Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Impas
Pagi itu suasana parkiran kampus lebih ramai dari biasanya.
Sebuah mobil mewah keluaran terbaru perlahan memasuki area parkir. Bodinya mengilap, desainnya elegan dan modern. Begitu mesin dimatikan, beberapa mahasiswa yang sedang berjalan langsung berhenti.
“Wah … itu mobil edisi terbaru, kan?”
“Iya! Harganya fantastis!”
“Siapa yang bawa?”
Pintu mobil terbuka. Naomi keluar dengan tenang, mengenakan pakaian sederhana namun rapi. Ia menutup pintu mobil tanpa ekspresi berlebihan, seolah kendaraan itu hal biasa baginya.
Bisik-bisik langsung terdengar di sekitarnya.
“Itu Naomi?”
“Serius? Dia?”
Kebetulan di sisi lain parkiran, sebuah mobil sport putih berhenti lebih dulu. Viviane keluar dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya. Ia biasa menjadi pusat perhatian setiap pagi.
Namun hari ini, fokus mahasiswa justru berpindah.
Viviane mengikuti arah pandang orang-orang. Matanya membelalak sesaat.
“Itu … mobil seri terbaru itu?” gumamnya dengan wajah terkejut.
Lalu ia melihat sosok yang keluar dari mobil tersebut yaitu Naomi.
Ekspresi Viviane langsung berubah. Kaget, tak percaya lalu perlahan mengeras.
Naomi berjalan santai melewati deretan mobil tanpa melihat kiri kanan. Ketika ia melewati Viviane, langkahnya tetap stabil. Tak ada sapaan, tak ada senyum, tak ada reaksi.
Seolah Viviane tidak ada di sana.
Beberapa mahasiswa memperhatikan ketegangan yang tak terlihat namun terasa jelas.
Viviane menurunkan kacamata hitamnya sedikit, memastikan lagi.
“Sejak kapan dia?” bisiknya.
Naomi terus berjalan menuju gedung kampus. Tangan Viviane mengepal kuat di samping tubuhnya.
“Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan mobil?” gumamnya lirih, rahangnya mengeras.
Seorang temannya mendekat. “Viviane, kau kenapa?”
Viviane kembali memasang kacamata hitamnya dan tersenyum tipis.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya lembut.
*
*
.Di kelas suasana terasa lengang dan membosankan. Jam dinding sudah menunjukkan sepuluh menit lewat dari jadwal, tapi dosen belum juga datang.
Naomi duduk tenang di bangkunya, dagunya bertumpu di tangan, tatapannya menerawang ke luar jendela. Sementara itu Timmy berputar-putar bolpoin di jarinya dengan wajah kesal.
“Ini dosen kita kena badai duluan atau bagaimana?” gerutu Timmy.
Yura menghela napas panjang. “Kalau sampai lima belas menit belum datang, kita bisa pulang, kan?”
Naomi tersenyum tipis. “Sabar. Belum tentu beliau tidak datang.”
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan bunyi keras.
“Haah … haah … aku terlambat. Maaf aku terlambat?!” Sonya berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, rambutnya sedikit berantakan.
Timmy mendengus. “Dosen bahkan belum datang. Lagipula kamu dari mana saja? Baru kali ini kamu terlambat.”
Wajah Sonya langsung berubah masam. Ia menghindari tatapan mereka. “Ada masalah keluargaku.”
Timmy menyipitkan mata, lalu melirik sekilas ke Naomi sebelum kembali ke Sonya. “Masalah keluarga atau masalah Anton? Jadi benar dia selingkuh dan kalian putus seperti yang Naomi bilang?”
Yura ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. “Iya, Son, apa itu benar?”
Ruangan itu seketika hening.
Sonya menggigit bibirnya sebentar, lalu perlahan mengangguk. “Iya. Dia selingkuh. Dan kami sudah selesai.”
Yura langsung terkejut. “Serius? Astaga.”
Timmy menggeleng pelan. “Gila. Padahal kemarin masih kelihatan baik-baik aja.”
Sonya berjalan pelan dan duduk di sebelah Naomi. Suaranya melembut. “Naomi … maafkan aku. Waktu itu aku tdak percaya sama kamu. Aku pikir kamu cuma asal bicara.”
Naomi menoleh padanya dengan tatapan hangat. “Tidak apa-apa. Kamu cuma butuh bukti sendiri. Sekarang yang penting kamu tahu kebenarannya.”
Sonya menunduk. “Aku merasa bodoh.”
“Kamu bukan bodoh,” sahut Naomi pelan. “Kamu cuma percaya pada orang yang salah.”
Suasana sempat terasa sendu, tapi Timmy tiba-tiba menepuk meja.
“Oke! Cukup drama paginya!” katanya. “Ayo, kita ke mal. Ke pasar juga. Keliling kota sekalian.”
Yura mengerutkan dahi. “Untuk apa?”
Sonya ikut menoleh bingung. “Iya, mendadak banget.”
Timmy berdecak kesal. “Kalian lupa? Kita harus beli persiapan sebelum badai salju itu datang.”
Yura tertawa kecil. “Timmy, ini bukan film apocalypse. Lagipula kalau benar bencana datang, orang-orang pasti cuman memikirkam diri sendiri. Kita mau simpan barangnya di mana?”
Timmy terdiam sejenak. “Iya ya. Seandainya ada kantong ajaib seperti di dongeng.”
Naomi tersenyum tipis, tatapannya sulit ditebak. “Ayo saja ke mal. Penyimpanan itu … biar jadi urusanku.”
Tiga pasang mata langsung menatapnya.
“Maksudmu?” tanya Yura curiga.
Naomi berdiri dan merapikan tasnya. “Kalian percaya padaku, kan?”
Timmy langsung berdiri. “Kalau kamu yang bilang, ya sudah. Aku ikut.”
Sonya menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Aku juga ikut. Daripada memikirkan Anton terus.”
Yura akhirnya mengangkat bahu. “Ya sudah. Sekalian refreshing.”
Tepat saat mereka hendak melangkah keluar kelas, seorang mahasiswa lain berseru, “Eh, kalian mau ke mana? Dosennya belum datang!”
Timmy melambaikan tangan santai. “Kalau nanti datang, bilangin kami lagi menyelamatkan masa depan!”
Begitu keempatnya keluar dari gedung kampus, tawa kecil mereka masih terdengar. Timmy bahkan masih membicarakan daftar belanjaan yang harus dibeli.
“Pertama air. Terus makanan kaleng—”
Langkah Naomi tiba-tiba terhenti.
Senyumnya perlahan luntur.
Di parkiran, mobilnya terparkir dalam keadaan mengenaskan. Catnya penuh coretan kasar, kaca samping retak, dan keempat bannya terlepas begitu saja. Mobil itu jelas dirusak dengan sengaja.
Yura terdiam. “Ya Tuhan .…”
Sonya menutup mulutnya. “Itu mobilmu, Nao…”
Timmy mengepalkan tangan. “Siapa yang berani—”
Suara tepuk tangan pelan terdengar dari sisi lain parkiran.
“Bagus, kan? Rapi sekali kerjanya.”
Mereka menoleh. Carlos berdiri dengan senyum puas, tangan dimasukkan ke saku celana. Di belakangnya, seorang montir yang tampak canggung berdiri sambil menunduk. Tak jauh dari sana, Viviane berdiri bersama teman-temannya, pura-pura terlihat tidak nyaman.
Naomi berjalan pelan menghampiri Carlos. Wajahnya dingin.
“Apa yang kau lakukan?” suaranya tajam.
Carlos menatapnya tanpa rasa bersalah. “Ini hukuman.”
“Apa maksudmu?” tanya Naomi.
“Karena kau menyiram kuah panas dan cabai ke tubuh Viviane.” Carlos mendekat selangkah. “Kau pikir itu tidak keterlaluan? Ini hanya hukuman kecil untukmu.”
Timmy mendesis, “Kecil katamu?!”
Carlos mengabaikannya dan terus menatap Naomi. “Dan dengar baik-baik. Kalau kau tidak datang ke mansion Elios untuk meminta maaf pada Viviane kau akan menanggung akibat yang lebih besar.”
Naomi mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras..Ia melirik sekilas ke arah Viviane.
Viviane pura-pura menunduk, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Hening beberapa detik.
Lalu Naomi berjalan menjauh membuat semua orang mengira ia akan pergi. Namun ia berhenti di dekat taman kecil pinggir parkiran. Di sana terdapat batu hias besar.
Timmy terbelalak. “Naomi?”
Naomi membungkuk, memegang batu besar dan berat itu. Beberapa mahasiswa yang melihat mulai berbisik-bisik.
“Itu berat sekali.”
“Dia mau apa?”
Dengan mudah, Naomi mengangkat batu itu. Otot di lengannya menegang, tapi wajahnya tetap datar.
Carlos tertawa kecil. “Apa kau mau lempar itu ke aku? Silakan saja.”
Naomi tidak menjawab. Ia berjalan melewati Carlos menuju mobil mewah berwarna putih milik Viviane.
Viviane tersadar. “Naomi apa yang—”
Belum Viviane menyelesaikan ucapannya, tanpa aba-aba
Brakk!
Batu besar itu menghantam kaca depan mobil Viviane. Kaca langsung retak parah dan pecah berantakan.
Semua orang tersentak.
“Naomi!” teriak Viviane
Namun Naomi tidak berhenti. Ia mengangkat batu itu lagi dan menghantam kap mobil.
Duaaang!
Duuaaang!
Sekali, lalu dua kali kemudian tiga kali..
Suara logam penyok dan kaca pecah menggema di parkiran. Alarm mobil meraung nyaring.
Viviane menjerit. “Berhenti! Itu mobilku!”
Carlos berlari menghampiri. “Apa yang kau lakukan?!”
Ia mencoba menarik baju Naomi dari belakang.
Naomi berbalik cepat, mengangkat batu itu tinggi-tinggi dan mengarahkannya tepat ke wajah Carlos.
Carlos langsung membeku. Wajahnya pucat.
“Jangan mendekat,” ucap Naomi pelan.
Carlos refleks mundur selangkah.
Namun alih-alih melempar ke arahnya, Naomi membanting batu itu ke kap mobil lagi.
Brakk!
Kap mobil mewah itu penyok parah. Lalu tak berhenti sampai di situ, Naomi kembali mengambil batu besar itu dan melemparkannya ke mobil mewah Carlos.
Brakk!
Brak!
Brak!
Sama seperti mobil Viviane, mobil mewah Carlos juga rusak parah.
Carlos berteriak, “Apa yang kau lakukan, Naomi?! Kau sudah gila?!”
Naomi tersenyum tipis. Senyum yang dingin.
“Aku melakukan seperti apa yang kau lakukan,” katanya tenang. “Jadi sekarang … kita impas.”
Viviane terhuyung lemas, hampir jatuh. “Kak Carlos … mobilku .…”
Naomi erjalan mendekati Viviane dan Carlos. Saat melewati Viviane, ia sengaja menabrak bahunya pelan namun tegas.
Viviane tersentak.
Naomi berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh, “Lain kali, kalau mau menyentuh milikku pastikan kau siap kehilangan milikmu juga.”
Setelah itu, ia berjalan kembali ke arah Timmy, Yura, dan Sonya.
Ketiganya masih terdiam syok.
Timmy akhirnya bersiul pelan. “Aku terkejut. Tapi kamu hebat!”
Yura menelan ludah. “Nao … kamu baik-baik saja?”
Naomi menghela napas perlahan, emosinya sudah kembali terkendali. “Aku baik.”
Sonya memandang mobil Viviane yang kini hancur lebih parah dari mobil Naomi. “Mereka mulai duluan.”
Naomi melirik sekali lagi ke arah Carlos dan Viviane yang panik memeriksa mobil mereka.
Viviane yang awalnya iri pada mobil mewah Naomi hadiah dari keluarga Atlas kini hanya bisa berdiri gemetar melihat mobil kesayangannya hancur.
.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....