"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Pilihan di Atas Langit Hitam
Di ketinggian 60.000 kaki, di mana langit berubah menjadi hitam pekat dan bumi hanyalah lengkungan biru yang rapuh, pesawat Supersonic X-1 berguncang hebat. Cahaya ungu dari satelit Icarus menembus kokpit, menyelimuti tubuh Mega yang kini terapung secara tidak wajar di dalam kabin. Mega mengerang, matanya memutih, sementara data biologisnya mulai terhisap secara nirkabel oleh kekuatan gravitasi buatan satelit itu.
"MEGAAA!" raung Tian.
Tangannya mencengkeram kursi pilot, namun kepalanya terasa seperti dihantam ribuan jarum panas. Kode-kode AI Aristha di otaknya berdenyut liar, mencoba mengambil alih fungsi motoriknya. Di layar radar, sebuah peringatan merah berkedip: "ICARUS WEAPON SYSTEM: TARGETING JAKARTA MEDICAL CENTER - 90 SECONDS TO IMPACT."
Satu setengah menit. Hanya itu waktu yang dimiliki Tian sebelum ibunya dan ribuan orang tak bersalah di rumah sakit Jakarta hangus oleh serangan gelombang mikro dari angkasa. Namun, jika ia melanjutkan peretasan, sinyal baliknya akan mempercepat proses pengunggahan jiwa Mega ke satelit.
Tian berada di ambang kegilaan. Sebagai seorang anak, ia tidak bisa membiarkan ibunya mati terbakar. Sebagai seorang suami, ia tidak bisa membiarkan jiwa istrinya dicuri dan dijadikan mesin. Suara Aristha kembali menggema di dalam neural-link-nya, terdengar sangat dekat, seolah pria itu sedang membisikkan racun langsung ke jiwanya.
"Pilih, Macan! Selamatkan wanita yang melahirkanmu atau wanita yang menjadi surgamu! Kau tidak punya cukup lebar pita (bandwidth) untuk menyelamatkan keduanya. Inilah takdirmu sejak 2024: selalu kehilangan apa yang kau cintai."
"Tidak..." bisik Tian. Air mata darah mulai mengalir dari matanya yang berpendar biru. "Aku tidak akan memilih."
Tian menatap Mega yang sedang kesakitan. Di tengah kepungan cahaya ungu, Mega sempat menggerakkan bibirnya. Tanpa suara, ia mengucapkan kata yang membuat jantung Tian seolah berhenti berdetak: "Tembak aku, Mas... selamatkan Ibu."
Hati Tian hancur berkeping-keping. Mega meminta pengorbanan terakhir. Namun, Tian teringat pada Arka, bayi mereka yang masih membutuhkan dekapan seorang ibu. Ia teringat pada janji mereka untuk melihat matahari terbit bersama di pantai.
"Jenderal Yudha! Alihkan seluruh daya mesin ke sistem transmisi radar!" perintah Tian melalui interkom, suaranya kini tenang secara mengerikan ketenangan seorang pria yang sudah siap untuk mati.
"Tapi Tian, pesawat ini akan kehilangan daya angkat dan jatuh bebas dari stratosfer!" teriak Yudha dari markas bumi.
"LAKUKAN!"
Begitu daya dialihkan, Tian tidak lagi meretas satelit itu. Ia melakukan sesuatu yang lebih gila: ia menjadikan dirinya sendiri sebagai "jalur pintas" (bridge). Ia menarik seluruh sinyal ungu dari tubuh Mega masuk ke dalam otaknya yang sudah terinfeksi AI. Ia membiarkan pikirannya menjadi medan tempur antara protokol penculikan Mega dan protokol penghancuran Jakarta.
"AAAAAARRRRGGGHHH!" Tian menjerit saat jutaan gigabyte data menyerbu sel otaknya.
Ia membelokkan sinyal penghancur dari Jakarta dan mengarahkannya kembali ke satelit Icarus itu sendiri. Ia menggunakan dirinya sebagai cermin maut. Di dalam pikirannya, ia melihat naga hitam Aristha mencoba melahapnya, namun Tian memeluk naga itu dengan erat, membawanya ke pusat ledakan data yang ia ciptakan.
00:05... 00:04...
Satelit Icarus di atas sana mulai mengeluarkan percikan api. Sinyal yang mengikat Mega terputus. Mega jatuh kembali ke kursinya, menghirup udara dengan rakus saat kesadarannya kembali.
00:01.
Satelit Icarus meledak di orbit, menciptakan kembang api raksasa di ruang hampa. Di saat yang sama, sistem kelistrikan pesawat mati total. Pesawat X-1 itu mulai menukik tajam, jatuh bebas menuju bumi tanpa kendali.
Mega merangkak menuju kursi Tian. Ia melihat suaminya duduk tegak, namun matanya tetap terbuka dan tidak berkedip. Cahaya biru di mata Tian tidak lagi berpendar, namun juga tidak padam; warnanya berubah menjadi putih murni yang tenang. Pesawat terus jatuh dengan kecepatan suara menembus awan. Mega memeluk tubuh Tian yang kaku, berbisik, "Mas, bangun... kita jatuh!" Tiba-tiba, suara mekanis keluar dari mulut Tian, namun dengan nada yang sangat lembut: "Sistem cadangan diaktifkan. Meluncurkan kursi pelontar tunggal untuk Subjek Mega." Tian mendorong Mega ke arah pintu keluar darurat, sementara ia sendiri tetap di kursi pilot yang terkunci. Tian berniat jatuh bersama pesawat itu agar Aristha yang masih ada di otaknya ikut musnah selamanya.