NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Sekte

Shen Yi membuka pintu gubuk dengan bahu, tangan kirinya memegang keranjang penuh akar ginseng liar yang baru dipetik dari lereng atas. Bau tanah basah dan daun pinus langsung menyambutnya. Di dalam, tungku kecil sudah menyala pelan, dan aroma sup jahe madu menguar lembut ke seluruh ruangan.

Lian'er berdiri di dekat jendela kecil, rambut panjangnya diikat longgar dengan pita kain putih sederhana yang Shen Yi beli di pasar desa bulan lalu. Dia sedang memandang ke luar, ke arah danau kecil di belakang gubuk yang kini penuh bunga teratai putih yang mekar sempurna.

Kelopak-kelopak itu berkilau di bawah sinar matahari musim semi, seolah danau itu menyimpan sepotong Pulau Teratai Mistis.

“Sudah pulang?” Lian'er menoleh, senyumnya langsung muncul. senyum yang sekarang sering sekali terlihat, tak lagi dingin atau ragu.

“Akar ginsengnya banyak sekali hari ini.”

Shen Yi meletakkan keranjang di lantai tanah yang sudah dipadatkan. “Iya, musim semi ini ginsengnya subur sekali. Pak Li di desa bawah minta tambahan obat untuk batuknya. Katanya anaknya juga mulai demam lagi.”

Lian'er berjalan mendekat, mengambil satu akar dari keranjang dan mencium baunya. “Aku sudah siapkan sup jahe. Coba tambahin ginseng sedikit, pasti lebih hangat. Duduk dulu, bajumu basah keringat.”

Shen Yi tersenyum, melepas mantel luar yang sudah penuh noda tanah. Dia duduk di bangku kayu kecil, memandang Lian'er yang sibuk di tungku. Gerakannya sekarang jauh lebih alami, seperti orang yang sudah terbiasa hidup di gubuk sederhana ini selama berbulan-bulan.

Sudah hampir empat bulan sejak mereka kembali dari Pulau Teratai Mistis. Kutukan Lian'er benar-benar hilang. Tak ada lagi es yang merayap di darahnya, tak ada lagi rasa takut kalau disentuh. Dia bisa merasakan panas api tungku, dingin air pagi, bahkan pedasnya cabai yang dia coba masak pertama kali (dan hampir membakar lidah Shen Yi).

Shen Yi sering menggodanya soal itu.

“Kau sekarang lebih jago masak daripada aku dulu,” kata Shen Yi sambil mengambil mangkuk sup yang Lian'er sodorkan.

“Dulu aku cuma bisa bikin sup jahe polos. Sekarang ada madu, daun mint, bahkan sedikit kayu manis yang kau beli di pasar.”

Lian'er duduk di sebelahnya, meniup supnya pelan. “Aku belajar dari Nenek Hua waktu kita mampir ke kedainya bulan lalu. Dia bilang, ‘Obat terbaik bukan cuma ramuan lho, tapi juga rasa yang dibuat dengan hati.’”

Shen Yi menyeruput supnya, lalu menghela napas puas. “Benar sekali. Sup ini rasanya seperti rumah.”

Mereka makan dalam hening yang nyaman, hanya ditemani suara kayu bakar berderit dan angin yang menyusup lewat celah dinding.

Setelah mangkuk kosong, Lian'er tiba-tiba bicara pelan. “Shen Yi, aku senang sekali hidup seperti ini. Setiap pagi bangun, mendengar burung, melihat teratai mekar, membantu kau rawat pasien desa ini lebih dari yang pernah kubayangkan waktu masih di istana atas.”

Shen Yi memandangnya. “Tapi kadang kau masih melamun ke arah danau. Apa kau kangen sesuatu dari dulu?”

Lian'er menggeleng cepat. “Bukan kangen. Cuma kadang aku takut. Takut kalau kebahagiaan ini cuma sementara. Takut kalau Xue Han atau sekte-sekte besar masih mengincar kita. Aku tak mau kau terluka karena aku.”

Shen Yi menggenggam tangannya. “Kita sudah lewati pulau itu bersama. Kalau ada yang datang lagi, kita hadapi bersama. Kau nggak sendirian lagi.”

Lian'er tersenyum kecil, tapi matanya masih ada bayang kekhawatiran. “Aku tahu. Tapi kemarin Xiao He datang bawa pesan dari Xiao Feng. Katanya dia dengar kabar di kedai arak. Sekte Es Hitam masih aktif. Xue Han hilang setelah kejadian di pulau, tapi anak buahnya mulai berkumpul di sekitar Danau Teratai Kuno.”

Shen Yi mengerutkan kening. “Danau Teratai Kuno? Tempat yang disebut pemburu terakhir itu?"

Lian'er mengangguk. “Xiao He bilang, Xiao Feng lagi selidiki. Dia janji kirim kabar lagi kalau ada perkembangan. Tapi aku. Aku takut kalau mereka tahu kita punya sisa Air Teratai Abadi.”

Shen Yi diam sejenak. Botol kristal kecil yang berisi sisa Air Teratai Abadi masih disimpan aman di kotak kayu di bawah tempat tidur. hanya beberapa tetes lagi, tapi cukup untuk menyembuhkan penyakit langka atau melindungi dari energi dingin ekstrem.

“Kalau mereka datang, kita lindungi desa ini juga,” kata Shen Yi tegas. “Aku nggak mau mereka ganggu kehidupan orang-orang di sini.”

Lian'er memandangnya dengan mata penuh kekaguman. “Kau selalu pikirkan orang lain dulu. Itu yang membuatku jatuh cinta padamu sejak di hutan teratai layu dulu.”

Shen Yi tersipu. “Aku juga jatuh cinta karena kau mau tinggal di gubuk reyot ini, meski dulu kau dewi.”

Mereka tertawa kecil bersama.

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu gubuk terdengar tiga kali, pelan tapi jelas.

Shen Yi dan Lian'er saling pandang. Siang ini tak ada pasien yang dijadwalkan.

Shen Yi bangkit, membuka pintu pelan.

Di depan pintu berdiri seorang pemuda berpakaian biru tua dengan bordir teratai emas kecil di dada. murid Sekte Langit Teratai. Di tangannya ada gulungan surat bersegel lilin merah.

“Shen Yi dari Gunung Qingyun?” tanya pemuda itu hormat.

Shen Yi mengangguk. “Iya. Ada apa?”

Pemuda itu menyerahkan gulungan surat. “Dari Elder Mei Ling. Beliau meminta Saudara dan Nona Lian'er datang ke sekte secepatnya. Ada hal penting yang menyangkut darah teratai ganda dan ancaman dari Xue Han.”

Shen Yi menerima surat itu, tapi tak langsung membuka. “Terima kasih. Kami akan pertimbangkan.”

Pemuda itu membungkuk. “Elder bilang ini bukan undangan biasa. Ini permintaan darurat. Xue Han sudah mulai ritual di Danau Teratai Kuno. Jika tak dihentikan, energi teratai di seluruh dunia fana bisa rusak.”

Lian'er berdiri di belakang Shen Yi, wajahnya tegang. “Ritual apa?”

Pemuda itu menunduk. “Ritual untuk mencuri esensi teratai abadi dari sisa Air yang kalian bawa. Xue Han ingin jadi makhluk setengah abadi dan dia butuh darah teratai ganda sebagai pengikat.”

Shen Yi mengepalkan tangan. “Kami akan bicarakan. Terima kasih sudah menyampaikan.”

Pemuda itu pergi setelah membungkuk lagi.

Shen Yi menutup pintu, membuka gulungan surat. Tulisan Elder Mei Ling rapi dan tegas.

Shen Yi dan Bai Lian,

Darah kalian adalah kunci keseimbangan teratai. Xue Han telah mengumpulkan kekuatan es hitam di Danau Teratai Kuno. Jika ritual selesai, dunia jianghu akan jatuh ke kegelapan dingin abadi.

Sek te butuh kalian—bukan sebagai aset, tapi sebagai harapan.

Datanglah. Shi Jun sudah di sini, menunggu kalian.

Waktu semakin sempit.

— Elder Mei Ling

Shen Yi menyerahkan surat itu pada Lian'er. Lian'er membaca dengan wajah semakin serius.

“Kita tak bisa abaikan ini,” katanya pelan. “Kalau Xue Han berhasil, desa ini, gunung ini, semua orang yang kita rawat bisa terkena dampaknya.”

Shen Yi menghela napas panjang. “Aku tahu. Tapi aku tak mau tinggalkan gubuk ini lagi. Tak mau kau terlibat bahaya lagi.”

Lian'er memegang kedua tangan Shen Yi. “Kita sudah lewati pulau itu bersama. Kita bisa lewati ini juga. Dan setelah ini kita benar-benar pulang. Untuk selamanya.”

Shen Yi memandang mata Lian'er lama. Lalu dia mengangguk pelan.

“Baik. Kita siapkan bekal. Besok pagi kita berangkat ke Sekte Langit Teratai. Kita hentikan Xue Han dan pulang.”

Di luar, angin musim semi bertiup lembut, membawa kelopak teratai putih dari danau kecil—seolah mengingatkan bahwa keindahan mereka tak akan pudar, selama hati tetap murni.

Tapi di kejauhan, di Danau Teratai Kuno, es hitam mulai menyebar di permukaan air, dan senyum dingin Xue Han terpantul di sana.

“Darah teratai ganda pasti akan datang sendiri ke hadapanku. Hahaha”

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!