Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa?
Mak Cik Syam menoleh, menghentikan kerjaannya. Meletakkan wadah berisi jagung ke bawah, lalu mencuci tangannya di kran air. Wanita paruh baya ini melangkah, menuju pohon mangga dimana Norma duduk di bangku, dirinya ikut mendudukkan diri.
"Jam berapa?" Tanyanya.
"Pukul setengah delapan Mak Cik, yang artinya kita di rumah pukul setengah tujuh" jawab Norma, matanya menatap kosong ke ribuan pohon jeruk yang buahnya mulai matang.
"Iyalah. Nanti Mak Cik temani" balas Mak Cik Syam, tidak banyak tanya karena mengerti perasaan ibu hamil ini sedang kalut.
"Sudah hampir magrib Nor, ayo masuk rumah. Tak baik perempuan hamil berada di luar rumah." ucapnya seraya beranjak.
Norma mengangguk, ikut beranjak. Lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke rumah panggung.
Tiba di dalam rumah, tak lama terdengar sayup adzan berkumandang menandakan panggilan pada umat muslim untuk melaksanan ibadah magrib.
Norma bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Setelahnya mengambil wudhu.
Setengah jam kemudian dirinya telah selesai melaksanakan kewajiban, pun berdo'a meminta ketenangan, kelapangan hati serta kelancaran dalam proses sidang esok hari. Norma tak lagi berharap kembali pada Syamsul, dirinya sudah ikhlas jika mereka akhirnya berpisah.
Hati nya juga telanjur kecewa dan sakit, di hijabnya sedemikian rupa oleh kedua mertua, adik ipar serta Syamsul, hingga harga dirinya terjun bebas. Penghinaan di depan khalayak ramai membuat mentalnya down, tapi Norma termasuk tangguh karena bisa menekannya agar tetap waras.
Mukena di taruh di gantungan, lalu Norma duduk di sisian ranjang. mengambil ponsel yang satu hari hanya tergeletak. Iya berjalan keluar, duduk di karpet di ruang televisi.
Ting
.
Iya mengernyit heran, melihat Notifikasi dari pengirim langka ini. Ya, Mariah mengirim pesan padanya. Segera Norma buka karena penasaran.
_Norma, aku masih berbaik hati padamu. Jika kau ingin bertemu dengan Nuri, besok setelah sidang datanglah ke rumah. Jangan lupa bawa makanan lezat seperti yang kita makan tempo hari di hunian Syakir tua itu! Anggap saja sebagai terima kasih_
Netra Norma berbinar. Setelah beberapa hari tidak bertemu putri nya, akhirnya kesempatan itu datang padanya. Tanpa ada rasa curiga, Norma berniat menemui sang anak.
"Nor" Mak Cik Syam datang membawa nampan. Di atasnya ada sepiring lempeng sagu, dan sepiring singkong rebus(Makanan khas Melayu, Riau)
"Kapan pula Mak Cik buat lempeng ni?" Norma menaruh ponselnya ke nakas.
"Belum lama, buat cuma dua, jadi tak memakan waktu lama. Mari makan selagi masih hangat" ucapnya, segera di hidangkan di atas karpet.
"Sudah lama tak makan lempeng dan ubi rebus, di colek pula dengan sambal dan ikan asin. Lemak betul lah Mak Cik" ucap Norma senang, mencocol lempeng sagu ke sambal.
"Iya Nor. Selama tinggal di sini Mak Cik jarang buat lempeng. Kalau ubi rebus sering juga. Kalau lempeng bahannya susah di dapat, sementara yang menemani Mak Cik belanja ya Prakoso" balasnya.
Norma mengangguk setuju, karena sagu di kota jarang di temui.
.
****
"Nuri, mari sini dekat Nek Iyah!" ucap Mariah meminta Nuri mendekatinya.
Nuri yang sedang melukis, menoleh, membenahi peralatan lukisannya. Lalu beranjak, berjalan mendekati neneknya.
Gadis kecil ini tidak seberapa takut, karena Syamsul ada di rumah, jadi Mariah selalu bertutur kata lemah lembut pada Cucu nya ini demi membuat Nuri betah tinggal di rumah ini.
Setiap libur ujung Minggu juga tak jarang Daria membawa gadis kecil itu jalan-jalan. Mentraktir nya makanan enak versi anak-anak, apa lagi jika bukan makanan Frozen. Membawa ke wahana bermain kelas rendah.
"Ada apa Nek?" tanyanya duduk di kursi sebelah Mariah.
"Nenek ada kabar gembira untuk Nuri, tapi Nuri sambil pijit kaki Nenek. Mau?" tanyanya.
Nuri mengangguk tanpa menjawab, beralih duduk di lantai, memijat kaki Mariah.
"Nuri rindu dengan Mak Norma kan?" tanyanya memancing, Nuri mengangguk cepat, mata berbinar-binar penuh kerinduan.
"Besok siang Mak Nuri akan menemui Nuri, membawa makanan kesukaan Nuri" ucapnya enteng.
"Apa?! Kenapa Ibuk tak beritahu aku terlebih dahulu?" Syamsul yang sedang asik berkirim pesan pada selingkuhannya, beranjak, berkacak pinggang " Tidak!. Aku tak mengizinkan wanita binal itu bertemu putri ku!" ucapnya berang.
"Mamak bukan wanita gatal!" pekik Nuri.
"Diam kau! Anak kecil tahu apa? Mak mu tu sudah menjual dirinya pada lelaki kaya, tega meninggalkan mu" Syamsul mencuci otak anaknya.
"Tidak, Mamak tidak begitu!" balas Nuri kekeuh.
"Syamsul, jangan bicara kasar pada darah daging mu!" ucap Mariah marah.
"Ini fakta Buk. Kalau memang betul perempuan durjana itu datang kesini, kau lihat saja besok Nuri, perempuan yng kau panggil Mamak tu akan datang bersama pria tua" Syamsul berjalan menuju kamar, membanting kasar pintu.
Nuri terlonjak kaget, wajahnya memerah, tapi tidak menangis. Dalam hati bertanya apa benar sang ibu seperti yang Ayahnya ucapkan...
"Sudah, jangan dengarkan ucapan Ayah mu. Dia sedang penat" Mariah berusaha membujuk Nuri.
"Penat apa nya Nek? Sedari pagi ayah hanya di rumah, bermain ponsel, tersenyum sendiri menatap layar" ucap polos Nuri.
'Anak ini!' batin Mariah geram, kedua tangan mengepal erat di sisi kiri kanan daster.
"Tapi apa betulan yang di katakan ayah tadi Nek?" tanya Nuri berharap itu hanyalah karangan sang ayah.
"Nek Iyah juga kurang tahu. Besok Jika melihat ada orang asing menemani Mamak mu, jangan tanya apa pun. Nanti takut dirinya bersedih hati" pesan Mariah mengusap surai cucunya.
"Jadi benar apa yang di katakan Ayah?" tanya memelas.
"Mungkin ada benarnya, tapi itu hanya tebakan ayah mu kan. Belum tentu kebenarannya. Ya sudah, Nenek kebelakang dulu" Mariah beranjak, menuju ke dapur.
*
"Pandai betul Ibuk berakting, dengan nada lemah lembut ibu mengompori anak sialan itu!" Daria tersenyum sinis.
"Kau harus belajar dari Ibu, jangan hanya emosi saja bawaanmu menghadapi anak itu. Yang ada dirinya takut, tak betah di rumah ini, akhirnya Syamsul memarahi mu" ucapnya.
Kedua ibu dan anak itu tertawa pelan dengan ide licik mereka. Baik Daria maupun Mariah sudah tak sabaran menunggu esok tiba.
.
Norma, Mak Cik Syam baru tiba di kampung Duku setelah dari pengadilan. Bersamaan dengan mobil mewah berhenti di halaman rumah keluarga Syamsul.
"Jadi ini perempuan perebut suami orang, menggadaikan rahim demi beberapa lembar uang?!"
.
.
Jangan lupa like dan komentarnya 🙏