Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 (Part 1) Kontras Jakarta-Jawa dan Janji Baru.
Mobil sport Dalend melaju dengan mulus, kembali menyusuri tol Trans-Surabaya. Perjalanan ini jauh berbeda dari saat mereka pergi enam bulan lalu. Dulu, mereka adalah dua orang asing yang dibatasi oleh kontrak. Kini, mereka adalah sepasang kekasih yang diikat oleh janji seumur hidup.
Marisa duduk di kursi penumpang, menyandarkan kepalanya di sandaran. Di jari manisnya, cincin safir biru berkilauan.
"Kamu tahu, Dalend," Marisa memulai, memecahkan keheningan yang nyaman. "Dulu, saat aku lihat mobil mewah kaya gini di jakarta, aku cuma lihat itu sebagai simbol kesombongan, jarak, dan uang yang enggak akan pernah ku sentuh."
Dalend menoleh sekilas, memegang tangan Marisa dan menciumnya di persneling mobil. "Sekarang, apa yang kamu lihat?"
"Sekarang, aku lihat ini cuma sepotong logam cepat yang membawa kamu menjauh dari Mama mu, dan membawamu kembali ke aku." Marisa tersenyum. "Dan aku sadar, kamu tetap Dalend, baik saat kamu di dalam mobil sewaan reyot atau mobil sport mahal ini."
"Itu yang kamu ajarkan ke aku," kata Dalend. "Aku menyadari, masalahnya bukan pada kekayaan, tapi pada cara menggunakannya. Sekarang, kekayaan ini akan aku gunakan untuk memperjuangkan mu, bukan untuk membeli kamu."
Marisa merasakan gelombang kehangatan menjalar. Ia mencondongkan tubuhnya ke samping, meletakkan kepalanya di bahu Dalend, menikmati aroma maskulin Dalend yang bercampur dengan bau kulit mobil. "Aku khawatir, Dalend. Mamamu, Bima, semua koneksi itu. Mereka enggak akan tinggal diam setelah kamu kembali ke aku," bisik Marisa.
"Biarkan mereka mencoba," Dalend membalas, nadanya dipenuhi tekad baru. "Mereka punya uang dan koneksi. Tapi kita punya kebenaran. Dan aku punya jabatan baru. Manajer Operasional Properti. Mereka enggak bisa menyentuh aku tanpa merusak aset perusahaan, karena aku yanh membawa profit."
...
Mereka berhenti di rest area untuk makan siang, Dalend bersikeras untuk memesan makanan di warung makan sederhana, menolak restoran cepat saji.
Saat menunggu pesanan mereka, Dalend menatap Marisa lekat-lekat.
"Bicara jujur," kata Dalend. "Saat Bara dan Anya datang ke kios kamu, apa yang kamu rasain?"
Marisa terdiam sejenak. Ia tahu Dalend memiliki sedikit rasa cemburu yang tersembunyi.
"Marisa, Bara adalah masa lalumu, dan aku enggak akan pernah menghakimi itu. Tapi aku perlu tahu, apakah Bara masih meninggalkan sesuatu di hati kamu?" Tanya Dalend, nadanya lembut, tapi matanya mencari kejujuran.
Marisa menghela napas. "Bara? Dia adalah rasa sakit dan pelajaran terbesar ku. Aku enggak merasakan apa-apa, Dalend. Aku cuma merasakan rasa kasihan."
"Kasihan?"
"Ya. Aku lihat dia. Dia berdiri di dengan Anya, dan dia terlihat seperti pria yang salah memilih. Dia menjual aku demi koneksi dan ambisi murahan. Dia memilih wanita yang hanya mengulang sinisme ibunya, " Marisa menjelaskan, suaranya tenang. "Aku sadar, Bara itu bukan masa depan ku. Dia adalah pria yang terlalu takut untuk gagal tanpa backup dari Anya. Bara meninggalkan ku demi ambisi, dan itu adalah kesalahan terbesar dia, karena itu membuat aku bertemu kamu."
Dalend tersenyum. Ia meraih tangan Marisa, mencium cincin safir biru itu. "Aku senang kamh menganggapnya begitu. Tapi aku melihat matanya, Marisa. Dia cemburu. Dia menyesal. Dia melihat wania yang dia buang, kini berdiri di samping pria yang besar, dan wanita itu tampak seribu kali lebih bahagia."
"Mungkin," Marisa mengakui. "Tapi itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah Jakarta."
Dalend mengangguk. Cemburu Dalend mereda, digantikan oleh kepuasan yang mendalam.
....