Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Detak Jantung Ganda dan Roda Perubahan
Ruang USG Rumah Sakit Limijati. Pukul 16.30 WIB.
Suasana di dalam ruangan itu begitu tenang, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang mendengung halus. Zalina terbaring di atas ranjang periksa, perutnya yang masih rata diolesi gel bening yang dingin. Fatih berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangan kiri istrinya. Jantung Fatih berdegup lebih kencang daripada saat ia mempresentasikan desain di depan Pak Gunawan.
Dokter Maya, spesialis kandungan yang menangani mereka, menggerakkan transduser di atas perut Zalina dengan perlahan. Matanya fokus menatap layar monitor hitam putih yang penuh dengan gradasi abu-abu.
"Nah, ini dia janinnya," ucap Dokter Maya tenang.
Fatih dan Zalina serentak menoleh ke layar. Terlihat satu titik kecil yang berkedip-kedip ritmis.
"Itu jantungnya, Dok?" tanya Fatih takjub. Suaranya bergetar. Melihat kehidupan yang ia "rancang" bersama Zalina kini benar-benar berdenyut adalah keajaiban yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Iya, Bapak. Detaknya sangat kuat. Tapi... tunggu sebentar," Dokter Maya mengernyitkan dahi, menggeser alatnya sedikit ke arah kanan.
Hening sejenak. Zalina menahan napas, takut ada yang salah. "Kenapa, Dok? Ada masalah?"
Dokter Maya tersenyum lebar, sebuah senyum yang membuat perasaan Fatih mendadak campur aduk. "Bapak, Ibu... coba lihat ke sebelah sini. Di kantong yang sama, ada satu lagi denyutan. Lihat?"
Fatih memajukan wajahnya ke layar. Benar saja. Ada dua titik kecil yang berkedip secara bergantian.
"Maksud Dokter... dua?" bisik Zalina tak percaya.
"Selamat ya. Pak Fatih dan Bu Zalina, kalian akan punya anak kembar (Identik). Ini sebabnya mualnya luar biasa, karena hormon kehamilannya dua kali lipat dari kehamilan biasa," jelas Dokter Maya dengan nada ceria.
Fatih merasa kakinya seperti jelly. Ia harus berpegangan pada pinggiran ranjang agar tidak jatuh. Anak kembar? Di saat ia baru saja memulai usaha, di saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit, Allah memberinya kepercayaan ganda.
"Zal... kembar," Fatih menatap istrinya.
Zalina menangis lagi. Kali ini tangisan syukur yang begitu meluap. "Alhamdulillah, Mas... Alhamdulillah."
Fatih mencium tangan Zalina berkali-kali. Ketakutannya tentang ekonomi sesaat sirna, digantikan oleh rasa tanggung jawab yang melonjak seribu persen. Jika satu anak saja ia sudah siap mati-matian, maka untuk dua anak, ia siap menaklukkan dunia.
Dua Hari Kemudian. Halaman Parkir Kedai Kopi "Tuang".
Fatih sedang duduk di depan laptopnya di lantai dua kedai, tapi pikirannya tidak pada gambar teknis drainase. Ia sedang menatap layar situs jual-beli mobil bekas.
Uang termin kedua dari Grand Horizon sudah cair. Sebagian besar ia alokasikan untuk operasional kantor, tapi ada satu bagian yang sudah ia kunci: Dana Mobil Keluarga.
"Cari mobil, Tih?" Pak Burhan masuk membawa dua gelas es kopi susu.
"Iya, Pak. Zalina kemarin pingsan, terus ternyata hamil kembar. Saya nggak tega kalau dia harus naik motor terus atau naik angkot yang sumpek," curhat Fatih.
Pak Burhan manggut-manggut. "Betul. Laki-laki itu dinilai dari cara dia memuliakan istrinya pas lagi hamil. Lu punya budget berapa?"
"Sekitar 60 sampai 70 juta, Pak. Yang penting mesinnya sehat, AC dingin, dan nggak mogokan."
"Dapet itu mah. Kijang kapsul atau Avanza generasi pertama. Mau gue temenin cari ke temen gue di Jual-Beli mobil Jalan Pungkur?"
"Boleh, Pak! Kalau Bapak ada waktu sore ini."
Maka, sore itu dimulailah misi "Mencari Kereta Kencana". Setelah berkeliling ke tiga tempat, mata Fatih tertambat pada sebuah Toyota Kijang Kapsul warna biru metalik tahun 2003. Catnya masih orisinal meski ada goresan tipis, interiornya rapi, dan yang paling penting: AC-nya dingin menusuk.
"Ini mobil bandel, Tih. Perawatan murah, muat banyak. Pas buat bawa perlengkapan bayi nanti," saran Pak Burhan setelah mengecek mesinnya.
Fatih melakukan test drive. Meski setirnya belum seringan mobil modern, Fatih merasa bangga. Ia membayangkan Zalina duduk di sampingnya, terlindung dari debu jalanan Bandung. Setelah negosiasi alot, ia berhasil mendapatkan mobil itu dengan harga 65 juta rupiah.
Sore harinya. Di depan Kontrakan.
Tit... tit!
Fatih membunyikan klakson di depan pagar kontrakan. Zalina yang sedang duduk di teras sambil membaca buku (ia masih dilarang banyak bergerak oleh dokter) langsung berdiri. Matanya membelalak melihat sebuah mobil biru tua terparkir di depan rumah mereka.
Fatih keluar dari mobil dengan senyum paling lebar yang pernah ia miliki. Ia membawa sebungkus rujak pesanan Zalina.
"Mas... ini mobil siapa?" tanya Zalina bingung.
"Mobil kita, Sayang," Fatih merangkul bahu Zalina, menyerahkan kunci mobil itu ke tangan istrinya. "Maaf ya, bukan mobil baru. Tapi Mas janji, di dalam sini kamu nggak akan kepanasan lagi. Dedek kembar juga bakal aman."
Zalina mengusap kap mobil itu dengan mata berkaca-kaca. Baginya, Kijang tua ini jauh lebih mewah daripada Ferrari Erlangga dulu. Karena setiap baut di mobil ini dibeli dengan keringat kejujuran suaminya.
"Makasih ya, Mas. Makasih banyak..."
"Ayo, kita coba keliling komplek. Kita pamer dikit sama Bu RT," bisik Fatih jahil.
Zalina tertawa. Ketegangan beberapa hari terakhir seolah menguap. Fatih langsung mengajak Zalina masuk ke mobil. Saat AC mulai menghembuskan udara dingin, Zalina menghela napas lega. "Mas, ini rasanya kayak di surga..."
Namun, saat mereka baru saja hendak menjalankan mobil, sebuah bayangan muncul di depan pagar.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh dan wajah kelelahan. Dia membawa sebuah tas belanja besar. Begitu melihat Fatih keluar dari mobil, wanita itu langsung menghampiri.
"Fatih..."
Fatih tertegun. "Ibu?"
Itu Bu Aminah, ibunya Fatih. Tapi kenapa wajahnya begitu cemas? Kenapa beliau datang tiba-tiba dari kampung tanpa memberi kabar?
"Bu, kenapa ke sini? Ada apa?" Fatih segera memapah ibunya masuk ke rumah.
Bu Aminah duduk di tikar, napasnya tersengal. "Fatih... Ibu minta maaf. Ibu terpaksa ke sini. Di kampung... ada orang-orang dateng ke kontrakan Ibu."
Fatih dan Zalina saling pandang. Firasat buruk kembali muncul.
"Orang siapa, Bu?"
"Ibu nggak kenal. Mereka pake baju safari, item-item. Mereka nanya-nanyain kamu, terus mereka bilang... kalau kamu mau Ibu selamat, kamu harus berhenti ganggu urusan 'Pak Besar' di Bandung."
Darah Fatih mendidih. Handoko.
Bajingan itu tidak berhenti setelah gertakannya di restoran gagal. Setelah menyerang IMB, sekarang dia menyerang titik terlemah Fatih: Ibunya.
"Terus Ibu diapain?" suara Fatih meninggi karena cemas.
"Mereka nggak mukul, tapi mereka ngacak-ngacak rumah. Mereka bilang ini peringatan terakhir. Ibu takut, Nak. Jadi Ibu langsung naik bus ke sini..."
Fatih memeluk ibunya erat. Ia merasa sangat bersalah. Keberhasilannya di proyek ternyata membawa risiko bagi orang-orang yang ia cintai.
Zalina mendekat, mengusap punggung Bu Aminah. "Ibu tenang ya. Ibu di sini aja sama kami. Jangan balik ke kampung dulu."
Fatih menatap dinding kontrakan dengan tatapan dingin. Handoko sudah melewati batas. Dia menyentuh ibunya. Dia mengancam nyawa orang tuanya.
"Zal, Bu," suara Fatih rendah tapi penuh tekanan. "Handoko mau main kasar? Oke. Kita layani."
Fatih mengambil ponselnya. Ia menelepon Bang Baron.
"Halo, Bang? Saya butuh bantuan. Bukan soal proyek. Soal keluarga saya. Saya mau minta tolong, jaga kontrakan saya 24 jam. Dan saya butuh alamat rumah Handoko. Yang asli, bukan kantor."
Di seberang sana, suara Baron terdengar berat. "Siap, Tih. Gue gerakin anak-anak sekarang. Lu tenang aja. Kalau soal Ibu, itu urusan nyawa. Gue nggak akan biarin satu helai rambut pun jatuh dari Ibu lu."
Fatih menutup telepon. Ia menoleh ke arah Zalina yang tampak ketakutan.
"Zal, maafin Mas. Kondisi makin bahaya. Tapi Mas janji, Mas nggak akan mundur. Kalau Mas mundur sekarang, dia bakal injak-injak kita selamanya."
Fatih menyadari, memiliki anak kembar berarti dia harus menjadi dua kali lebih berani. Ia bukan lagi Fatih yang hanya bisa pasrah. Ia adalah singa yang sedang melindungi sarangnya.
Malam itu, Fatih tidak tidur di kasur. Ia duduk di teras, di dalam mobil Kijang barunya, memantau setiap pergerakan di gang. Di tangannya, ia memegang flashdisk berisi rekaman suara Handoko.
"Kita lihat, siapa yang akan hancur duluan, Handoko," desis Fatih.
Besok, Fatih berencana melakukan langkah nekat. Ia tidak akan lapor polisi—karena ia tahu Handoko punya "orang" di sana. Ia akan mendatangi seseorang yang jauh lebih tinggi daripada Handoko dalam rantai makanan politik di Jawa Barat. Seseorang yang dulu pernah dibantu oleh desain arsitektur ayah Zalina.