Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Alvar masih berdiri di samping mobil menunggu jam makan siang tiba, ponselnya digenggam erat. Pikirannya terbelah dua desa dengan gudang yang terbakar, tanggung jawab yang menuntutnya pulang secepatnya dan Jakarta, tempat Kiara berdiri, tempat hatinya baru saja menemukan alasan untuk bertahan.
Dia menghela napas panjang, dan di saat itulah pintu lobi terbuka.
Kiara muncul bersama Delia. Tawa kecil Delia terdengar lebih dulu, sementara Kiara tampak berbeda. Seolah malam tadi masih membekas di matanya. Tatapan Alvar otomatis tertarik ke arahnya.
Delia yang sejak awal memperhatikan langsung memperlambat langkah, matanya menilai Alvar dari ujung kepala sampai kaki. Alisnya terangkat, bibirnya menyungging senyum penuh arti. Ia mendekat ke telinga Kiara dan berbisik tanpa rasa bersalah.
“Gila … ini jauh lebih baik dari Yoga.”
Kiara tersedak kecil. “Del—”
“Serius,” lanjut Delia, masih berbisik, nakal. “Untung papa kamu langsung ijab kabul. Nggak nyesel lah kalau tampangnya begini. Kelihatan … bisa diandalkan di ranjang.”
Kiara langsung menyenggol lengan sahabatnya keras.
“Ish! Mulut kamu!” Pipinya memanas, sementara Delia hanya tertawa puas.
Mereka sampai di depan Alvar.
“Mas Alvar,” ujar Kiara berusaha profesional meski telinganya masih merah, “ini Delia, temanku.”
Delia mengulurkan tangan lebih dulu. “Delia. Akhirnya ketemu juga sama suami Kiara yang bikin dia kelihatan beda hari ini.”
Alvar tersenyum sopan, menjabat tangan Delia. “Alvar.”
“Jaga Kiara baik-baik ya, Mas,” ucap Delia setengah bercanda, setengah serius. “Dia kelihatannya udah mulai jatuh cinta.”
Kiara langsung memprotes, “Delia!”
Alvar melirik Kiara sekilas, tatapan yang membuatnya makin salah tingkah dan lalu kembali menatap Delia.
“Aku akan jaga dia.”
Nada suaranya tenang tetapi justru itu yang bikin Kiara gugup.
Setelah berpamitan, Kiara masuk ke mobil. Sejak tadi Alvar sudah duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin. Delia berdiri di luar jendela yang masih terbuka, menyandarkan siku sambil tersenyum jahil.
“Mas Alvar,” godanya, “kelihatan banget sayang sama istri ya.”
Alvar belum sempat menjawab, Kiara sudah menunduk, pura-pura sibuk dengan sabuk pengaman.
Alvar meliriknya, lalu berkata santai, “Kalau istri saya malu, berarti benar.”
Delia tertawa lepas. “Nah, itu baru suami.”
Kiara mencubit lengan Alvar pelan dari balik kursi.
“Mas!”
Alvar hanya tersenyum kecil, senyum yang membuat Delia mengangguk puas sebelum akhirnya melambaikan tangan dan pergi.
Mobil melaju.
Mobil melaju pelan meninggalkan area gedung kantor. Di dalamnya, Kiara masih terdiam, menatap keluar jendela. Alvar sesekali melirik ke arahnya, seolah sedang menimbang sesuatu.
Akhirnya, ia menghela napas panjang.
“Kiara,” panggilnya pelan.
Kiara menoleh. “Hm?”
“Ada sesuatu yang belum aku ceritakan.”
Nada suara Alvar berubah, bukan seperti pria yang tadi digoda Delia.
“Terjadi kebakaran di gudang,” lanjut Alvar. “Itu gudang bawang milik keluargaku. Terbakar tadi malam.”
Kiara membeku.
“Kok … kamu baru bilang sekarang, Mas?” tanyanya pelan.
“Ibu baru kabari tadi, aku nggak mau kamu panik. Dan aku juga masih berharap itu cuma kerugian materi.” Alvar menepikan mobil sebentar, mematikan mesin.
“Tapi aku harus pulang ke desa. Ngurus semuanya sendiri.”
Kiara menelan ludah, ada rasa kecewa yang samar bukan karena Alvar pergi, tapi karena kata pergi itu sendiri terasa terlalu cepat setelah malam yang hangat.
“Kapan?” tanyanya.
“Hari ini, sore atau nanti malam.”
Sunyi menyergap mereka. Kiara menunduk, jarinya saling mengait.
“Aku … nggak bisa ikut.”
“Aku tahu.” Alvar menjawab cepat, seolah sudah memikirkan itu sejak awal.
“Desainmu harus selesai minggu ini, kan?”
Kiara mengangguk. “Mas Darius butuh itu.”
Alvar menoleh penuh perhatian.
“Selesaikan, jangan berhenti di tengah jalan cuma karena aku pergi. Itu tanggung jawabmu.”
Nada suaranya tegas, tapi matanya lembut.
“Aku bangga kamu bisa bertanggung jawab sama apa yang kamu mulai,” lanjutnya.
“Dan aku nggak mau kamu merasa harus memilih.”
Kiara menatapnya, ada hangat di dadanya. Alvar bukan menahan, bukan melarang dia tetapi mendukung.
“Tapi Mas,” ucap Kiara ragu, “kenapa rasanya … aneh ya?”
Alvar mengernyit. “Aneh gimana?”
“Gudang itu kebakaran … malam hari … pas kamu lagi di Jakarta.” Kiara mengangkat wajahnya.
“Aku nggak bilang ini pasti, tapi … kok rasanya bukan kecelakaan biasa.”
Alvar terdiam, dia teringat obrolan dengan ibunya.
“Kamu curiga?” tanya Alvar.
Kiara mengangguk pelan. “Aku cuma merasa … terlalu kebetulan.”
Beberapa detik berlalu sebelum Alvar menjawab.
“Kalau memang ada yang sengaja,” katanya akhirnya, “aku akan cari tahu.”
Dia meraih tangan Kiara, menggenggamnya erat.
“Dan aku janji, apa pun yang aku temukan, kamu yang pertama tahu.”
Kiara membalas genggaman itu. “Hati-hati di desa, Mas.”
Alvar tersenyum kecil. “Kamu juga, jangan kebanyakan begadang.”
Kiara tersenyum tipis. “Siapa yang kemarin—”
“Kiara,” potong Alvar sambil terkekeh. “Kamu cuma boleh fokus kerja.”
Tapi di balik senyum mereka, ada satu perasaan yang sama-sama mengendap Ini bukan perpisahan biasa.
"Aku akan menunggu kamu kembali ke sini, Mas."
"Aku pasti kembali," ujarnya menyesap bibir Kiara pelan dan lembut dan hanya sekilas.
pasti dokter lama ada yang iri dengki, hati2 Alvar