"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33. Aksara Musnah
"tolong kembalikan anakku!!" teriak seorang ibu yang meraung di halaman rumahnya
"Ada apa ini?" tanya Rehan
"Tolong! Iblis itu telah mengambil puteriku!" isak ibu itu
Nadira dan Rehan segera mencari keberadaan Aksara. Mereka melihat banyak warga yang terluka, bahkan ada yang sudah tak bernyawa.
"Kenapa Aksara sampai separah ini?" gumam Nadira
"Lihat disana!" Rehan menunjuk arah hutan larangan, dimana Aksara seperti sibuk dengan sesuatu
"Ayo cepat kita kesana!" Nadira dan Rehan segera menghampiri Aksara
"Astaghfirullah Aksara!" Teriak Rehan dan Nadira
"hahaha lezaaatttt!!!" ucap Aksara dengan mulut yang di berlumuran darah hingga ke lehernya
"Apa yang kamu lakukan?!" Rehan reflek menerjang Aksara hingga Pria berwujud iblis itu terpelanting menghantam pohon.
"Ya Allah kasihan sekali kamu" Nadira menatap sendu ke arah jasad anak perempuan yang dicari ibunya tadi.
Gadis kecil itu mungkin baru berusia 5 tahun. Namun, nasibnya berakhir tragis di tangan Aksara. Leher anak itu koyak lebar dan isi perut yang sudah kosong
"Ini sudah keterlaluan!" Nadira menatap tajam ke arah Aksara yang dihajar oleh Rehan
Namun, Aksara masih berdiri tegap tanpa sedikitpun luka ditubuhnya.
"Apa kelemahannya? Tidak mungkin dia sekebal itu" gumam Nadira yang masih memperhatikan Aksara dari kejauhan
"Nadira"
"Abi!"
"dengarkan Abi baik-baik, bunuh Aksara bagaimana pun caranya!"
"apa?! itu tidak mungkin Abi!"
"kita tidak ada pilihan lain, jika Aksara terbunuh maka semuanya akan berakhir"
"tapi abi, bagaimana bisa aku membunuhnya? lihatlah betapa terpukulnya orang tua Aksara Abi"
"tenang Nadira, Aksara akan baik-baik saja"
"maksud Abi?"
"nanti Abi jelaskan, cepat bunuh Aksara sebelum Rehan yang menjadi korban selanjutnya"
Nadira baru saja berkomunikasi dengan kiyai Syafiq melalui telepati. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Membunuh Aksara atau melumpuhkannya saja.
Jika mengingat apa yang di ucapkan kiyai Syafiq tadi, jika Aksara terbunuh maka semuanya akan berakhir dan Aksara akan baik-baik saja.
"Tapi, bagaimana caranya mengalahkan Aksara?" gumam Nadira
"dada sebelah kanan!"
"Astaghfirullah!!"
Nadira kaget bukan main ketika tiba-tiba ada suara di sebelahnya
"kalian ini kayak setan aja!" bentak Nadira
"lah memang kami setan kok" ucap Hera sambil terkikik bersama Liona
"Udah udah! Apa yang kamu maksud dada sebelah kanan?" tanya Nadira
"Kelemahan dia di dada sebelah kanan. Karena disitu letak jantungnya" ucap Liona
"masa sih? Kok jantung di kanan?" Nadira masih belum percaya
"Namanya juga iblis. coba dulu lah!" ucap Hera
Nadira memperhatikan Ke arah Aksara lagi yang barusan terkena tendangan Rehan. Ia memang melihat seperti ada cahaya kemerahan di dada sebelah kanan Aksara
"Baiklah, akan ku coba" Nadira menggenggam pedangnya erat, bersiap untuk melesat ke arah Aksara
"Rehan awasss!!" teriak Nadira
Rehan yang melihat Nadira melesat ke arah mereka, segera berpindah posisi.
syuuttt syuuutt
Wussshh wuuussh
Tranggg tranngg
Pedang Naga Nadira beradu dengan kuku panjang Aksara yang keras seperti besi. kukunya tumbuh kembali, setelah meminum darah anak perempuan yang menjadi korbannya.
"Aku harus bisa menusuk dada kanannya!" batin Nadira
"apa yang Nadira incar?" gumam Aksara
Duuaakkhh
Buughhh
"Aagghh!!"
"kakak! Kamu nggak papa?" Rehan langsung menghampiri Nadira yang terjungkal akibat tendangan Aksara
"ugghhh dadaku sesak rasanya" Nadira memegangi dadanya
"kita harus melawannya bersama kak!" ucap Rehan
"Kita harus bisa menusuk dadanya yang sebelah kanan Re. Karena disana lah kelemahannya" ucap Nadira berbisik kepada Rehan
"Baiklah! Ayo kita lawan dia! Aku akan melengahkan perhatiannya" Rehan berlari duluan ke arah Aksara yang memang menuju ke arah mereka
Sringgg sringgg
Rehan begitu lincah bergerak kesana kemari untuk membuat Aksara bingung. Ia memutar tubuhnya dan kaki kanannya langsung menghantam tepat ke leher Aksara.
Namun, sebelum kaki Rehan mendarat di leher, Aksara lebih dulu menangkap kaki itu dan menancapkan kukunya yang beracun di betis Rehan
Crassshhhh
Aaagghhhhhh
"Hahaha kau hanya akan mati sia-sia ditanganku!" Aksara terbahak-bahak dengan menancapkan kukunya lebih dalam
"Aaaggghhh kakak!!!!" teriak Rehan yang kesakitan
"Aghhh Rehan!!!!" Nadira masih merasakan sakit di dadanya, namun ia tidak bisa membiarkan Rehan yang terluka akibat kuku beracun Aksara.
"Lepaskan Rehan!!! Hiyaaaa!!
Wuusshhh wuusshh
Craashh crassshhhh
Nadira menyabetkan pedangnya bertubi-tubi ditubuh Aksara. Namun, tidak menimbulkan luka ataupun goresan sedikit pun di tubuh Aksara. Seolah-olah kulitnya sangat tebal.
"Aaagghhh kakak aku sudah- tida..k sanggup"
Brughhh
"Rehaannn!!"
Hahahahahah
Aksara tertawa karena satu musuhnya tumbang. Ia menghempaskan tubuh Rehan begitu saja, dan beralih ke arah Nadira yang masih menatap Rehan dengan mata berkaca-kaca.
"Kau keterlaluan Aksara!!" teriak Nadira
"Hahahaha kau penyebabnya Nadira!! kau malapetakaaa!!!!!" suara Aksara bergemuruh hingga sedikit mundur ke belakang
"Tidaaakkk!!! Aku bukan malapetaka!!" Nadira menatap tajam Aksara dan langsung menyerangnya dengan membabi buta.
Aksara sendiri kegirangan karena tinggal Nadira sendiri. Ia membayangakan meminum darah Nadira yang akan membuatnya abadi
"Ini saatnya kita menolong Nadira Her" ucap Liona
"Kurasa tidak, Nadira mampu melawannya" ucap Hera menatap Nadira yang menyerang Aksara dengan brutal
"Apa tidak beresiko?" tanya Liona yang cemas
"tenang saja, Nadira akan baik-baik saja. Yang mengkhawatirkan malah pria itu" Hera menunjuk Rehan yang tergeletak tak sadarkan diri
"Racun dari kuku Aksara tidak bisa di cegah. ia akan menyebar cepat" ucap Hera
"apa maksudmu, dia akan mati?" Tanya Liona pelan
"Hanya Tuhan yang menentukan hidup mati Seseorang, tapi jika melihat itu. Kurasa mustahil dia selamat"
Hera dan Liona memang memiliki kemampuan. Namun mereka tetap tidak bisa sembarangan menyentuh manusia. tetap ada batasan bagi mereka. Bahkan, jika semua sudah berakhir, maka mereka berdua akan meninggalkan dunia ini. dan melanjutkan urusan mereka di tempat yang seharusnya.
wuuuhhss wuuuhh
Craaashhh Craasshhh
"musnahlah kau iblis!!!!!"
Craakkk
"Tidaaakkkk!!!
Jleebbb
Aaaghhhhhh
Nadira berhasil menusuk dada kanan Aksara, meski awalnya ia sempat terkejut karena dada Aksara sangat keras. Namun ia tetap menekan pedangnya dengan menyalurkan tenaga dalam.
"maafkan aku Aksara!"
Tes
Tes
Nadira menangis karena melihat kondisi Aksara yang mengenaskan. Dada kanannya koyak akibat tusukan pedangnya. Sekujur tubuh nyaris hancur karena terbakar akibat pedang Naga.
Perlahan, tubuh Aksara yang berwujud Iblis itu hangus dan menjadi debu.
"Semoga apa yang diucapkan kiyai Syafiq benar. Jika kamu akan baik-baik saja" gumam Nadira
"Eh Rehan!!!" Nadira menghampiri Rehan dan memeriksa nadinya
"Ya Allah Rehan! Kumohon bertahan lah!" Nadira merasakan denyut nadi Rehan sangat lemah
"Aku akan membawamu ke tempat Abi dan Ki Satya"
"bertahanlah Rehan!" Nadira menangis sambil memapah Tubuh Rehan yang lebih tinggi darinya
"biar kami bantu Nadira" Liona dan Hera menggunakan kekuatan mereka untuk teleportai ke Rumah Warisan.
Hingga hanya beberapa detik saja, mereka sudah sampai disana. Nadira tak menyangka jika disekitar Rumah Warisan yang nyaris hancur itu, sudah berkumpul banyak orang.
"kenapa mereka menatapku seperti itu?"