NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Dokumen "Project Phoenix"

Udara di dalam lift yang menuju lantai teratas apartemen mewah itu mendadak terasa tipis. Alana berdiri kaku—bukan karena takut pada ketinggian, tapi karena pesan di ponselnya yang baru saja membakar rasa amannya menjadi abu. Ia melirik Arkan dari pantulan dinding lift yang mengkilap. Pria itu masih terlihat tenang, memperbaiki letak jam tangan Patek Philippe-nya yang berharga lebih mahal dari seluruh komplek kontrakan Alana.

"Lana, kamu pucat," suara Arkan rendah, terdengar seperti dengungan lebah di telinga Alana.

Alana memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang. "Oh, ini? Mungkin efek makan steak tadi, Mas. Perut rakyat jelata saya kaget dikasih daging mahal, biasanya juga makan cilok bumbu kacang."

Arkan menaikkan sebelah alisnya, namun tidak bertanya lebih lanjut. Begitu pintu lift terbuka, mereka melangkah masuk ke dalam penthouse yang sunyi. Arkan langsung menuju kamarnya, sementara Alana masuk ke kamar tamu yang ukurannya lebih luas dari aula kelurahan.

Alana tidak langsung tidur. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap layar ponselnya. Project Phoenix. Biaya Kerugian. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Alana bukan tipe wanita penakut yang hanya bisa menangis di bawah selimut. Kalau ada orang yang ingin menjadikannya tumbal, mereka salah pilih target.

"Oke, Tuan Miliarder. Mari kita lihat apa yang sebenarnya kamu sembunyikan di balik jas mahalmu itu," bisik Alana.

Ia menunggu sampai sekitar jam dua pagi, saat seluruh apartemen sudah gelap dan sunyi. Dengan langkah berjinjit dan jantung yang berdebar sekeras tabuhan kendang, Alana menyelinap keluar kamar. Ia menuju ruang kerja Arkan yang terletak di ujung lorong.

Pintu ruang kerja itu tidak dikunci. Alana masuk dan disambut oleh aroma kopi dan parfum Arkan yang tertinggal. Ia langsung menuju meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni. Tangannya gemetar saat mulai membuka satu per satu laci.

"Bukan ini... bukan ini juga..." gumamnya.

Hingga di laci paling bawah yang tersembunyi di balik tumpukan dokumen legal, ia menemukan sebuah map berwarna biru gelap. Di depannya tertulis dengan huruf cetak tebal: PROJECT PHOENIX.

Alana membukanya dengan napas tertahan. Lembar demi lembar ia baca dengan cepat. Matanya membelalak saat sampai pada bagian tabel anggaran. Di sana, di bawah kolom "Biaya Tak Terduga", namanya tertulis dengan jelas: ALANA - TARGET ELIMINASI / BIAYA KERUGIAN (RESIKO TINGGI).

"Apa-apaan ini?" Alana merasakan aliran es di pembuluh darahnya. Di bawah namanya, tertera angka yang sangat besar—nilai asuransi jiwa yang akan cair jika ia mengalami "kecelakaan".

"Jadi benar... saya cuma asuransi berjalan buat kamu, Mas?" suara Alana bergetar karena marah dan kecewa.

Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang. Alana tersentak dan hampir menjatuhkan map itu.

Arkan berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak memakai jas, hanya kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah, hanya tatapan dingin yang sulit dibaca.

"Kamu punya kebiasaan buruk menyelinap di malam hari, Lana," ucap Arkan santai sembari melangkah masuk.

Alana melempar map itu ke atas meja. "Jangan panggil saya Lana seolah-olah kita ini teman! Apa ini, Mas?! Project Phoenix? Biaya Kerugian? Jadi kalau saya mati kecelakaan besok, perusahaan Mas dapet kucuran dana asuransi buat nutupin utang saham? Gila ya! Mas ini manusia atau iblis berbaju sutra?!"

Arkan menatap map itu, lalu menatap Alana. Ia tidak mendekat, tetap menjaga jarak di seberang meja. "Dunia saya tidak sesederhana yang kamu bayangkan, Lana. Phoenix adalah rencana darurat jika kakek saya mengubah wasiat di menit terakhir."

"Dan rencana daruratnya melibatkan kematian saya?!" teriak Alana. Air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. "Saya pikir Mas beda dari Bayu. Saya pikir Mas beneran mau nolong saya dari hinaan mantan. Ternyata Mas jauh lebih busuk! Mas kasih saya gaun bagus cuma buat jadi kafan saya, hah?!"

Arkan melangkah mendekat, sangat cepat, hingga Alana terdesak ke belakang kursi. Arkan mencengkeram pinggiran meja, mengurung Alana dalam tatapannya.

"Dengarkan saya baik-baik," suara Arkan mendesis tajam. "Dokumen itu dibuat oleh dewan direksi dan ayah tiri saya—ayah kandung Dion. Mereka yang ingin kamu mati agar saya kehilangan posisi saya. Mereka yang menaruh namamu di sana sebagai 'biaya kerugian'."

Alana terdiam sejenak. "Terus kenapa dokumen ini ada di meja Mas?!"

"Karena saya baru saja menyitanya dari kantor pusat sore tadi. Saya membawanya pulang untuk mencari tahu siapa saja yang sudah menandatangani persetujuan kotor ini," Arkan mengambil map itu dan merobeknya menjadi dua di depan wajah Alana. "Kalau saya mau kamu mati, saya tidak akan repot-repot melawan Dion di lorong rumah tadi malam."

Alana terengah-engah. Kemarahannya sedikit mereda, digantikan oleh kebingungan yang luar biasa. "Gimana saya bisa percaya sama Mas? Mas itu pintar bohong, pintar akting..."

"Saya tidak butuh kamu percaya," Arkan menarik napas panjang, ekspresinya sedikit melunak. "Saya hanya butuh kamu tetap hidup. Karena kalau kamu mati, saya kalah. Dan saya... tidak pernah suka kekalahan."

Alana menatap mata Arkan, mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi yang ia temukan hanyalah kelelahan yang sangat dalam. Untuk pertama kalinya, Alana melihat sisi "manusia" dari sang miliarder robot ini.

"Lalu siapa yang kirim pesan ke saya? Siapa yang mau saya nemuin dokumen ini?" tanya Alana pelan.

"Seseorang yang ingin kamu lari dari saya agar kamu mudah mereka tangkap di luar sana. Di apartemen ini, kamu aman. Di luar... kamu mangsa gratis." Arkan merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel Alana yang tadi sempat tertinggal di sofa. "Mulai sekarang, jangan balas pesan dari nomor itu."

Alana menyambar ponselnya. Ia merasa seperti pion yang sedang digerakkan di atas papan catur raksasa. "Terus kita gimana? Pernikahan kontrak itu tetap jalan?"

"Tentu saja. Malah harus dipercepat. Besok, kita akan mendaftarkannya secara resmi. Bukan cuma di depan keluarga, tapi di depan hukum," Arkan menatap Alana dengan intensitas yang berbeda. "Bersiaplah, Lana. Besok duniamu akan benar-benar berubah."

Alana mendengus, mencoba mengembalikan sisa-sisa sisi "julid"-nya agar tidak terlihat terlalu lemah. "Ya udah, tapi saya mau tambahan poin di kontraknya. Kalau saya hampir mati lagi gara-gara keluarga Mas, saya mau bonus saham. Minimal cukup buat saya buka cabang toko seblak di seluruh Jakarta!"

Arkan tersenyum tipis—kali ini senyum yang terasa lebih nyata. "Kesepakatan. Sekarang kembali ke kamarmu. Dan tolong, jangan coba-coba meretas brankas saya, isinya cuma emas batangan yang membosankan."

Alana berjalan keluar ruangan dengan kepala yang masih pusing. Namun, saat ia sampai di ambang pintu, ia berbalik. "Mas Arkan?"

"Ya?"

"Makasih... udah nggak jadi iblis malam ini."

Arkan tidak menjawab, hanya memperhatikan Alana menghilang di balik pintu. Begitu Alana pergi, Arkan kembali menatap sobekan kertas di mejanya. Wajahnya kembali membeku. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

"Lacak nomor yang mengirim pesan ke Alana. Dan katakan pada tim keamanan... perketat penjagaan. Serigala-serigala itu mulai lapar."

Keesokan paginya, saat Alana bangun, ia menemukan sebuah kotak beludru kecil di atas meja riasnya. Di dalamnya bukan hanya cincin, tapi sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk burung Phoenix. Dan di bawah kotak itu ada sebuah catatan singkat tanpa nama: "Kunci ini membuka pintu yang akan memperlihatkan siapa Arkan yang sebenarnya. Gunakan sebelum terlambat."

Alana menatap kunci itu dengan bimbang. Apakah ia harus kembali menjadi mata-mata, atau mulai mempercayai pria yang baru saja merobek surat "kematian"-nya?

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!