Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Esok harinya setelah Nadia berangkat bekerja, Gibran pergi ke pasar sendirian, rencana ia akan menjual jam tangannya. Meskipun ia kurang tahu pasti letak pasar di daerah sini, tapi ia sudah banyak bertanya kepada tetangga di kampung.
Sesampainya di pasar, Gibran langsung menghampiri toko jam tangan.
"Mas, saya mau jual jam tangan,"ujar Gibran sambil memberikan jam tangan miliknya.
Penjual jam tangan itu seketika melotot seraya merebut jam tangan tersebut. Raut wajahnya tampak tak percaya dengan apa yang ia lihat."Wah.... ini sih mahal banget Mas. Ini mah, jam elite yang harganya puluhan juta, Mas,"katanya masih fokus memperhatikan jam tangan tersebut.
Gibran terdiam, ia berpikir sejenak. Kalau ia memiliki jam tangan seharga puluhan juta, berarti ia bukanlah orang sembarangan dan bukan supir taksi yang ia yakini selama ini.
"Saya mau jual, Mas nya minat, nggak?"
Penjual jam tersebut mengalihkan perhatiannya kepada Gibran."Gimana ya, Mas.... masalahnya, ini jam mahal banget harganya. Harga jual baru udah pasti tujuh puluh jutaan, tapi karna udah di pakai, pasti harganya sekitar lima puluh jutaan,"jelasnya.
"Ya, bagus dong. Masnya bisa jual jam saya ke orang lain, dengan keuntungan yang lebih besar dari harga beli dari saya."
"Masalahnya, saya harus jual sawah dulu kalau mau beli jam tangan ini," ucap penjual jam.
Gibran mengerutkan dahinya bingung,"Kenapa harus jual tanah dulu, Mas."
"Ya karna saya nggak punya uang sebanyak itu, Mas! saya kan, cuma penjual jam biasa, bukan penjual jam sultan kayak begini."
"Jadi?? Mas nggak bisa nih, beli jam saya?" tanya Gibran memastikan.
"Nggak bisa Mas, saya nggak punya uang sebanyak itu."
Gibran mendesah kecewa, ia pikir harga jam nya hanya mencapai harga ratusan ribu saja, ternyata harga jamnya sangat fantastis. Ia bingung harus menjual jam tangan tersebut kemana? sedangkan pekerja di pasar ini mayoritas penjual sayur, ikan dan aksesoris yang lain.
"Duh... saya bingung Mas mau jual jam ini kemana?"
"Ke Kota saja, Mas. Kalau tidak salah, di Kota ada toko jam ternama, disana Mas bisa jual jam itu. Cuma toko ternama saja yang bisa membeli jam tangan harga mahal kayak gitu," jelas penjual jam tersebut.
"Ke Kota?" ulang Gibran. Ia tidak tahu letak dimana Kota, atau mungkin dulu ia pernah ke Kota, namun karna hilang ingatan, jadi ia lupa jalan ke Kota.
"Iya, Mas. Kalau Mas nya pengen banget jual ini jam, nggak ada toko yang sanggup beli, kecuali toko-toko jam ternama yang ada di pusat Kota."
Gibran berpikir sejenak, jika ia ke Kota, pasti membutuhkan ongkos naik kendaraan untuk kesana. Sedangkan, Gibran tidak memiliki uang sepeser pun, satu satunya barang yang ia punya, hanya jam tangan itu saja.
"Saya boleh pinjam uang untuk ongkos ke kota nggak, Mas?" tanya Gibran hati-hati.
"Loh, Mas nya nggak punya ongkos toh?"
Gibran mengangguk pelan.
Penjual jam tersebut menggeleng gelengkan kepalanya seolah tak percaya.
"Gimana toh, punya jam tangan mewah kok nggak punya uang, gimana ceritanya toh, Mas?"
"Gini Mas.... saya itu hilang ingatan karna kecelakaan trus hanyut di sungai, saya juga nggak tahu dan nggak ingat tiba-tiba ada di daerah sini. Dan barang yang saya punya, ya.... cuma jam tangan ini," jelas Gibran.
"Jangan bohong loh, nanti dosa."
"Saya nggak bohong, Mas. Ngapain juga saya bohong, sekarang aja saya bingung identitas saya, karna saya hilang ingatan,"lanjut Gibran.
"Terus... Mas nya mau pinjam uang gitu? sama saya?"
Gibran mengangguk."Saya pinjam dua ratus ribu aja, Mas. Saya janji setelah jual jam ini, saya bakal balik lagi kesini terus ngegantiin uang Mas yang saya pinjam."
Penjual jam itu menatap Gibran dengan serius,"Beneran ya, Mas. Nggak bohong kan? saya takut kamu ingkar janji, malah bawa kabur uang saya nanti."
"Nggak akan, Mas. Percaya sama saya. Saya bakal balik lagi kesini, Mas boleh pegang ucapan saya," ujar Gibran berusaha meyakinkan.
"Ya sudah lah." penjual jam tersebut mengeluarkan dua uang lembaran berwarna merah, lalu memberikannya kepada Gibran."Saya percaya sama Mas nya, saya pegang loh ucapannya. Kalo bohong saya cari sampai ke ujung dunia!"
Gibran tersenyum senang,"Makasih ya, Mas. Saya janji, pokoknya setelah menjual jam ini, saya langsung balik lagi kesini."
"Oke, saya tunggu."
"Ya sudah, Mas. Saya pamit pergi ke Kota dulu ya." pamit Gibran.
Gibran pergi ke Kota naik mobil angkot, karna jarak kampung ke Kota tidak lah begitu jauh, mungkin hanya dua puluh menitan saja.
Sesampainya di pusat Kota, pandangannya langsung tertuju pada toko jam mewah yang ada di sebrang jalan. Ekor matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut kota, tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah bangunan besar yang tinggi menjulang dengan logo bertuliskan Pradikta Group Pusat.
Kepalanya tiba-tiba terasa sakit, telinganya berdengung, pandangannya mengabur. Meskipun begitu, Gibran tetap menguatkan dirinya, ekor matanya masih terus memandang bangunan tersebut. Entah kenapa bangunan itu seperti tidak asing baginya. Sambil memegang kepala yang terasa sakit, kilasan demi kilasan ingatan mulai muncul dalam benaknya.
"Akh.....!"ringisnya pelan, ia yakin tempat ini berhubungan dengannya saat sebelum hilang ingatan.
Gibran terhuyung-huyung di jalan, kepalanya terasa akan meledak. Ia menekan kepalanya dengan tangan, mencoba menghilangkan sakit yang tidak tertahankan. Telinganya berdengung seperti ada ribuan lalat yang terbang di sekitarnya.
Ia mencoba untuk terus berjalan, tapi kakinya terasa lemah. Ia terhuyung-huyung beberapa langkah, hingga akhirnya ambruk ke tanah.
Saat ia tergeletak di pinggir jalan, dengan sisa kesadaran, tiba-tiba kilasan ingatan mulai tergambar di benaknya. Ia melihat dirinya berdiri di depan bangunan itu, berbicara dengan seseorang.Ia melihat wajah Ayahnya, wajah yang penuh kebanggan dan kasih sayang.
Gibran mencoba untuk mengingat lebih banyak, tapi ingatanya masih kabur. Ia hanya bisa melihat potongan-potongan gambar yang tidak jelas.
Bangunan itu..... Gibran mencoba untuk mengingat, tapi sakit kepala yang begitu hebat membuatnya kehilangan kesadaran. Di sisa-sisa kesadarannya, ia melihat siluet seseorang yang menghampirinya, sampai akhirnya Gibran benar-benar kehilangan kesadaran.
**********
Gibran membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa sakit. Ia melihat sekeliling, tapi semuanya terlihat asing. Ia berada di sebuah ruangan yang bernuansa serba putih. Bau obat-obatan yang khas, dengan mesin-mesin yang berbunyi dan lampu-lampu yang terang.
Gibran mecoba untuk bangun, tapi tubuhnya masih terasa lemah. Ia melihat ke bawah dan baru menyadari jika dirinya terbaring di atas sebuah tempat tidur rumah sakit dengan infus yang terpasang di tangannya.
Tiba-tiba, seorang perawat masuk ke dalam kamar."Ah! Pak Gibran sudah bangun!"katanya dengan senyum.
"Apa...... apa yang terjadi dengan saya?"tanya Gibran bingung.
Perawat itu menghampiri Gibran dan memeriksa infusannya."Anda mengalami cedera kepala dan kelelahan. Anda harus istirahat dulu, ya."
Gibran hanya terdiam dan kembali membaringkan tubuhnya, jujur ia masih bingung dengan semua ini.
"Saya permisi dulu ya, saya akan memberitahu seseorang dulu, kalau Pak Gibran sudah sadar,"pamit perawat tersebut.
"Tunggu! seseorang?"ulang Gibran.
"seseorang siapa?"
Namun perawat tersebut sudah keluar ruangan, sehingga pertanyaan Gibran tidak langsung di jawab oleh perawat tersebut.
Tak lama kemudian seorang laki-laki masuk ke kamarnya dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
"Gibran....." ucapnya dengan suara yang bergetar dan penuh haru.
bersambung....