NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Mengikuti Kata Hati

“Tante, malam ini tidur di sini ya. Temani Luna,” pinta Luna sambil menatap Vara penuh harap.

Kini Luna sudah memanggilnya Tante, dan panggilan itu terasa hangat sekaligus berat di hati Vara. Tatapan mata bening itu membuatnya mustahil untuk menolak.

Akhirnya, Vara mengangguk pelan.

“Iya,” jawabnya lembut.

Luna langsung memeluk Vara erat. “Terima kasih, Tante!”

Melani dan Nicholas tersenyum melihat pemandangan itu. Ada kelegaan di hati mereka. Begitu pula Arga, tanpa ia sadari, dadanya terasa hangat melihat kedekatan yang terjalin begitu alami.

“Luna, sudah malam. Ayo tidur,” ujar Melani lembut. “Besok kamu sekolah. Nenek juga sudah mengantuk.”

Luna mengangguk patuh.

“Ayo, Tante, kita ke kamar,” ajaknya sambil menggenggam tangan Vara.

Sebelum menuju kamar, Luna berhenti sejenak.

“Kakek, nenek, selamat malam,” ucapnya sopan.

“Om juga. Jangan begadang,” tambahnya polos.

Arga hanya tersenyum tipis. “Selamat tidur, Luna.”

Vara mengangguk hormat pada Melani dan Nicholas sebelum mengikuti Luna ke kamar.

Di kamar, Vara membacakan cerita sebelum tidur. Luna mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali menyela dengan pertanyaan kecil. Hatinya penuh kebahagiaan.

"Semoga Om Arga dan Tante Vara benar-benar menikah," batin Luna polos. Sambil menata Vara.

"Kalau Tante jadi istri Om, Luna tidak akan pernah merasa sendirian lagi." pikir Luna

Tak lama kemudian, napas Luna mulai teratur. Gadis kecil itu terlelap dengan senyum kecil di bibirnya.

Vara perlahan turun dari ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuh Luna hingga leher. Ia menatap wajah polos itu sejenak. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya, merasa kan rasa sayang yang entah kapan hadir dihatinya.

Tanpa sadar, Vara menunduk dan mengecup pelan pucuk kepala Luna. Setelah itu, ia mematikan lampu, lalu melangkah keluar dengan hati-hati.

Ia tak menyadari bahwa apa yang dilakukannya barusan diam-diam diperhatikan seseorang dari balik pintu.

Vara menutup pintu kamar perlahan. Saat hendak melangkah pergi, ia mendapati Arga berdiri tak jauh darinya, seolah hendak masuk ke kamarnya sendiri.

“Tuan,” panggil Vara pelan.

Arga menghentikan langkahnya. “Iya?”

“Tuan… bisakah kita bicara sebentar?” tanya Vara ragu.

Arga mengangguk. Tanpa banyak kata, ia berbalik dan berjalan mendahului Vara menuju balkon lantai atas.

Hembusan angin malam menyambut mereka. Langit bertabur bintang membentang luas, sunyi, seolah sengaja menjadi saksi percakapan yang akan terjadi.

Vara berdiri canggung di samping Arga. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, jika tidak diungkapkan sekarang, kegelisahan itu akan terus menghantuinya. Setidaknya Vara butuh penjelasan.

“Tuan,” panggil Vara pelan. “Apa… Tuan tidak salah? Apa Tuan benar-benar yakin dengan semua ini?”

Arga terdiam. Pandangannya tertuju pada langit malam.

“Entahlah,” jawabnya jujur. “Lalu kamu sendiri bagaimana?” bukan nya menjawab Arga malah balik bertanya.

Vara menarik napas dalam.

“Saya tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini. Apalagi bersanding dengan Tuan,” ucapnya lirih.

“Saya yakin, jika orang-orang tahu saya akan menikah dengan Tuan, mereka akan mengira saya sengaja mendekati Luna. Padahal… saya benar-benar menyayanginya tanpa niat apa pun.”

“Kamu tidak perlu memikirkan omongan orang,” jawab Arga tenang. “Yang penting bagaimana perasaanmu sendiri.”

“Tapi… apa Tuan tidak malu bersanding dengan saya?” tanya Vara jujur. “Saya hanya wanita biasa, jauh berbeda dengan Tuan.”

Ia menunduk. “Dan jika suatu hari Tuan menemukan wanita yang lebih sesuai bagaimana?… saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Saya ingin pernikahan yang membawa kebahagiaan. Saya sudah cukup menderita dengan hidup saya selama ini.”

Arga berbalik, menatap Vara dalam-dalam.

“Aku juga hanya ingin menikah sekali dalam hidup ku” ucapnya tegas.

“Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi setelah menikah, aku akan berusaha menjadi suami yang baik.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,

“Soal perasaan… aku sendiri belum tahu. Kita jalani saja. Kita mulai dari awal. Aku percaya, perasaan bisa tumbuh seiring waktu. Dan untuk keputusan ini, aku mengikuti kata hatiku.”

Vara terdiam, merenungi setiap kata Arga. Perlahan, ia tersenyum, senyum kecil yang lahir dari kelegaan.

“Ayo masuk,” ucap Arga akhirnya. “Tidak baik terlalu lama di luar malam-malam begini.”

Mereka melangkah masuk bersama.

Di depan kamar Luna, Arga berhenti.

“Kamu tidur di kamar Luna saja,” ucapnya.

“Iya, Tuan. Selamat malam,” balas Vara sopan.

“Selamat malam,” jawab Arga.

Vara masuk ke kamar dengan hati yang masih berdebar, takut, ragu, namun ia berusaha yakin jika ini adalah jalan hidupnya.

---

Vara bergegas memasuki gedung Perusahaan Wisesa. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan waktu hampir mendekati jam kerja. Baru saja ia hendak melangkah masuk ke dalam lift, sebuah suara memanggil namanya.

“Vara!”

Langkahnya terhenti. Vara menoleh dan mendapati Nita berjalan cepat ke arahnya.

“Nita,” sapa Vara sambil tersenyum tipis. “Kamu juga baru sampai?”

Nita mengangguk singkat begitu berdiri di samping Vara. “Iya, Aku baru sampai.Tumben kamu datang agak telat. Biasanya kamu sudah duduk manis sebelum aku datang.”

Vara terkekeh kecil, mencoba terlihat santai. “Sekali-sekali telat nggak apa-apa kali, Nit.”

Ia tidak berniat menceritakan apa pun tentang hal yang ia alami.

Lift terbuka, mereka masuk bersamaan. Sepanjang perjalanan menuju ruang kerja, Nita beberapa kali melirik Vara, seolah menyimpan rasa penasaran.

Begitu mereka duduk di meja masing-masing, Nita kembali membuka pembicaraan.

“Ra, semalam kamu ke mana, sih? Setelah Tuan Erik memanggilmu, kamu nggak balik ke ruangan. Aku dengar kamu keluar bersama Nyonya Besar.”

Tangan Vara yang sedang merapikan berkas langsung terhenti sejenak. Dadanya menghangat oleh rasa gugup.

Ia menarik napas perlahan.

“E-eh… itu… Nyonya Besar minta aku menemaninya mencari sesuatu untuk Luna,” jawab Vara akhirnya.

"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku terpaksa berbohong," batin Vara.

“Oh…” Nita mengangguk, tampak menerima jawaban itu. “Masuk akal sih. Kamu kan memang dekat sama Luna. Wajar kalau Nyonya Besar mengajak mu.”

Vara mengembuskan napas lega. Untung Nita tidak bertanya lebih jauh.

Sementara itu, di kediaman keluarga Wisesa, Melani dan suaminya, Nicholas, tengah duduk santai di taman belakang, tempat favorit mereka sejak dulu. Udara pagi terasa sejuk, menenangkan.

“Ma, apa rencana Mama selanjutnya?” tanya Nicholas sambil menyeruput teh hangatnya.

“Mungkin lusa Mama akan mengajak Vara untuk fitting baju pengantin,” jawab Melani tenang.

Nicholas tersenyum lebar. “Papa sudah tidak sabar melihat anak kita menikah.”

Melani menoleh, menatap suaminya dengan senyum geli.

“Lah, ternyata Papa juga tidak sabar. Mama kira cuma Mama saja.”

“Ya iyalah, Ma,” balas Nicholas. “Apalagi calon menantu kita sebaik Vara. Papa hanya berharap pernikahan mereka nanti tidak ada gangguan berarti.”

“Aamiin,” ucap Melani pelan. “Mama juga berharap begitu. Semoga mereka kuat menghadapi segala cobaan yang mungkin datang.”

Itulah harapan sederhana orang tua, melihat anaknya bahagia.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka.

“Maaf, Tuan, Nyonya. Ada tamu.”

“Siapa pagi-pagi begini?” tanya Melani heran.

“Anu, Nyonya… Nona Julia.”

Alis Melani langsung berkerut. “Julia? Ada apa dia ke sini?”

Melani bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang tamu. Julia sudah duduk menunggu. Begitu mendengar langkah kaki, Julia segera berdiri.

“Selamat pagi, Tante,” sapa Julia dengan sopan, meski wajahnya tampak gugup.

“Pagi,” jawab Melani singkat. “Ada apa kamu datang pagi-pagi begini?”

Nada suaranya datar, jauh berbeda dari sikap lembutnya dulu. Julia bisa merasakannya dengan jelas.

“Tante…” Julia menunduk. “Julia mau minta maaf. Julia benar-benar tidak menyangka kalau semalam itu Tante yang Julia tabrak.”

Melani menatapnya tajam.

“Jadi kalau semalam yang kamu tabrak bukan aku, kamu tetap merasa benar dan menyalahkan orang lain begitu saja?”

“B-bukan begitu, Tante,” ujar Julia gugup. “Julia benar-benar tidak sengaja. Maafkan Julia…”

“Sudahlah,” potong Melani. “Jangan dibesar-besarkan. Jadikan ini pelajaran. Jangan bersikap angkuh dan merasa selalu benar.”

“Iya, Tante,” jawab Julia cepat. “Julia janji tidak akan mengulanginya lagi.”

Julia menarik napas, lalu memberanikan diri melanjutkan.

“Selain itu… Julia juga mau minta maaf soal Luna. Julia ingin menebus kesalahan Julia. Apa Tante bisa membantu agar Luna mau dekat dengan Julia? Julia janji akan menyayangi Luna sepenuh hati.”

Melani terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Untuk hal itu, aku tidak bisa membantumu. Itu urusan Arga dan Luna, bukan aku.”

Jawabannya singkat, namun jelas dan tegas.

Julia mengepal kan tangannya, menahan gejolak hatinya.

"Lagi-lagi aku gagal."

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!