NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Cegil yang ngejar Jordan

Nana tidak menjawab. Tapi alisnya berkerut pelan, seolah kata-kata itu menyentuh sesuatu yang masih hidup di dalam dirinya.

Tangannya menepuk pelan punggung Nana—sekali. Lalu diam lagi.

Jordan tidak berjanji akan menyembuhkan.

Tidak berkata semuanya akan baik-baik saja.

Ia hanya duduk di sana, meminjamkan bahunya, meminjamkan napasnya yang tenang, meminjamkan keberadaannya—karena ia tahu, pada saat-saat seperti ini sudah lebih dari cukup.

Beberapa menit berlalu dalam diam yang rapuh.

Lalu tiba-tiba tubuh Nana bergerak.

Ia tersentak kecil, napasnya terputus sejenak, lalu matanya terbuka lebar. Kepalanya terangkat cepat dari bahu Jordan, membuat Jordan ikut menegakkan tubuh refleks. Lengan yang sejak tadi menopang terasa kaku—pegal, mati rasa—tapi ia menahannya tanpa bersuara.

Nana berkedip beberapa kali, pandangannya masih kabur. Saat kesadarannya benar-benar kembali, ia menyadari posisi mereka.

Dan menyadari sesuatu yang lain.

Matanya melebar. Tangannya refleks menyentuh sudut bibirnya.

Basah.

Ia membeku sepersekian detik, lalu wajahnya memanas hebat.

“A-aku—” Nana langsung duduk tegak. “Astaga… maaf. Maaf banget.” Suaranya panik, campur malu. Ia mengusap cepat bibirnya dengan punggung tangan, lalu menunduk dalam-dalam. “Aku ketiduran… dan—aduh, aku ngiler…”

Jordan sempat terdiam satu detik, lalu menggeleng pelan. Wajahnya tetap tenang, nyaris datar, seolah itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

“Nggak apa-apa,” katanya singkat. Nada suaranya ringan. “Kamu capek.”

Nana masih menunduk, telinganya memerah. “Tetap aja… aku malu.”

Jordan berdiri perlahan, meluruskan lengannya yang pegal. Ia menggerakkan bahu sedikit, baru menyadari betapa kaku ototnya. Tapi ia tidak mengeluh.

“Kamu mau aku antar ke kamar?” tawarnya tenang.

Nana mengangkat wajah cepat. “Nggak usah,” jawabnya refleks, lalu melunak. “Aku bisa jalan sendiri. Beneran.”

Jordan menatapnya sejenak, memastikan. “Yakin?”

Nana mengangguk. “Iya.”

“Baik.”

Ia tidak memaksa.

Mereka berjalan bersama beberapa langkah, lalu berhenti di depan pintu kamar Nana. Nana membuka pintu, menoleh sebentar.

“Makasih,” ucapnya lirih. Kali ini tanpa air mata. “Buat… tadi.”

Jordan hanya mengangguk kecil.

Pintu tertutup perlahan.

Jordan berdiri beberapa detik, menatap pintu itu dari belakang. Bahunya mengendur sedikit setelah memastikan Nana benar-benar masuk dan aman. Baru setelah itu ia berbalik, melangkah menyusuri lorong menuju ruangannya sendiri.

Langkahnya mantap, meski lengannya masih terasa berat.

Sesampainya di depan pintu ruangannya, ia meraih gagang dan membukanya.

Dan berhenti.

Di dalam, seseorang sudah duduk di sofa kecil dekat jendela.

Zahra.

Rambut panjangnya tergerai rapi, seragam kampusnya sudah berganti pakaian kasual. Wajahnya menoleh cepat begitu melihat Jordan, lalu tersenyum—senyum yang sama sejak SMA dulu. Terlalu hangat. Terlalu berharap.

“Kak Jordan,” sapanya ringan. “Aku nungguin dari tadi.”

Jordan menghela napas pelan—bukan kesal, tapi lelah dengan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pahami.

“Zahra,” ucapnya datar. “Kamu ngapain di sini?”

Zahra berdiri, melangkah satu langkah mendekat. “Aku cuma mau lihat kakak. Kata suster kamu masih dinas.”

Jordan menutup pintu di belakangnya, nada suaranya tetap tenang namun berjarak.

“Ada yang penting?”

Zahra tersenyum lagi, sedikit gugup. “Nggak. Aku cuma kangen.”

Jordan menatapnya beberapa detik—tatapan yang sama sejak dulu. Bukan dingin. Tapi jelas.

Ia tidak pernah melihat Zahra sebagai lebih dari adik.

Zahra… tidak pernah benar-benar berhenti berharap.

Jordan baru saja meletakkan map di atas meja ketika Zahra memperhatikannya lebih saksama.

Ada yang berbeda.

Bukan dari sikapnya yang tetap tenang, bukan dari suaranya yang datar—melainkan dari sesuatu yang sangat jarang muncul di wajah Jordan.

Senyum.

Bukan senyum formal. Bukan senyum sopan. Tapi lengkungan kecil di sudut bibirnya, samar, nyaris tak disadari… seolah pikirannya sedang singgah pada sesuatu yang lain.

Zahra menyipitkan mata, lalu menyeringai kecil.

“Kak,” panggilnya, nada suaranya sengaja dibuat santai. “Kok senyum-senyum sendiri?”

Jordan tersentak kecil, cepat merapikan ekspresinya. “Aku nggak senyum.”

Zahra mendengus pelan. “Barusan iya.”

Jordan mengambil botol minum, memutar tutupnya sedikit lebih keras dari perlu. “Kamu kebanyakan halu.”

Zahra tertawa kecil, lalu menyandarkan tubuh ke meja. “Biasanya kakak pulang dinas langsung tegang. Ini malah kelihatan… ringan.” Ia memiringkan kepala, menatap tajam. “Jangan-jangan—”

“Jangan,” potong Jordan cepat.

Zahra justru makin antusias. “Ada yang kakak suka, ya?”

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!