Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Anti Bakteli!
Di kediaman mewah keluarga Lergan yang didominasi warna putih bersih tanpa noda, suasana malam itu terasa sedikit berbeda. Raisa, sang nyonya rumah, berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan tangan bersedekap. Matanya yang tajam menatap bingung ke arah putra sulungnya yang terlihat sangat sibuk merapikan penampilannya di depan cermin besar setinggi langit-langit.
Xavier mengenakan kemeja berwarna navy yang disetrika sangat licin, hampir tidak ada kerutan sedikit pun. Ia berkali-kali merapikan kerah bajunya, memastikan posisinya simetris sempurna. Raisa menghampiri putranya itu, melangkah pelan di atas lantai marmer yang mengkilap, lalu mulai meneliti setiap jengkal penampilan Xavier dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofelnya yang hitam legam.
Ada satu hal yang membuat Raisa mengernyitkan dahi. Aroma yang menguar dari tubuh Xavier tercium sangat berbeda. Biasanya, Xavier akan berbau tajam seperti alkohol antiseptik atau sabun medis yang sangat steril. Namun malam ini, ada semburat aroma parfum maskulin yang elegan, sedikit berbau parfum yang segar. Perubahan ini tentu saja dianggap sebagai sebuah anomali besar bagi Raisa.
Xavier, yang menyadari kehadiran sang Bunda melalui pantulan cermin, menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak bahwa ia akan diinterogasi.
"Kenapa, Bunda?" tanya Xavier dengan suara baritonnya yang datar, namun ada nada sedikit tidak sabar di sana.
"Mau ke mana kamu dandan rapi begini? Malam mingguan? Tapi ini kan malam Jumat, Vier. Mau dinner sama kuntilanak kamu itu?" tanya Raisa dengan nada menyelidik yang blak-blakan. Ia tahu putranya jarang sekali bersosialisasi di malam hari, kecuali jika ada urusan bisnis yang mendesak.
Xavier seketika mendelik kesal. "Bundaaaa, aku hanya ingin keluar sebentar mencari udara segar! Memangnya tidak boleh? Sudah lah, di rumah salah, di luar pun salah. Lebih baik aku berangkat sekarang. Bye, Bunda," sahut Xavier seraya menyambar kunci mobilnya yang diletakkan di atas meja kristal.
Ia melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Raisa yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. Raisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan aneh yang mungkin dilakukan putranya. Apakah Xavier mulai tertarik pada seseorang?
"Eeeeh, Vira! Sini!" panggil Raisa tiba-tiba saat melihat Xavira melintas di depannya sambil memutar-mutar kunci mobil. Tampaknya, Vira juga sudah bersiap-siap untuk keluar.
"Kenapa, Bunda? Aku mau keluar sebentar, ingin beli camilan di toko depan," ucap Vira dengan wajah bingung melihat raut cemas di wajah bundanya.
"Vira, Bunda minta tolong. Kamu ikuti abangmu itu, gih. Coba lihat dia mau ke mana malam-malam begini. Bunda khawatir dia pergi ke tempat yang tidak benar," bisik Raisa dengan nada serius.
Xavira seketika tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan bundanya. Tawa itu menggema di lorong rumah yang sunyi, membuat Raisa semakin bingung dan tersinggung. Kening Raisa mengerut dalam, ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang tidak bercanda.
"Kenapa malah tertawa? Ini masalah serius, Vira!"
"Bunda sayang ... Bunda pikir Abang Vier mau ke tempat dugem atau diskotik? Bunda lupa siapa anak Bunda itu?" tanya Vira di sela tawanya.
"Yang dia pikirkan sebelum masuk ke tempat seperti itu cuma satu, berapa juta koloni kuman yang bersarang di gagang pintu diskotik itu? Belum lagi para wanita di sana, dia pasti akan langsung menghitung berapa banyak bakteri yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Tidak mungkin Abang ke tempat itu. Sudah ya, Bunda sayang tak perlu cemas. Antara aku, Ana, dan Vier, anak Bunda yang paling baik dan paling menurut hanya dia saja. Tempat kotor seperti itu tak akan pernah dia injakkan kakinya," ucap Xavira seraya meng3cup pipi bundanya dengan gemas.
Setelah itu, Xavira bergerak pergi meninggalkan Raisa yang hanya bisa menghela napas panjang. Melihat sang bunda masih cemss, Xavira menggelengkan kepalanya.
"Sudah tahu anaknya mysophobia, masih saja dicurigai ke tempat aneh-aneh. Jangankan ke diskotik, ke kantor saja dia harus menyemprotkan alkohol ke seluruh ruangan. Bunda ... Bunda ... ada-ada saja," gumamnya.
.
.
.
.
Xavier menghentikan mobil sedan hitamnya yang selalu tampak baru itu tepat di depan gerbang kediaman Rodriguez. Ia tidak langsung turun. Ia mengambil sebotol kecil cairan pembersih tangan dari dashboard, mengoleskannya ke jemarinya, lalu mengenakan sarung tangan kain tipis berwarna putih. Setelah merasa "aman", barulah ia melangkah turun.
Angkasa, yang kebetulan baru saja akan keluar untuk menutup gerbang dan mencari angin malam, terkejut melihat kedatangan calon menantunya. Angkasa menghentikan langkahnya dan menatap Xavier dengan dahi berkerut.
"Xavier? Kamu datang malam-malam begini?" tanya Angkasa heran.
"Iya, Om. Saya ingin menjemput Raya untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Kebetulan, teman saya yang seorang dokter anak sedang berjaga malam ini, dan dia sudah menunggu di rumah sakit," ucap Xavier dengan nada sopan namun tetap terdengar kaku.
"Astaga, Om lupa kalau Nara sudah bicarakan soal ini tadi sore. Sebentar, Om panggilkan Nara dulu di dalam," Angkasa baru saja akan berbalik, namun ternyata Nara sudah muncul dari balik pintu rumah bersama sang cucu, Raya.
Raya tampak sangat antusias. Ia mengenakan jaket kuning cerah dan membawa tas kecil berbentuk kelinci. Wajahnya yang bulat tampak bersinar di bawah lampu teras rumah.
"Oh ya, Nara, mumpung kamu mau keluar sama Xavier, sekalian Ayah titip sesuatu ya. Tolong carikan kelapa muda untuk Bunda," ucap Angkasa tiba-tiba.
Nara yang sedang menggandeng Raya seketika menoleh bingung. "Hah? Kelapa muda? Ayah serius? Beli di mana kelapa muda jam delapan malam begini?" tanya Nara heran.
Angkasa berdecak, seolah menganggap permintaan itu sangat aneh. "Cari dulu, pokoknya harus dapat. Bunda lagi kepingin sekali makan itu."
Nara memicingkan matanya, menatap ayahnya dengan penuh selidik. "Bunda ... Bunda enggak hamil lagi kan, Yah? Jangan bilang Ayah mau nambah personel lagi?" tebak Nara yang membuat mata Angkasa membelalak kaget.
"Enggak lah! Ngawur saja kamu kalau bicara! Usia Bunda itu sudah rentan, masa mau Ayah hamili lagi. Ayah masih sayang sama nyawa Bunda. Ini murni kepingin biasa, bukan ngidam seperti yang kamu bayangkan," tegur Angkasa dengan wajah memerah karena malu sekaligus kesal.
Nara mengerutkan bibirnya, lalu berbisik pelan yang masih bisa terdengar. "Habisnya, Ayah hobi sekali bikin anak terus dari dulu," cicitnya.
"Kamu ini—" Angkasa menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya di depan Xavier. "Sudah sana berangkat, hati-hati di jalan. Ingat kelapa mudanya!" ucap Angkasa tegas sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ayo," ajak Xavier pelan. Ia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Raya. Namun, ia sempat tertegun saat melihat Nara justru mengeluarkan botol hand sanitizer miliknya sendiri dan menyemprotkan cairan itu ke tangan Raya berkali-kali sebelum membiarkan anak itu menyentuh jok mobil. Satu alis Xavier terangkat bingung melihat sikap Nara yang mendadak jadi pengikut alirannya.
"Ayo Papa anti Bakteli, kita belangkat!" seru Raya dengan semangat saat sudah duduk manis di dalam mobil. Xavier hanya diam, namun dalam hati ia merasa ada sesuatu yang bergetar saat Raya memanggilnya dengan sebutan itu.
"Ayo, keburu malam," ajak Nara dan menyusul putrinya masuk ke kursi belakang. Xavier pun masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya dengan tenang menuju pusat kota.
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍