andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Mengikuti alamat yang diberikan Ibu Marlina, aku melaju menuju sebuah perkampungan kumuh di pinggiran kota. Zaki mengemudi dengan kecepatan sedang, matanya waspada mengamati jalanan sempit yang mulai dipenuhi rumah-rumah berdinding papan dan seng berkarat.
Di tengah perjalanan, ponselku bergetar. Nama Ratna muncul di layar.
“Ada apa, Sayang?” sapaku saat sambungan terhubung.
“Aku mau kembali bertugas di rumah sakit,” ucap Ratna terdengar lelah.
“Kamu masuk malam?” tanyaku.
“Iya, aku masuk malam minggu ini,” jawabnya. “Andika dan Tiara maksa ikut.”
Aku langsung waspada. “Kenapa?”
“Mereka ketakutan dengan teror 172.”
Aku terdiam sejenak. “Ya sudah, mereka tinggal saja di rumah,” kataku akhirnya.
“Enggak bisa. Aku sudah libur tiga hari kemarin,” balas Ratna cepat.
Rasa bersalah langsung menekan dadaku. Ratna memang seorang perawat di rumah sakit jiwa, dan tanggung jawabnya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
“Ya sudah,” ucapku mengalah. “Tapi anak-anak sudah kamu ingatkan supaya tidak mengganggu kamu, kan?”
Ratna terkekeh kecil. “Memangnya siapa yang mereka takuti, aku atau kamu?”
Aku ikut terkekeh. Itu kenyataan pahit sekaligus lucu. Didikan keras justru datang dari Ratna, bukan dariku yang berprofesi sebagai polisi.
Sambungan telepon terputus bersamaan dengan mobil yang berhenti di pinggir jalan sempit.
“Mobil enggak bisa masuk ke dalam, Di,” ujar Zaki.
“Ya sudah, parkir di sini saja,” jawabku sambil membuka pintu
Aku melangkah menyusuri gang sempit itu. Aroma pesing dan sampah basi menyeruak sejak langkah pertama. Perkampungan kumuh ini dikenal sebagai zona merah, tempat orang-orang yang hidup di pinggir hukum bertahan dengan caranya sendiri. Dinding rumah berlapis seng berkarat, saling berhimpitan, seolah tak menyisakan ruang untuk bernapas.
Beberapa perempuan dengan dandanan mencolok berdiri di sudut gang, melirik siapa pun yang lewat. Tatapan mereka tajam, penuh hitung-hitungan. Aku memilih menunduk dan terus berjalan.
“Bang, dari bank keliling ya?” celetuk seorang perempuan bergaun ketat sambil tersenyum miring.
Aku mengabaikannya. Di ujung gang, beberapa pria bertato menghentikan obrolan mereka dan menatap kami tanpa berkedip.
“Woy, itu Pak Zaki,” seru seseorang.
Dalam sekejap, suasana yang semula riuh mendadak sepi. Pintu-pintu rumah tertutup, tirai ditarik cepat. Aku melirik Zaki sambil berbisik, “Rupanya lu terkenal juga di sini. Jangan-jangan sering jajan.”
Zaki mendengus pelan. “Sembarangan aja kalau ngomong.”
Kami berhenti di sebuah warung kecil di gang yang lebih sempit. Seorang perempuan gemuk duduk di balik etalase kusam, menatap kami dengan waspada. Zaki maju selangkah.
“Bu, rumahnya Madam Mise di mana?” tanyanya datar.
Perempuan itu memicingkan mata. “Ada razia ya, Pak?”
Zaki tersenyum tipis. “Ibu yang akan saya razia kalau tidak menunjukkan.”
Wajah perempuan itu langsung pucat. Tubuhnya tampak gemetar sebelum akhirnya ia menunjuk ke arah belakang. “Lurus lima rumah, belok kiri. Rumah warna pink. Itu rumah Madam Mise.”
Kami mengikuti arahan itu. Rumah berwarna pink mencolok muncul di hadapan kami, kontras dengan bangunan lain yang kusam. Dua pria bertubuh kekar menghadang.
“Kami mau ketemu Madam Mise,” kata Zaki sambil menunjukkan identitasnya.
Salah satu pria masuk ke dalam. Tak lama kemudian, kami dipersilakan masuk. Dentuman musik terdengar keras. Di lantai dua, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal duduk di kursi putar, menatap kami dengan senyum penuh arti.
“Ada apa bapak-bapak ke sini?” tanya Madam Mise sambil menyilangkan kaki, asap rokoknya mengepul pelan di udara.
Aku tidak ingin berbasa-basi. Waktu terus berjalan, dan setiap menit terasa berbahaya. “Saya mencari keberadaan Lusi,” kataku lugas.
Madam Mise terdiam. Tatapannya mengeras sesaat sebelum bergeser ke arah Zaki, seolah menimbang sesuatu. Zaki balas menatap tanpa berkedip. Madam Mise kembali mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
“Kenapa baru sekarang mencari Lusi?” tanyanya tenang, tapi nadanya mengandung tekanan.
Pertanyaan itu membuat tengkukku terasa dingin. Seolah-olah ia tahu lebih banyak dari yang kami duga. “Apa karena kode 172?” lanjutnya.
Jantungku berdegup lebih cepat. Kecurigaanku menguat. Ia jelas mengetahui sesuatu tentang teror itu.
“Katakan saja di mana Lusi,” desakku, berusaha menahan emosi.
Madam Mise terkekeh pelan. “Mau ngapain kalian cari dia? Dia sudah sangat menderita gara-gara kalian.”
“Jangan bertele-tele, Bu,” sela Zaki dengan nada meninggi.
Madam Mise mengangkat tangan, memberi isyarat agar kami tenang. “Janji dulu sama saya, baru saya kasih tahu di mana dia.”
Aku menarik napas. “Kami akan membuka kembali kasus Nirmala dan mencari keadilan untuknya.”
Raut wajah Madam Mise berubah. Sorot matanya melembut, seperti menyimpan harapan yang lama terkubur. “Kalian harus menegakkan keadilan untuk Nirmala,” ucapnya lirih. “Dia anak baik, kebanggaan kami. Tapi dia mati hanya karena dia anak orang seperti kami.”
Kata-kata itu menghantamku telak. Ada kemarahan, ada rasa bersalah, dan ada kenyataan pahit tentang hukum yang tak pernah benar-benar berdiri netral. Aku menelan ludah, lalu kembali fokus pada tujuan kami.
“Sekarang, di mana Lusi?” desakku.
Madam Mise menatapku lama. “Apa kalian akan melindungi dia?”
Aku mengangguk mantap tanpa ragu. “Kami akan melindunginya.”
Madam Mise berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, mengambil selembar kertas dan pensil, lalu menuliskan sebuah alamat. Kertas itu disodorkannya kepadaku.
Aku membacanya perlahan. “Rumah sakit jiwa,” gumamku pelan.
“Ya, dia ada di situ,” jawab Madam Mise. “Sudah dua tahun.”
“Sejak kapan dia di sana?” tanyaku.
“Setelah keluar dari tahanan,” ucapnya datar. “Tiga tahun dia ditahan tanpa sebab. Tidak ada sidang, tidak ada kejelasan. Waktu keluar, jiwanya sudah hancur. Dia depresi.”
Nada suaranya bergetar. “Saya sudah memberikan alamatnya. Jangan sampai kalian menyakiti dia lagi. Dia cuma seorang ibu yang ingin keadilan untuk anaknya. Tapi balasannya penjara tanpa persidangan, lalu dibuang ke rumah sakit jiwa.”
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi ketika melirik jam tanganku, jarumnya sudah menunjuk pukul 19.00. Waktu kami semakin sempit. Aku berpamitan dan meninggalkan rumah itu dengan kepala penuh pertanyaan.
Di luar, gang-gang sempit kembali menyambut kami. Tempat ini sering disebut sarang kriminal, penyakit masyarakat. Mungkin karena itulah Nirmala dan Lusi tak pernah mendapat keadilan. Tapi sejak kapan status sosial menentukan hak seseorang untuk dibela.
Zaki mengemudi mengikuti alamat yang diberikan Madam Mise. Jalan yang kami lewati terasa semakin akrab. Hingga akhirnya mobil berhenti, dan aku mengernyit.
“Bukankah ini rumah sakit tempat istriku bekerja?” gumamku.
Aku masuk ke bagian administrasi. Beberapa petugas mengenaliku dan membiarkanku lewat. Tanpa banyak bicara, aku langsung menuju ruang isolasi tempat Lusi dirawat. Ia dianggap pasien berbahaya.
Saat aku tiba di depan kamar itu, langkahku terhenti. Dadaku mendadak sesak.
Ratna, istriku, sedang duduk di samping ranjang. Tangannya menyuapi seorang perempuan dengan tatapan kosong. Itulah Lusi.
“Mas, kok di sini?” tanya Ratna terkejut melihatku.
“Aku mau bertemu Lusi,” jawabku pelan.
Aku melangkah mendekat. Wajah Lusi tampak kosong, rapuh, jauh dari gambaran pelaku teror yang kejam. Lalu sebuah pertanyaan terlintas di benakku.
“Sayang, apakah ada kerabat Lusi yang sering menjenguk?” tanyaku hati-hati.
Ratna mengangguk. “Ada. Tadi barusan anaknya.”
Tubuhku menegang. “Anaknya perempuan?”
Ratna kembali mengangguk.
Dunia seakan berhenti berputar.
Apa mungkin Nirmala masih hidup?