NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan yang Berbahaya

Seminggu berlalu sejak hari itu.

Seminggu sejak aku melihat lima orang ditembak di depan mataku.

Seminggu sejak Leonardo memaksaku menyaksikan eksekusi sambil berbisik kata-kata cinta yang terdistorsi.

Tujuh hari. Tapi rasanya seperti tujuh tahun.

Aku berubah.

Atau mungkin... aku menyerah.

Aku tidak tahu lagi mana yang mana.

Yang jelas, aku berhenti melawan. Berhenti mencoba kabur. Berhenti berharap ada jalan keluar.

Karena setiap kali aku punya sedikit harapan, Leonardo menghancurkannya dengan cara yang semakin brutal.

Sekarang aku hanya... ada.

Bangun saat pintu terbuka. Mandi. Berganti pakaian dengan apa yang sudah disiapkan. Turun sarapan dengan Leonardo tanpa protes. Makan saat diminta. Bicara saat ditanya. Tersenyum saat dia ingin aku tersenyum.

Seperti boneka.

Boneka yang sudah tidak punya kehendak sendiri.

Dan Leonardo... Leonardo terlihat sangat puas dengan perubahan ini.

Pagi ini, seperti biasa, aku turun untuk sarapan. Leonardo sudah menunggu dengan kopi dan roti panggang di meja.

"Selamat pagi, sayang," sapanya dengan senyum yang terlihat... genuine? Atau aku sudah terlalu lelah untuk membedakan senyum asli dan palsu?

"Selamat pagi," balasku dengan nada datar.

Aku duduk di samping nya. Mengambil roti. Mengoleskan mentega. Makan dengan gerakan mekanis.

Leonardo menatapku sambil menyeruput kopinya. "Kau terlihat lebih baik hari ini."

Lebih baik. Maksudnya lebih patuh. Lebih jinak.

"Terima kasih," ucapku tanpa menatapnya.

"Aku punya kejutan untukmu," lanjutnya. Ada nada senang di suaranya. Seperti anak kecil yang mau kasih hadiah. "Hari ini, kalau kau mau, kita bisa jalan-jalan."

Aku mengangkat pandang. Menatapnya bingung. "Jalan-jalan? Kemana?"

"Danau Lugano. Tidak jauh dari sini. Tempatnya indah. Aku pikir kau perlu udara segar." Dia tersenyum lagi. "Tentu saja dengan pengawalan. Tapi setidaknya kau bisa keluar dari vila untuk beberapa jam."

Keluar dari vila.

Seharusnya aku senang, kan? Seharusnya aku lompat kegirangan karena akhirnya bisa keluar dari penjara ini walau cuma beberapa jam.

Tapi yang kurasakan cuma... hampa.

"Kalau kamu mau," jawabku pelan. "Terserah kamu."

Leonardo mengerutkan kening sedikit. "Aku tanya apa kau mau, Nadira. Bukan apa aku mau."

"Aku..." aku menatap piring di depanku. "Aku tidak tahu. Apa bedanya? Akhirnya kan kamu yang memutuskan."

Hening sejenak.

Lalu Leonardo bangkit dari kursinya. Berjalan ke sampingku. Berjongkok di samping kursiku sampai matanya sejajar denganku.

"Hey," ucapnya lembut sambil mengangkat daguku dengan jari. "Lihat aku."

Aku menatapnya dengan mata kosong.

"Aku tahu seminggu terakhir berat untukmu," lanjutnya. "Dan aku tahu kau masih marah padaku karena apa yang kutunjukkan. Tapi Nadira... aku melakukan itu supaya kau paham. Supaya kau tidak mencoba hal bodoh lagi yang bisa membahayakan dirimu atau orang-orang yang kau sayangi."

Orang-orang yang kusayangi. Seperti Arman yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Aku sudah tidak berani tanya.

"Tapi itu sudah lewat," Leonardo mengusap pipiku dengan ibu jari. "Sekarang aku mau kita mulai lagi. Dengan cara yang lebih baik. Aku mau kau lihat sisi lain dariku. Bukan cuma sisi gelap yang kemarin."

Sisi lain. Seolah ada sisi lain dari monster.

"Jadi," dia tersenyum. "Apa kau mau jalan-jalan denganku hari ini?"

Aku menatapnya lama. Lalu mengangguk kecil. "Baiklah."

Senyumnya melebar. Seperti anak yang baru dapat hadiah. "Bagus. Kita berangkat setelah makan siang. Pakai baju yang nyaman."

Dia mencium keningku sebelum kembali ke kursinya.

Dan aku hanya duduk di sana, merasakan bekas ciumannya yang terasa seperti cap kepemilikan.

Sekitar pukul dua siang, kami berangkat.

Aku mengenakan celana jeans biru, kaos putih simple, dan cardigan krem. Rambut dikuncir ekor kuda. Sepatu kets putih.

Leonardo mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana chino abu-abu. Casual tapi tetap terlihat rapi.

Kami naik mobil. Sedan hitam yang sama seperti biasa. Leonardo yang nyetir. Di mobil belakang ada Marco dengan dua pengawal lain.

Pengawalan ketat. Tentu saja.

Perjalanan sekitar dua puluh menit. Melewati jalan-jalan yang indah dengan pemandangan pegunungan dan danau di kejauhan.

Aku hanya menatap keluar jendela. Tidak bicara. Leonardo juga tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik ke arahku sambil tersenyum tipis.

Kami sampai di tepi Danau Lugano. Tempat yang... memang indah. Airnya biru jernih. Dikelilingi pegunungan hijau. Ada beberapa perahu kecil yang berlayar di kejauhan. Udara segar dengan sedikit angin yang menyejukkan.

Leonardo parkir di area yang cukup sepi. Marco parkir di belakang kami tapi tidak turun. Hanya mengawasi dari dalam mobil.

"Ayo," Leonardo membuka pintu untukku.

Kami berjalan ke tepi danau. Ada bangku kayu di bawah pohon besar. Leonardo menuntunku duduk di sana.

Pemandangan dari sini... benar-benar indah. Seperti lukisan.

"Cantik, kan?" ucap Leonardo sambil duduk di sampingku.

"Ya," jawabku jujur. "Sangat cantik."

"Aku sering datang ke sini dulu. Saat masih kecil. Sebelum semua... sebelum hidup jadi rumit." Suaranya terdengar nostalgik. "Tempat ini selalu menenangkan."

Aku meliriknya. Ini pertama kalinya dia bicara tentang masa lalunya.

"Kau tinggal di Lugano sejak kecil?" tanyaku pelan.

"Tidak. Aku lahir di Sisilia. Tapi pindah ke sini saat usia sepuluh tahun. Setelah..." dia terdiam sejenak. "Setelah orangtuaku meninggal."

Aku menatapnya. Ada sesuatu di matanya. Kesedihan? Atau mungkin cuma bayanganku.

"Maaf," bisikku.

"Sudah lama." Dia tersenyum tipis. "Hampir dua puluh lima tahun. Tapi kadang rasanya seperti kemarin."

Kami terdiam. Hanya suara angin dan air danau yang mengisi keheningan.

"Kau tahu kenapa aku bawa kau ke sini?" tanya Leonardo tiba-tiba.

Aku menggeleng.

"Karena aku mau kau lihat bahwa dunia di luar vila itu tetap ada. Tetap indah. Dan suatu hari, kalau kau sudah... kalau aku sudah bisa percaya penuh padamu, kita bisa ke tempat-tempat seperti ini lebih sering. Tanpa pengawalan yang terlalu ketat. Seperti pasangan normal."

Pasangan normal. Kami tidak akan pernah jadi pasangan normal.

"Tapi itu tergantung padamu," lanjutnya. "Tergantung apa kau bisa menerima hidupmu yang sekarang. Menerima aku apa adanya. Dan berhenti mencoba lari."

Dia berdiri. Berjalan ke belakang bangku. Lalu memelukku dari belakang. Dagunya di atas kepalaku.

"Lihat betapa indahnya dunia saat kau berhenti melawan?" bisiknya.

Pelukannya hangat. Tapi entah kenapa aku merasa dingin.

"Aku bisa kasih kau semua ini, Nadira," lanjutnya. "Keindahan. Kemewahan. Perlindungan. Cinta. Semua yang kau butuhkan. Asalkan kau berhenti melihatku sebagai musuh dan mulai melihatku sebagai... rumah."

Rumah.

Bagaimana aku bisa melihat penjara sebagai rumah?

Tapi aku tidak bilang itu. Aku hanya diam. Membiarkan dia memelukku sambil menatap danau yang indah tapi terasa begitu jauh.

Karena seindah apapun pemandangan ini, aku tetap tahu bahwa di mobil belakang sana, Marco mengawasi dengan pistol di pinggangnya. Bahwa di leherku ada kalung dengan tracker yang selalu memantau posisiku. Bahwa kebebasan yang Leonardo tawarkan cuma ilusi yang bisa dia cabut kapan pun dia mau.

"Terima kasih sudah membawaku ke sini," ucapku akhirnya. Kata-kata yang seharusnya keluar tapi terasa pahit di lidah.

Leonardo mencium kepalaku. "Sama-sama, sayang. Kita akan lebih sering seperti ini. Aku janji."

Janji dari monster.

Seberapa berharganya itu?

Kami duduk di sana sekitar satu jam. Leonardo bicara tentang berbagai hal. Tentang tempat-tempat yang dia kunjungi. Tentang rencana bisnis masa depan yang tentunya penuh dengan hal-hal ilegal yang dia sembunyikan dengan istilah-istilah halus. Tentang bagaimana dia membayangkan hidup kami lima tahun ke depan.

Dan aku hanya mendengar. Mengangguk di waktu yang tepat. Tersenyum saat dia mau aku tersenyum.

Seperti boneka.

Tapi entah kenapa, Leonardo terlihat sangat bahagia dengan versi bonekaku ini.

Lebih bahagia dari saat aku masih melawan.

Dan itu yang paling menyedihkan.

Dia tidak mau istriku yang punya kehendak sendiri. Dia mau boneka yang patuh. Yang bisa dia kontrol. Yang tidak akan pernah meninggalkannya.

Saat kami kembali ke mobil, Leonardo membukakan pintu untukku dengan senyum.

"Hari yang menyenangkan, kan?" tanyanya.

"Ya," jawabku. "Menyenangkan."

Bohong. Tapi bohong yang sudah jadi kebiasaan.

Perjalanan pulang, Leonardo memegang tanganku. Jari-jarinya menggenggam jariku dengan lembut.

Dan aku membiarkannya.

Karena apa gunanya melawan?

Apa gunanya mencoba kabur saat setiap percobaan hanya berakhir dengan orang lain yang mati?

Apa gunanya berharap saat harapan selalu dihancurkan dengan cara yang semakin brutal?

Lebih baik aku jadi boneka yang patuh.

Lebih baik aku tersenyum dan mengangguk.

Lebih baik aku berpura-pura bahwa ini semua baik-baik saja.

Karena mungkin... mungkin kalau aku cukup lama berpura-pura, aku akan mulai percaya pada kepura-puraan itu sendiri.

Mungkin aku akan lupa bagaimana rasanya bebas.

Mungkin aku akan terbiasa dengan sangkar emas ini sampai aku tidak mau keluar lagi bahkan kalau pintunya dibuka.

Dan mungkin... mungkin itu yang Leonardo tunggu sejak awal.

Bukan penyerahan fisik.

Tapi penyerahan mental.

Penyerahan jiwa.

Sampai aku benar-benar jadi miliknya.

Sepenuhnya.

Tanpa sisa.

Dan hari ini, di tepi Danau Lugano yang indah itu, sambil dia memelukku dari belakang dan berbisik tentang masa depan yang dia bayangkan...

Aku merasa jarak antara Nadira yang dulu dan boneka Nadira yang sekarang semakin tipis.

Semakin kabur.

Sampai mungkin suatu hari, aku tidak bisa membedakan lagi.

Dan saat itu terjadi...

Leonardo menang.

Sepenuhnya.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!