Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Waktu seolah membeku di lantai ICU itu. Enam puluh hari telah berlalu, namun bagi Baskara, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi.
Sosok pria perkasa yang biasanya tampil necis dengan setelan jas mahal itu kini nyaris tak mengenali dirinya sendiri di cermin.
Baskara duduk di samping tempat tidur Swari, menggenggam tangan wanita itu yang kini terasa jauh lebih kurus.
Brewok tebal tumbuh liar di rahang dan dagunya, tanda bahwa ia benar-benar mengabaikan dirinya sendiri.
Ia pernah berjanji tidak akan mencukur helai rambut di wajahnya itu sampai Swari sendiri yang melihatnya atau memintanya pergi.
Matanya yang cekung menatap wajah Swari yang masih tampak damai, seolah-olah ia hanya sedang tertidur di tengah musim dingin Toronto yang pernah ia lalui sendirian.
"Sudah dua bulan, Swa..." suara Baskara terdengar berat dan serak.
Ia mengusap punggung tangan Swari dengan jempolnya.
"Alex dan Alexandria sudah mulai bertanya kenapa Mama tidurnya lama sekali. Mereka bilang, mereka kangen masakan Mama, meskipun sebenarnya mereka lebih kangen dipeluk kamu."
Baskara mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya yang kasar ke telinga Swari.
Aroma maskulinnya bercampur dengan bau obat-obatan, menciptakan kontras yang menyesakkan.
"Putri tidur, ayo bangun..." bisik Baskara parau.
"Pangeran yang kamu benci ini sudah ada di sini. Aku tidak akan menciummu untuk membangunkanmu, karena aku tahu aku tidak pantas. Tapi aku akan terus di sini sampai kamu bangun dan mengusirku sendiri."
Ia menghela napas panjang, kepalanya tertunduk lesu di tepi ranjang.
"Jangan biarkan rekaman video itu menjadi ingatan terakhirku tentangmu. Bangunlah, dan hancurkan aku secara nyata, Swari Aruna. Aku rela, asal kamu membuka mata."
Tepat saat Baskara memejamkan mata dalam keputusasaan, ia merasakan sesuatu yang mustahil.
Sebuah getaran halus, hampir tak kentara, muncul dari jemari Swari yang berada dalam genggamannya.
Kuku-kuku mungil itu seolah mencoba mencengkeram kulit telapak tangan Baskara yang kasar.
Baskara tersentak. Ia menahan napas, matanya membelalak menatap wajah Swari.
Di balik kelopak mata yang tertutup rapat itu, ada gerakan bola mata yang gelisah, dan perlahan... sangat perlahan... bulu mata lentik itu mulai bergetar.
Setelah dua bulan dalam kegelapan yang sunyi, secercah cahaya akhirnya menembus kesadaran Swari.
Kelopak mata yang selama ini tertutup rapat perlahan-lahan terbuka, terasa sangat berat seperti tertindih beban ribuan ton.
Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan kaburnya adalah langit-langit putih rumah sakit, lalu bergeser pada sosok pria yang duduk tepat di sisi ranjangnya.
Swari berkedip pelan, mencoba memfokuskan penglihatannya.
Di sana, ia melihat Baskara yang dulu begitu rapi dan angkuh, kini tampak hancur dengan brewok tebal yang menutupi rahangnya dan mata yang merah karena kurang tidur.
Hati Swari berdesir. Ingatannya tentang penculikan, rasa sakit di dada, dan dinginnya peti kayu kembali berputar seperti film rusak.
Tanpa sepatah kata pun, air mata bening jatuh dari sudut matanya yang sayu, membasahi bantal rumah sakit.
"S-swa? Swari?!" Suara Baskara bergetar hebat. Ia hampir tidak percaya pada apa yang ia lihat.
"Ya Tuhan, akhirnya kamu sadar? Kamu benar-benar sadar?!"
Namun, kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa tidak nyaman yang luar biasa.
Swari merasakan benda asing menyumbat tenggorokannya—selang ventilator yang membantunya bernapas selama ini.
Dalam kondisi bingung dan panik (delirium pasca-koma), tangan Swari yang lemah mencoba menggapai mulutnya, berusaha menarik paksa selang tersebut.
"Jangan! Swa, jangan dilepas sendiri! Berbahaya!" Baskara panik, ia dengan lembut namun kuat menahan kedua tangan Swari agar tidak melukai dirinya sendiri.
"DOKTER! PERAWAT! DIA SADAR! CEPAT KE SINI!" teriak Baskara dengan suara menggelegar ke arah pintu luar, suaranya sampai terdengar ke seluruh koridor ICU.
Swari mulai terbatuk-batuk, tubuhnya menegang melawan mesin yang masih memompa udara ke paru-parunya.
Matanya menatap Baskara dengan tatapan antara takut, benci, dan rindu yang bercampur aduk. Ia mencoba bicara, namun hanya suara
“Ugh... nghhh...” yang tertahan di tenggorokan.
"Tenang, Sayang... Tenang. Aku di sini. Dokter akan segera membantumu melepasnya," bisik Baskara sambil menciumi kening Swari berulang kali, berusaha menenangkan badai kepanikan di mata istrinya.
Detik berikutnya, tim medis merangsek masuk ke dalam ruangan.
Mesin-mesin di sekitar mereka berbunyi nyaring seiring dengan meningkatnya tekanan darah Swari.
Baskara dipaksa mundur sejenak untuk memberikan ruang bagi dokter yang akan melakukan prosedur ekstubasi (pelepasan selang).
Dari sudut ruangan, Baskara terus menatap Swari dengan air mata yang kini mengalir bebas di balik brewok tebalnya.
Ia tahu, perjuangan medis mungkin sudah berakhir, tapi perjuangan untuk mendapatkan maaf dari wanita itu baru saja dimulai.
Proses pelepasan selang itu terasa begitu menyiksa.
Dokter Ramlan bekerja dengan cekatan, meminta Swari untuk menarik napas dalam saat selang plastik panjang itu ditarik keluar dari tenggorokannya.
Begitu selang terlepas, Swari langsung tersedak dan terbatuk-batuk hebat.
Suaranya terdengar sangat parau dan menyakitkan, seolah kerongkongannya baru saja disayat.
"Tenang, Nona Swari. Tarik napas perlahan melalui hidung. Jangan dipaksa bicara dulu," instruksi Dokter Ramlan dengan tenang, sambil menempelkan masker oksigen kecil untuk membantu pernapasannya kembali stabil.
Baskara yang berdiri di sisi ranjang tidak bisa tinggal diam.
Ia kembali mendekat, meraih tangan Swari dan menggenggamnya kuat-kuat.
Tubuh Swari masih gemetar hebat karena syok setelah sadar dari koma panjang.
"Pelan-pelan, Sayang. Bernapaslah untukku," bisik Baskara, suaranya terdengar sangat rapuh.
Swari mencoba mengatur napasnya yang tersengal.
Dadanya yang pernah dioperasi terasa kaku dan nyeri, namun rasa sakit itu perlahan kalah oleh rasa haus yang luar biasa.
Ia menoleh perlahan ke arah Baskara. Mata sayunya menatap wajah yang selama dua bulan ini menjadi penjaga setianya.
Di balik masker oksigennya, bibir Swari bergerak sedikit.
Ia ingin memanggil anak-anaknya, ia ingin menanyakan di mana dia berada, namun yang keluar hanyalah bisikan tanpa suara yang membuat Baskara semakin tersiksa.
"Dokter, apakah dia sudah stabil?" tanya Baskara tanpa melepas pandangannya dari Swari.
"Kondisinya cukup baik, Tuan. Ini sebuah keajaiban. Namun, Nona Swari masih sangat lemah. Biarkan dia beradaptasi dengan pernapasannya sendiri selama beberapa menit ini," jelas Dokter sambil terus memantau monitor.
Swari memejamkan matanya sejenak, air mata kembali merembes keluar.
Ia merasakan kasarnya telapak tangan Baskara yang penuh luka dan brewok pria itu yang sempat menyentuh punggung tangannya.
Ingatan tentang video masa lalunya dan dendam yang ia simpan seolah beradu dengan kenyataan bahwa pria inilah yang kini sedang menangisinya.
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya dan ia menyadari siapa yang sedang menggenggam tangannya, Swari memberikan reaksi yang mengejutkan.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyentakkan tangannya, menariknya menjauh dari jangkauan Baskara seolah pria itu adalah api yang membakarnya.
"Hhh... hhh..." napas Swari memburu.
Ia mulai menangis sesenggukan. Suara tangisnya terdengar menyayat hati—parau, pecah, dan penuh dengan kepedihan yang sudah ia pendam selama enam tahun.
Setiap isakannya membuat dadanya yang baru sembuh dari infeksi terasa nyeri, namun luka di hatinya jauh lebih menyiksa.
Bayangan dirinya yang kelaparan di Kanada dan dinginnya peti kayu tempo hari bercampur aduk menjadi trauma yang hebat.
Baskara tertegun, tangannya menggantung di udara, terasa kosong.
"Swa,maafkan aku..." bisiknya lirih, tak berani mendekat karena takut membuat kondisi Swari semakin tidak stabil.
Dokter Ramlan segera memeriksa monitor dan memberikan isyarat agar Baskara memberikan ruang.
"Tuan Baskara, tolong biarkan pasien tenang dulu. Trauma fisik dan psikisnya sangat berat."
Dokter kemudian beralih ke Swari, memeriksa respons motorik kakinya yang terasa kaku.
"Nona Swari, dengarkan saya. Anda sudah melewati masa kritis. Tapi karena Anda tidak sadarkan diri selama dua bulan, otot-otot tubuh Anda mengalami atrofi atau pelemahan. Besok, kita akan mulai melakukan terapi fisik secara bertahap agar Anda bisa kembali duduk dan berjalan."
Swari tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Baskara.
Air matanya terus mengalir membasahi bantal. Ia merasa tubuhnya bukan miliknya lagi; ia merasa asing dengan dirinya sendiri yang baru saja kembali dari ambang kematian.
Baskara berdiri mematung di sudut ruangan. Melihat Swari menangis sesenggukan tanpa mau menatapnya adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada hukuman penjara mana pun.
"Aku akan menunggumu di luar, Swa," ucap Baskara pelan, nyaris tak terdengar.
"Aku tidak akan pergi. Aku akan ada di balik pintu ini sampai kamu siap melihatku lagi."
Baskara melangkah keluar dengan bahu yang merosot.
Di lorong, ia kembali duduk di kursi besi yang sama, menatap tangannya yang tadi ditolak oleh Swari.
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor