NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebersamaan

Suasana pagi di paviliun itu terasa beda banget. Nggak ada lagi ketegangan yang kaku atau suara bentakan yang biasanya bikin asisten rumah tangga gemeteran. Udara pegunungan yang sejuk masuk lewat jendela-jendela besar yang sengaja dibuka lebar-lebar sama Almira. Bau embun ketemu aroma kopi dan minyak telon bayi jadi kombinasi yang paling bikin betah.

Alex duduk di sofa santai ruang tengah, kakinya selonjoran di atas bean bag. Dia nggak pakai setelan jas mahal atau kemeja kaku kayak biasanya. Cuma kaos oblong hitam polos sama celana pendek. Rambutnya yang biasa disisir klimis sekarang agak berantakan, bikin dia kelihatan lebih "manusiawi".

Di pangkuannya, Adrian lagi sibuk narik-narik kancing kaos ayahnya sambil ngoceh nggak jelas. Bayi itu baru aja mandi, badannya wangi bedak, bikin Alex nggak tahan buat nggak nyiumin puncak kepala anaknya terus-terusan.

"Duh, jagoan Ayah... kancingnya jangan dimakan dong. Emang enak?" gumam Alex sambil ketawa kecil. Dia pelan-pelan ngelepasin tangan mungil Adrian dari kaosnya.

Almira yang baru keluar dari dapur bawa nampan isi bubur bayi dan camilan buat Alex cuma bisa senyum-senyum ngelihat pemandangan itu. Rasanya kayak mimpi. Pria yang dulu dinginnya minta ampun, sekarang bisa selembut itu sama anaknya.

"Nih, waktunya Adrian makan. Ayah juga harus ngemil biar kuat latihannya nanti," kata Almira sambil duduk di lantai, di depan mereka berdua.

Alex natap Almira, matanya nggak lagi tajam penuh perintah. "Sini, biar aku yang suapin Adrian."

Almira agak kaget. "Eh? Yakin? Nanti bajunya kotor semua loh kena belepotan bubur."

"Nggak apa-apa. Kan ada mesin cuci. Sini, aku mau coba," paksa Alex sambil minta mangkuk buburnya.

Akhirnya, sesi makan pagi itu jadi drama yang kocak. Alex yang biasanya pegang pulpen miliaran rupiah, sekarang kelihatan kikuk banget pegang sendok bayi plastik warna biru. Adrian nggak bisa diam, tangannya ke mana-mana, dan bener aja—dalam tiga menit, pipi Adrian, tangan Alex, bahkan lantai marmer itu udah kena noda bubur beras merah.

"Tuh kan, apa aku bilang," Almira ketawa sambil nutup mulutnya.

"Sst, diem. Ini strategi namanya. Emang sengaja biar Adrian aktif," kilah Alex sambil ngelap pipi Adrian pakai tisu, tapi malah bikin buburnya makin rata ke mana-mana.

"Strategi apaan? Itu mah berantakan, Alex!" Almira akhirnya turun tangan. Dia ngambil tisu dari tangan Alex, terus pelan-pelan ngebersihin muka anak dan tangan suaminya.

Jarak mereka jadi deket banget. Alex bisa nyium aroma sabun dari kulit Almira. Dia natap istrinya itu lekat-lekat. Almira yang ngerasa diperhatiin langsung nunduk, pipinya agak merona.

"Makasih ya, Al," bisik Alex tiba-tiba.

Almira dongak. "Buat apa?"

"Buat semuanya. Buat sabar ngadepin aku yang kayak monster kemarin-kemarin. Buat nggak pergi waktu aku usir. Dan buat kasih aku anak selucu ini," suara Alex kedengaran tulus banget, nggak ada nada sombong sedikit pun.

Almira diem sebentar, terus dia megang tangan Alex yang masih megang sendok. "Kita kan udah janji. Susah senang bareng-bareng. Lagian, aku tahu kok di balik sifat galak kamu, aslinya kamu itu cengeng kalau soal keluarga."

"Eh, enak aja! Siapa yang cengeng?" protes Alex nggak terima, tapi ujung-ujungnya dia ikut ketawa juga.

Selesai makan dan berbenah, Alex minta bantuan Almira buat pindah ke taman belakang. Dia nggak mau pakai kursi roda. Dia pengen jalan pelan-pelan pakai tongkatnya, dibantu rangkulan Almira di bahunya.

Di taman, Almira udah gelar karpet tebal di atas rumput Jepang yang rapi. Mereka duduk bertiga di sana, di bawah pohon kamboja yang lagi berbunga. Adrian ditaruh di tengah, dibiarin merangkak-rangkak ngejar mainan bolanya.

"Al, sini deh duduk deketan," panggil Alex.

Almira geser duduknya sampai nempel ke bahu Alex. Alex ngerangkul pinggang Almira, narik dia ke pelukannya. Mereka berdua nonton Adrian yang lagi asyik sendiri.

"Kamu pernah bayangin nggak kita bakal kayak gini?" tanya Alex sambil nyandar di pohon.

"Jujur? Nggak pernah. Dulu aku cuma mikir gimana caranya bisa bertahan hidup di rumah kamu tanpa kena semprot setiap hari," jawab Almira jujur banget, bikin Alex ngerasa agak tertohok tapi sadar diri.

"Maafin aku yang dulu ya. Aku emang brengsek banget waktu itu. Mikirnya cuma kerja, uang, sama harga diri. Aku nggak ngerti kalau kebahagiaan itu bentuknya sesederhana ini. Cuma duduk di rumput, liatin anak main, sama ada kamu di samping aku."

Almira nyandarin kepalanya di bahu Alex. "Iya, aku udah maafin kok. Yang penting sekarang kamu udah berubah. Oh iya, gimana kaki kamu? Masih pegel?"

"Lumayan. Tapi tiap liat Adrian lari-larian, aku jadi punya motivasi buat cepet sembuh. Aku pengen nanti bisa ajak dia main bola, lari-larian di lapangan, nggak cuma nontonin dia dari kursi roda."

Tiba-tiba Adrian merangkak ke arah kaki Alex. Dia pegangan ke lutut ayahnya, terus pelan-pelan nyoba buat berdiri. Kakinya yang mungil masih gemeteran, mirip banget kayak Alex pas lagi latihan jalan.

"Eh, liat! Adrian mau berdiri!" seru Almira semangat.

Alex nahan napas. Dia nggak berani gerak, takut Adrian kaget terus jatuh. Dia cuma nyiapin tangannya di sisi badan Adrian buat jaga-jaga.

"Ayo, Jagoan... Ayah aja bisa, masa kamu nggak," bisik Alex nyemangatin.

Adrian berhasil tegak sebentar, terus dia ketawa lebar nunjukin dua gigi bawahnya yang baru tumbuh, sebelum akhirnya "buk!" jatuh terduduk lagi.

Alex langsung ngangkat Adrian, meluk dia tinggi-tinggi ke udara. Suara tawa Adrian pecah, nyampur sama suara tawa Alex dan Almira. Di momen itu, status "Tuan Besar" dan "Pelayan" bener-benar lenyap. Yang ada cuma satu keluarga kecil yang lagi nemuin serpihan kebahagiaan mereka yang sempat hilang.

"Aku sayang kalian," ucap Alex pelan sambil nyium pipi Adrian, terus beralih nyium kening Almira lama banget.

Pas mereka lagi asyik-asyiknya bercanda, tiba-tiba Rendy dateng dari arah dalem rumah. Mukanya kelihatan nggak enak banget, kayak orang yang baru aja liat berita buruk. Dia bawa tablet di tangannya.

"Maaf, Tuan... maaf mengganggu waktunya," kata Rendy ragu-ragu.

Alex hela napas panjang. Dia sebenernya pengen banget marah karena momen indahnya keganggu, tapi dia liat muka Rendy yang serius banget. "Ada apa, Ren? Kan aku udah bilang jangan bahas kerjaan dulu."

"Ini darurat, Tuan. Pihak dewan direksi di Jakarta... mereka mulai ngambil keputusan sepihak karena Tuan dianggap nggak kompeten lagi buat mimpin perusahaan. Mereka mau adain pemungutan suara buat nurunin Tuan dari jabatan CEO secara permanen minggu depan."

Suasana yang tadinya anget langsung berubah jadi dingin. Almira bisa ngerasa badan Alex menegang. Pelukannya di pinggang Almira mengencang.

Alex diem seribu bahasa. Matanya natap lurus ke depan, kilatan dingin yang dulu sempat ilang kini muncul lagi sedikit demi sedikit. Jakarta memanggilnya kembali. Dunia yang penuh intrik dan pengkhianatan itu pengen narik dia balik ke dalemnya.

Almira megang tangan Alex yang mulai dingin. "Alex... kamu nggak apa-apa?"

Alex nunduk, natap Almira terus natap Adrian yang sekarang lagi mainin jempol kaki ayahnya. Ada pergulatan hebat di dalem matanya. Antara pengen balik tempur di Jakarta buat pertahanin warisan keluarganya, atau tetep di sini, di kedamaian yang baru aja dia temuin.

"Ren, bilang sama mereka..." Alex gantungin kalimatnya. Dia natap Almira seolah minta izin.

Almira senyum tipis, meski hatinya agak sedih. Dia tahu Alex nggak bakal bisa diem aja kalau miliknya diusik. "Lakuin apa yang harus kamu lakuin, Alex. Aku sama Adrian bakal selalu ada di sini, nunggu kamu pulang."

Alex narik napas dalem-dalem. "Bilang sama mereka, Rendy. Alexander Eduardo nggak pernah nyerahin takhtanya begitu aja. Siapin mobil buat besok pagi. Kita ke Jakarta."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!