Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana rapat kini nampak begitu menegangkan, seolah terdapat sebuah kompetisi yang akan memperebutkan sesuatu, lihat saja dari aura yang bertabrakan itu, seperti membius pun tak ada suara sedari dari.
Di sana, Dareen terus memutar-mutar penanya dengan lihai, berusaha memusatkan fokus pada layar proyektor yang menampilkan desain turbin pesawat terbarunya.
Namun, setiap kali Dareen mencoba membaca grafik, pikirannya tiba-tiba pecah begitu saja, ia terlarut dalam pikirannya sediri, mengenai, sejak kapan Afnan berkerja di bawah perusahaan Algio? Mengapa ia tidak tau?
Atau karena ia memang sudah terlalu abai?
"Jadi, Tuan Dareen." Algio memulai, suaranya terdengar sangat percaya diri, pria itu sedikit memutar kursinya ke arah Afnan, sementara tangannya dengan santai melingkar di bahu wanita itu.
"Mesin seri-X ini memiliki efisiensi bahan bakar sepuluh persen lebih baik, namun sangat cocok untuk armada baru Anda, Mr Dareen. Afnan, tolong tunjukkan data perbandingannya."
Bersama dengan ucapannya, Algio tersenyum profesional, ia tidak akan membawa masalah percintaan ke ranah pekerjaan.
"Dan kami memastikan bahwa rancangan ini sepenuhnya akan berhasil." Afnan menambahi, menepis jemari Algio yang masih bertengger di tangannya.
Dengan gestur lembut Afnan berdiri, dress formal navynya yang ketat mengikuti setiap lekuk tubuhnya, membuat beberapa petinggi maskapai di ruangan itu menahan napas, wanita itu berjalan menuju layar, melewati kursi Dareen begitu dekat hingga ujung gaunnya menyentuh pantofel sang suami.
"Tentu Sir, saya izin menjelaskan." Afnan berkata lembut, namun penuh penekanan, mencoba berusaha menahan rasa aneh di dadanya, seperti tiba-tiba mual dan ingin keluar menuju kamar mandi.
Apalagi, di depannya terdapat Dareen yang sedari tadi terus memberikan tatapan tajam.
"Hadirin, seperti yang bisa Anda lihat di layar."
Afnan mulai menjelaskan data teknis dengan sangat lihai, tentu saja ia belajar sejak pagi tadi, saat Algio memberikan kabar yang tiba-tiba akan ada rapat bersama perusahaan sang suami, wanita itu bergegas mempelajari materi presentasi tersebut dengan cepat.
Dan disela-sela penjelasan Afnan, wanita itu sering kali melirik Dareen dengan tatapan santai terkesan provokatif.
Afnan hanya ingin menunjukan pada Dareen, bahwa ia bukan wanita lemah yang hanya bisa mengandalkan pria itu. Afnan ingin membuat Dareen menyadari bahwa sang suami cukup beruntung dengan memiliki wanita sepertinya.
"Apa mata wanita itu tidak bisa dikondisikan?" Dareen menurunkan bibirnya mengejek, sekalipun Algio berusaha merebut Afnan, namun nyatanya? Wanita itu bahkan sedari tadi tak melepaskan ia dari pandangannya.
"Ciuh."
Dareen akui jika ia merasa ada sesuatunya yang aneh, menjalar dari perut hingga ke dadanya, pria itu benci melihat Afnan begitu bersinar di bawah perlindungan Algio, ia benci melihat bagaimana Algio menatap Afnan dengan penuh rasa bangga dan kepemilikan.
"Cukup." Potong Dareen tiba-tiba, suaranya parau namun tajam, "Saya tidak butuh penjelasan bertele-tele, Mr Algio, bisakah anda yang menjelaskan bagian teknisnya?"
Mendengar itu membuat Algio tersenyum, tentu saja ia tidak akan melawan, berkerja sama dengan perusahaan raksasa milik Dareen adalah keberuntungan baginya, walaupun ada rasa kesal, namun tetap saja, dana keuangan tetap harus terjaga nomor satu.
Algio memberikan isyarat kecil pada Afnan untuk kembali ke tempat duduknya, "Baiklah, jika Tuan Dareen lebih nyaman berdiskusi dengan saya. Mari kita bicara tentang angka efisiensi termal pada ketinggian 30.000 kaki."
Dua jam telah berlalu dengan begitu cepat, suasananya nampak kaku, Afnan sedari tadi berusaha memasang wajah profesional walaupun di dalam hati ia sudah mengamuk, rasa bosan sudah menghantuinya.
"Kak Dareen?" Bibir Afnan terangkat lebar, tatkala tak sengaja bersitatap bersama sang suami.
Sayang sekali tak ada respon, membuat Afnan mendengus, wanita itu akhirnya menatap Wiliam yang sedari tadi terus mencatat, bertindak sebagai notula.
"Apa kau butuh bantuan?" Afnan berkata pelan, nyaris tak terdengar, agar rasa bosan dan mengantuknya cepat menghilang.
Wiliam menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, kau bisa diam duduk manis saja."
Decakan kecil terdengar, lantas bibir Afnan tertarik ke atas setelah sebuah ide melintas di otaknya secara tiba-tiba. Perlahan Afnan menyenggol ujung pantofel Dareen, lalu ia tekan kuat dengan ujung heelsnya.
Mendapati serangan mendadak itu membuat Dareen yang tengah meminum air mineral nya reflek terbatuk, hampir keluar, "Uhuk-! Sial."
Tatapan mata Dareen kini mengarah pada Afnan, sang pelaku yang memberi serangan mendadak, dengan gesit ia menendang kaki itu ke samping, memberi sorot tajam seolah tengah memperingati.
Sedangkan sang pelaku hanya tersenyum tanpa dosa.
"Tuan Dareen, anda tidak papa?" Jax mengerjabkan netranya, menatap wajah sang tuan yang kini sudah memerah bagai kepiting rebus.
Jika tidak karena blushing dan cuaca panas, maka apa lagi? Tentu saja detik-detik paranoid sang tuan akan kambuh jika tidak segera di tangani.
"Diam! Cerewet!" Dareen berkata ketus, pria itu berusaha mati-matian menahan perasaan ingin mengamuk.
"Tuan Dareen, anda tidak papa?" Algio menatap heran Dareen, entah mengapa pria itu tiba-tiba terlihat ingin marah dan uring-uringan.
Dareen menutup netranya sejenak, menahan nafas lalu ia buang dengan santai, "Silakan lanjutkan Mr Algio." Serunya tetap profesional.
Begitu rapat dinyatakan ditutup, para eksekutif lain berpamitan keluar, Algio tidak terburu-buru, pria itu justru meraih toples kecil berisi kacang almond dan macaroon yang tersisa di tengah meja, mengunyahnya dengan santai sambil memperhatikan interaksi pasangan di depannya dengan tatapan geli.
Afnan bangkit, merapikan sedikit dress navynya, lalu berjalan memutar mendekati kursi Dareen, ia tidak berteriak atau merajuk, hanya mencondongkan tubuhnya ke arah Dareen yang sedang merapikan tas kantornya.
"Kerja bagus, Tuan Dareen. Anda terlihat sangat berwibawa saat sedang bekerja." Bisik Afnan lembut, hanya cukup untuk didengar pria itu.
"Rapat ini membuat saya lapar, saya tahu Anda tidak suka melewatkan jam makan siang. Ingin mencoba restoran baru di bawah?" Tawar Afnan sembari memainkan ujung rambutnya gemulai.
Dareen menghentikan gerakannya, ia menarik napas dalam, aroma parfum Afnan yang khas seolah mengunci paru-parunya, pria itu menoleh perlahan, menatap Afnan tajam.
"Maaf?" Dareen berkata pelan, menggantungkan kalimat.
"Saya menghargai kontribusi Anda dalam rapat tadi, tapi saya tidak terbiasa bersosialisasi secara pribadi dengan staf dari pihak vendor, itu tidak profesional."
Dareen berkata dengan datar, seolah tak memiliki ekspresi.
"Staf vendor? Kak, ini aku, jangan terlalu mendalami peran!" Dumel Afnan menarik jemari Dareen lembut, ia genggam bagai itik yang takut kehilangan induk.
Dareen berdiri, membuat Afnan terpaksa mundur satu langkah karena perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok.
"Jax." Panggil Dareen tanpa melepas pandangan dinginnya dari Afnan, "Tolong beritahukan pada nona ini, untuk tidak membuat masalah lagi."
Algio tertawa kecil di sudut sana, butiran gula dari macaroon masih menempel di sudut bibirnya, "Wah, sepertinya ingatan Tuan Dareen perlu diperiksa." Sarkasnya.
Dareen mengabaikan sindiran Algio, ia merapikan kancing jasnya dengan gerakan sempurna, "Terima kasih atas tawaran kerja sama dan jamuan ini Mr Algio, saya masih memiliki agenda rapat setelah ini, saya pamit."
Tanpa sepatah kata lagi, Dareen melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, sedangkan Afnan terpaku di tempatnya, menatap punggung suaminya dengan perasaan campur aduk antara kesal dan tak percaya.
"Sakit, ya?" Goda Algio sambil menyodorkan toples kue pada Afnan, "Mau kacang? Setidaknya ini lebih manis daripada ucapan suamimu."