NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: AKANKAH TERJADI MALAM PERTAMA?

Alana meletakkan garpunya dengan perlahan, napasnya terasa lebih teratur setelah perutnya yang perih kini terisi. Ia melirik sisa hidangan mewah di depannya, lalu menatap Dante yang masih duduk dengan kaki menyilang, mengawasinya seperti elang yang sedang memantau mangsa. Alana merasa tenaganya sedikit pulih, namun rasa kantuk yang luar biasa kini mulai menyerang sarafnya sebagai kompensasi dari kerja paksa belasan jam.

Gadis itu berdiri, merapikan gaun pelayannya yang sudah sedikit kotor dan kusut. Pikirannya yang polos mulai menyusun rencana logis. Tadi saat aku mengepel bagian belakang, aku melihat ada beberapa kamar kosong di dekat gudang dan area servis. Tuan bilang aku adalah pelayan sekarang, jadi secara hukum rumah ini, aku tidak mungkin kembali ke kamar utama yang mewah itu, pikirnya dengan keyakinan penuh.

Alana menunduk hormat, tidak berani menatap mata biru es pria itu. "Terima kasih atas makanannya, Tuan. Aku... aku ke belakang sekarang."

Dante menyipitkan matanya, satu alisnya terangkat. "Ke belakang? Untuk apa?"

"Tidur, Tuan. Bolehkah aku tidur sekarang? Aku sudah sangat lelah dan mengantuk. Gudang belakang dan sisa paviliun yang belum sempat aku bersihkan, besok pagi-pagi sekali akan aku selesaikan sebelum Tuan bangun," jawab Alana dengan nada jujur yang sangat polos, tanpa menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya justru memancing kekesalan Dante.

Dante mendengus, suaranya terdengar seperti tawa mengejek yang tertahan. "Dan kenapa kau berjalan ke arah belakang? Kamarku yang kau tempati kemarin ada di lantai dua, searah denganku."

Alana mengerjap, mencoba mencerna ucapan Dante. "Apa aku tidak boleh tidur di kamar belakang? Oh, apa maksud Tuan kamarku berada di paviliun bersama para pelayan lainnya?"

Wajah Alana tiba-tiba cerah, sebuah binar harapan muncul di matanya. "Kalau begitu, aku akan mencari Arthur sekarang. Aku akan bertanya apakah masih ada kamar kosong di paviliun pelayan. Aku permisi, Tuan—"

BRAK!

Dante menggebrak meja makan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya, membuat gelas kristal di sana terguling dan isinya tumpah membasahi kain meja yang mahal. Dante berdiri, tubuhnya yang raksasa membayangi Alana, menciptakan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Berhenti di situ, Alana! Kau benar-benar gadis bodoh atau kau sedang mencoba mempermainkanku?" geram Dante. Ia melangkah memutari meja, mendekati Alana yang sudah gemetar ketakutan. "Aku menyuruhmu bekerja sebagai pelayan untuk memberimu pelajaran tentang kepatuhan, bukan berarti kau bisa mengatur tempat tidurmu sendiri! Kau adalah istriku, Nyonya Volkov. Dan tempat seorang istri adalah di ranjang suaminya, bukan berarti kau bisa tidur terpisah dariku!"

Alana mengerjap, matanya yang bulat tampak bingung sekaligus takut. "M-maksud Tuan? Aku tetap harus tidur di kamar Tuan? Tapi... tapi aku kotor, aku pelayan, aku—"

"Cukup dengan ocehan bodohmu!" potong Dante habis kesabarannya.

Melihat Alana yang masih mematung dengan wajah bingung, Dante tidak lagi memiliki sisa kesabaran untuk berdebat secara lisan. Dengan satu gerakan cepat yang tidak terduga, Dante menyambar pinggang Alana. Alana memekik kaget ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara.

Namun, Dante tidak menggendongnya dengan gaya bridal style yang romantis. Ia justru memanggul tubuh mungil Alana di atas bahunya yang kokoh seperti memanggul sekarung beras. Kepala Alana menjuntai ke bawah, menatap lantai marmer yang tadi ia pel dengan susah payah.

"Lepaskan! Tuan Dante, turunkan aku!" Alana meronta, tangan mungilnya memukul-mukul punggung Dante yang sekeras baja. "Aku bisa jalan sendiri! Ini memalukan, bagaimana jika dilihat Arthur atau pelayan lain?"

Dante sama sekali tidak bergeming. Ia justru menepuk bokong Alana dengan keras sebagai peringatan agar gadis itu diam. "Diamlah jika kau tidak ingin aku melakukan sesuatu yang lebih kasar di depan para pelayan, Little Girl."

Dante melangkah lebar menaiki tangga pualam, mengabaikan protes dan tangis kecil Alana. Setiap langkah Dante terasa sangat mantap dan penuh dominasi. Di dalam kepalanya, kemarahan dan hasrat bertarung dengan sengit. Ia merasa terhina karena Alana lebih memilih tidur di gudang pelayan daripada bersamanya, dan ia bersumpah, malam ini ia akan memastikan Alana sadar sepenuhnya bahwa sejauh mana pun gadis itu mencoba lari, kamar Dante adalah satu-satunya tempat tujuan akhirnya.

***

Dante tidak memberikan kesempatan bagi Alana untuk sekadar menghirup oksigen. Begitu tubuh mungil itu mendarat di atas seprai sutra, Dante langsung menindihnya, mengurung pergerakan Alana dengan berat tubuhnya yang proporsional namun dominan. Tanpa basa-basi, ia menyambar bibir mungil Alana dalam sebuah ¢ïµmåñ yang meledak-ledak. Çïµmåñ itu tidak seperti kemarin; kali ini terasa lebih terburu-buru, lebih menuntut, dan penuh dengan rasa lapar yang terpendam akibat rasa frustrasinya sepanjang hari.

Alana gelagapan. Jantungnya berpacu seperti genderang perang yang ditabuh kencang. Ia merasa sesak, dunianya berputar saat tangan kekar Dante bergerak dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah seragam pelayan abu-abu yang ia kenakan.

SREEEET!

Bunyi kain robek bergema di ruangan yang sunyi itu. Kancing-kancing seragam konyol itu terlempar ke segala arah. Alana tersentak hebat, matanya membelalak horor merasakan udara dingin menyentuh kulit bahunya yang kini terekspos. "T-Tuan! Berhenti!" jeritnya tertahan, tangannya yang mungil memukul-mukul dada bidang Dante yang sekeras baja, namun pria itu seolah tidak merasakan apa-apa.

Lidah Dante bergerak lïår di dalam mulut Alana, mencoba menguasai setiap inci wilayah baru yang ia klaim. Karena Dante tak kunjung melepaskan pagutannya meski ia sudah memohon, Alana yang diliputi rasa panik dan kepolosan bertindak di luar dugaan. Ia mengatupkan giginya kuat-kuat, tepat mengenai lïÐåh Dante yang sedang menari di dalam sana.

"Akh!" Dante tersentak, melepaskan ¢ïµmåññɏå seketika. Ia menarik wajahnya menjauh, merasakan rasa anyir darah di ujung lidahnya. Matanya yang sebiru es kini berkilat amarah, rahangnya mengeras, dan ia sudah bersiap menyemburkan kata-kata makian paling kasar yang pernah ada di kamus.

Namun, sebelum Dante sempat meledak, Alana berucap dengan suara bergetar dan wajah yang memerah padam karena malu. "A-aku bau..."

Dante tertegun. Amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun mendadak tersendat. Ia mengernyitkan alisnya, menatap Alana dengan tatapan bingung seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa asing. "Apa?"

Alana menarik sisa-sisa kain seragamnya yang robek untuk menutupi dadanya, matanya yang bulat digenangi air mata yang siap tumpah. "M-maksudku... tubuhku kotor. Aku sudah mengepel seluruh mansion ini dari pagi, aku berkeringat, aku berdebu... aku belum mandi."

Dante mendengus kasar, ia kembali mencondongkan tubuhnya hingga napasnya yang hangat menerpa wajah Alana. "Aku tidak peduli itu, Alana! Aku sudah sangat menginginkan tubuhmu sejak kemarin, dan tidak ada jumlah keringat atau debu yang bisa meredam rasa lapar ini. Jadi jangan coba-coba mencari alasan konyol untuk menghentikanku lagi!"

Saat Dante kembali bergerak ingin menyambar bibir ranum itu, Alana dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping, membuat kecupan Dante hanya mendarat di pipinya. "A-aku bau... kumohon..." isaknya kecil, bahunya berguncang. "Aku merasa sangat menjijikkan jika Tuan menyentuhku saat aku dalam keadaan kotor seperti ini."

Dante terdiam. Ia menatap leher Alana yang masih menyisakan jejak merah dari perbuatannya tadi malam, kini bercampur dengan butiran keringat halus akibat kerja paksa yang ia berikan sendiri. Pria itu menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri dari atas tubuh Alana dengan gerakan kasar yang menunjukkan rasa frustrasi. Ia berdiri di sisi ranjang, berkacak pinggang dengan kemeja yang sudah terbuka berantakan.

"Sial!" Dante mengumpat, lalu menatap Alana dengan tatapan menyelidik. "Lalu kalau kau sudah wangi, kau mau melanjutkannya? Kau tidak akan menangis lagi seperti orang sedang berduka?"

Alana terdiam sejenak. Ia merenungkan posisinya. Pikirannya yang polos mencoba mencerna kenyataan pahit namun logis. Paman sudah menjualku. Pria ini sudah menikahiku secara sah di gereja kemarin. Bukankah seharusnya sepasang suami istri melakukan hal ini? Jika aku terus menolak, dia akan menyiksa dan mêñgåñ¢åñmkµ, batinnya getir. Meskipun tanpa cinta, Alana merasa ini adalah satu-satunya cara agar hidupnya di mansion ini sedikit lebih tenang.

Dengan gerakan ragu namun pasti, Alana menganggukkan kepalanya pelan.

Dante langsung menegang. Seluruh otot di tubuhnya seolah bergetar karena rasa senang yang tidak bisa ia sembunyikan. Matanya yang tadi dingin kini berkilat antusias, sesuatu yang sangat jarang terlihat dari sosok predator seperti dirinya. "Benarkah? Kau berjanji tidak akan menolak lagi jika kau sudah mandi dan bersih?"

Alana mengangguk kembali, mencoba menguatkan hatinya. "I-iya. Karena ini pengalaman pertamaku, tolong beri aku waktu untuk membersihkan diriku sendiri, Tuan. Aku ingin merasa nyaman..."

"Baik! Lakukan sekarang!" Dante memotong pembicaraan dengan cepat. Ia melambaikan tangannya ke arah pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar utama yang luas itu. "Pergilah. Aku akan menunggumu di sini. Jangan coba-coba mengulur waktu atau aku yang akan menyeretmu keluar dari bak mandi itu."

Alana segera bangkit, menyambar jubah mandi sutra yang terletak di kursi dekat ranjang untuk menutupi tubuhnya, lalu berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Begitu pintu tertutup dan terkunci, ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, jantungnya berdegup kencang. Ia harus mempersiapkan dirinya, secara fisik dan mental.

Sementara itu, di luar, Dante Volkov tidak lagi bisa duduk tenang. Pria yang biasanya sangat terkontrol itu kini mondar-mandir di depan ranjang seperti harimau yang sedang menunggu jatah makannya. Ia terus-menerus melirik ke arah pintu kamar mandi, mendengarkan suara gemericik air yang terdengar dari dalam. Ia bahkan sempat merapikan rambutnya di depan cermin, memastikan penampilannya sempurna untuk "malam pertama" yang sebenarnya.

Setiap menit terasa seperti berjam-jam bagi Dante. Hasrat yang tertahan, rasa penasaran akan reaksi Alana nanti, dan fakta bahwa gadis itu akhirnya menyerah secara sukarela membuat darahnya bergejolak panas. Ia duduk di tepi ranjang, lalu berdiri lagi, kemudian duduk kembali, terus menatap pintu kayu jati itu dengan tatapan lapar yang tak pernah padam.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas
Fitria Syafei
hadeh kejam juga yaa si Dante 🙄 KK cantik semangat 😍😍
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😍😍
Mia Camelia
sadis😂😂😂😂
Mia Camelia
sweet banget pasangan inii🥰🥰🥰
lanjut thor👍😄
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😘😘
Rani Saraswaty
knp gk cara instan dg jebakan2 spt yg laim😄😄😄😄
Rani Saraswaty
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak berjamaah🤣🤣🤣
Rani Saraswaty
gpp mbk, kmu sah dinikahi drpd dicoba dl sblm dipake
Rani Saraswaty
sage grèen kn td?
Mia Camelia
dante lapaaar terus🤣🤣🤣
Fitria Syafei
KK cantik terimakasih 😘😘 kereeeen😍
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
resmi sudah Alana menjadi Nyonya Dante 😊 KK cantik kereen 😍😍
Bedjho
Counternya Dante cuman ada satu istrinya sendiri🤧
+39 🔕
JANGAN ADA PELAKOR YA 🦖
+39 🔕
merinding 🖕😭
Mia Camelia
akhir nya dante dapet jatah🤣🤣🤣🤣
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
Mia Camelia
dunia gelap dante😂
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!