NovelToon NovelToon
Ibu Susu Berdarah Dingin

Ibu Susu Berdarah Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cintamanis / Ibu susu / Balas Dendam / Transmigrasi / Agen Wanita
Popularitas:74.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.

Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.

______________________________________________

"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.

"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MULAI PERHATIAN

"K-kami akan bicara! Kami akan bicara!" ucap si wanita langsung bersujud di lantai sel, menangis ketakutan.

"Dia menjanjikan kami seratus emas jika kami bisa menyeret mu keluar dari istana hidup-hidup agar mereka bisa mengeksekusi mu dengan tuduhan sihir!" teriak wanita itu, akhirnya mengakui.

Calista menatap mereka dengan tatapan dingin, lalu berbalik menatap Jayden.

"Tuduhan pembakaran paviliun, percobaan pembunuhan Pangeran Mahkota, dan penyuapan saksi palsu. Kupikir itu sudah cukup untuk menyeret ibumu ke pengadilan tertinggi, kan?" tanya Calista, melihat ke Jayden.

Jayden menegakkan tubuhnya, menatap Calista dengan rasa hormat yang kini tidak lagi bisa ia sembunyikan.

"Lebih dari cukup, tapi kau tahu risikonya? Ibu ku tidak akan tinggal diam di dalam selnya," jawab Jayden, menghela nafas nya berat.

"Aku justru berharap dia melawan," ucap Calista, berjalan menuju pintu keluar.

"Semakin dia melawan, semakin besar lubang yang dia gali untuk kuburannya sendiri," lanjut Calista, tersenyum miring.

Setelah urusan mereka selesai, mereka akhirnya keluar dari penjara bawah tanah yang engap itu.

Saat mereka berjalan kembali ke atas, Jayden meraih pundak Calista, menghentikannya di tengah tangga yang gelap.

"Calista, tunggu," ucap Jayden.

"Apa lagi, Yang Mulia? Aku benar-benar butuh mandi sekarang. Bau sel ini membuatku mual," ucap Calista menoleh, malas.

Jayden menatapnya dalam diam untuk beberapa saat, lalu tanpa kata, dia melepas jubah luar miliknya yang lebih tebal dan menyampingkannya ke bahu Calista, menutupi jubah mandi yang tipis itu.

"Gunakan ini, udara malam di atas sangat dingin setelah kau keluar dari api," ucap Jayden, datar.

Calista terdiam sejenak, merasakan kehangatan dari jubah Jayden yang masih menyisakan suhu tubuh pria itu, Calista menarik garis senyum tipis nya, sebuah senyuman yang kali ini tidak mengandung ejekan.

"Terima kasih, Jayden, ternyata kau punya sisi manusiawi juga," ucap Calista, mengeratkan jubah Jayden.

"Jangan membiasakan diri, berpakaian seperti itu," ucap Jayden ketus, namun dia tidak melepaskan tangannya dari pundak Calista saat mereka berjalan bersama menaiki tangga.

Tepat saat mereka sampai di lantai atas, seorang prajurit bayangan muncul dari kegelapan, berlutut dengan napas terengah-engah.

"Lapor, Yang Mulia! Ada pergerakan di Paviliun Pengasingan! Mantan Ibu Suri Isabella, dia baru saja memanggil unit ksatria suci pribadinya. Mereka bergerak menuju kediaman ini," ucap Prajurit itu, membungkuk kan badan nya.

Calista dan Jayden saling pandang, untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mereka memutuskan kontak mata mereka.

"Dia tidak menunggu sampai besok pagi," gumam Calista, tangannya secara refleks menggenggam erat belati di pinggangnya.

"Dia ingin menyelesaikan ini malam ini juga," gumam Calista, merasa andrenalin nya terpacu.

Calista tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun, sebaliknya, dia justru merapatkan jubah tebal milik Jayden di bahunya, seolah-olah kabar tentang serbuan Ksatria Suci itu hanyalah pengumuman bahwa makan malam telah siap.

"Ksatria Suci, ya?" ucap Calista bergumam, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang membuat prajurit bayangan di depannya merinding.

"Wanita tua itu benar-benar suka menggunakan label Suci untuk pekerjaan kotornya," ucap Calista, mendengus jijik.

"Ksatria Suci memiliki kekebalan hukum di bawah mandat Kuil, jika mereka menyerang dengan alasan membersihkan pengaruh jahat, pasukanku akan sulit membalas tanpa memicu kemarahan para Tetua Kuil," ucap Jayden menghunuskan pedangnya setengah jalan, membiarkan bunyi denting logam yang tajam membelah keheningan lorong.

"Itulah masalahmu, Jayden, kau terlalu banyak berpikir tentang hukum," ucap Calista sambil mulai berjalan kembali ke arah kamar Lorenzo.

"Tapi aku? Aku tidak peduli pada mandat mereka," lanjut Calista, tanpa menoleh.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jayden, menyusul langkah cepat Calista.

"Owen!" seru Calista tanpa menghiraukan pertanyaan Jayden.

"Berapa banyak minyak lampu yang tersisa di dapur kediaman ini?" tanya Calista, melirik keadaan di sana.

Owen yang masih di belakang mereka tersentak.

"E-eh, cukup banyak, Nona. Ada sekitar lima tong besar untuk persediaan musim dingin. Mengapa?" tanya Owen, hati-hati.

"Bawa tiga tong ke aula depan, dan kamu, Jayden..." Calista berhenti mendadak, berbalik menghadap sang Grand Duke.

"Perintahkan pasukanmu untuk memadamkan semua lampu di lantai bawah. Aku ingin kediaman ini terlihat seperti kuburan yang gelap saat mereka masuk," lanjut Calista, menyeringai dingin.

"Kau ingin melakukan penyergapan dalam gelap? Mereka menggunakan baju zirah perak yang bisa memantulkan cahaya sedikit pun. Mereka akan mudah terlihat, sementara kita?" ucap Jayden menyipitkan mata, mulai memahami arah pikiran wanita di depannya.

"Sementara kita adalah bayangan yang akan mencabut nyawa mereka," jawab Calista riang.

"Dan satu lagi, jangan biarkan pasukanmu menyerang lebih dulu, biarkan aku yang menyambut mereka di pintu depan," ucap Calista, dengan seringai iblis nya.

"Tidak! Itu terlalu berbahaya," tolak Jayden dengan tegas.

"Mereka bukan pembunuh bayaran seperti kemarin, mereka terlatih dan bersumpah untuk mati demi Wanita tua itu," ucap Jayden, menggeleng kan kepala nya tidak setuju.

Jayden memang sudah menyaksikan kehebatan Calista dalam bertarung, tapi tetap saja dia tidak setuju dengan ide Calista, yang ingin melawan mereka langsung.

"Dan wanita tua itu adalah ibu mu," sambung Calista, memutar bola matanya malas.

"Aku tidak perduli Calista, siapapun yang berani ingin menodai kerajaan ini, aku tidak akan mengampuni nya, sekalipun orang itu memiliki darah yang sama dengan ku," ucap Jayden, memalingkan wajahnya.

"Kau yakin berbicara seperti itu Jayden?" tanya Calista, tersenyum miring.

"Kenapa tidak," jawab Calista, tegas.

"Aku bukan orang yang suka ingkar janji, dan janjiku pada mendiang Ayahanda dan mendiang Kakak, aku akan menjaga tahta Florist, sampai Lorenzo, cukup umur," lanjut Jayden, tanpa ragu.

Calista mendekat, jari telunjuknya yang ramping mendarat di dada zirah Jayden, tepat di atas jantung pria dingin itu.

"Jayden, dengar, jika kamu yang menyerang mereka, itu adalah pemberontakan. Tapi jika aku, seorang pelayan desa yang ketakutan, yang membela diri saat mereka mendobrak masuk, itu adalah insting bertahan hidup. Biarkan aku yang menodai tanganku, agar tanganmu tetap bersih untuk memegang takhta nanti dan janji setia mu pada Florist," ucap Calista, menatap dalam mata tajam Jayden.

Jayden juga menatap mata Calista, untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keberanian, dia melihat pengorbanan yang dibungkus dengan kegilaan.

"Sepuluh menit," ucap Jayden dengan suara berat.

"Aku memberimu waktu sepuluh menit di aula depan, jika dalam sepuluh menit mereka belum mundur, pasukanku akan meratakan mereka tanpa sisa, peduli setan dengan mandat Kuil!" lanjut Jayden, tegas dan penuh penakanan.

"Kesepakatan yang bagus," jawab Calista, mengangguk puas.

"Aku akan segera bersiap," ucap Calista, membuka pintu kamar nya.

Setelah itu Calista, langsung masuk ke dalam kamar nya, meninggalkan Jayden yang masih berdiri di depan pintu.

1
Tiara Bella
lanjut semangat ya Thor ...
Tiara Bella
ibu susu Calista pnya bayi besar sabar ya pangeran Lorenzo...
Endang Sulistia
pinter nih si Lorenzo...
Endang Sulistia
ada lamaran kecil kecilan..🤔🤔🤔
T1 T1n
yg penting tiap hari up kak ❤️❤️❤️
IG : hofi03_sakroni: siap beb, di usahakan up stabil setiap hari 🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
gasken mak🏍🏍🏍
Maria Lina
cerita ya 2 ..ditamat kn dlu ya thor..tar yg lain dikit up nya.komen aj thor
Maria Lina: ok thor siap🫠
total 2 replies
Retno Palupi
wua... Calista punya 2 bayi😄😄
Lienaa Likethisyow
yura dilawan..salah sasaran oe🤣🤣..lanjut thor yg banyak ya💪💪👍👍 semangat😍😍
Lienaa Likethisyow
cie..cie..Jayden so sweet.😍😍..lanjut thor💪💪👍👍
Lienaa Likethisyow
ulet bulu ilang deh..digertak aja ngacir..sok sokan garang masih garang Calista lah🤣🤣🤣..semangat thor💪💪👍👍
IG : hofi03_sakroni: takot dia kak
total 1 replies
kaylla salsabella
seru🥰🥰🥰
IG : hofi03_sakroni: terimakasih kay, stay tune ya beb 🤍
total 1 replies
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Mengungkapkan perasaan sangat penting untuk kelegaan hati, alih-alih memendamnya sendiri lebih baik kamu mengungkapkan apa isi hati kamu.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Dengar baik-baik Diana, apa yang diucapkan Calista itu adalah sebuah peringatan keras bagimu...😤😰
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.
kaylla salsabella
cari mati aja tuh pelayan
kaylla salsabella
jangan pingsan Owen🤣🤣🤣
Leni Ani
kan habis thor up thor😭😭😭😘💪💪💪👍
Leni Ani
biar pun ngak calista bilang sm jay tp mimpi pun datang ke dia👍
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya keren banget, pokoknya kalian harus membaca nya
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
aduhhhhh seru banget lagi cerita nya😭😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!