Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kemenangan Tanpa Keringat
"Sistem tidak bisa bohong, Pak Gunawan."
Suara operator sistem itu bergetar, namun terdengar jelas di tengah ruangan yang sunyi senyap. Dia memutar layar laptopnya sedikit agar Pak Darmawan bisa melihat bukti merah yang menyala di sana.
"Peraturan Menteri Nomor 45 baru diaktifkan di sistem e-procurement nasional kemarin sore," jelas operator itu cepat, takut diamuk massa. "Algoritma kami otomatis memblokir penawaran yang harganya lebih rendah 10% dari HPS. Itu masuk kategori Predatory Pricing atau banting harga ilegal yang merusak pasar."
Pak Gunawan, yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, menggebrak meja panitia.
"Omong kosong! Peraturan macam apa itu?! Kenapa saya tidak tahu?!" teriak Gunawan, ludahnya muncrat ke mana-mana. "Ini strategi efisiensi! Saya mau hemat anggaran negara! Kenapa malah dihukum?!"
Pak Darmawan, Ketua Panitia, menghela napas panjang. Dia menatap Gunawan dengan tatapan lelah bercampur kasihan.
"Pak Gunawan," suara Pak Darmawan terdengar tegas. "Aturan adalah aturan. Bapak menawarkan harga diskon 15%. Itu sudah masuk zona merah. Sistem menganggap Bapak tidak akan mampu menyelesaikan proyek dengan kualitas standar pada harga serendah itu. Itu harga bunuh diri."
"Saya mampu! Saya punya hitung-hitungannya!" Gunawan melambaikan dokumen tebal di tangannya. "Lihat ini! Konsultan saya sudah menghitung semuanya! Subsidi silang! Efisiensi operasional!"
"Maaf, Pak. Sistem sudah mengunci status Bapak sebagai Disqualified," potong Pak Darmawan final. "Dan sesuai prosedur, perusahaan yang melakukan dumping harga akan masuk daftar hitam atau blacklist tender pemerintah selama dua tahun."
"Apa?! Di-blacklist?!" Mata Gunawan melotot nyaris keluar.
Dunia seolah runtuh menimpa kepala bos PT. Megah itu. Bukan hanya kalah tender dua triliun, tapi perusahaannya juga dilarang ikut proyek negara selama dua tahun? Itu sama saja dengan vonis mati bagi bisnis konstruksi.
"Tidak... tidak mungkin..." kaki Gunawan lemas. Dia merosot, tangannya mencari pegangan pada kursi stafnya.
Di seberang meja, Kairo masih duduk mematung. Jantungnya berdegup kencang. Dia menatap layar merah yang menampilkan tulisan AUTO-REJECT untuk PT. Megah.
Otak Kairo memutar kembali kejadian pagi ini. Bisikan Elena saat memakaikan dasinya terngiang kembali: "Orang yang putus asa biasanya melakukan kesalahan fatal."
Dan strategi subsidi silang itu... strategi yang membuat harga PT. Megah jadi sangat murah.
Kairo sadar. Itu bukan strategi. Itu umpan racun.
Siapapun konsultan yang memberikan ide itu kepada Gunawan, dia pasti tahu soal Peraturan Menteri Nomor 45 yang baru rilis itu. Konsultan itu sengaja mendorong Gunawan ke jurang dengan iming-iming "pasti menang".
Gila, batin Kairo. Gunawan dibunuh oleh orangnya sendiri.
Pak Darmawan mengetuk palu kayunya lagi, menarik perhatian semua orang kembali ke podium.
"Karena kandidat nomor satu, PT. Megah Sejahtera, telah gugur secara sistem..." ucap Pak Darmawan lantang. Dia menoleh ke arah Kairo dengan tatapan hormat. "Maka, panitia menetapkan penawar kedua yang memenuhi syarat administrasi, teknis, dan kewajaran harga..."
Pak Darmawan tersenyum tipis. "Selamat, Diwantara Group. Proyek Tol Sesi 4 resmi dimenangkan oleh perusahaan Anda."
TOK!
Suara palu diketuk satu kali. Menggema. Final. Sah.
"Alhamdulillah!" seru Reza di samping Kairo. Asisten itu nyaris melompat dari kursinya saking leganya. "Pak! Kita menang, Pak!"
Tim legal Diwantara saling berpelukan. Wajah tegang mereka langsung berubah cerah.
Kairo perlahan berdiri, merapikan jas mahalnya. Dia menang.
Perusahaannya selamat. Dividen aman.
Tapi rasanya aneh. Dia tidak merasa baru saja memenangkan perang. Dia merasa baru saja melihat musuhnya terpeleset kulit pisang dan jatuh ke jurang.
Kemenangan ini terasa... terlalu mudah. Kemenangan tanpa keringat.
"Terima kasih, Pak Ketua," ucap Kairo sopan sambil menjabat tangan Pak Darmawan.
"Sama-sama, Pak Kairo. Untung Bapak tidak ikut-ikutan banting harga," bisik Pak Darmawan.
Kairo tersenyum kecut. Kalau saja dia tahu strategi Gunawan lebih awal, mungkin dia juga akan tergoda. Untunglah Gunawan terlalu serakah.
Kairo berbalik badan. Dia melihat Gunawan sedang dipapah keluar oleh dua stafnya.
Pria tua itu terlihat seperti orang yang baru saja kena stroke ringan. Tatapannya kosong.
"Ayo balik, Reza. Saya mau udara segar," perintah Kairo.
Mereka berjalan keluar menuju lorong gedung yang luas. Di sana, suasana lebih kacau.
Pak Gunawan yang tadi lemas, tiba-tiba mengamuk. Dia mendorong staf yang memapahnya hingga jatuh.
"Bangsat!" teriak Gunawan. Suaranya menggema di lorong marmer itu.
Kairo menghentikan langkahnya di balik pilar besar, mengamati dari kejauhan. Gunawan merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pintarnya, dan berteriak mencoba menelepon seseorang.
"Angkat, pengecut! Angkat!" Tidak ada jawaban.
"Arghhhh!"
PRAAAANG!
Gunawan membanting ponsel mahalnya ke lantai keramik dengan sekuat tenaga. Ponsel itu hancur berkeping-keping. Para staf kementerian menyingkir ketakutan.
"Kita ditipu! Kita dijebak!" raung Gunawan, mencengkeram kerah baju anak buahnya. Matanya merah.
"Strategi tai kucing apa ini?! Dia bilang ini anti-gagal! Dia bilang kita pasti menang! Dua triliun melayang... blacklist dua tahun... habis sudah!"
Kairo menatap pemandangan menyedihkan itu dengan wajah datar. Hatinya dingin.
Di dunia bisnis, tidak ada tempat untuk rasa kasihan. Tapi telinga Kairo menajam saat mendengar racauan Gunawan berikutnya.
"Dasar konsultan setan! Iblis!" maki Gunawan pada puing-puing ponselnya. "Siapa nama akun itu?! Siapa?!"
Anak buahnya membuka tablet dengan gemetar. "E... EL, Pak. Namanya di forum cuma EL."
"EL!" Gunawan berteriak histeris. "Cari dia! Cari bajingan bernama EL itu! Dia menipu kita! Dia menjual bom, bukan strategi! Aku mau dia mati! Cari dia sampai dapat!"
Kairo tersentak.
EL.
Dua huruf itu meluncur masuk ke telinga Kairo dan langsung terkunci di otaknya.
Kairo sebelumnya sudah mendapatkan info tentang nama konsultan yang dipakai PT. Megah itu. Tapi, melihat akibatnya langsung, Kairo tetap terkejut.
Kairo mematung. Reza yang ada di belakangnya nyaris menabrak punggung bosnya.
"Pak? Ada apa?" bisik Reza bingung.
Kairo mengangkat tangan, menyuruh Reza diam. Matanya terpaku pada Gunawan yang masih meraung-raung menyebut nama itu.
Jadi namanya beneran EL.
Sosok misterius yang merancang strategi bunuh diri untuk Gunawan. Sosok yang tahu celah aturan baru kementerian.
Sosok yang secara tidak langsung memberikan kemenangan dua triliun ini ke tangan Kairo.
Apakah ini kebetulan? Kairo menggeleng pelan. Strategi subsidi silang itu terlalu rapi untuk dibilang kesalahan amatir.
Itu jebakan yang dirancang dengan presisi bedah. EL tahu persis apa yang dia lakukan.
Kairo merasakan desiran aneh di tengkuknya. Ada pemain baru di Jakarta. Pemain yang sangat berbahaya. Seseorang yang bisa menghancurkan konglomerat sekelas Gunawan tanpa perlu menampakkan wajah, hanya lewat selembar dokumen strategi.
"Reza," panggil Kairo tanpa menoleh. Suaranya rendah dan serius. "Kau dengar nama itu tadi?"
"Dengar, Pak. EL. Mungkin inisial?"
Kairo berbalik badan, meninggalkan Gunawan yang masih mengamuk. Langkahnya cepat menuju lift.
"Lupakan perayaan makan siang. Kita balik ke kantor sekarang," perintah Kairo tegas. "Siapkan tim IT terbaikmu. Hubungi intelijen kita di dunia maya. Aku mau tahu siapa EL ini."
Pintu lift terbuka. Kairo melangkah masuk, menatap pantulan dirinya di dinding besi lift. Wajahnya bukan wajah orang yang sedang merayakan kemenangan. Wajahnya adalah wajah pemburu yang baru saja menemukan jejak mangsa yang lebih besar.
"Cari dia," gumam Kairo saat pintu lift tertutup. "Aku tidak peduli dia hantu atau manusia. Cari orang bernama EL itu. Aku mau merekrutnya."
Kairo menyipitkan mata.
"Atau kalau dia menolak... aku harus menghancurkannya sebelum dia menghancurkanku."
Tanpa Kairo sadari, orang yang dia buru sedang duduk manis di apartemen Kuningan, menikmati kopi sambil menghitung uang yang baru saja masuk ke rekening luar negerinya.
Permainan kucing-kucingan yang sebenarnya baru saja dimulai.