"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Transformasi Meylie/Meyling.
Cermin di kamar motel usang itu memantulkan sosok yang asing. Bukan lagi Xiao Fei, wanita sederhana yang berduka, melainkan sebuah bayangan yang mulai terbentuk. Meylie. Nama itu terngiang di benaknya, sebuah mantra yang ia ucapkan berulang kali, mencoba meresapi setiap suku katanya. Keputusan telah bulat: untuk menembus dinding kebohongan dan kekejaman yang membunuh Yu, ia harus menjadi bagian dari mereka. Ia harus menjadi predator di sarang serigala.
Fei menghela napas, menatap pantulan dirinya. Wajahnya masih menyimpan jejak kelelahan dan kesedihan, namun sorot matanya kini memancarkan tekad yang membara. Ini adalah momen krusial, titik balik di mana Xiao Fei yang lama harus mati agar Meylie yang baru bisa lahir. Ia telah menghabiskan malam itu merancang strategi, meneliti dunia seni, pasar investasi, dan profil-profil sosial para elit. Setiap sen tabungannya, yang dulu ia kumpulkan bersama Yu untuk masa depan impian mereka, kini akan diinvestasikan untuk menciptakan persona ini. Sebuah pengorbanan yang menyakitkan, namun tak terhindarkan.
Langkah pertama adalah penampilan. Pakaian Xiao Fei yang sederhana tidak akan pernah bisa menembus lingkaran elit. Meylie harus berpakaian mahal, elegan, dan dengan sentuhan karisma yang tidak mencolok namun menarik perhatian. Fei memulai dengan perjalanan belanja yang melelahkan. Ia mengunjungi butik-butik mewah yang dulu hanya ia lihat dari etalase, merasakan kain-kain sutra dan wol berkualitas tinggi yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Setiap pembelian terasa seperti menusuk hatinya, mengingat bagaimana Yu dan ia selalu berhemat. Namun, ia harus menekan perasaan itu. Ini adalah investasi.
Di sebuah butik desainer ternama, seorang asisten penjualan wanita dengan hidung menjulang menatapnya dengan skeptis. Fei, yang masih canggung, berusaha menampilkan aura percaya diri. "Saya mencari sesuatu yang... elegan namun berdaya," katanya, mencoba meniru gaya bicara yang ia dengar dari film-film. Asisten itu mengangkat alis, lalu menyodorkan gaun hitam sederhana namun berpotongan sempurna. "Ini adalah 'Little Black Dress' klasik. Cocok untuk semua acara, Nona. Menunjukkan kekuatan tanpa perlu berteriak." Fei membelinya, bersama beberapa setelan blazer dan rok pensil yang terbuat dari bahan-bahan premium. Setiap pakaian adalah sebuah topeng baru.
Perjalanan itu tidak hanya tentang pakaian. Rambutnya, yang dulu panjang dan sering diikat sederhana, kini dipotong rapi, diberi warna cokelat gelap yang kaya, dan ditata dengan gaya yang lebih modern dan berkelas. Ia belajar teknik riasan yang canggih, bagaimana menonjolkan tulang pipi, bagaimana membuat matanya tampak tajam dan misterius, bagaimana bibirnya terlihat penuh dan menggoda. Di depan cermin, ia berlatih ekspresi: senyum tipis yang penuh rahasia, tatapan dingin yang mampu membuat orang lain gentar, anggukan kepala yang menunjukkan otoritas.
"Kau bukan Xiao Fei lagi," ia berbisik pada pantulannya. "Kau adalah Lie / Ling. Dingin. Karismatik. Tak tersentuh."
Transformasi tidak hanya fisik. Ia harus membangun cerita latar yang meyakinkan. Ling adalah seorang investor seni independen yang baru saja kembali dari Paris, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Eropa untuk "memperluas jaringan dan memperdalam pemahaman tentang pasar seni global." Ini adalah cerita yang cukup umum di kalangan elit, memberikan alasan mengapa ia tidak dikenal dan mengapa ia memiliki kekayaan. Untuk mendukung cerita ini, Fei menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan dan internet, mempelajari sejarah seni, tren pasar, nama-nama seniman terkenal, dan bahkan istilah-istilah teknis yang digunakan dalam dunia lelang. Ia membaca tentang skandal-skandal seni, tentang kolektor-kolektor berpengaruh, tentang bagaimana uang kotor sering dicuci melalui karya seni.
Ia juga menyadari bahwa untuk menyusup ke sarang serigala, ia harus bisa melindungi dirinya sendiri. Yu pernah mengajarkan kepadanya beberapa dasar bela diri, hanya untuk jaga-jaga. Kini, Fei memperdalamnya. Ia mencari pusat kebugaran yang menawarkan kelas bela diri dan pertahanan diri, memastikan ia memilih tempat di mana ia tidak akan terlalu dikenali. Setiap malam, setelah berlatih berjam-jam, tubuhnya sakit, memar, dan lelah, namun ia terus mendorong dirinya. Pukulan, tendangan, kuncian, dan teknik melarikan diri menjadi bagian dari rutinitasnya. Ia tidak ingin menjadi korban lagi. Ia ingin menjadi pemburu.
Aspek lain dari transformasinya adalah manipulasi dan strategi. Fei membeli buku-buku tentang psikologi manusia, seni negosiasi, dan membaca biografi tokoh-tokoh berpengaruh yang dikenal karena kecerdasan strategis mereka. Ia belajar bagaimana membaca bahasa tubuh, bagaimana mendeteksi kebohongan, bagaimana membalikkan situasi yang mengancam. Ia berlatih mengendalikan emosinya, tidak membiarkan duka atau amarahnya terlihat di permukaan. Ling haruslah sebuah benteng yang tak tergoyahkan, sebuah enigma yang sulit dipecahkan.
Kesulitan awal dalam bersikap meyakinkan di lingkungan elit yang haus intrik adalah tantangan terbesar. Ada saat-saat di mana ia merasa canggung, kata-kata yang salah keluar dari mulutnya, atau ekspresinya gagal menampilkan ketenangan yang ia inginkan. Ia sering pulang ke motel dengan rasa frustrasi yang mendalam, merasa seperti penipu yang akan segera terungkap.
"Ini tidak mudah, Yu," bisiknya suatu malam, menatap foto Yu yang ia bawa di dompet kecilnya. "Aku harus berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku. Aku harus menekan semua yang kurasakan." air matanya kembali menganaksungai....
Duka batinnya masih ada, terkubur di bawah lapisan topeng Meylie. Terkadang, di tengah malam yang sunyi, ketika ia sendirian, air mata akan mengalir. Gambar Yu yang tersiksa akan muncul kembali, memicu amarah dan kesedihan yang tak tertahankan. Namun, setiap kali itu terjadi, ia akan bangkit, melihat ke cermin, dan menguatkan tekadnya. Air mata itu adalah bahan bakar. Duka itu adalah motivasi.
Setelah beberapa minggu, perubahan itu mulai nyata. Xiao Fei yang pemalu telah menghilang, digantikan oleh Ling yang lebih percaya diri, lebih dingin, dan lebih karismatik. Langkahnya lebih mantap, suaranya lebih terkontrol, tatapannya lebih tajam. Ia telah menciptakan sebuah dinding tak terlihat di sekeliling emosinya, membiarkan hanya sebagian kecil dari dirinya yang terlihat oleh dunia.
Target pertamanya adalah Tuan Chen, mantan manajer Yu. Berdasarkan informasi yang ia kumpulkan, Chen adalah perantara dalam konspirasi ini, lapisan tengah dalam hierarki kejahatan. Ia adalah titik masuk yang paling logis. Fei perlu mendekatinya, mengumpulkan informasi, dan menguji batas-batasnya.
Fei mulai memantau acara-acara sosial elit yang sering dihadiri oleh Tuan Chen. Ia menghabiskan sisa tabungannya untuk mendapatkan akses ke beberapa acara kecil, hanya untuk mengamati dan membiasakan diri dengan lingkungan itu. Ia belajar tentang etiket, tentang siapa berbicara dengan siapa, tentang bagaimana orang-orang berinteraksi.
Akhirnya, sebuah kesempatan muncul. Sebuah undangan untuk acara lelang seni eksklusif di galeri bergengsi 'Aurora'. Tuan Chen, menurut sumber informasi yang ia dapatkan dari kenalan-kenalan baru di dunia seni, dipastikan akan hadir. Ini adalah kesempatan emas.
Fei berhasil mendapatkan undangan itu melalui koneksi yang ia bangun di dunia seni, seorang kurator muda yang terkesan dengan "pengetahuan mendalam" Meylie tentang seni kontemporer dan "potensi investasi" yang ia tawarkan. Kurator itu tidak tahu bahwa di balik senyum tipis Ling, ada hati yang terbakar dendam.
Saat ia memegang undangan berlapis emas itu, Fei merasakan campuran antara kegembiraan dan ketakutan. Ini adalah langkah pertamanya ke dalam sarang serigala. Ia akan menghadapi orang-orang yang mungkin bertanggung jawab atas kematian Yu.
Ia kembali ke cermin, menatap pantulan dirinya. Meylie menatap balik, dengan mata yang dingin dan penuh tekad. Xiao Fei telah pergi. Yang tersisa adalah sebuah senjata hidup, sebuah wadah untuk dendam.
"Ini untukmu, Yu," bisiknya, suaranya nyaris tanpa emosi. "Aku datang."
Ia tahu, mulai saat ini, setiap langkah, setiap kata, setiap tatapan, adalah bagian dari permainan berbahaya. Dan di acara lelang itu, ia akan mulai menggoda sang serigala.