu.

Dunia berputar. Guiren terbatuk, memuntahkan cairan pahit. Rasa sakit itu menyulut sesuatu yang dingin di dalam meridiannya, tinta yang bergejolak, menuntut untuk dilepaskan.

Ia tidak ingin membunuh. Ia hanya ingin mereka hilang.

Dengan tangan yang gemetar, Guiren mengangkat jari telunjuknya ke udara. Ia tidak punya waktu untuk mengambil kuasnya yang selalu menggantung di belakangnya bersama kanvas, maka ia menggunakan niatnya. Ia tidak melukis di atas kertas, ia melukis di atas kain realitas yang sedang robek.

Jarinya bergerak cepat, membentuk garis-garis lengkung yang rumit di udara. Dalam pandangan orang biasa, ia tampak seperti orang gila yang meraba kehampaan. Namun dalam Visi Qi, garis-garis itu meninggalkan jejak perak yang berpendar, menyedot kelembapan sisa embun pagi dan abu yang melayang.

Simbol 'Kabut Penyesap' selesai.

Tiba-tiba, udara di sekitar sumur tua itu membeku. Kabut yang tebal dan putih pekat muncul entah dari mana, bergulung-gulung menelan sumur dan area sekitarnya dalam hitungan detik.

"Apa-apaan ini?" teriak salah satu penjarah. "Dari mana kabut ini berasal?"

"Aku tidak bisa melihat tanganku sendiri! Di mana gadis itu?"

Di dalam jangkauan ilusinya, kabut itu adalah tirai yang ia kendalikan. Bagi para penjarah, sumur itu seolah-olah lenyap, digantikan oleh hamparan tanah kosong yang rata dan menyesatkan.

Guiren menahan napas, mempertahankan fokus pada simbol di udara, meski kepalanya terasa seperti akan pecah. Setiap detik mempertahankan ilusi itu menguras Qi-nya yang belum stabil, seolah-olah ada benang yang ditarik paksa dari dalam otaknya.

Ia mencoba menarik Xiaolian ke dalam celah sumur. Namun, dadanya tiba-tiba terasa seperti dihantam palu godam. Aliran Qi-nya yang tidak stabil terputus. Garis-garis perak di udara retak.

Kabut itu menipis secepat ia muncul.

“Cuma trik murahan!” Pria itu tertawa lebih keras, kini ia telah mencengkeram kedua tangan Xiaolian yang berontak. “Kau pikir kabut bisa menyelamatkannya?”

“Kakak! Tolong!” jerit Xiaolian.

Guiren merangkak, jemarinya mencakar tanah, mencoba menggapai kaki pria itu. Ia dihina, dipijak kepalanya hingga wajahnya terbenam di tanah yang kotor. Penjarah itu mulai menindih adiknya di atas tanah yang dingin, mengabaikan rintihan ketakutan Xiaolian.

Guiren merasakan sesuatu pecah di dalam jiwanya. Penolakan untuk bertarung yang ia pegang teguh seolah-olah menguap bersama kabut yang gagal tadi. Darah dari luka tangannya merembes ke tanah, dan kali ini, ia tidak mencoba menghentikannya.

Ia menyadari satu hal, di dunia ini, kesucian adalah undangan menuju kehancuran. Kabut semacam ini tidaklah cukup. Perlindungan tidak cukup.

Tangannya meraba ke belakang, mengeluarkan sebuah kuas kayu sederhana yang belum pernah meminum darah.

“Lepaskan… dia,” desis Guiren. Suaranya tidak lagi bergetar karena takut, melainkan karena kemarahan yang membeku.

Para penjarah itu tidak menyadari bahwa di balik kain penutup matanya, Visi Qi Guiren kini tidak lagi mencari pelarian. Ia mulai memetakan titik-titik cahaya di tubuh manusia-manusia di depannya, titik-titik rapuh tempat kehidupan bisa dipadamkan dengan satu goresan.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!