Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Diam Walau Tau
Sore itu, apartemen Anggie mendadak ramai.
Pintu terbuka Dewi masuk sambil menenteng tas besar, diikuti Aryo, suaminya di belakang mereka, dua anak kembar Nadia dan Nadira langsung berlari masuk dengan riang.
“Maaf ya, Gie,” kata Dewi sambil tersenyum. “Kakak sama Mas Aryo mau keluar sebentar boleh titip si kembar?”
“Ya ampun, Kak santai aja,” jawab Anggie cepat. “Aku seneng ada si kembar rumah jadi rame.” Kata Anggie lagi sambil tersenyum lebar.
Sedang Nadia dan Nadira langsung mendekati Ririn.
“Tante Ririn!” seru mereka kompak.
Ririn tersenyum lelah tapi hangat. “Hallo Cantik.”
Kedua anak itu langsung sibuk dengan ponsel mereka masing masing, Dewi duduk di sofa dan menghela napas panjang.
“Capek banget hari ini,” kata sedikit mengeluh “Ngurusin urusan kantor.” kata Dewi lagi.
Anggie langsung menyahut, “Ngomong-ngomong bos Kakak, gimana masih brengsek?”
Dewi mendengus. “Masih dan makin parah.”
Ririn yang sedari tadi diam akhirnya ikut duduk di antara mereka
“Parah gimana, Kak?” tanya Anggie lagi penasaran Dewi menoleh kearah Anggie
“Playboy,” jawab Dewi tanpa ragu. “Dan Killer pastinya"
Ririn tersenyum mengangguk Ririn tau betul kelakuan bosnya itu.
"Gimana kerja sama bos?" tanya Dewi kali ini dia penasaran dengan kondisi Ririn selama jadi Asistennya Baskara.
"Ya di telen aja kak, mau gimana lagi," Jawan Ririn tampak pasrah.
"Sebelum kamu, dia udah ganti Asistennya empat kali kamu yang kelima,” Kata Dewi kembali membahas Baskara.
Anggie melirik Dewi kakanya. “Serius? Berapa orang?”
“Entah empat, lima, Ada yang cuma bertahan seminggu,” kata Dewi.
"Kok bisa, emang kenapa kak?" Tanya Ririn semakin penasaran.
“Nggak usah di tanya deh, bos mu itu psikopat, nggak ada yang kuat sama tugas-tugas aneh yang dia kasih,"
Ririn tersenyum tipis dan membatin pantesan...
“Bos kayak gitu bisa bikin perusahaan sukses aneh banget,” gumam Anggie terheran heran.
Aryo yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Kalian tau nggak, dulu Baskara nggak kayak gitu.”
Semua menoleh kearah Aryo penasaran dengan ucapannya.
“Hah?” Anggie mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
Aryo tersenyum kecil. “Aku temen kuliahnya "
Anggi terkejut. “Serius?”
“Iya,” lanjut Aryo.
“Dulu Baskara anak yang pintar, rajin, fokus banget sama kampus"
"Yang bener mas?" Dewi tampak terkejut mendengar cerita suaminya.
"Hidup Baskara cuma kuliah, organisasi, belajar gitu gitu aja.”
“Dia pacaran nggak?” tanya Anggie tiba-tiba melontarkan pertanyaan random.
Ririn menelan ludah mendengar ucapan Anggie.
Aryo berfikir sejenak lalu menggeleng sedikit kurang yakin,“ Seingat aku nggak pernah, Eh tapi kayanya pernah." Aryo tampak berfikir keras.
Lagi-lagi Ririn menelan ludah mendengar pernyataan Aryo.
"Makanya aku heran waktu dia tiba-tiba berubah setelah lulus.” kata Aryo lagi sedikit mengingat detail yang mungkin terlewatkan.
Ririn terdiam tangannya saling menggenggam dadanya terasa aneh ketika Aryo membahas masa lalu Baskara.
“Apa dia nggak pernah cerita soal pacarnya?” tanya Ririn hati-hati.
“Kayanya pernah tapi aku lupa,” jawab Aryo ragu,
Ruangan mendadak hening seketika.
“Eh kayaknya…" Aryo mengingat sesuatu. " Dia pernah pacaran seingat aku, cinta pertama yang bikin dia patah hati dan trauma berat,”
Ririn menunduk jarinya saling menggenggam Ririn terdiam cukup lama, kata-kata Mas Aryo tentang Baskara yang dulu baik hati terus berputar di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak.
Tanpa sadar, dia akhirnya bicara.
“Sebenarnya mantan pacarnya Baskara itu aku,”
Suasana ruang tamu langsung hening semua mata lansung tertuju kearah Ririn
Anggie menoleh cepat. “Kok gue nggak tau,”
"Itu waktu awal aku masuk kuliah kita belum deket," sahut Ririn mejelaskan mengingat Ririn dan Anggie mulai dekat waktu semester akhir.
Dewi membeku sejenak. “Maksud kamu… Kamu mantan pacar bos?”
Ririn mengangguk pelan. “Iya, kita pacaran dua tahun tapi waktu itu… entah kenapa dia ninggalin aku tiba-tiba, nggak ada penjelasan apa pun.”
Suaranya terdengar tenang, tapi matanya menyimpan kebingungan lama yang belum terjawab.
Aryo terkejut.
Dia menatap Ririn lebih lama dari yang lain. Potongan cerita itu langsung menyatu di kepalanya dia tahu kisah Baskara yang hancur setelah putus.
Dia tahu ada seseorang perempuan yang membuat sahabatnya jatuh sedalam itu, tapi dia tak pernah membayangkan perempuan itu adalah Ririn.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari mulut Aryo.
Aryo mengangguk pelan, menyembunyikan keterkejutannya dia tahu lebih banyak dari yang dia ucapkan dan dia memilih untuk diam.
“Kadang hidup emang gitu ya,” katanya akhirnya, netral. “Banyak hal nggak pernah sempat dijelasin.”
Ririn tersenyum tipis. “Iya lagian itu masa lalu,”
Dewi melirik jam tangannya. “Aduh, kita harus berangkat nanti kita telat.”
Aryo berdiri dan mengambil jaketnya. “Makasih ya, Anggie Ririn udah mau jaga si kembar,”
“Iya, Mas santai aja.”
Dewi dan aryo pamit kepada Nadia dan Nadira dengan ceria, melambaikan tangan sebelum pintu tertutup.
Begitu mereka melangkah ke lorong apartemen, Dewi menoleh ke Aryo.
“Kamu kenapa kelihatan kaget?”
Aryo menarik napas panjang. “Aku tahu cerita mereka tapi.”
Dewi berhenti sejenak. “Tapi kenapa?”
“Aku nggak tau kalau perempuan yang buat Baskara patah hati itu… Ririn,” jawab Aryo lirih.
“Lebih baik kita diam itu bukan urusan kita,” kata Aryo lagi. Dewi terdiam, lalu mengangguk pelan.
Sementara itu, di dalam apartemen, Ririn duduk sendirian dia menatap kosong ke depan, perasaannya campur aduk.