kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Sang Pemilik Kilat
Fajar menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya pucat yang menembus celah-celah batu penyumbat gua. Penyihir Petir membuka matanya, merasakan aliran energi yang mulai kembali mengalir di dalam nadinya meski sisa racun Arkhne masih menyisakan rasa kaku di persendiannya. Ia melihat ke arah api unggun yang kini hanya menyisakan abu dingin. Pengembara misterius yang menyelamatkannya semalam sudah tidak ada di tempatnya, meninggalkan kesan seolah pertemuan itu hanyalah mimpi di tengah maut. Namun, rasa kenyang dari daging kelinci panggang meyakinkannya bahwa semua itu nyata. Dengan perlahan, ia menggeser batu-batu besar yang menutupi pintu gua, waspada terhadap kemungkinan adanya siluman yang masih mengintai.
Begitu melangkah keluar, udara dingin menusuk kulitnya. Ia berdiri di atas bongkahan batu tinggi, memandang hamparan lembah yang masih diselimuti kabut tipis. Tanpa tongkatnya, ia merasa telanjang di hadapan bahaya, namun ia adalah Penasehat Utama Kerajaan Atlas yang kekuatannya diakui oleh seluruh pasukan Minotaur dan Centaur. Ia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai memusatkan seluruh sisa energinya ke pusat jantung. Bibirnya mulai merapal mantra dalam bahasa kuno yang bergetar, sebuah frekuensi yang hanya bisa didengar oleh elemen petir dan benda-benda yang telah menyatu dengan jiwanya.
"Elettra Ascendat, Reclamo Meum Baculum!" teriaknya dengan suara yang menggelegar, memecah keheningan pagi. Seketika, awan hitam mulai berkumpul tepat di atas kepalanya, meski matahari baru saja terbit. Kilatan listrik biru mulai meloncat-loncat dari ujung jarinya, mencari resonansi dengan senjatanya yang hilang. Jauh di dasar jurang, di antara tumpukan tulang dan sarang laba-laba, sebuah benda kayu dengan permata biru di ujungnya mulai bergetar hebat. Benda itu mengeluarkan percikan listrik yang membakar jaring-jaring yang melilitnya.
Dalam hitungan detik, sebuah bayangan meluncur cepat dari kegelapan jurang, membelah udara dengan suara desingan yang tajam. Tongkat kayu tersebut terbang ke atas, memutar di udara seperti elang yang menemukan tuannya. Penyihir Petir merentangkan tangan kanannya ke samping, dan dengan dentuman keras, tongkat itu hinggap tepat di genggamannya. Saat telapak tangannya menyentuh kayu tongkat itu, gelombang kejut listrik terpancar keluar, menghancurkan batu-batu kecil di sekitarnya.
Dengan tongkat yang kembali berada di genggamannya, Penyihir Petir memiliki keinginan besar untuk kembali dan menghancurkan Arkhne. Namun, ia teringat akan kondisi Ratu Layla di Kerajaan Atlas yang semakin memburuk. Panglima Delta pasti sedang cemas menunggu kabar darinya, dan keselamatan sang penguasa adalah prioritas di atas dendam pribadinya. Ia tahu bahwa jalur utama yang ia lalui sebelumnya telah dijaga ketat oleh ribuan siluman laba-laba dan roh-roh lapar yang haus akan energi sihirnya. Ia harus mencari jalan memutar, sebuah jalur yang jarang dilalui bahkan oleh makhluk paling berani sekalipun.
Ia mulai mendaki dinding tebing yang curam, menggunakan sihir listriknya untuk menciptakan daya magnet antara kakinya dan permukaan batu. Jalur ini sangat berbahaya; salah melangkah berarti jatuh ke dalam kegelapan abadi. Namun, di jalur inilah ia bisa menghindari penglihatan tajam Arkhne. Selama perjalanan, ia melewati lorong-lorong batu sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Bau busuk dari lembah perlahan digantikan oleh aroma belerang dan udara yang lebih kering. Ia terus bergerak dengan sangat hati-hati, memadamkan cahaya dari tongkatnya agar tidak memancing perhatian dari udara, di mana mungkin saja ada makhluk terbang yang sedang berpatroli.
Pikirannya melayang pada Ratu Layla. Ratu yang dikenal kejam itu tidak akan segan-segan menghukum Panglima Delta atau para prajurit Centaur jika ia tidak segera kembali membawa kesembuhan. Kerajaan Atlas sedang berada di ujung tanduk; tanpa kepemimpinan sang Ratu, stabilitas militer yang terdiri dari Griffon dan Naga Api bisa goyah. Ia harus mencapai tujuannya sebelum matahari mencapai puncaknya. Medan di depannya mulai berubah, bebatuan tajam kini berganti dengan formasi kristal yang berpendar secara alami, menandakan ia telah keluar dari wilayah kekuasaan siluman laba-laba dan memasuki wilayah yang lebih netral namun tetap penuh misteri.
Setelah berjam-jam mendaki dan menyelinap, ia tiba di sebuah dataran tinggi yang tersembunyi. Dari sini, ia bisa melihat hamparan wilayah yang sangat luas, namun ia tidak berhenti untuk menikmati pemandangan. Ia tahu bahwa di depan sana, tantangan yang lebih besar menanti. Ia telah berhasil menghindari jeratan jaring Arkhne, namun perjalanan untuk menemui saudaranya masih panjang. Ia menyeka keringat di dahinya, menggenggam erat tongkatnya, dan terus melangkah maju dengan tekad yang bulat
Saat Penyihir Petir melangkah melintasi dataran kristal yang sunyi, udara di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi berat dan bermuatan listrik statis yang sangat tinggi. Rambut di lengannya berdiri tegak, dan ia bisa merasakan kehadiran energi yang sangat mirip dengan miliknya, namun dalam skala yang jauh lebih masif. Dari balik awan tebal yang menggantung rendah di depan sebuah gerbang batu alami, muncul sesosok makhluk legendaris yang jarang terlihat oleh manusia biasa. Naga Petir, dengan sisik berwarna biru safir yang terus menerus mengeluarkan percikan listrik, merayap turun dari puncak bebatuan.
Naga itu bukanlah naga api biasa yang dimiliki oleh pasukan Atlas; ia adalah entitas purba yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan energi di wilayah ini. Mata naga itu bersinar kuning keemasan, menatap tajam ke arah Penyihir Petir. Sang Penasehat segera berlutut dan menancapkan tongkatnya ke tanah sebagai tanda hormat. Ia tahu bahwa melawan makhluk ini adalah sia-sia. Naga Petir itu mengeluarkan suara geruman yang terdengar seperti guntur yang bergulung di kejauhan, menanyakan maksud kedatangan sang penyihir melalui komunikasi batin yang kuat.
"Wahai Penjaga Langit, aku adalah Penasehat dari Atlas. Aku mencari saudaraku untuk menyelamatkan Ratu yang sedang sekarat," ucap Penyihir Petir dengan lantang. Naga itu mendekat, hembusan napasnya mengeluarkan bau ozon yang tajam. Ia mengendus tongkat milik sang penyihir, mengenali jejak sihir yang serupa dengan energi yang ia miliki. Naga Petir tersebut tampaknya mengenali garis keturunan sang penyihir, karena ia perlahan menurunkan kepalanya, memberi isyarat agar sang penyihir naik ke punggungnya
Dengan ragu namun penuh rasa syukur, Penyihir Petir memanjat punggung naga yang keras dan terasa bergetar karena energi listrik. Begitu ia duduk dengan kokoh, Naga Petir itu mengepakkan sayap membrannya yang luas. Dalam satu hentakan kuat, mereka melesat ke angkasa, menembus awan dan meninggalkan dataran kristal di bawah. Dari ketinggian, dunia tampak begitu kecil. Kecepatan naga ini jauh melampaui kemampuan terbang Griffon tercepat sekalipun. Mereka terbang menuju sebuah wilayah yang ditutupi oleh awan-awan tebal yang terus bergejolak, tempat di mana sang penyihir serbuk, saudaranya, mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kekuasaan duniawi.