NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adakah Sayang

"Silakan, Mas," ucap Putri lirih sambil meletakkan piring di hadapan Devan.

Tangan Putri gemetar hebat saat meletakkan sendok. Bunyi 'klontang' kecil terdengar saat gagang sendok beradu dengan piring keramik.

"Bisa nggak sih naruh sendok aja yang bener?" sentak Devan refleks. Kebiasaannya memarahi Putri muncul otomatis, tameng untuk menutupi rasa ketidaknyamanan yang ia rasakan melihat kondisi Putri.

"Maaf, Mas. Tangan aku agak kram," jawab Putri pelan, menyembunyikan tangan kanannya ke belakang punggung.

Devan menatap curiga. Ia teringat ucapan Arga lagi. "Apa dia benar-benar sakit?" batinnya terus bertanya.

Tanpa permisi, Devan menyambar pergelangan tangan Putri yang disembunyikan di belakang punggung.

"Mas! Sakit!" pekik Putri tertahan.

Mata Devan membelalak, di lengan bawah Putri yang putih pucat itu, terdapat lebam besar berwarna ungu kebiruan. Lebam itu terlihat mengerikan, kontras dengan kulitnya yang transparan. Bukan bekas pukulan, tapi seperti pembuluh darah yang pecah begitu saja di bawah kulit.

Jantung Devan berdesir aneh. Ada rasa ngilu yang menjalar cepat.

"Ini kenapa?" tanyanya, suaranya terdengar menuntut, namun terselip nada panik yang samar. "Siapa yang bikin tangan kamu jadi gini? Aku nggak pernah main fisik sama kamu!"

Putri menarik tangannya paksa, meringis kesakitan karena cengkeraman Devan yang terlalu kuat menekan lebamnya.

"Bu-bukan... bukan siapa-siapa." Putri tergagap, matanya berkaca-kaca menahan nyeri. "Aku... aku cuma kebentur pinggiran dapur kemarin. Aku ceroboh."

Devan terdiam, menatap lebam itu, lalu beralih menatap wajah Putri yang ketakutan.

Logikanya berteriak. "Itu bukan lebam biasa. Itu terlalu besar untuk sekadar terbentur meja."

Nurani kecilnya berbisik. "Bawa dia ke dokter, Devan. Sekarang!" Tapi kemudian, egonya bangkit, berdiri gagah menghalangi kebenaran.

Devan teringat betapa ia membenci kenyataan bahwa ia harus terikat dengan Putri.

Jika ia mengakui Putri sakit, itu artinya ia harus peduli. Itu artinya ia harus merawat anak buangan yang merusak hidupnya, Devan menolak terlihat lemah, Devan menolak kalah pada rasa iba.

Ia melepaskan tangan Putri dengan kasar, seolah menyentuh barang kotor.

"Ceroboh," cibir Devan dingin, mematikan rasa khawatirnya sendiri. "Badan kamu itu kurus kering, makanya gampang biru-biru. Makanya, kalau makan itu yang bener. Jangan sok diet atau mogok makan biar aku perhatiin. Kamu pikir dengan nyiksa diri sendiri, aku bakal luluh? Aku bakal peduli gitu?"

Putri menunduk dalam, menyembunyikan air mata yang mendesak keluar. "Aku nggak diet, Mas. Aku makan kok."

"Makan apa? Liat badanmu itu!" Devan menunjuk Putri dengan garpu. "Tulang doang. Kamu sengaja kan? Biar kalau sakit, atau kalau kamu pingsan, orang-orang bakal nyalahin aku? Biar mama sama papa mikir aku nggak ngurus kamu? Licik banget pikiran kamu, Put."

Devan menusuk nasi goreng di piringnya dengan kasar, napsu makannya hilang seketika.

"Denger ya. Aku nggak peduli kamu mau biru-biru, mau kurus, atau mau sakit, dan mati sekali pun. Tapi jangan sampe kondisi fisik kamu yang menyedihkan ini bikin malu aku di depan kolega atau keluarga. Tutupin lebam kamu itu pake baju lengan panjang. Aku jijik liatnya."

Setiap kata yang keluar dari mulut Devan bagaikan belati yang menghujam dada Putri. Padahal, ia berharap sedikit saja... saat Devan memegang tangannya tadi, ada secercah harapan bahwa suaminya akan bertanya. "Sakit ya?"

Tapi harapan itu hancur berkeping-keping.

"Iya, Mas. Maaf," bisik Putri parau.

Putri berbalik menuju wastafel, berpura-pura mencuci gelas agar Devan tidak melihat kesedihan di matanya.

Air keran yang mengucur deras menjadi satu-satunya suara yang menyamarkan isak tangis Putri yang tertahan.

Tangannya masih memegang spons penuh busa, menggosok pinggiran gelas yang sama berulang-ulang, seolah ingin menghapus noda nasibnya sendiri.

Putri tersenyum getir, senyum yang tak terlihat oleh siapa pun kecuali pantulan bayangannya yang buram di jendela dapur.

"Benar, Mas," batinnya lirih, "tanganmu bersih. Kamu tidak pernah menampar pipiku, kamu tidak pernah memukul tubuhku."

Devan tidak sadar, bahwa ada pembunuhan yang tidak meninggalkan jejak darah. Ada penyiksaan yang tidak meninggalkan bekas luka visum.

Setiap tatapan dingin yang Devan berikan adalah belati, setiap pengabaian adalah racun, dan setiap kata-kata kasar yang merendahkan harga dirinya adalah peluru tak kasat mata yang menembus jantungnya, hari demi hari.

Putri merasa dirinya sudah mati di rumah itu.

Bukan mati raga, jantungnya masih berdetak, meski kian lemah. Tapi jiwanya telah lama dipadamkan paksa, ia mati dalam ketidakpedulian yang mencekik. Ia mati dalam kesepian di tengah keramaian pesta keluarga, ia mati dalam kegelapan kamar mewah yang tak pernah memberinya kehangatan.

Rumah mewah itu, rumah besar ayahnya dulu... tak satu pun dari tempat itu pernah benar-benar menjadi rumah baginya.

Baginya, tempat-tempat itu hanyalah kerangkeng emas. Tempat di mana ia harus bernapas sepelan mungkin agar tidak mengganggu penghuni lainnya. Tempat di mana keberadaannya dianggap duri bagi kebahagiaan orang lain.

"Aku berangkat."

suara Devan terdengar dari arah ruang makan, membuyarkan lamunan kelam Putri.

Bunyi kursi yang didorong kasar dan langkah kaki tegas menjauh menjadi tanda perpisahan pagi itu. Tidak ada pamitan, tidak ada kecupan tangan, dan semua benar-benar dingin.

"Hati-hati, Mas..." ucap Putri lirih, meski ia tahu Devan sudah tidak mendengarnya, atau memilih untuk tidak mendengar.

Suara pintu rumah yang ditutup mengeluarkan bunyi, tanda bahwa ia kembali berteman sepi.

Seketika, pertahanannya runtuh.

Gelas di tangannya terlepas, jatuh ke dalam bak cuci piring dengan bunyi 'prang' yang nyaring, namun kali ini Putri tidak peduli.

Tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai dapur yang dingin. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajah di antara lipatan tangan. Bahunya berguncang hebat, bukan karena tangis yang meledak, tapi karena rasa sakit fisik yang tiba-tiba menyerang tulang rusuk dan punggungnya.

Rasa sakit dari kankernya datang bergelombang, seolah menghukumnya karena terlalu banyak stres pagi ini.

Dengan tangan gemetar, Putri merogoh saku dasternya, mengeluarkan botol obat pereda nyeri yang ia sembunyikan tadi.

Ia menelan dua butir sekaligus tanpa air, membiarkan rasa pahit obat itu menjalar di tenggorokannya, berharap rasa pahit itu bisa mematikan rasa sakit di hatinya juga.

"Tuhan..." bisiknya, "kalau memang ini rumah persinggahan terakhirku sebelum pulang kepada-Mu... tolong buat sisa waktuku berguna. Biarkan aku melunasi hutang kelahiranku pada mereka, supaya saat aku pergi nanti... mereka bisa tersenyum lega karena beban mereka sudah hilang."

Putri menyeka sudut matanya yang basah. Ia menatap lebam di lengannya yang tadi dicengkeram Devan, warnanya makin gelap.

Ia bangkit dengan susah payah, berpegangan pada tepi meja dapur. Dunianya masih berputar, dan dia harus kuat. Hari ini ada acara makan malam di rumah orang tua Devan, ia harus menutup lebam ini dengan foundation tebal dan baju lengan panjang.

Ia harus kembali memakai topengnya, topeng boneka yang sempurna, yang tak punya rasa sakit, dan yang tak punya suara.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!