Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Ayahnya!
Setelah keluar dari rumah sakit, Kael kembali ke restoran untuk mengambil sendiri tas milik Maggie.
Lalu ia mengirim pesan ke kakaknya, meminta nomor agar bisa menghubungi langsung anggota keluarga Maggie. Kakaknya mengirimkan nomor Jennie.
Kael mengirim pesan pada Jennie, memberi tahu bahwa ia membawa tas dan sepatu Maggie dan bisa mengantarkannya besok sebelum penerbangannya.
Hampir satu jam berlalu sebelum ada balasan.
"Tinggalkan saja di meja hotel besok pagi. Papa bisa mengambilnya." Isi pesan itu.
Kael tidak yakin apakah Jennie sedang menjaga jarak atau sekadar bersikap sopan.
Setelah beberapa jam tidur dengan gelisah, ia terbangun dan langsung bertanya-tanya bagaimana kondisi Maggie. Ia tidak punya cara untuk tahu keadaan Maggie. HP Maggie ada padanya.
Pagi harinya, Kael tidak menunggu lama. Ia menyuruh asistennya meminta pilot mengajukan rencana penerbangan baru dan menunda semua agenda meeting di London.
Ia merapikan jas-jasnya, lalu menggantinya dengan Henley katun kasual dan celana jeans. Setelah itu, ia pergi ke toko perlengkapan bayi untuk membeli sesuatu yang pantas.
Kalau mereka pikir ia akan menghindari Maggie, lupakan saja. Kael belum pernah bertemu perempuan seperti Maggie. Dan ia tidak peduli dengan situasinya, berkencan saat hamil atau tidak. Ia hanya peduli pada Maggie.
Kael merasa benar-benar tersesat di toko bayi yang sangat besar itu. Lorong-lorongnya penuh barang yang bahkan tidak bisa ia bayangkan fungsinya untuk apa.
Pengering pantat bayi?
Buat mengeringkan bayi dengan angin?
Ia berbalik ke etalase pakaian dan melihat sepatu hak tinggi bermotif macan tutul.
Untuk bayi macan?
Ia jelas tidak berada di habitatnya. Kael mengirim pesan pada kakaknya.
"Apa hadiah yang harus dibawa ke rumah sakit? Botol susu? Popok?"
Ia tahu kakaknya mungkin sedang rapat. Jam sembilan pagi di Amerika. Tapi balasan datang cepat.
"Bukan. Bukan. Bunga. Sesuatu untuk Mamanya."
Sial.
Kael benar-benar mengambil langkah yang salah. Tapi ia sudah terlanjur di sini. Lebih baik membawa apa pun.
Seorang pegawai toko dengan jumpsuit merah muda mendekat. "Cari hadiah?"
"Iya. Teman ... baru saja melahirkan."
"Dia ada request?"
"Aku sama sekali tidak tahu."
Setelah mengecek daftar dan tidak menemukan nama Maggie, perempuan itu membawanya ke pajangan keranjang anyaman besar yang dibungkus selofan dan dihiasi pita. "Ini biasanya selalu berhasil. Paket perlengkapan bayi."
Bagi Kael, itu terlihat seperti tumpukan baju.
Perempuan itu memiringkan keranjang agar ia bisa melihat isinya. "Isinya kebutuhan penting untuk beberapa minggu pertama. Celemek bayi. Piyama. Baju kodok."
Ia terdengar seperti sedang bicara dengan bahasa planet lain, tapi tetap lanjut dengan penuh semangat sementara Kael menatapnya kosong. "Yang merah muda untuk bayi perempuan, yang biru untuk bayi laki-laki."
Kael mengabaikan pembagian gender dan memilih set berwarna hijau muda. "Terima kasih."
Ia membayar paket itu lalu meminta sopir limusin berhenti di toko bunga. Uang yang biasanya hanya cukup untuk buket biasa di Amerika, berubah menjadi satu set rangkaian bunga super mewah di Jakarta.
Saat si penjual kembali dengan bunga itu, Kael hampir memintanya membagi dua. Tapi ia sudah tidak sabar ingin melihat Maggie.
...***...
Ia terlihat mencolok saat berjalan melewati lobi rumah sakit dengan ledakan bunga dan keranjang raksasa, tapi petugas resepsionis tersenyum. "Lantai maternitas?"
Kael mengangguk. Ia tidak tahu aturan rumah sakit ini soal pengunjung, jadi ia berkata pelan, "Saya pamannya."
"Siapa nama pasiennya?"
"Maggie Barros."
"Oh, ya. Saya lihat kakaknya yang terkenal itu di kafetaria pagi ini."
Benar juga. Kael lupa bahwa Davis dan Jennie sempat jadi kesayangan acara gosip hampir sepanjang tahun lalu.
Perempuan itu mengetik di komputer. "Dia di kamar 743."
"Terima kasih."
Kael menuju lift. Ia tidak tahu bagaimana kehadirannya akan diterima, tapi ia harus melihat Maggie. Kencan pertama atau bukan, mustahil baginya untuk meninggalkan seorang perempuan di rumah sakit begitu saja.
Aksesoris yang dibawanya mengundang lebih banyak senyum saat ia berjalan di sepanjang koridor. Masih pagi menjelang siang, tiga belas jam sejak air ketuban Maggie pecah.
Tanpa ragu, Kael pun membayangkan Maggie sudah meringkuk di ranjang dengan bayinya di sisi.
Ia mengetuk pintu, tapi jeritan parau dari dalam langsung menenggelamkan suaranya.
Apa yang barusan itu?
Lalu terdengar suara serak yang jelas milik perokok berat setengah baya. “Berhenti bilang begitu!”
Kael mengecek nomor kamar lagi.
Benar.
Atau jangan-jangan petugas tadi, salah?
Pintu terbuka dan Darwin Prakasa keluar, hampir menabraknya.
Pria itu berhenti dan menatapnya sejenak. “Kamu masih di Jakarta?”
“Iya.”
Darwin Prakasa melirik ke ruang terbuka di belakangnya. “Kalau aku jadi kamu, aku enggak akan masuk.” Dengan komentar menyeramkan itu, ia pergi menyusuri koridor.
Tapi ketika jeritan nyaring lain terdengar dari dalam, naluri melindunginya mengambil alih. Ia langsung berlari masuk, dengan bunga dan keranjang besar ikut terbawa.
Ia sama sekali tidak siap dengan pemandangan di depannya. Maggie mencengkeram pagar ranjang dengan kedua tangan. Wajahnya merah, tubuhnya berkeringat, rambutnya berantakan ke segala arah.
Jennie berdiri di sampingnya, menyeka kening dengan kain. Mamanya, Feronica, berdiri di sudut terjauh, menatap langit-langit sambil menepuk wajahnya sendiri dengan gelisah.
Di kaki ranjang berdiri seorang perawat bertubuh besar dengan wajah serius yang kini memerah. Kael berhenti tepat saat perawat itu berkata, “Maggie, kamu harus tenang.”
Kael memastikan pandangannya tidak mendekati lutut Maggie yang terbuka itu, apalagi ke bawahnya.
Butuh beberapa detik sebelum ada yang menyadari kehadirannya, meski ia membawa rangkaian bunga raksasa.
Begitu mata Maggie tertuju padanya, matanya langsung membesar. Ia menarik napas panjang. “Kamu?”
Ini kesalahan.
Kesalahan besar.
“Aku bawa tas dan HPmu. Dan aku bawa ini.” Kael mengulurkan bunga dan keranjang.
Ia melihat sekeliling, tapi tidak menemukan tempat untuk meletakkannya. Semua permukaan penuh barang. Jubah sutra di atas meja. Rajutan, mungkin milik Mamanya. Gelas. Bungkus makanan. Dan … Patung air mancur?
Ia meletakkan semuanya di lantai.
Jennie dan Feronica menatapnya.
Kael melangkah ke arah pintu. “Aku pergi dulu.”
Tapi perawat itu mengangkat tangan. “Tunggu.”
Biasanya Kael bukan tipe yang menerima perintah siapa pun. Tapi perempuan ini menghentikannya.
“Kenapa?” tanya Jennie.
“Dia lebih tenang. Tekanan darahnya turun,” kata perawat itu sambil menatap Kael. “Siapa kamu? Papanya?”
“Aku, ehhh?” kejut Kael.
Tatapan perawat itu menajam. “Sudah waktunya kamu muncul.”
Semua orang menoleh ke Maggie. Wajahnya tidak semerah tadi. Ia masih terengah, tapi tidak lebih parah dari saat di limusin.
“Berdiri di situ!” perintah si perawat sambil menunjuk sisi kepala ranjang, berseberangan dengan Jennie.
“Pegang tangannya!” kata perawat itu. “Kita sudah hampir masuk zona operasi darurat karena tingkat stresnya. Tekanan darahnya sempat melonjak. Kamu seharusnya sudah ada dari tadi.”
“Hah ... Maaf?” gumam Kael.
“Pegang saja!” kata perawat itu. “Jangan buang-buang waktu!”
Kael mencondongkan badan ke Maggie. “Aku harus pergi?”
Maggie tidak menjawab. Erangan nyaring kembali keluar darinya.
“Pegang tangannyaaaaaaaaa!” bentak perawat itu.
Kael meraih tangan Maggie dari pagar ranjang dan menggenggamnya.
“Nah, itu. Lihat? Tekanan darahnya turun lagi.” Perawat itu menunduk di antara lutut Maggie. “Maggie Barros, saatnya menyelesaikan ini. Pegang priamu dan dorong!”
Maggie menatap Kael.
Air mata mengalir di wajahnya.
...𓂃✍︎...
...Patah hati bukan tentang kehilanganmu, tapi kehilangan diriku yang dulu percaya bahwa cinta bisa bertahan selamanya....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .