NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18

Langit menggantung rendah sejak siang berganti senja.

Awan kelabu berlapis-lapis, seperti menahan sesuatu yang belum ingin dijatuhkan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan angin membawa aroma tanah basah meski hujan belum benar-benar turun. Yurie berdiri di balik jendela, memandangi halaman yang perlahan diselimuti cahaya lampu taman.

Ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan.

Bukan takut. Bukan pula ragu. Lebih seperti firasat bahwa setelah malam ini, banyak hal tak akan lagi sama.

Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya.

“Masuk,” ucap Yurie.

Kaiden melangkah masuk dengan ekspresi serius, jaket hitamnya masih ia kenakan. Rambutnya sedikit basah—gerimis rupanya sudah mulai turun di luar.

“Kita harus berangkat sekarang,” katanya tanpa basa-basi.

Yurie menoleh cepat. “Sekarang?”

Kaiden mengangguk. “Saksi itu berubah pikiran. Dia mau bicara, tapi tidak lama.”

Yurie meraih mantel tanpa bertanya lebih jauh. Ada sesuatu dalam nada suara Kaiden yang membuatnya tahu—ini bukan pertemuan biasa.

Mereka berjalan keluar rumah bersamaan. Udara dingin langsung menyergap, menusuk kulit, tapi Yurie nyaris tidak merasakannya. Gerimis turun tipis, hampir seperti kabut yang jatuh perlahan.

Mobil melaju membelah kota yang basah. Lampu-lampu jalan memantul di aspal, menciptakan bayangan panjang yang bergerak tanpa bentuk pasti.

“Kau tidak harus ikut,” kata Kaiden setelah beberapa saat.

Yurie menoleh. “Aku ingin ada di sana.”

Kaiden melirik sekilas, lalu mengangguk. “Baik.”

Tidak ada perdebatan. Tidak ada larangan. Itu saja sudah cukup membuat Yurie merasa dilibatkan—bukan sekadar dilindungi.

Tempat itu jauh dari kesan aman.

Sebuah bangunan tua di sudut kota, separuh lampunya mati, separuh lagi berkedip lemah. Tidak ada papan nama. Tidak ada penjaga. Hanya pintu besi yang tampak jarang dibuka.

Gerimis berubah menjadi hujan ringan saat mereka turun dari mobil.

“Di sini?” tanya Yurie pelan.

“Ya,” jawab Kaiden. “Dia tidak mau terlihat.”

Mereka masuk. Bau lembap langsung menyambut. Langkah kaki mereka bergema di lantai semen yang dingin. Di ujung ruangan, seorang pria duduk dengan tudung jaket menutupi sebagian wajahnya.

Ia menoleh ketika Kaiden mendekat.

“Kau datang sendiri?” tanya pria itu dengan suara serak.

“Tidak,” jawab Kaiden. “Dan dia tahu.”

Pria itu melirik Yurie, sorot matanya berubah sesaat. “Jadi ini dia.”

Yurie menegakkan bahu. “Aku Yurie.”

Pria itu tertawa kecil, pahit. “Kau lebih berani dari yang aku bayangkan.”

“Mulai dari mana?” tanya Kaiden, langsung ke inti.

Pria itu menghela napas panjang. “Dari kesalahan terbesar mereka.”

Ia membuka ponselnya, menampilkan satu foto buram. Sebuah ruang transit. Tidak ramai. Tidak sepi. Tapi cukup untuk menyembunyikan seseorang.

“Perempuan hamil itu,” katanya. “Elif. Dia tidak pernah meninggalkan negara ini.”

Yurie menahan napas. “Di mana dia sekarang?”

Pria itu menggeleng. “Aku tidak tahu persis. Tapi aku tahu siapa yang memastikan dia tidak ditemukan.”

“Devano,” kata Kaiden.

“Bukan hanya Devano,” jawab pria itu. “Nazeeran.”

Nama itu jatuh seperti batu ke dada Yurie.

“Ayahku?” tanyanya, suaranya bergetar.

Pria itu mengangguk pelan. “Bimantara Nazeeran bukan orang yang berdiri di depan. Tapi semua jalur lewat tangannya.”

Yurie memejamkan mata sejenak. Ada bagian dalam dirinya yang sudah menduga ini. Tapi mendengarnya tetap menyakitkan.

“Kenapa?” tanya Yurie akhirnya.

Pria itu menatapnya. “Karena Reynard terlalu kuat. Dan kau… kunci yang tidak mereka duga.”

Kaiden mengepalkan tangannya. “Apa maksudmu?”

“Kau pengikat,” jawab pria itu. “Darah, pernikahan, akses. Tanpamu, mereka tidak bisa sedekat ini.”

Yurie tersenyum pahit. “Jadi aku bukan hanya korban.”

“Tidak,” kata pria itu. “Kau pintu.”

Hening jatuh. Hujan di luar terdengar lebih jelas, memukul atap dengan ritme tidak beraturan.

“Ada bukti?” tanya Kaiden, suaranya lebih dingin dari udara malam.

Pria itu mengangguk. “Ada. Tapi itu bukan di tanganku.”

“Di mana?” tanya Yurie.

“Di tempat yang tidak akan kau sangka,” jawabnya. “Rumah lamamu.”

Dunia Yurie terasa berputar pelan.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

“Ada satu ruang yang tidak pernah dibuka,” lanjut pria itu. “Dan hanya satu orang yang bisa masuk tanpa dicurigai.”

Ia menatap Yurie lurus. “Kau.”

Perjalanan pulang terasa lebih panjang.

Hujan turun lebih deras, menutup pandangan, seperti tirai yang memisahkan malam dengan kenyataan. Yurie menatap jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.

“Kaiden,” ucapnya pelan. “Aku harus kembali ke rumah itu.”

Kaiden tidak langsung menjawab.

“Itu berbahaya,” katanya akhirnya.

“Aku tahu,” jawab Yurie. “Tapi kalau kunci jawabannya ada di sana… aku tidak bisa berpura-pura tidak mendengarnya.”

Kaiden menghela napas panjang. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian.”

Yurie menoleh. “Aku tidak ingin kau terluka karena masa laluku.”

Kaiden menatapnya, sorot matanya tegas. “Masa lalumu sudah menjadi bagian dari hidupku.”

Kalimat itu membuat dada Yurie sesak—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita lakukan bersama.”

Mobil melaju menembus hujan, membawa mereka ke arah yang tidak lagi bisa dihindari.

Dan Yurie tahu, langkah berikutnya akan memaksanya menghadapi rumah yang dulu menghancurkannya—bukan sebagai gadis kecil yang diam, tapi sebagai seseorang yang siap membuka kebenaran.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!