Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 05
Keesokan harinya, pemakaman di lakukan. Jenazah Olivia di makamkan di samping ayahnya, Brandon Wingston. Emalia terus pingsan sepanjang proses pemakaman itu, dan Saga menjadi orang yang berbeda detik itu juga.
Pria itu terus marah, ia tak membiarkan siapa pun menaruh peti mati Olivia ke makam. “Cukup, kalian jangan seperti ini. Olivia belum meninggal, dia masih hidup.”
“Tuan, Anda jangan seperti ini,” ujar sekretarisnya yang sudah lelah menahan Saga.
“Saga, jangan seperti ini anak, Olivia tidak akan tenang jika kamu seperti ini,” ujar Aretha yang dengan susah payah menahan putranya. Ia mencoba menenangkan putranya, hal itu juga sama dengan Emalia, ia terus pingsan dan bangun lalu pingsan lagi.
Hingga pemakaman selesai Saga masih di sana, Aretha pergi membawa Emalia pulang lantaran terus pingsan. Sedangkan Saga, dirinya enggan pulang. Ia tetap di sana, duduk di samping nisan Olivia. Pria yang selalu di anggap tegas dan hebat untuk sebagian orang kini terpuruk dalam kesedihan mendalam.
Sekretaris yang menunggunya pun kini telah pamit pergi, Saga terus di sana. Ia tak pergi sedikit pun dari tempat itu. Semua telah pergi dan hanya menyisakan Saga sendiri dengan nisan Olivia.
“Olivia, apakah kamu ingat. Saat kita pergi ke paris, kamu bilang aku adalah yang terbaik. Aku masih ingat semua kenangan kita, jadi bagaimana aku harus melupakanmu Oliv, kamu adalah hal terindah yang pernah ada untukku. Semua tentangmu adalah yang aku inginkan” ucap Saga sebari menangis pilu.
Keesokan harinya, pria itu mengurung dirinya di kamar. Ia enggan keluar, tak ingin makan.
Hari esoknya juga sama, pria itu terus memandangi foto Olivia, bahkan hingga tidurnya. Ia terus memeluk foto wanita itu tanpa pernah melepaskannya sedetik pun.
Hal seperti terus terjadi hingga 5 hari ke depan. Hingga pada akhirnya.......
“Bibi, apakah ada yang melihat Saga. Dia ke mana ya, kok tidak ada di kamarnya”
“Tuan Saga tadi sempat pergi Bu, beliau membawa pistol dan juga terlihat sangat marah pergi dari rumah”
“Apa, mengapa tidak ada yang mengejarnya?”
Mendengar jawaban dari pembantunya, Aretha pun langsung berlari keluar dari rumah. Ia lalu menatap ke arah langit yang sudah gelap. Cuaca yang tidak kondusif ini benar-benar tak bersahabat hari ini.
Membawakan hujan lebar di sertai angin yang besar, Aretha pun pergi mencari putranya ke seluruh penjuru kota, hingga pada akhirnya.
“Olivia, apakah kamu tidak rindu padaku?” Pria itu kini tampak sangat kacau, celana kerja hitam serta kaos putih oversize tampak membuatnya semakin berantakan lantaran terkena air hujan. Suara tangisannya, bahkan kini tersamar kan lantaran hujan yang lebat.
Ia terus memeluk nisan Olivia, hingga pada akhirnya seseorang membawakan payung hitam agar Saga tak lagi kehujanan. Saga pun menoleh ke atas, “mama” ucapnya dengan suara lirih.
Orang itu adalah Aretha, dia datang bersama sopirnya. Bermaksud menjemput Saga, dengan harapan agar pria itu mau pulang. Aretha pun berjongkok, ia memeluk putranya yang masih terpuruk.
“Sini mama peluk! Anak mama ternyata sudah besar ya, kamu tahu Saga, Olivia adalah anak yang baik. Dia pasti akan sedih melihat kamu seperti ini, kamu pasti bisa Saga, kamu bisa melewati ini semua. Olivia pasti akan lebih bahagia saat melihat kamu kembali tersenyum. Jangan buat Olivia sedih dengan ini, kamu paham maksud mama kan Saga?”
Saga melepaskan pelukan ibunya, ia pun mendorongnya. “Mama belum pernah tahu rasanya bagaimana di tinggalkan, jadi jangan pernah berpikir seperti itu. Olivia masih hidup, dan aku akan tunjukkan itu pada mama.” Ucapan dari Saga meninggalkan pertanyaan di benak Aretha, pria itu bahkan kini pergi meninggalkan ibunya.
“Saga, ada apa dengan kamu?”
*****
Di rumah sakit, bibi Agnes masih menunggu Ivana terbangun. Wanita itu sudah ada di ruangan itu semalaman dan masih belum menunjukkan respon apa pun.
“Nona Ivana, maafkan bibi. Seharusnya bibi tidak perlu menelepon Nona Oliv jika akan tahu seperti ini. Ini semua memang salah bibi non.”
“Maafkan bibi,” bibi Agnes menangis tersedu-sedu, ia bahkan tak sanggup lagi harus mengatakannya.
Namun rupanya pembicaraan itu di dengarkan oleh Saga, dengan badan yang basah kuyup. Ia itu menyergap masuk ke dalam ruangan Ivana. Ia berjalan dengan tatapan yang aneh seolah menebarkan hawa kebencian yang kuat.
“Jadi yang menelepon Olivia saat itu adalah Anda?” bibi Agnes menoleh dan mendapati Saga yang sudah berada di belakangnya.
“Tuan Saga,” bibi Agnes terkejut saat ia melihat Saga yang sudah datang dengan membawa pistol di tangannya.
“Tuan, apa yang akan Anda lakukan?,” tanya bibi Agnes, sebari mundur beberapa langkah. Saga pun mengarahkan pistol itu ke arah bibi Agnes. Tampak saat itu juga, wanita itu takut. Namun ia, benar-benar tak bisa berkutik.
“Bagaimana, jika peluru pistol ini aku arahkan bukan kepadamu,” Saga pun mengarahkan pistol itu kepada Ivana.
Ia meletakkan pistol itu tepat di kening wanita itu, “dan saat aku lepaskan peluru ini, maka boom. Ivana akan mati, hahahahaha,” bibi Agnes yang melihat itu pun langsung maju, ia benar-benar memohon pada Saga agar tak melakukannya.
“Tuan, tolonglah, lampiaskan semuanya padaku saja. Tolong jangan Ivana,” ujar bibi Agnes, ia bahkan rela bersujud di depan Saga agar pria itu melunak. Namun semua itu tetaplah sia-sia karena Saga benar-benar tak bisa memaafkannya.
“Dorrrrrrr” Suara tembakan pistol itu menggema di seluruh ruangan.
“Apa yang kau lakukan,” dengan cepat bibi Agnes langsung menghampiri Ivana, namun semua baik-baik saja. Rupanya itu adalah gertakan dari Saga karena peluru itu kosong.
Bibi Agnes pun menghembuskan napasnya lega saat itu juga. “Syukurlah, itu bukan kenyataan”
“Siapa bilang tidak bisa jadi kenyataan, dengar ya Agnes, aku tak akan pernah membiarkanmu dan Ivana dapat tenang. Setelah dia bangun, aku akan membuat kalian menderita,” Saga belum pergi, ia menatap wajah Ivana dari dekat.
“HAHAHAHAHA, Kau akan menjadi penggantinya, Jadi jangan pernah berpikir untuk lari dari ku mulai sekarang Ivana. Kau akan menjadi pengganti terbaik bagi Olivia.”
Senyuman pria itu tampak menyeramkan, ia pun kemudian menaruh pistol miliknya ke saku celananya dan pergi sana. Sorot mata yang tajam serta penuh kebencian itu benar-benar telah mengalih pada jiwa Saga.
Hal itu membuat bibi Agnes benar-benar ketakutan. Ia bahkan tak lagi dapat berpikir logis, ia benar-benar ketakutan bahwa Saga benar-benar akan melakukan hal yang nekat kepada Ivana.
“Bagaimana ini, mengapa semuanya semakin rumit.”
“Apa yang akan dia lakukan pada Ivana setelah ini, bagaimana jika Saga benar-benar akan membunuhnya, bagaimana jika dia akan benar-benar membunuh Ivana.” Bibi Agnes menatap Ivana yang masih belum sadarkan diri, wanita tua itu tersenyum getir menatapnya.
“Ivana yang malang,”
*****
Di SG COMPANY, Saga kembali ke posisinya sebagai Presiden Direktur setelah cuti dari pekerjaan beberapa hari.
“Taun Saga, ini adalah jadwal meeting dengan klien yang sempat tertunda. Lalu ini juga ada berkas penjualan yang belum sempat di tanda tangani oleh Anda,” ucapan Alice benar-benar tak gubris oleh Saga. Pria itu bahkan hanya terdiam dan menatap ke arah jendela luar. Melihat pemandangan dari atas gedung pencakar langit.
“Kamu tahu Alice, Olivia sangat suka pemandangan seperti ini. Dia pasti akan sangat bahagia jika bisa berdiri di sini,” Alice yang mendengar hal itu pun menjadi takut. Ia mundur secara perlahan-lahan dari tempatnya berdiri. Hingga akhirnya sampai di pintu, ia pun membuka pintu ruangan itu dan keluar dari sana.
“Alice, Alice” Mendengar tak ada tanggapan dari Alice pun Saga kemudian menoleh dan mendapati sekretarisnya yang sudah menghilang dari pandangannya.
Di depan pintu, Alice di buat terkejut. Lantaran salah satu staf pria tiba-tiba berdiri di hadapannya.
“Astaga naga, kau benar-benar membuatku terkejut,” ujar Alice pada staf itu.
“Maaf Alice, aku hanya ingin menemui Tuan Saga untuk menyerahkan proposal ini.” Alice yang mendengar itu, dengan cepat, langsung menyilangkan tangannya.
“Jangan ke sana, suasanya benar-benar tidak kondusif. Percayalah padaku,”
“Tapi ini harus di serahkan besok!”
Alice pun mendesaknya pergi, ia mendorong staf itu pergi dari sana. “Tidak bisa, nanti saja. Kau bisa kembali lagi ke sini nanti,”
Setelahnya pun sama, beberapa staf saling berdatangan bahkan para manajer pun datang untuk meminta tanda tangan dari Saga. Namun Alice terus menahan mereka dan tak membiarkan mereka masuk.
“Ayolah tolong mengerti, Tuan Saga akan marah jika kalian seperti ini,”
“Kembalilah ke tempat kalian masing-masing!, aku mohon pada kalian.”
Manajer itu pun menjawab ucapan Alice, “hai, Alice apa kau tahu. Semua proposal yang kami kumpulkan ini semuanya sangat penting. Kau tahu, aku bahkan sudah di marahi oleh klien karena penyerahan proposalnya yang lambat. Apakah kini kau akan tanggung jawab jika proyeknya gagal?”
Mendengar hal itu Alice pun akhirnya kalah, ia lalu membukakan pintu untuk mereka. Mereka pun masuk ke dalam ruangan Saga, tampak pria itu yang masih berdiri di posisi yang sama. Tak berubah sama sekali, Alice yang tahu ini tak akan berjalan dengan baik pun memilih untuk mundur dan berdiri di belakang mereka.
“Tuan Saga, saya ingin melaporkan hasil laporan bulan ini tuan”
“Saya juga ingin meminta tanda tangan dari anda untuk proposal bisnis minggu ini Tuan”
Mendengar semua itu, Saga pun akhirnya berbalik badan. Raut wajahnya yang datar, sorot matanya menjadi tajam. “Apa kalian semua tidak melihat aku sedang santai di sini, Kalian ingin pergi atau aku yang perlu mengusir kalian semua?” mendengar hal itu keluar dari mulut Saga pun membuat mereka langsung panik kalang kabut bahkan hingga Alice, dia keluar jauh lebih dulu sebelum mereka.
Setelah mereka semua keluar, Saga kembali ke aktivitasnya. Ia kembali memandangi perkotaan dari lantai atas gedung miliknya.
“Olivia, aku akan melakukan semuanya sesuai keinginanmu. Namun jangan marah padaku, jika aku tidak bisa baik padanya. Karena dia, bukanlah dirimu Olivia”
Thor