Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat yang Disebut Aman
Keputusan itu dibuat tanpa rapat panjang, tanpa perdebatan terbuka.
Matteo hanya berkata, “Siapkan rumah Danau Como,” dan semua orang langsung bergerak.
Carmela mengetahui rencana kepindahan itu bukan dari Matteo, melainkan dari Maria, yang datang ke kamarnya dengan koper kosong dan wajah serius.
“Kita berangkat sore ini,” kata Maria.
“Kita?” Carmela mengangkat kepala. “Ke mana?”
“Tempat yang lebih aman.”
Kata aman terdengar asing di telinganya.
Carmela duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan napasnya. “Aku belum bicara dengan Matteo.”
Maria berhenti sejenak. “Tuan Matteo sudah memutuskan.”
Kalimat itu—sudah memutuskan—meninggalkan rasa tidak nyaman. Carmela menatap koper itu lama, lalu berdiri dan mulai memasukkan pakaiannya perlahan, seolah jika ia bergerak cukup lambat, keputusan itu bisa berubah.
Namun tidak ada yang berubah.
—
Perjalanan menuju Danau Como berlangsung dalam keheningan.
Mobil hitam melaju mulus, diapit dua kendaraan pengawal. Pemandangan di luar jendela indah—air danau berkilau, pepohonan hijau, langit cerah. Kontras yang menyakitkan dengan perasaan Carmela yang semakin berat.
Matteo duduk di sampingnya, fokus ke depan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada percakapan ringan.
“Apa tempat ini benar-benar aman?” tanya Carmela akhirnya.
“Lebih aman dari Milan,” jawab Matteo singkat.
“Untuk berapa lama?”
“Selama diperlukan.”
Carmela menoleh. “Aku ingin tahu apa yang terjadi.”
Matteo meliriknya sekilas. “Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik.”
“Aku bukan anak kecil,” balas Carmela, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.
Matteo terdiam. Mobil terus melaju.
“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Itulah masalahnya.”
—
Rumah di tepi danau itu indah—terlalu indah untuk disebut tempat persembunyian. Bangunan batu tua dengan jendela besar menghadap air, taman luas, dan penjagaan ketat yang hampir tak terlihat namun terasa.
Begitu Carmela turun dari mobil, ia merasakan kesunyian yang berbeda. Tidak mencekam seperti rumah utama Matteo—lebih sunyi, lebih… terisolasi.
“Aku akan ke Milan besok pagi,” kata Matteo ketika mereka masuk ke dalam rumah.
Jantung Carmela berdegup lebih cepat. “Kau tidak tinggal?”
“Tidak.”
“Lalu aku di sini dengan siapa?”
“Pengawal. Maria.”
“Bukan itu maksudku,” kata Carmela pelan.
Matteo menatapnya. “Ini yang terbaik.”
“Untuk siapa?” tanya Carmela.
Matteo tidak langsung menjawab.
—
Malam pertama di rumah danau terasa panjang.
Carmela berjalan di balkon, memandangi pantulan cahaya bulan di air. Keindahan itu tidak menenangkan—ia justru merasa kecil dan sendirian.
Langkah kaki terdengar di belakangnya.
Matteo berdiri beberapa langkah jauhnya. Jasnya sudah dilepas, kemejanya terbuka satu kancing—lebih santai, namun wajahnya tetap tegang.
“Kau tidak tidur,” katanya.
“Kau juga.”
“Aku harus memastikan semuanya aman.”
Carmela menoleh, menatapnya. “Aku bukan paket yang harus disimpan di tempat rahasia.”
Matteo mendekat. “Di dunia ini, itulah caranya bertahan.”
“Dan bagaimana denganku?” suara Carmela bergetar. “Apa aku harus menerima apa pun tanpa penjelasan?”
Matteo terdiam lama. Angin danau berembus pelan, membawa aroma air dan tanah basah.
“Aku tidak ingin kau takut,” katanya akhirnya.
“Sudah terlambat,” jawab Carmela jujur.
Matteo menatapnya—lama, intens. “Aku tidak pernah berniat melibatkanmu sejauh ini.”
“Namun aku sudah terlibat,” kata Carmela. “Aku istrimu.”
Kata itu menggantung di udara.
Untuk sesaat, sesuatu berubah di mata Matteo—sebuah kilatan emosi yang cepat ditekan.
“Justru itu,” katanya pelan. “Itulah yang membuatmu berbahaya bagiku.”
—
Pagi berikutnya, Matteo benar-benar pergi.
Carmela berdiri di depan jendela, menyaksikan mobilnya menghilang di tikungan jalan. Rumah itu kembali sunyi, seolah napasnya ikut pergi bersama Matteo.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Penjagaan ketat. Jadwal ketat. Gerak Carmela dibatasi dengan alasan keamanan. Ia mulai merasa seperti burung dalam sangkar emas—dirawat, dilindungi, namun tidak bebas.
Ia mencoba membaca, berjalan di taman, menulis catatan kecil—apa pun untuk mengisi waktu. Namun setiap malam, kesunyian kembali menekannya.
Pada malam ketiga, Carmela akhirnya berkata pada Maria, “Aku ingin bicara dengan Matteo.”
Maria ragu. “Tuan Matteo sibuk.”
“Katanya aku di sini untuk aman,” balas Carmela. “Tapi aku tidak merasa aman jika aku tidak didengar.”
Maria mengangguk pelan. “Aku akan menyampaikan.”
—
Panggilan itu datang larut malam.
Layar ponsel Carmela menyala menampilkan nama Matteo.
“Halo,” katanya, suaranya pelan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Matteo tanpa basa-basi.
“Aman,” jawab Carmela. “Tapi tidak baik.”
Keheningan singkat.
“Kau marah padaku,” kata Matteo.
“Aku bingung,” koreksi Carmela. “Dan lelah.”
Matteo menghela napas. “Aku melakukan ini untuk melindungimu.”
“Aku tahu,” kata Carmela. “Tapi perlindungan tanpa kepercayaan hanya terasa seperti penjara.”
Matteo terdiam lebih lama kali ini.
“Aku tidak pandai melakukan ini,” katanya akhirnya.
“Melakukan apa?”
“Peduli.”
Carmela menutup mata sejenak. “Aku tidak memintamu berubah. Aku hanya ingin kau melihatku—bukan sebagai kelemahan, tapi sebagai manusia.”
Suara Matteo terdengar lebih rendah. “Aku akan datang besok.”
Jantung Carmela berdegup. “Benarkah?”
“Ya.”
—
Matteo kembali ke rumah danau keesokan harinya.
Kali ini, tidak ada jarak berlebihan. Tidak ada dingin yang disengaja. Ia tampak lelah—bahunya turun, matanya menyimpan bayangan panjang.
Mereka duduk di ruang tamu, berhadapan.
“Aku akan jujur,” kata Matteo. “Lorenzo menguji batas. Dia ingin melihat reaksiku.”
“Dan aku umpannya?” tanya Carmela lirih.
“Tidak,” jawab Matteo cepat. “Kau garis yang tidak boleh dia lewati.”
Carmela menatapnya. “Apa bedanya?”
Matteo terdiam.
“Aku tidak ingin kau menjauhkan aku setiap kali kau takut,” lanjut Carmela. “Jika aku harus berada di dunia ini, izinkan aku berdiri di sisimu—bukan disembunyikan.”
Matteo berdiri dan berjalan ke jendela. Punggungnya mengeras.
“Jika kau berdiri di sisiku,” katanya pelan, “kau bisa hancur.”
“Dan jika aku terus disembunyikan,” balas Carmela, “aku akan hilang.”
Matteo berbalik. Tatapan mereka bertemu—tajam, jujur.
“Aku tidak menjanjikan dunia yang aman,” katanya.
“Aku tidak memintanya,” jawab Carmela. “Aku hanya meminta kejujuran.”
Matteo mendekat. Sangat dekat. Jarak di antara mereka menyempit hingga napas mereka bertemu.
“Baik,” katanya rendah. “Mulai sekarang, kau akan tahu lebih banyak. Tapi kau harus mempercayaiku saat aku berkata: diam.”
Carmela mengangguk. “Aku bisa melakukannya.”
Matteo menatapnya lama—lalu mengulurkan tangan. Bukan untuk menguasai, melainkan meminta.
Carmela menyambutnya.
Untuk pertama kalinya sejak perjodohan itu, sentuhan mereka terasa seperti kesepakatan.
—
Di kejauhan, di kota lain, Lorenzo membaca laporan singkat.
Matteo memindahkan istrinya. Proteksi meningkat.
Lorenzo tersenyum tipis.
“Menarik,” gumamnya. “Dia mulai takut.”