NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - Tidak Berguna

Giselle sedang merebahkan dirinya di kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Hidungnya memerah. Dia sedikit kesulitan bernapas karena flu. Ini pasti karena nekat bermain hujan. Mau menyesal pun tidak ada gunanya, toh sudah terlanjur terjadi. Ia hanya bisa mengingatkan dirinya sendiri agar lain kali tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Jam menunjukkan pukul delapan malam. Sejak sore tadi, Giselle sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Tubuhnya lemas, bahkan untuk makan pun dia tidak memiliki tenaga untuk berjalan ke dapur. Lagi pula, lidahnya pasti terasa pahit. Membuat Giselle semakin malas untuk makan.

Pintu kamarnya dibuka secara tiba-tiba. Ibunya masuk sembari menatap Giselle datar. Ya, gadis itu tahu ini akan terjadi. Salah satu konsekuensi karena melanggar perintah ibunya.

"Kenapa gak turun makan malam?"

"Giselle gak laper," jawab Giselle. Matanya menatap jendela kamarnya yang terbuka. Hujan sudah reda, tetapi udara dingin masih terasa. Gadis itu merapatkan selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya, kecuali mata.

Ibunya menghela napas pelan. Tangannya terulur menyentuh dahi Giselle. Hangat. Wanita paruh baya itu duduk di sisi ranjang sembari terus menatap wajah Giselle.

"Ibu kan udah bilang berkali-kali jangan hujan-hujanan. Kamu gak denger?" Suaranya rendah, tidak terdengar membentak sama sekali, tetapi Giselle tahu pasti bahwa ibunya sangat marah.

"Kenapa diam? Kamu emang gak pernah mau denger ucapan ibu. Jangan jadi anak pembangkang!"

Mata Giselle berkaca-kaca. Dia hanya ingin melakukan hal yang dia sukai. Apa itu salah? Ya, dia salah karena lagi-lagi membuat ibunya marah. Ia memang akan selalu menjadi pihak yang salah.

"Maaf, Ibu."

"Apa sih untungnya kamu hujan-hujanan? Udah tau badan kamu lemah, gampang sakit-sakitan. Masih gak mau dengerin ibu?" Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut wanita paruh baya yang sedang menatap tajam putrinya.

Giselle terisak pelan. Dia memang lemah. Sering menyusahkan ibunya. Tidak berguna.

"Maaf."

"Daripada kamu main-main mending belajar. Kamu gak lihat nilai kamu seperti apa? Contoh itu kakak kamu. Pinter, gak bodoh kayak kamu."

Sakit.

Hatinya sakit mendengar perkataan ibunya. Walaupun itu kenyataan, tetapi rasanya sangat sakit saat perkataan menyakitkan itu keluar dari mulut orang yang kita sayangi.

Melihat putrinya yang tengah menangis terisak, bukannya merasa bersalah, wanita itu justru bersikap seolah tidak peduli.

"Sekarang turun. Makan, minum obat," perintah Atika dengan tegas, tidak ingin ada bantahan lagi.

Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Giselle yang terus terisak. Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut. Dengan sekuat tenaga, Giselle mencoba untuk duduk meskipun tubuhnya terasa lemas.

Setelah menyeka air matanya dengan kasar, Giselle berusaha untuk bangkit berdiri. Berjalan tertatih menuju lantai bawah di mana dapur berada.

Seorang pemuda berdiri di ambang pintu. Menatap sendu gadis yang terlihat sedikit pucat. Tangannya terulur untuk membantunya berjalan, tetapi lagi-lagi penolakan yang dia dapat.

"Aku bisa sendiri," lirih Giselle menepis pelan tangan Abram ketika sudah sampai di depan pintu kamarnya.

Abram terus menatap Giselle sampai gadis itu hilang di ujung tangga. Dadanya sesak, adiknya selalu menghindar darinya. Ia tahu, ini pasti karena ibu mereka yang selalu membanding-bandingkan keduanya. Itu bukan mau Abram. Sudah berkali-kali ia mencoba berbicara pada Atika, tetapi hasilnya selalu sama. Ibunya itu tidak peduli, dia hanya ingin Giselle menjadi anak yang pintar seperti dirinya.

"Maafin, Kakak," gumam Abram. Merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik.

...***...

16 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!