NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Begitu Zhea menutup pintu ruang kerja Zavier di belakangnya, suasana lantai empat langsung bergemuruh oleh bisik-bisik pelan.

Tak ada yang berani berbicara keras-keras, tapi sorot mata para karyawan sudah cukup menjelaskan, bahwa mereka semua menyaksikan adegan yang baru saja terjadi.

"Wah, akhirnya Bu Zhea turun tangan juga untuk memperingatkan si Elara," bisik seorang staf pada temannya di meja sebelah.

"Iya, biarin aja. Supaya tuh sekretaris ganjen kena mental. Dari dulu juga udah kelihatan, kan? Tiap kali Pak Zavier lembur, dia pasti masih di sini. Katanya 'nyiapin laporan', tapi laporan apa yang perlu disiapin sampai malam?" sahut yang lain dengan nada sinis.

Beberapa dari mereka menahan tawa kecil, meski jelas rasa jengkel dan iri selama ini akhirnya menemukan pelampiasan.

Elara memang bukan sosok yang disukai banyak orang. Dia terlalu akrab dengan atasan, terlalu percaya diri, dan sering mengabaikan rekan kerja lain.

"Kasihan juga sih, dia. Tapi ... syukurin," gumam seorang staf keuangan sambil menata map di mejanya. "Kalau udah main api di tempat kerja, cepat atau lambat pasti ketahuan juga."

Sementara itu, Elara masih berdiri di dekat lorong, wajahnya pucat pasi. Ia menunduk, pura-pura sibuk menatap layar ponsel hanya untuk menghindari tatapan-tatapan tajam di sekitarnya.

Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah lantai kantor menolak pijakannya.

Bisikan-bisikan di belakangnya semakin lirih namun menusuk ... setiap kalimat adalah pengingat akan aib yang kini mulai terbuka.

"Baru kali ini, lihat suasana kantor serasa nonton drama korea," bisik seorang staf laki-laki sambil menahan tawa kecil.

"Dan pemeran utamanya baru aja kehilangan panggung," balas yang lain, senyum sinisnya nyaris tak bisa disembunyikan.

Lantai empat yang biasanya sibuk dan kaku, kini dipenuhi desas-desus dan rasa lega tersembunyi.

Mereka tahu, badai belum berakhir ... karena di balik pintu ruang kerja Zavier, pertarungan sesungguhnya baru saja akan dimulai, mungkin.

Zhea membuka pintu ruang kerja suaminya perlahan, seolah tak terjadi apa-apa di luar sana. Aroma ruangan itu masih sama seperti biasanya ... campuran wangi kopi, kertas, dan sedikit parfum maskulin yang sangat dikenalnya.

Zavier yang sedang berdiri di depan meja, tampak sedikit terkejut melihat istrinya muncul tiba-tiba. "Sayang, kok kamu ke sini?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang sempat melintas di wajahnya.

Zhea tersenyum lembut, nyaris seolah tak menyadari apa pun. "Iya, Mas. Aku bawain makan siang," ujarnya tenang, meletakkan kotak makan di atas meja kerja suaminya. "Kamu pasti belum sempat makan, kan?"

Zavier menelan ludah pelan, matanya sempat melirik ke arah pintu ... seolah takut Elara berpapasan dengan istrinya.

Tapi Zhea tidak menyinggung apa pun. Ia hanya membuka tutup wadah satu per satu, menata lauk dengan hati-hati di piring kecil yang disiapkan dari rumah. "Lihat, Mas," katanya lembut, "Aku masak ayam lada hitam kesukaan kamu. Sama jus jeruk dingin biar segar."

Zavier mencoba tersenyum, tapi gerakannya kaku. "Kamu nggak perlu repot-repot datang ke kantor, Sayang. Aku bisa makan di luar, kok."

Zhea menatapnya dengan senyum tulus, penuh kelembutan yang terasa justru seperti tekanan halus. "Aku tahu. Tapi aku kangen kamu." Nada suaranya pelan, nyaris manja, tapi tatapan matanya menembus ... menatap dalam, membuat Zavier nyaris tak bisa menahan rasa cemas yang tiba-tiba menyesak di dada.

Zhea kemudian menarik kursi untuk suaminya. "Duduklah, Mas. Aku mau lihat kamu makan. Setelah itu, baru aku akan pulang."

Zavier menurut, mengambil sendok. Tangan yang biasanya mantap kini tampak gemetar halus. Setiap suapan terasa seperti ujian ... terutama di bawah tatapan lembut istrinya yang begitu tenang. "Arin udah sampai? Zheza sama siapa di rumah?" Dia bertanya demi meminimalisasi kegugupan.

"Udah, Mas. Sama Arin." Zhea sendiri hanya duduk di sofa kecil di sisi meja, menatapnya penuh kasih, seolah tak ada badai di balik senyum itu.

Padahal di dalam hatinya, ombak sedang menggulung hebat. Ia tahu semua yang terjadi. Ia tahu siapa yang baru saja keluar dari ruangan itu. Ia juga tahu apa yang baru saja suaminya lakukan bersama Elara.

Tapi bukan saatnya meledak. Belum.

Hari ini, ia masih menjadi Zhea yang lembut dan penuh kasih.

Besok ... saat pesta kejutan itu tiba ... dialah yang akan membuat kejutan sebenarnya.

_____

Elara berjalan cepat menyusuri koridor, matanya panas, napasnya tersengal. Bisikan-bisikan di belakangnya terasa seperti duri yang menusuk punggungnya satu per satu. Ia terus melangkah tanpa arah sampai akhirnya pintu toilet wanita terbuka dengan keras.

Brak!

Suara pintu yang dibanting memantul di ruangan kosong itu. Elara berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri. Wajah cantik yang kini kusut, dengan riasan mata yang mulai luntur oleh amarah dan rasa malu.

Tangannya gemetar. Ia memukul wastafel marmer di depannya dengan keras. "Perempuan itu!" desisnya pelan tapi tajam. "Sok cantik dan sok berkuasa. Berani-beraninya dia mempermalukan aku di depan semua orang!" geramnya meradang.

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap pantulan dirinya lagi. Tatapan itu bukan lagi milik sekretaris yang lembut dan ramah, melainkan seseorang yang tersulut rasa dendam.

"Zhea pikir dia siapa?" gumamnya dengan nada getir. "Cuma karena dia istri sah, dia bisa seenaknya datang dan merendahkan aku begitu aja?" Air matanya menetes, tapi segera ia hapus dengan kasar. Ia menegakkan tubuh, wajahnya mulai kembali kaku. "Tidak. Aku nggak akan biarin dia menang."

Elara menatap dirinya sendiri dalam cermin, suaranya kini menjadi janji gelap yang terucap di antara giginya yang terkatup rapat. "Dengar, Zhea ... cepat atau lambat, aku akan menyingkirkan kamu dari hidup Zavier. Aku yang lebih pantas di sampingnya. Aku yang tahu cara membuat dia bahagia. Aku jauh lebih sempurna dari dirimu yang gendut dan bawel!"

Ia menarik napas panjang, lalu menghapus sisa air mata di pipinya.

Sekejap kemudian, wajah itu berubah ... dari marah menjadi tenang, dari kacau menjadi tersenyum tipis. Senyum yang berbahaya. "Kalau permainan ini mau dimulai, aku siap," katanya pelan, lalu merapikan rambutnya dan melangkah keluar dari toilet dengan dagu terangkat tinggi.

Di luar, dunia kantor kembali tampak biasa. Tapi di balik setiap langkah Elara, ada niat yang perlahan tumbuh menjadi bara.

_____

Zhea melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Sudah lewat pukul satu siang. Ia menutup kotak makan yang kini kosong di depan Zavier, lalu berdiri pelan sambil tersenyum lembut.

"Kalau begitu aku pulang dulu, ya, Sayang. Kasihan Arin, takutnya dia kewalahan menjaga Zheza. Kamu lanjutkan kerjanya," ujarnya tenang, nada suaranya tetap lembut seperti biasanya.

Zavier mengangguk cepat, sedikit terlalu cepat. "Iya, iya. Makasih ya udah bawain makan siang. Enak banget, kayak biasa." Ia berusaha tersenyum, tapi terlihat jelas kelegaannya ketika Zhea mulai melangkah menuju pintu.

Zhea menoleh sejenak sebelum keluar. "Jangan lupa makan buahnya juga, ya. Aku taruh di sebelah laptop kamu."

"Siap, Ibu Chef," jawab Zavier sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

Zhea hanya tersenyum samar. "Sampai  jumpa nanti malam, Mas." Lalu ia menutup pintu perlahan dan menghilang di baliknya, meninggalkan aroma lembut melati yang masih tertinggal di ruangan itu.

Begitu suara langkah istrinya menjauh, Zavier akhirnya mengembuskan napas berat. "Syukurlah ... akhirnya dia pulang juga," batinnya, sambil mengusap wajahnya pelan.

Rasa cemas dan lega berbaur di dadanya. Tadi, tatapan mata Zhea memang tampak hangat ... terlalu hangat, sampai membuatnya tidak yakin apakah itu benar-benar kasih sayang, atau justru sesuatu yang lain. Namun, ia memilih untuk menepis pikiran itu.

"Zhea nggak mungkin tahu," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri. "Dia kan sangat percaya dan cinta padaku." Ia kemudian duduk kembali di kursinya, menatap tumpukan berkas di meja, berusaha menenangkan pikirannya yang masih kacau.

Tapi entah mengapa, bayangan tatapan mata Zhea sebelum keluar ruangan terus menghantuinya ... tatapan yang lembut, tapi terasa seperti menyimpan sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuatnya merinding tanpa tahu sebabnya.

_____

Mobil melaju pelan di jalan utama, melewati deretan pepohonan yang bergoyang ringan diterpa angin siang. Dari balik kaca jendela, Zhea menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pandangannya kosong namun tenang, sejenis ketenangan yang justru lahir dari luka yang sudah terlalu dalam untuk ditangisi.

Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. Senyum yang tidak hangat ... tapi juga tidak pahit.

Lebih mirip seperti senyum seseorang yang akhirnya paham, dan berhenti berharap.

Di kursi penumpang di sebelahnya, tas kecil berisi ponsel dan dompetnya tergeletak. Di atasnya, selembar foto kecil keluarganya tampak sedikit miring ... foto yang diambil dua bulan lalu, saat ia masih percaya seribu persen pada Zavier. Saat ia merasa bahwa Zavier hanya mencintai dirinya.

Zhea merapikannya, menatap foto itu lama-lama. "Pandai sekali kamu, Zavi ..." bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di dalam kabin mobil. "Bermain dengan dua wajah dan masih bisa terlihat sempurna di mata semua orang."

Ia menoleh ke kaca spion, melihat bayangan wajahnya sendiri ... wajah yang tampak tenang, tapi matanya memantulkan kilat dingin.

Tidak ada air mata. Tidak ada amarah meledak. Hanya tekad yang perlahan tumbuh di dalam dada.

Zhea menggenggam kemudi lebih erat. "Baiklah ..." katanya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Kita lihat siapa yang akan tertawa paling akhir, Zavier."

Mobil pun terus melaju, menembus panas matahari Jakarta yang terik.

Dan di balik kaca bening itu, seorang perempuan yang pernah begitu lembut kini mulai berubah ... menyusun rencana dengan hati yang dingin, namun langkah yang pasti.

1
Ragil Saputri
penyesalan emang selalu terlambat datangnya, moga zavier bener" berubah, setelah kehilangan semua yg dia sayangi.. itulah cerita kehidupan seorang zavier
growtopia agamen cool
tapi suka ceritanya
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
growtopia agamen cool
serem ya pembalasannya, nggak tega, walau elara jahat
Ama Apr: iya kk🥲
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
Ama Apr: siapl
total 1 replies
Yuningsih Nining
si elara keluar dari prodeo ketemu singa maung yang lebih mengerikan
Ama Apr: hooh kk🥲
total 1 replies
Yuningsih Nining
2-2 nya sama² punya misi pembalasan dendam, yng sangat Ngeri nya Elena jadi korban yampun revan jahat nya gak ktulungan ini
Ama Apr: kk nya tuh yg jahat🥲
total 1 replies
Les Tary
Revan dibikin kena karma juga Thor dia ga pandang bulu wanita baik baik juga dijual sampai tragis
Ama Apr: iya kk, nanti pasti ada hukumannya
total 1 replies
Yuningsih Nining
terNyata si Revan dgn segala niat terselubungbbuat si elara Ngeriii adek si elara Elena dia korbanin
Revan psikopat
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
nunik rahyuni
mala klo org luar ni banyak yg g sunat ...byuhhhhhhh tropett nya berliku liku ela🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, emang bener berliku2 kk? 🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
melihat org nya model spt itu.bagaimana terus trompet nya thoooooor
modyar kowe ela entek sesak jebol dpt nya model galon air/Toasted/
nunik rahyuni: jgn di bayangkan made in afrika bikin hanccur gua besarang..klo made in indonesia sdh sesuai ukuranya🤣🤣🤣
total 2 replies
zahrahaifa
so' nolak lu lacur... waktu msh dipenjara bukannye lu udeh gatel pengen barang elu dimasukin karna ga puas pke tangan... iye kan.... skrng udeh ada yg super big malah takut
Ama Apr: munafik dia🥲
total 1 replies
Endang Mulyawati
Alhamdulillah taro hamil
Ama Apr: iya🫰 kk
total 1 replies
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
sukurin, jangan ad yg menolong, itu balasan unt elara yg sdh merusak smua kebahagiaan anak kecil yg msh butuh kasih sayang ayahnya, siksa lebih lagi van, bikin cerita yg lbh psiko lg thor unt perempuan licik, jahat, bengis dan tak tau dr spt elara it thor, hrsnya ibuknya jg dijadikan placur
Ama Apr: hehe, ditunggu sj kk, ada kejutan lagi kok🤭
total 1 replies
Eka Novariani
setuju
Ama Apr: sipp🫰🫰
total 1 replies
nunik rahyuni
mudah mudahan lekas taubat dan ada yg menolong entahnorg afrika itu kah yg mau membeli dan memelihara untuk pribadi..itu lebih baik dr pd di tangan revan
Ama Apr: aduh kk, ngakak wae komennya. jalan kali ah berliku🤣
total 5 replies
Eka Novariani
sedih banget masa lalu Revan... sekarang terima lah nasibmu Elara hanya Tuhan yang bisa menolongmu..
Ama Apr: huhu iya
total 1 replies
Lee Mbaa Young
elara blm nyadar ya pdhl karma nya smp adiknya jd korban.
Ama Apr: iya, biasalah mantan lakor satu ini agak2 nggak nyadar diri
total 1 replies
Les Tary
Revan bener" kejam sakit hatinya sama elara...elena ga tahu apa" ikut dijual
Ama Apr: begitulah kk🥲
total 1 replies
Lisna Saris
mending elena di matikan saja deh Thor bukan benci tapa nda tega anak gadis baik baik yg berjuang menyelamatkan hidupnya dari kerakusan orang tuanya malah menderita menerima Karama yg bukan dari dosa yg dia lakukan,dan maga Revan dapat karma yg lebih pedih karena telah menghancurkan banyak anak gadis orang,
growtopia agamen cool: iy jgn sadis sama elena thor
total 6 replies
Queenfans Angelfans
malas baca kalo soal ttg elara sama si revan ini
Queenfans Angelfans: bacanya ada rasa gk teganya aku Thor meski sejahat apapun org itu
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!