Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²⁹ — Rahasia Surya dan Hadi.
Sekitar pukul sepuluh malam, pintu ICU terbuka.
Seorang perawat keluar.
“Bu Lastri?”
Lastri langsung berdiri. “Iya! Saya!”
Perawat itu menatapnya serius. “Pasien atas nama Sinta baru saja sadar sebentar, tapi kondisinya masih sangat lemah. Kalau Ibu mau masuk, hanya sebentar ya.”
“Iya… iya… saya mau masuk.”
Malvin ikut berdiri. “Saya ikut.”
Perawat menggeleng. “Maaf, hanya satu orang.”
Lastri menoleh pada Malvin.
Malvin mengangguk pelan. “Masuklah, aku akan tetap di sini.”
Di dalam ICU, lampu putih terasa terlalu terang. Sinta terbaring dengan selang di hidung, infus di tangan, dan monitor yang berbunyi pelan. Wajahnya wanita yang baru melahirkan itu pucat, bibirnya kering. Namun, matanya terbuka.
Ketika melihat Lastri, air mata langsung mengalir di sudut mata Sinta.
“Teh…” suaranya serak.
Lastri buru-buru mendekat, menggenggam tangan Sinta.
“Sinta… kamu sadar… Alhamdulillah…”
Sinta menggenggam balik, sangat lemah. “T-teh… bayiku…”
Lastri mengangguk cepat. “Bayimu sedang bertahan untuk hidup, dia di NICU. Dia... sedang berjuang.”
Sinta menangis, ia menarik napas berat. Lalu matanya menatap Lastri dengan tatapan yang berbeda. Tatapan seseorang yang ingin mengaku… sebelum terlambat.
“Teh…” bisiknya.
Lastri menunduk lebih dekat. “Iya…?”
Sinta menelan ludah, seolah setiap kata adalah pisau. “Aku… aku harus bilang sesuatu yang penting tentang identitas anakku…”
Lastri mulai merasa tidak enak. “Bilang apa, Sin?”
Sinta memejamkan mata, air mata jatuh lagi. Lalu ia membuka mata, menatap Lastri lurus.
“Bayi itu…”
Lastri menahan napas.
Sinta menggenggam tangan Lastri lebih kuat, seperti takut Lastri akan pergi. “Teh… dengar… dengar aku….”
“Iya…”
Sinta menatap Lastri, matanya penuh ketakutan. “Sebenarnya… orang yang bikin aku hamil masih ada hubungannya sama kang Surya. Ayah dari anakku itu paman kang Surya… Pak Hadi.”
Lastri membeku total, matanya melebar. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara.
Sinta menangis.
“Pak Hadi… yang anggota DPRD itu?” Lastri menatap Sinta, tidak percaya.
Sinta mengangguk lemah. “Bapakku entah dari mana mengenal Pak Hadi, nggak lama setelah itu… aku jadi simpanannya karena aku dijual Bapakku. Waktu aku hamil, Pak Hadi panik. Dia sudah punya istri dan anak, dia takut ini jadi masalah. Apalagi… dia punya jabatan tinggi.“
Ia menghela napas singkat. “Lalu dia mengenalkanku ke kang Surya. Setelah itu… entah bagaimana, aku dinikahi kang Surya secara siri. Tapi selama menikah… kang Surya nggak pernah menyentuhku. Saat dia tahu aku hamil, dia nggak bilang apa-apa. Bahkan, sesekali Pak Hadi datang menemuiku. Dan dia tetap menyentuhku… seperti saat aku masih jadi simpanannya.”
Matanya menajam, ada sesuatu yang ia sadari belakangan. “Sementara kang Surya, seperti menuruti Pak Hadi. Mungkin… ada rahasia di antara mereka.”
Lastri menatap Sinta, sepertinya dia mengerti sesuatu. “Semua kejahatan Surya selama ini dibantu dan ditutupi sama Pak Hadi. Mungkin itu yang bikin Surya mau menuruti Pak Hadi untuk menikahimu, seolah-olah bertanggung jawab atas anakmu.”
Lastri berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Berarti Bu Maya selama ini nggak tahu, kalau anakmu itu adalah anak Pak Hadi. Makanya dia berani keliling desa dengan percaya diri, dan bilang kalau kamu hamil anak Surya.”
Sinta mengangguk pelan. “Sepertinya begitu, Teh.”
Lastri langsung menutup mulutnya sendiri, tubuhnya gemetar. Karena kalau ini benar, berarti semua yang terjadi sekarang bukan sekadar balas dendam keluarga. Ini sudah, kejahatan yang jauh lebih besar. Dan itu juga berarti, Hadi bukan hanya menutup-nutupi kejahatan Surya. Hadi adalah bagian dari... inti dosa mereka sendiri.
Sinta menangis, ia menggenggam tangan Lastri, “Teh… jangan bilang siapa-siapa dulu… aku takut… aku takut Pak Hadi bunuh aku…”
Lastri menatap Sinta dengan tatapan tegas.
“Kamu nggak akan mati, Sinta.”
Sinta terisak, lalu tubuhnya mulai lemah lagi. Monitor berbunyi lebih cepat, perawat masuk buru-buru.
“Bu, maaf… pasien harus istirahat.”
Lastri mengangguk cepat, ia masih gemetar.
Sinta berbisik lemah. “Teh… kalau aku mati…”
Lastri menggeleng keras. “Jangan ngomong gitu.”
Sinta menelan ludah.
“Kalau aku mati… tolong jaga bayiku….”
Lastri akhirnya menangis.
Begitu pintu ICU terbuka, Malvin langsung berdiri saat melihat Lastri menangis. Wajah wanita itu terlihat seperti wajah seseorang yang baru saja dihantam kenyataan paling kejam.
Malvin menatapnya tajam. “Lastri…?”
Lastri menatap Malvin.
“Bang…”
Malvin mendekat. “Ada apa?”
“Anak itu adalah anak… Pak Hadi.” Tubuh Lastri bergetar saat mengatakannya.
“Lastri, kamu yakin?”
Lastri mengangguk, “Sinta sendiri yang bilang.”
Malvin menghela napas panjang.
Tiba-tiba seorang petugas keamanan rumah sakit datang. “Bu Lastri?”
Lastri menoleh.
“Iya.”
Petugas itu menyerahkan amplop cokelat.
“Ini ada orang yang titip, katanya penting.”
Lastri menatap amplop itu.
Di depannya tertulis, SURAT PANGGILAN KLARIFIKASI—DPRD KABUPATEN. Surat itu resmi, ada stempel. Lastri dipanggil untuk klarifikasi dugaan penyalahgunaan dana proyek.
Lastri menatap Malvin. “Bang…”
Malvin mengambil surat itu, ia membaca cepat lalu tersenyum tipis. “Tenang saja, kamu nggak akan datang sendirian.”
Malvin langsung mengangkat ponselnya, ia menekan satu nomor—pengacara.
Panggilan tersambung. “Selamat malam, Tuan Malvin.”
Malvin bicara tanpa basa-basi.
“Pak Rendra, saya butuh Anda turun tangan.”
Suara di seberang terdengar langsung serius. “Kasus apa, Tuan?”
Malvin menatap surat panggilan itu. “Fitnah korupsi, intimidasi politik, percobaan pembunuhan, dan dugaan pemaksaan terhadap seorang perempuan. Datang ke alamat yang akan saya kirimkan.”
Suara itu hening beberapa detik. “Baik, saya berangkat malam ini.”
Lastri menatap Malvin. “Bang… siapa itu?”
“Pengacara keluarga, dan salah satu yang paling ditakuti di Jakarta.”
Lastri menelan ludah, ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik ini. Tapi kini, ia tidak bisa mundur. Karena kalau ia mundur, Sinta bisa mati. Dan keadilan... akan terbungkam.