Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
Setelah sesi pengawasan yang menyesakkan di kamar Arlan berakhir, Amara mengira ia bisa kembali ke paviliun belakang untuk menenangkan hatinya yang karut-marut. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, Arlan menghentikannya dengan satu kalimat yang membuat langkahnya membeku.
"Amara, jangan kembali ke paviliun. Kemasi barang-barangmu sekarang," ucap Arlan sambil mengancingkan kembali kemejanya yang sempat berantakan.
Amara berbalik dengan wajah pucat. "T-Tuan? Apa saya diusir?"
Arlan mendengus kecil, menatap Kenzo yang kini tertidur pulas di boks bayinya. "Bukan diusir. Kau pindah ke lantai ini. Ada kamar kosong tepat di sebelah kamar Kenzo, yang juga terhubung dengan koridor menuju kamarku. Kau akan tinggal di sana mulai malam ini."
Amara terbelalak. "Tapi Tuan... Mbak Lasmi bilang semua pekerja harus tidur di paviliun belakang saat malam tiba. Saya tidak enak dengan pelayan yang lain kalau saya tinggal di lantai utama."
"Aku tidak butuh persetujuan Lasmi atau pelayan lainnya," tegas Arlan. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Amara. "Kenzo bisa bangun kapan saja di tengah malam. Aku tidak mau membuang waktu menunggumu berlari dari paviliun ke sini saat anakku kelaparan. Ini perintah, bukan tawaran."
Amara menelan ludah. Alasan itu memang sangat masuk akal secara logika, namun tinggal di lantai yang sama dengan Arlan terasa seperti menyerahkan diri ke dalam sarang singa.
***
"Beruntung sekali kamu, Mara," bisik Mbak Lasmi saat mereka mulai merapikan pakaian Amara ke dalam lemari kayu ek yang besar. "Baru kali ini ada pelayan yang diizinkan tidur di lantai utama. Ini artinya Tuan Arlan benar-benar percaya padamu untuk menjaga Tuan Muda Kenzo."
Amara terdiam sejenak, tangannya yang gemetar meremas ujung tas ranselnya yang lusuh. "Saya justru takut, Mbak. Tuan Arlan terlihat sangat menyeramkan dan... sepertinya dia benci sekali melihat saya."
Mbak Lasmi menghentikan aktivitasnya dan memegang bahu Amara dengan lembut. Ia menatap mata gadis itu dengan pandangan yang lebih teduh.
"Jangan salah paham dengan sikap diamnya, Mara. Tuan Arlan memang dingin, bicaranya sering ketus dan wajahnya tidak pernah tersenyum sejak Nyonya pergi. Tapi sebenarnya dia orang yang sangat baik. Dia hanya pria yang sedang patah hati dan merasa gagal melindungi keluarganya."
Amara mendengarkan dengan seksama, rasa takutnya sedikit berkurang.
"Lihat saja bagaimana dia memperlakukan para pekerja di sini," lanjut Mbak Lasmi. "Dia tidak pernah memotong gaji, selalu memastikan kesehatan kita, dan sangat adil. Ketegasannya itu hanya caranya untuk memastikan semuanya berjalan dengan benar demi Kenzo. Kalau dia sampai memindahkanmu ke sini, itu tandanya dia mulai menghargaimu. Jadi, bekerjalah dengan hati, ya? Jangan hanya karena takut."
Amara menarik napas panjang dan mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang demi Ibu dan adik-adik di desa. Saya akan berusaha mengerti Tuan Arlan."
"Bagus kalau begitu," Mbak Lasmi tersenyum sambil menepuk punggung Amara. "Istirahatlah, sebentar lagi malam. Kamar ini terhubung langsung dengan kamar Tuan Muda, jadi kalau dia menangis, kamu bisa lebih cepat sampai."
***
Malam harinya, sekitar pukul dua pagi, monitor bayi kembali berbunyi. Amara yang baru saja terlelap segera terbangun. Ia menyambar kain penutup dan masuk ke kamar Kenzo melalui pintu penghubung.
Namun, jantungnya hampir copot saat melihat Arlan sudah ada di sana. Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang tanpa atasan, memamerkan dada bidang dan perut berotot yang kokoh. Arlan sedang membungkuk di depan boks bayi, mengamati putranya yang mulai merengek.
"Dia bangun," ucap Arlan tenang, suaranya yang berat memecah keheningan malam.
"M-maaf Tuan, saya telat bangun," Amara segera menghampiri. Ia teringat kata-kata Mbak Lasmi bahwa tuannya ini orang baik, namun melihat tubuh atletis Arlan yang setengah telanjang di bawah remang lampu tidur tetap saja membuatnya merasa sesak napas.
"Duduklah di sofa itu. Sesuai perjanjian, aku akan mengawasi," Arlan memberikan Kenzo ke tangan Amara.
Di bawah temaram lampu yang redup, suasana terasa jauh lebih intim. Amara duduk di sofa, sementara Arlan berdiri tepat di depannya, bersandar pada pilar boks bayi sambil bersedekap. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Amara.
Amara dengan gemetar membuka kancing bajunya. Karena suhu malam yang dingin, kulitnya meremang saat bersentuhan dengan udara. Saat asinya mulai mengalir dan Kenzo menghisapnya dengan suara halus, Amara bisa merasakan tatapan Arlan yang membakar setiap inci kulitnya yang terbuka.
"Kenapa wajahmu merah sekali, Amara?" tanya Arlan pelan, suaranya terdengar lebih lembut namun tetap berwibawa.
"Dingin, Tuan," dusta Amara, padahal jantungnya berdegup kencang karena posisi Arlan yang kini mulai mendekat.
Arlan melangkah maju, duduk di tepi sofa yang sama dengan Amara. Ia sedikit menunduk, memperhatikan Kenzo yang sedang menyusu dengan tenang, namun jarak di antara wajah mereka kini hanya terpaut beberapa senti saja.
"Ternyata benar..." bisik Arlan. Tangannya yang besar terangkat perlahan, ujung jarinya mengusap setetes sisa ASI yang mengalir di sudut mulut Kenzo. Arlan menatap Amara dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menimbang-nimbang antara kewarasan dan keinginan yang mulai tumbuh di hatinya.
Amara terengah, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat tindakan berani tuannya. "T-Tuan... apa yang Tuan lakukan?"
"Hanya memastikan kualitas asupan anakku," jawab Arlan dengan suara serak dan penuh gåïråh yang tak lagi disembunyikan.