Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pesan dalam Botol
Langkah Arlan menggema di lorong basement Sektor 7, menciptakan bunyi pantulan yang terasa asing di telinganya. Di bawah sini, udara tidak lagi berbau debu lama atau masakan tetangga seperti koridor apartemennya di atas, melainkan aroma ozon yang tajam—bau kabel terbakar yang persis sama dengan aroma yang merayap dari celah pintu saat peniru Pak Budi mendatangi rumahnya semalam. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip dengan ritme yang tidak sinkron, memberikan efek patah-patah pada setiap gerakan tangannya yang sedang meraba dinding beton yang dingin.
"Kau yakin koordinatnya di sini, Dante? Tempat ini terasa seperti kuburan data yang sengaja ditinggalkan untuk membusuk," bisik Arlan, suaranya parau menahan kecemasan yang menggulung di dada. Ia menyentuh permukaan dinding yang terasa sebeku es, sebuah tanda bahwa suhu di sekitar sini sedang diserap secara masif oleh proses endotermik yang tidak terlihat.
"Arsip lama tentang peristiwa kebakaran itu tidak pernah berbohong, Kurir. Saluran pembuangan di bawah kakimu adalah satu-satunya titik yang gagal disinkronkan oleh mereka karena residu emosional di sana terlalu pekat untuk dihapus oleh algoritma mereka," suara Dante terdengar melalui alat komunikasi kecil di telinga Arlan, disertai statik yang cukup parah.
"Tapi ini got, Dante. Siapa yang cukup gila menyimpan sejarah di tempat pembuangan kotoran manusia?" Arlan berjongkok di depan sebuah jeruji besi yang sudah berkarat hebat, mencoba mencari celah untuk masuk ke pipa pembuangan utama.
"Justru karena itu. Mereka sangat membenci segala sesuatu yang bersifat organik dan kotor. Bagi para Peniru, kotoran adalah anomali yang tidak bisa disalin dengan algoritma sempurna. Carilah botol kaca berwarna biru. Itu adalah jangkar yang ditinggalkan ayahmu sebelum seluruh duniamu menjadi kabur," lanjut Dante sebelum suaranya hilang ditelan hampa akustik yang mendadak menutup frekuensi radio.
Arlan menarik napas manual, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai memburu karena kesunyian yang mencekam. Ia menarik paksa jeruji besi itu hingga engselnya yang rapuh patah dengan suara derit yang memilukan. Dengan senter kecil yang dijepit di mulutnya, ia meluncur turun ke dalam saluran pembuangan primer. Kakinya mendarat di air setinggi mata kaki yang tidak terasa basah—air itu terasa seperti gel dingin yang licin, sebuah bukti bahwa cairan organik di sini sudah mulai berubah menjadi zat perak cair yang kehilangan sifat alaminya.
"Sial, tempat ini benar-benar menjijikkan. Baunya seperti besi tua dan keputusasaan yang membeku," gerutu Arlan sambil menyinari sudut-sudut saluran yang gelap.
Di sudut terjauh, di antara tumpukan barang-barang yang sudah memudar menjadi abu abu-abu, sebuah pendaran biru tua menangkap cahaya senternya. Arlan mendekat dengan waspada, langkahnya menciptakan riak perak yang lambat dan berat. Sebuah botol kaca tebal dengan sumbat gabus yang masih utuh tergeletak di sana, tertimbun sebagian oleh lumpur logam. Di dalamnya, terdapat gulungan kertas dan selembar foto lama yang permukaannya berkilau aneh.
"Aku menemukannya. Botol biru dengan label logistik lama," Arlan melapor, namun hanya keheningan statis yang menjawabnya. Radio itu benar-benar mati, memutusnya dari dukungan pusat.
Saat tangannya hendak meraih botol itu, sebuah gerakan di balik bayangan dinding membuatnya mematung seketika. Arlan segera mengarahkan cahaya senternya ke arah sudut gelap di depannya. Di sana, seorang pria dengan pakaian kurir yang sudah compang-camping duduk bersandar di dinding yang lembap. Wajahnya tidak memiliki fitur yang jelas; matanya hanya berupa lubang gelap tanpa bola mata, dan kulitnya tampak seperti plastik yang meleleh sebagian.
"Itu milikku, Anak Muda. Barang yang sudah dibuang ke bawah sini seharusnya tetap berada di bawah agar tidak mengotori kesempurnaan di atas sana," suara pria itu terdengar seperti gesekan kertas amplas, kering dan tanpa intonasi manusiawi sedikit pun.
"Barang ini memiliki label kurir resmi, meskipun versinya sudah sangat tua. Sebagai Kurir Barang Hilang, aku punya hak untuk mengklaimnya kembali," Arlan berdiri tegak, tangannya diam-diam meraba koin perak milik satpam di saku celananya, mencari perlindungan dari getaran dingin yang dipancarkan sosok itu.
"Pemilik aslinya sudah tidak ada lagi di dunia ini, Nak. Dia sudah menjadi abu perak, atau mungkin dia sudah berjalan-jalan di atas sana dengan wajah baru yang jauh lebih simetris dan palsu. Kenapa kau begitu peduli pada sebotol sampah yang tidak diakui oleh sistem?" tanya residu tersebut, perlahan berdiri dengan gerakan yang patah-patah.
"Karena sampah ini adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagiku di tengah kota yang penuh tipuan ini. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau terjebak di tempat yang bahkan ditakuti oleh para Peniru?" Arlan melangkah maju, menantang aura dingin yang mulai merayap naik ke pergelangan kakinya.
"Aku adalah sisa-sisa dari rencana yang gagal. Aku adalah memori yang dibuang karena aku menolak untuk disinkronkan dengan dunia baru mereka," bayangan itu mulai bergerak mendekat, jemarinya yang panjang mencoba meraih tas kurir Arlan. "Kau membawa beban dari satpam yang sudah dihapus itu, bukan? Aku bisa mencium bau logamnya yang berisik di sakumu."
Arlan tersentak, teringat ancaman peniru Pak Budi soal koin tersebut yang dibilang mengandung residu emosional berbahaya. "Jangan mendekat! Aku tidak ragu untuk menggunakan cara ketiga jika kau mencoba merampas apa yang menjadi tanggung jawabku."
"Kau sangat mirip dengannya. Pria yang mengirim botol itu juga memiliki sorot mata yang penuh dengan martabat yang keras kepala. Dia tidak sadar bahwa di kota ini, martabat hanyalah hambatan bagi proses penyalinan," sosok itu berhenti tepat di batas cahaya senter Arlan.
"Beritahu aku tentang dia. Beritahu aku tentang ayahku," pinta Arlan, suaranya kini sedikit bergetar, meruntuhkan pertahanan dirinya sebagai seorang kurir yang biasanya dingin.
"Berikan koin itu padaku, dan aku akan memberitahumu kenapa dia harus dihapus dari sejarah Lentera Hitam. Berikan beban itu, agar aku bisa merasakan sedikit saja beratnya menjadi manusia lagi sebelum aku benar-benar menghilang menjadi udara kosong."
"Kenangan tidak bisa ditukar dengan kenyamanan, Residu. Jika kau ingin merasa menjadi manusia, ingatlah rasa sakitnya, bukan hanya beban logamnya," tegas Arlan.
Arlan meraih botol biru itu dengan tangan yang terasa kaku akibat suhu endotermik di saluran bawah tanah yang menyedot kehangatan tubuhnya. Jemarinya gemetar saat mencabut sumbat gabus yang sudah mengeras dan berjamur perak. Begitu terbuka, sebuah tekanan udara yang aneh seolah meledak keluar dari dalam botol—seperti napas tertahan selama belasan tahun yang akhirnya terlepas ke udara bebas. Ia mengeluarkan selembar foto tua yang permukaannya terasa sangat licin, jauh lebih licin daripada kertas foto pada umumnya, seolah-olah dilapisi membran plastik tipis yang menolak debu.
"Lihatlah, Kurir. Lihat betapa kosongnya sejarah yang kau pertahankan dengan nyawamu itu," suara bayangan tanpa wajah itu terdengar sangat dekat di samping telinganya, dingin dan berbau logam berkarat.
Arlan menyalakan senter kecilnya, mengarahkannya tepat ke permukaan foto. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat cahaya putih itu menyentuh kertas. Foto itu memperlihatkan sosok pria dewasa mengenakan seragam kurir lama tahun 2012 di depan gedung apartemen mereka. Namun, di bagian wajah, hanya ada bercak putih yang rata dan bersih. Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada senyum. Wajah itu telah terhapus secara fisik, seolah-olah realitas telah menjilat habis identitas pria dalam gambar tersebut.
"Ini... ini tidak mungkin karena rusak. Ini pasti ada penjelasan logisnya," Arlan bergumam, mencoba mencari pembenaran meski ia tahu air got di sini tidak mungkin merusak kertas secara spesifik hanya di bagian wajah.
"Air tidak bisa menghapus memori, Arlan. Hanya kota ini yang bisa melakukannya. Ayahmu menghilang dari ingatan dunia, dan foto itu hanyalah sisa dari proses penghapusan yang belum selesai dengan sempurna," bayangan itu mulai tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan dua bilah pisau berkarat.
"Kau berbohong! Ayahku tidak mungkin dihapus begitu saja seperti coretan salah di kertas!" teriak Arlan. Suaranya bergema di lorong hampa, namun segera lenyap tanpa pantulan, seolah dinding beton itu menyerap habis suaranya dalam hampa akustik yang mencekam.
"Jika dia masih ada, kenapa tahi lalat ibumu berpindah tempat? Kenapa apartemenmu terasa seperti kotak asing yang tidak mengenali baumu lagi?" bayangan itu kini berdiri tepat di depan Arlan, mencondongkan tubuhnya yang transparan dan memancarkan hawa beku. "Serahkan koin perak itu padaku. Aku butuh beratnya agar aku tidak melayang menjadi abu dan menghilang selamanya."
Arlan memejamkan mata sejenak. Ia merasakan denyut koin perak di sakunya yang semakin panas—kontras dengan suhu ruangan yang semakin membeku hingga napas manualnya berubah menjadi uap putih pekat. Ia teringat penjelasan samar dari Dante tentang resonansi emosional yang bisa memicu memori yang tersimpan dalam logam perak. Ia tidak butuh cairan kimia untuk memulihkan foto ini; ia butuh martabat yang tersisa dalam fragmen memori yang ia bawa.
"Aku tidak akan memberikan koin ini padaku sebagai barter. Aku akan menggunakannya untuk membuktikan bahwa kau salah," Arlan berbisik, suaranya kini terdengar tenang namun penuh tekad.
"Apa yang kau lakukan, Kurir? Kau akan memancing perhatian mereka!" bayangan itu tampak panik saat Arlan mengeluarkan koin perak tersebut.
Arlan menekankan koin perak itu tepat di atas wajah putih yang kosong pada foto tersebut. Seketika, terjadi resonansi yang menyakitkan telinga—bunyi melengking tinggi yang membelah keheningan basement. Cahaya biru redup memancar dari titik sentuhan itu. Arlan merasakan gelombang duka yang luar biasa menghantam dadanya—perasaan rindu yang menyesakkan, bau parfum kayu cendana dan oli mesin yang dulu selalu tertinggal di jaket ayahnya.
"Arlan... kau masih mendengarkan, Nak?" sebuah suara samar muncul langsung di dalam kepalanya, terdistorsi namun nyata.
Perlahan, bercak putih di foto itu mulai beriak, digantikan oleh garis-garis wajah yang mulai terbentuk kembali secara visual. Mata yang teduh, garis tawa di ujung bibir, dan luka kecil di dagu. Itu adalah wajah ayahnya—wajah yang asli, penuh dengan ketidaksempurnaan manusiawi yang hangat.
"Ayah? Ini benar-benar Ayah?" Arlan terisak, air matanya jatuh mengenai permukaan foto, bersatu dengan pendaran perak koin tersebut.
"Dengarkan Ayah, Arlan. Waktu Ayah sangat terbatas. Ayah tidak mati... Ayah hanya dihapus dari skenario mereka karena Ayah menolak untuk menjadi salinan. Cari kuncinya... cari pintu yang sidik jarinya tidak pernah berubah di bagian arsip paling bawah kantor logistik tempatmu bekerja," suara itu semakin mengecil, tertutup oleh statik radio yang kasar.
Wajah di foto itu bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali memudar menjadi bercak putih yang kosong dan mati. Pendaran koin meredup, meninggalkan Arlan dalam kegelapan yang terasa lebih pekat dan menyakitkan.
"Kau melihatnya, kan? Kau mendengar suaranya tadi?" Arlan menatap bayangan got itu dengan mata yang memerah.
Sosok tanpa wajah itu mundur perlahan, seolah ketakutan melihat sisa-sisa kemanusiaan yang baru saja terpancar. "Itu... itu frekuensi yang seharusnya sudah tidak ada. Kau gila, Arlan. Kau akan menghancurkan surga salinan ini jika kau terus mencari pintu itu."
"Keseimbangan kota ini dibangun di atas kebohongan. Aku akan mencari tahu kenapa Ayah harus dihapus dari dunia ini," Arlan memasukkan kembali foto dan botol itu ke dalam tasnya dengan gerakan yang sangat protektif.
"Kau tidak akan pernah sampai ke kantor logistik dengan selamat, Arlan. Sidik jarimu akan terdeteksi sebagai anomali. Besok pagi, kau adalah target yang harus dibersihkan," bayangan itu perlahan melenyap ke dalam kegelapan dinding.
Arlan berdiri tegak, menyeka wajahnya dengan kasar. Ia meraba label pada botol yang berisi kode rahasia kurir tahun 2012. Kode itu bukan sekadar nomor pengiriman barang; itu adalah koordinat menuju pintu yang disebutkan ayahnya.
"Aku bukan lagi sekadar kurir yang mengantar barang-barang hilang," bisik Arlan pada dirinya sendiri sambil mulai memanjat tangga besi kembali ke permukaan. "Aku adalah kurir yang akan membawa pulang kenyataan yang mereka curi."
Saat ia keluar ke lobi apartemen, ia melihat bayangannya di cermin pecah di dekat lift. Bayangan itu bergerak sedikit lebih lambat, seolah tertinggal oleh tekadnya yang kini melesat maju. Arlan tidak lagi takut pada lag frekuensi itu. Ia justru tersenyum tipis, menyadari bahwa retakan inilah yang akan membawanya menemukan jalan pulang yang sebenarnya.