Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
"Cinta? Kamu bicara soal cinta sama Papa?"
Gavin tertawa hambar. Suaranya memantul di dinding ruang tengah yang luas, terdengar menyakitkan di telinga Alea.
"Pa, tolong dengerin Alea dulu! Ini bukan konspirasi bisnis!" Alea maju selangkah, mengabaikan pecahan kaca yang nyaris menggores kakinya. Air matanya sudah membasahi pipi. "Rigel nggak pernah bawa-bawa nama Kalandra di depan Alea. Dia bahkan nggak pernah bahas soal persaingan Papa sama ayahnya. Kita jalanin ini murni karena kita nyaman, Pa. Bukan karena status!"
"Nyaman?" sentak Gavin, matanya berkilat marah. "Kamu nyaman sama anak yang bapaknya pernah ngejegal proyek rumah sakit Papa lima tahun lalu? Kamu lupa, Alea?! Gara-gara Kalandra, Ardiman Group rugi ratusan miliar!"
"Itu urusan bisnis orang tua, Pa! Apa hubungannya sama Rigel?!" Alea berteriak, suaranya parau. "Rigel itu dokter! Dia nyelamatin nyawa orang tiap hari. Dia yang ngerawat Alea pas sakit, dia yang masakin Alea, dia yang hibur Alea pas saham anjlok. Dia peduli sama Alea, bukan karena Alea anak Gavin Ardiman!"
"Peduli?" Gavin mendengus jijik. Dia menendang pecahan gelas kopi di lantai dengan ujung sepatu pantofelnya. "Dia itu pemain watak yang hebat. Dia pasti ketawa puas liat Papa menghina sepatu bututnya tempo hari. Dalam hati dia pasti bilang, 'Liat tuh Gavin Ardiman, sombong tapi bego, nggak tau kalau gue lebih kaya dari dia'."
Gavin memegangi dadanya yang terasa sesak karena emosi. Harga dirinya sebagai kepala keluarga dan pengusaha top terasa diinjak-injak oleh sandiwara Rigel.
"Pa, Rigel nggak sepicik itu..."
"Diam kamu!" bentak Gavin. "Papa nggak mau denger satu kata pun lagi soal pembelaan kamu buat anak tengil si Kalandra musuh bebuyutan Papa itu."
Gavin berjalan mondar-mandir, napasnya memburu. Dia menatap sekeliling penthouse mewah itu. Lampu kristal, sofa kulit Italia, lantai marmer import. Semua kemewahan yang selama ini dinikmati Alea.
"Oke. Kamu merasa sudah hebat. Kamu merasa pilihan kamu paling benar. Kamu merasa sudah dewasa dan pintar cari uang sendiri, kan?" Gavin berhenti tepat di depan Alea, menatap putrinya dengan sorot mata dingin yang asing.
Alea menyeka air matanya kasar. "Alea emang bisa cari uang sendiri! Perusahaan Alea profitnya milyaran tiap bulan. Alea bukan anak manja yang cuma nunggu warisan!"
"Bagus," sahut Gavin cepat. "Kalau begitu, buktikan."
Gavin berjalan menuju meja konsol di dekat pintu masuk. Dia menyambar kunci mobil Porsche dan kunci cadangan penthouse yang tergeletak di sana.
"Papa nggak bisa bekukan rekening pribadi kamu. Papa tau uang kamu banyak. Kamu Ratu Saham," ucap Gavin datar. "Tapi kamu lupa satu hal, Alea. Status kepemilikan tempat ini."
Wajah Alea memucat.
"Penthouse ini aset Ardiman Land. Terdaftar atas nama Holding keluarga, bukan nama pribadi kamu," lanjut Gavin kejam. "Mobil Porsche di basement, Alphard, dan semua bodyguard yang jaga kamu... itu semua fasilitas dari Papa."
"Pa... Papa mau ngapain?" suara Alea bergetar.
"Papa mau ambil hak Papa."
Gavin melempar kunci cadangan penthouse itu ke saku celananya. Lalu dia menatap Alea dengan tatapan mengusir.
"Keluar."
Satu kata itu menghantam Alea lebih keras daripada tamparan fisik.
"Apa?"
"Keluar dari sini. Sekarang. Malam ini juga," perintah Gavin mutlak. "Angkat kaki dari properti milik Ardiman. Bawa barang-barang kamu seperlunya. Sisanya tinggal."
"Pa! Ini jam dua belas malem! Papa kekanak-kanakan banget sih, tega ngusir anak sendiri?!" Alea histeris. Dia tidak percaya ayahnya bisa sekejam ini hanya karena gengsi.
"Kamu yang minta diperlakukan sebagai orang dewasa yang mandiri, kan? Orang dewasa harus tanggung jawab sama pilihannya," Gavin bersedekap dada, tidak tersentuh sedikitpun oleh air mata Alea. "Kamu lebih milih Kalandra daripada keluarga kamu sendiri. Jadi silahkan pergi ke dia. Minta perlindungan sama dia."
"Papa pikir Alea bakal jadi gelandangan?!" tantang Alea, jiwa pemberontaknya muncul. "Alea punya uang! Alea bisa beli sepuluh apartemen kayak gini besok pagi!"
"Silakan," Gavin tersenyum sinis. "Tapi malam ini, kamu keluar. Papa mau kunci unit ini. Sekuriti di lobi akan Papa telepon untuk cabut akses kamu."
Alea mengepalkan tangannya. Sakit hati. Kecewa. Marah. Semua campur aduk.
Dia merasa diasingkan oleh darah dagingnya sendiri hanya karena mencintai seseorang.
Tanpa banyak bicara lagi, Alea berlari ke kamarnya. Dia tidak membawa koper besar. Dia hanya menyambar tas kerjanya, dompet, dan ponsel. Dia tidak mengganti gaun pestanya yang kusut. Dia tidak mau membawa satu pun barang pemberian papanya.
Lima menit kemudian, Alea kembali ke ruang tengah. Matanya bengkak, tapi dagunya terangkat tinggi.
"Alea pergi," ucap Alea dingin. "Jangan harap Alea bakal mohon-mohon buat balik ke sini."
Alea adalah duplikat Gavin Ardiman. Mereka berdua memiliki takaran ego dan keras kepala yang sama.
Gavin menatap putrinya tanpa ekspresi. Dia mengangkat tangan kanannya yang memegang kunci mobil Porsche milik Alea.
Klontang!
Gavin melempar kunci mobil mewah itu ke lantai, tepat di depan sepatu Alea.
"Tinggalin kuncinya. Itu mobil atas nama perusahaan Papa," ucap Gavin tajam.
Alea menendang kunci itu menjauh. "Ambil aja mobil rongsokan itu. Alea nggak butuh."
Gavin menatap punggung Alea yang berjalan menuju pintu keluar. Sebelum Alea menyentuh gagang pintu, suara Gavin kembali terdengar, menusuk dan penuh tantangan.
"Kalau kamu merasa sudah hebat dan bisa bohongi Papa, silakan hidup mandiri. Keluar dari penthouse ini malam ini juga. Ini aset Ardiman. Beli sendiri tempat tinggal kamu pakai uang saham kamu itu."
Gavin memberi jeda sejenak, memastikan kalimat berikutnya menancap di hati Alea.
"Papa mau lihat, tanpa atap Ardiman dan tanpa fasilitas keluarga, apa Dokter Sultan itu masih mau nampung kamu? Atau dia cuma mau sama kamu karena kamu putri Gavin Ardiman?"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....