NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PIKIRAN KACAU

“Sudah!” Dini meletakkan beberapa gepokan uang tunai di atas meja dengan suara yang cukup keras.

Matanya menyala penuh emosi, napasnya memburu, dan wajahnya tampak menegang.

“Bebaskan suamiku secepatnya!” Ucapnya tegas, hampir seperti perintah bukan permohonan.

Pak Bowo dan Bu Susi yang duduk di seberangnya sontak terdiam.

Mata mereka sama-sama tertuju pada tumpukan uang di atas meja yang dibungkus karet tebal, bersih, terhitung rapi. Wajah mereka kaku, tak berkedip.

Itu banyak… sangat banyak. Baru kali ini mereka melihat uang sebanyak itu di hadapan mereka.

Bu Susi bahkan sempat menelan ludah. Ia tahu pasti, sebagian besar uang itu adalah hasil menjual habis perhiasan yang selama ini ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari uang bulanan pemberian Maira.

Perhiasan yang selama ini ia banggakan, kini sudah hilang demi seorang menantunya.

Dan di situlah Maira berdiri, bersandar di pintu kamar. Lengan terlipat di dada, wajahnya tenang, namun senyumnya tipis menyiratkan makna yang tak nyaman dilihat.

“Cepat juga ya kamu mendapatkan uangnya.” Sindir Maira, nadanya santai namun menampar.

Dini menatapnya tajam, namun tak menjawab. Hatinya membara penuh emosi melihat sikap Maira—kakak tirinya.

Maira berjalan pelan ke arah meja, mengambil uang itu satu demi satu, menghitungnya sekilas lalu mengangguk.

“Oke. Besok aku ke kantor polisi untuk mencabut laporan. Terima kasih ya, uangnya.” Katanya datar, tanpa basa-basi.

Lalu tanpa menunggu tanggapan ia melangkah masuk ke kamar, dan Farid yang sejak tadi hanya berdiri menonton pun ikut mengekori Maira masuk ke kamar tanpa bicara sepatah kata pun.

Segera pintu kamar tertutup.

Suasana hening sesaat menyelimuti ruang tamu. Suara jam dinding terdengar begitu nyaring.

Dini duduk perlahan. Wajahnya menegang. Tangan di pangkuannya mengepal. Sorot matanya kosong menatap meja yang sebelumnya menjadi saksi kemarahannya…

Sementara itu di dalam kamar, Maira tengah membereskan tumpukan uang yang baru saja diserahkan Dini. Dengan tenang, ia memindahkan uang itu ke dalam brankas kecil di lemari, menyusunnya dengan rapi satu per satu.

“Em… Sayang…” Panggil Farid setelah menutup pintu kamar, suaranya pelan tapi terdengar ragu.

Meski mendengar panggilan suaminya, namun Maira tetap menyibukkan dirinya menyusun gepokan uang-uang itu ke dalam brankas.

Ia memang masih marah dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Namun Farid yang sudah terbiasa dengan sifat Maira, berpikir bahwa istrinya itu tak akan bisa marah lama-lama.

“Mai, Mas mau ngomong penting." Lanjut Farid yang kini sudah berdiri di dekatnya. “Mas boleh pinjam uang yang tadi tidak?”

Tubuh Maira langsung berhenti bergerak. Perlahan ia berbalik menghadap Farid.

“Mas serius nanya itu sekarang?” Nadanya datar, tapi tajam. “Uang yang Mas transfer ke Mbak Ana aja belum balik. Uang yang untuk bantu perempuan itu juga belum jelas. Sekarang Mas mau pinjam lagi? Dari uang proyek restoranku yang dikembalikan oleh Dini pula?”

Farid buru-buru menengahi, tak ingin Maira keburu meledak. “Mas tahu ini dadakan, tapi… kamu tahu kan Risky sekarang lagi mencoba untuk mendaftar sebagai abdi negara. Kemarin Ibu bilang ke Mas kalau dia kenal seseorang yang bisa bantu Risky untuk langsung jadi. Dia bilang butuh 50 juta. Ibu minta tolong ke Mas, dan Mas nggak ada simpanan lain… Jadi, boleh tidak uang tadi dipakai dulu?”

Maira terkekeh pelan, tapi bukan tawa yang ramah—melainkan penuh sindiran. “Risky itu adik kamu Mas, bukan adik aku." Ucapnya tajam.

“Waktu aku minta pakai tabungan untuk proyek restoran, Mas bilang itu proyek pribadiku dan suruh pakai uang sendiri. Sekarang? Mas pinjam uangku untuk urusan keluarga Mas?”

Farid mencoba menggenggam tangan Maira, berharap bisa menenangkannya. “Tapi Risky itu kan adik kamu juga, Sayang… Nanti kalau dia lolos, kamu juga yang akan bangga…”

“Adik aku?” Potong Maira dengan senyum menyeringai. “Sejak kapan? Waktu aku minta dukungan, semua bilang ‘itu urusan kamu sendiri’. Sekarang giliran butuh, semua jadi ‘urusan kita’? Jangan munafik, Mas!”

Kening Farid mulai mengkerut, emosinya mulai terpancing. “Maira!” Suasana kamar makin menegang. “Sejak kapan kamu jadi orang yang perhitungan sama keluarga sendiri?!”

“Semenjak aku dibohongin, Mas! Semenjak orang-orang mulai manfaatin aku! Semenjak aku terus-terusan dibilang pelit karena aku punya duit!” Jawab Maira lantang. Dadanya naik turun menahan emosi.

Tangan Farid mengepal kuat. Ia menatap Maira dengan wajah tegang. Beberapa detik kemudian ia mendengus, meraih jaketnya yang tergantung di belakang pintu lalu berjalan cepat meninggalkan kamar.

Suara pintu kamar dibanting keras memecah keheningan. Dini, Bu Susi, dan Pak Bowo yang masih duduk di ruang tamu sontak menoleh.

Bu Susi mengangkat alis, lalu mendesis dengan suara yang sengaja tidak diredam.

“Pasti kelahi lagi…” Ujarnya terang-terangan, nada bicaranya sarat sindiran.

Pak Bowo hanya menarik napas, memilih diam. Namun Dini justru tersenyum sinis. Senyum yang muncul bukan karena simpati… tapi karena rasa puas.

Ia menyandarkan tubuh ke sandaran sofa, lalu menyilangkan kaki dengan santai. “Wajar sih, Bu. Itu karma karena pelit dan nggak mau bantu keluarga pas lagi kesusahan, makanya rumah tangganya dipenuhi pertengkaran.

Sementara Maira yang masih di dalam kamar hanya berdiri diam, tak mengejar dan tidak juga memanggil. Ia sudah tahu pasti ke mana suaminya pergi. Rumah ibunya—tempat Farid biasa lari setiap kali mereka bertengkar.

“Bu…! Ibu!” Suara Farid menggema dari ruang tamu begitu ia masuk ke rumah ibunya.

Ia sempat mendorong pintu pelan dan menyadari bahwa pintu itu tak terkunci.

Namun tak ada sahutan yang didengarnya.

Rumah tampak sepi. Tak ada siapa-siapa di ruang depan maupun dapur. Tapi dari arah belakang, terdengar jelas suara gemericik air dari kamar mandi. Farid sempat berhenti sejenak, mendengarkan.

“Apa Ibu lagi mandi ya…?” Batinnya ragu.

Tapi ia tahu betul, ibunya hampir tak pernah mandi malam—terlebih sekarang, saat udara dingin menusuk. Farid akhirnya memutuskan untuk duduk di ruang tengah, menyalakan TV, meski pikirannya tak benar-benar tertuju pada layar.

Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka.

Langkah kaki terdengar mendekat, cepat, terburu.

“Bu, aku pinjam kamarnya ya untuk ganti baju—” Ucap seseorang, suaranya ringan dan santai sambil membetulkan lilitan handuk yang menutupi tubuh polosnya… namun ia belum melihat siapa yang ada di hadapannya.

Baru ketika ia mengangkat kepala, mata mereka bertemu.

“Mas Farid?!” Sontak Vina memekik, tubuhnya refleks mundur dengan panik.

Tapi langkahnya yang terburu-buru, ditambah lantai yang basah membuat kakinya terpeleset.

“Hati-hati!” Farid cepat-cepat bergerak menangkap tubuh Vina sebelum sempat terjatuh.

Sesaat waktu seolah membeku. Farid terdiam, tangannya menahan bahu Vina, merasakan kulit lembap dan hangat yang bukan milik istrinya. Jantungnya berdegup tak beraturan, kepalanya kosong.

Vina, yang menyadari posisinya, segera menarik diri. Wajahnya merah padam.

“Ma… maaf, Mas…” Gumamnya cepat sebelum bergegas kembali ke kamar mandi, menutup pintu rapat-rapat.

Di balik pintu, Vina bersandar. Pipinya masih panas, namun di balik rasa malu itu, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Entah kenapa, ia merasa… senang.

Sementara Farid masih terpaku di tempatnya. Ia duduk perlahan, mencoba mengatur detak jantung dan pikirannya yang mulai kacau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!